Sedikit Tentang Lebih Dari Sekedar Politik

Simbol Politik

Suatu hari saya diajak orang tua saya bersilaturahmi ke seorang pengusaha/pengacara internasional. Kebetulan beliau sedang ada tamu, jadinya meski sudah masuk di ruangan, saya sempet nonton diskusi beliau. Waktu itu sedang ngomongin masalah suatu perusahaan tambang di Indonesia timur.

Setelah selesai, kami pun lanjut ngobrol-ngobrol. Waktu soal nyinggung-nyinggung politik, orang tua saya bilang kalau saya nggak boleh ikut-ikutan kalo soal politik. Terus si Bapak ini bilang kalau misalnya suatu saat ada yang minta jadi menteri tapi jangan ditolak, sembari bercanda.

Meskipun dekat dengan orang-orang politik, si Bapak ini tidak begitu suka dengan politik. Waktu itu Bapak ini mengungkapkan kepada saya tentang cita-citanya untuk membangun wadah bagi pemuda untuk berkarya secara nyata. Bukan seperti ICMI yang hanya digunakan untuk politik.

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku yang ditulis alumni ITB yang kini menjadi dosen sosiologi di NTU. Judul bukunya The Technological State in Indonesia: the Co-constitution of High Technology and Authoritarian Politics. Dari membaca buku itu saya jadi lebih mendapatkan big picture atas apa yang disampaikan oleh Bapak tadi beberapa tahun lalu.

Bagaimana ICMI bisa dibangun di tengah-tengah orde baru, bagaimana relasi antara Habibie-Soeharto adalah hal yang menarik untuk dipelajari. Dan, lebih dari sekedar simbol-simbol politik, visi kemajuan teknologi adalah sesuatu yang sangat menarik. Buat saya, ada hal-hal yang meski dalam prakteknya dijadikan simbol-simbol politik kekuasaan (karena Pak Harto sebagai Bapak pembangunan membutuhkan sesuatu yang akan membawa dia menuju puncak Grandiose) merupakan hal-hal yang sangat penting sebagai bentuk manifestasi ke-manusia-an, memberikan sumbangsih bagi peradaban manusia.

— sejujurnya agak sulit bagi saya untuk menuliskan racauan ini secara sistematis. sebenarnya kalau terlihat lompat-lompat, berarti ada alur yang saya skip untuk mempersingkat penulisan. —

Selain itu, saya juga baru-baru ini membaca beberapa artikel dari Journal of the History of Sufism. Tentu saja yang saya baca masih dalam konteks ke-Indonesia-an, terkait dengan peranan kelompok-kelompok islam tarekat dan juga pesantren dalam perpolitikan nasional.

Lagi-lagi, bagi saya pribadi ini juga lebih dari simbol-simbol politik. Meskipun secara akademis, yang bisa dikuantifikasi adalah sebatas itu.

Era Informasi?

Oh iya selain itu, saya juga baru-baru ini kepikiran tentang otoritas dalam sains dan jurnalistik. Gara-garanya dari hasil penelusuran saya dengan membandingkan apa yang ada di makalah-makalah ilmiah dan berita di media mainstream dengan kesaksian dari para praktisi di lapangan, terdapat banyak gap.

Dikatakan bahwa kira-kira 30:70 antara hal-hal yang on the record dan off the record. Hal ini demi menjaga rahasia negara. Tentu saja kalau kita mengoversimplifikasi, negara memang harus kuat, berdasarkan hukum, dan akuntabel. Lantas sekarang komponen mana yang harus dilindungi. Ada kalanya negara harus diperkuat meski mungkin rule of law dan accountability jadi korban. Selain itu dari 100% itu belum mencerminkan 100% yang ada di lapangan. 100% itu merupakan informasi yang diperoleh oleh jurnalis, tidak mencerminkan seluruh kompleksitas dari aktor-aktor politik yang bermain.

Untuk jurnal-jurnal ilmiah pun meski sudah memenuhi standar ilmiah terkadang tidak mencerminkan fakta di lapangan. Miris juga sih kalau melihat beberapa teman yang akademisi dan merasa yakin sudah berpikir dengan benar (absolut) sementara kebenarannya yang dilihat merupakan yang dimodelkan oleh kaidah ilmiah.

Lantas, apa implikasi lebih lanjutnya. Hari-hari ini kita melihat bahwa di social media semakin gencar orang berkomentar tentang politik. Bahkan sudah terkutub-kutub. Semua berbicara dengan lantang, dengan emosi. Padahal belum tentu informasi yang mereka terima adalah benar.

