Menuju Waskitha

Dalam khazanah spiritual Jawa, seseorang yang ajeg melakukan laku tirakat akan dapat mencapai waskitha. Di tahap ini, intuisi seseorang lebih tajam. Dia akan dapat menangkap apa yang tidak bisa ditangkap oleh panca-indera.

Dikisahkan bahwa seseorang dapat mencapai tahap ini karena dia lebih mawas diri, fokus pada perbaikan diri dan berusaha menjinakkan ego pribadi.

Kalau boleh meminjam istilah barat, laku-laku tirakat (yang bisa saja termanifestasi dalam bentuk meditasi) akan meningkatkan resolusi seseorang dalam memahami dirinya sendiri. Pemahaman diri sendiri sangatlah halus. Kuantifikasinya sangat subjektif, tapi sangat nyata bagi subjek yang mengalaminya.

Apakah ini empiris? Rasanya ini adalah empirisme personal. Mirip dengan cara kita mendefinisikan manis. Bisa terdapat ribuan definisi manis, selama kita masih bergerak dalam dimensi kata.Dan kita belum berbicara mengenai esensi dan kaitan antara ‘pengukuran’ dengan ‘kenyataan’.

Kembali ke topik, saya termasuk orang yang meyakini bahwa untuk meraih waskitha diperlukan pembimbing. Sebab, untuk mencapai sesuatu yang lebih dari indera semata, dibutuhkan sebuah referensi. Beberapa ajaran yang saya pernah dengar kabar anginnya justru menyaratkan bahwa seseorang harus mencarinya sendiri. Namun, saya meyakini bahwa perjalanan jiwa adalah sebuah perjalanan di sebuah medan yang kita tidak ketahui.

Kita, tak pernah tahu apakah sebuah firasat atau ilham yang kita peroleh adalah benar atau tidak. Sebagai seorang manusia, apalagi setelah merasa memiliki pengetahuan, ego akan menuntun kita untuk membenarkan ilham yang datang pada kita. Hal ini sejalan dengan cara pikiran kita mengambil keputusan.

Dalam pemikiran yang tidak jernih, kita akan berpikir secara bias. Kita berusaha mencocok-cocokkan kebenaran/realita sesuai dengan asumsi awal yang kita punya. Lalu, kita berusaha menyingkirkan hal-hal yang tidak sesuai dengan asumsi kita. Kita juga menghargai lebih sesuatu yang erat kaitannya/dimiliki oleh diri kita.

Sampai saat ini, dalam perjalanan peradaban dan pengetahuan, manusia hanya bisa memodelkan realita. Maka dari itu, dalam perjalanan ini ego masih bermain. Dan seberapa kadar kesejatian kebenaran jika ia masih dipengaruhi oleh ego pribadi?

Selain itu, ada satu hal yang saya rasa benar. Dalam perjalanan menuju waskitha, kita harus jujur pada diri sendiri. Kita tidak bisa berbohong seraya berkata bahwa kita sudah terlepas dari ego. Tahap pertama dari semua ini adalah menerima bahwa kita masih berkait dengannya. Berkawan dulu dengannya. Dengan ini kita bisa merekam, seberapa besarnya ego kita.

Dengan kejujuran ini, kelak kita pun akan menyadari bahwa dalam hal-hal tertentu, kita telah bisa melepaskan ego. Kita hanya bermain gundu di sini. Sewajarnya saja, tidak dikendalikan oleh ego.

Tadinya pun saya merasa hal seperti ini di luar batas logika. Bagaimana mungkin seseorang bisa merasakan kadar kesombongan dalam dirinya sendiri? Bagaimana mungkin seseorang bisa merasakan kadar kesombongan dari orang lain? Tapi mungkin sebelum bisa mendefinisikan ‘manis’ dalam dimensi kata, kita harus bisa merasakannya dulu. Meskipun tetap, itu tidak menjamin definisi yang kita buat benar dan diterima orang lain.

Itulah waskitha. Dan kita harus mengejarnya. Sebab ini merupakan salah satu fase yang harus kita jalani. Dia hanya persinggahan, dan bukan tujuan.

4 thoughts on “Menuju Waskitha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s