Sulit memang. Denger-denger sih Noam Chomsky bilang gitu kan. Orang jaman sekarang berpikir bahwa dia rasional, padahal rasionalitas dia didasarkan pada informasi yang telah mengalami banyak amputasi.

Makanya saya kadang sedih melihat teman-teman saya berdebat di FB sudah kayak benar sendiri. Padahal bisa saja mereka nggak tahu apa-apa soal itu, nggak peduli setinggi apa gelarnya, sepintar apa dia, dan sebergengsi apa sekolahnya. Miris. Dan semua komentar dengan ego yang tinggi. Dengan kebencian. Benar-benar diseriusin padahal isinya yang mereka bahas adalah bagian dari permainan. Dari sebuah konspirasi, yang mereka mungkin tak akan mengakuinya.

Ya, mungkin ‘teori konspirasi; itu ada benarnya meski tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi ya harus dilihat dulu konspirasi yang seperti apa. Ada ‘teori konspirasi’ yang sampah-sampahan yang memang murni dibuat karena keterbelakangan mental dan keberadaannya pun hanya menjadi pembenaran atas keterbelakangan (sehingga keterbelakangan mentalnya menjadi self-sustain). Namun, ada juga ‘teori konspirasi’ yang betulan, yang didasarkan pada kejadian di lapangan namun tak bisa dideteksi atau dibuktikan secara ilmiah. Mirip-mirip operasi intelijen aja sih. Tapi kan suatu saat akan terbongkar juga. Kalau kata Gus Dur, biar sejarah yang membuktikan.

Revolusi yang Tetap Konvensional 

Nah, dengan segala kehebohan di social media, kita tidak boleh lupa bahwa pada dasarnya revolusi tetap konvensional. Suatu perubahan tidak bisa dilakukan dengan modal cingcong doang.

Memang benar, di era sekarang orang lebih terinterkoneksi. Orang lebih mudah mengkritik (Meskipun kadang kritiknya udah ngasal. Gak memperhitungkan kalau di lapangan terkadang suatu harga bisa berkembang karena jalur distribusi misalnya, atau hal-hal lain yang mereka oversimplifikasi karena baca berita dan merasa pintar.). Tapi membuat perubahan itu artinya ya membangun sesuatu di lapangan.

Social media mah hanya ornamen-ornamennya saja, hanya festivalnya saja. Yang bisa membangun perubahan ya orang-orang yang bekerja di lapangan. Internet dengan segala kehebohannya bisa mempermudah orang-orang berkumpul. Tapi kalau sudah kumpul mau ngapain?

Reformasi Fraktal

Kita sudah menyaksikan sampai detik ini bagaimana reformasi telah gagal merombak mentalitas pemimpin bangsa. Yang ada semua meniru cara-cara yang sifatnya simbol kekuasaan juga toh. Itu terjadi karena kapabilitas yang tidak dipersiapkan dengan baik, dan hanya melakukan revolusi simbolik.

Artinya, revolusi dilakukan hanya untuk mencari figur yang merupakan anti-tesis yang lama, tanpa disertai kapabilitas yang memadai. Akibatnya, figur yang naik tahta ujung-ujungnya hanya magang, memodel cara orde baru berkuasa. Meski tentu saja kuenya tidak seperti dulu karena sudah dibagi-bagi. Huh, seperti fraktal saja.

Apalagi di era kini, mungkin akan dengan cepat kita menemukan figur-figur baru yang bisa di blow-up, bisa dijual. Kapasitasnya? Belum teruji. Nanti sebentar-sebentar ada figur karbitan. Awalnya dipuja, tak lama nanti bisa dicaci. Dan itu udah kejadian. Nyata.

Yah sekian dulu. Itulah kenapa saya nggak berani ngomong soal politik sevokal dan seekspresif orang-orang. Karena dalam politik masih ada banyak yang saya nggak paham. Dan lagi pula, saya belum segitu punya kapabilitas dan integritas untuk sok-sokan ikut campur soal politik. Saya nonton sidang DPR aja rasanya udah stress.

2 thoughts on “Sedikit Tentang Lebih Dari Sekedar Politik

  1. sama, neg sama obrolan politik d media sosial. sayangnya si eke juga cuma nonton dan ga ngapain-ngapain juga untuk memperbaiki keadaan, jadinya ya ga lebih baik juga dari yang lain.heu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s