One of a Kind (Cerita Sekitaran Oktober)

“Gue cerita ke temen gue tentang lo yang dapet QE deketan sama waktu cuti.. ‘And then did he still go?’ ‘He went back anyway’ Kata dia ‘one of a kind'”

Reidinar Juliane (nggak verbatim sih)

 

I have not yet written anything related to my QE in this blog although I managed to post some at tumblr:

Ya ya ya.. Sudah lama tidak menulis di sini yah, meskipun sebenarnya selalu kepikiran untuk menulis di sini. Sebenarnya ini karena saya menerapkan suatu standar (yang sebenarnya sangat subjektif aja sih) untuk tulisan yang dimuat di blog ini. Sementara tumblr saya relatif lebih rendah standarnya (bener-bener tempat curhat), jadi kalau sedang tidak ada kesempatan, saya lebih memilih untuk menulis di tumblr.

*postingan ini mulai ditulis tanggal 4 November, sebelum postingan yang At-Takatsur tapi ga selesai-selesai. Haha*

Alhamdulillah setelah melalui 5 bulan yang begitu intens, tekanan yang sangat tinggi, akhirnya saya bisa lulus Qualifying Exam dan menjadi Ph.D candidate. Saya terkadang masih takjub sendiri dengan pencapaian ini. Apalagi selama dua tahun fokus saya adalah kuliah. Makanya saya sangat ingin melanjutkan tulisan saya yang ini sebagai bentuk syukur saya karena telah diberi kekuatan untuk berjalan sejauh ini. Iya, goal akhirnya sih saya pengen bikin memoar perjalanan PhD saya cem-cem ‘PhD Grind’ atau ‘Singapore Lost Son’, bahkan Dannis (CMO Traveloka) sudah siap jadi editornya :))

Apalagi, saat kemarin saya bertemu teman-teman kuliah beberapa bilang kalau mereka suka baca blog saya. Ya, mungkin kalau saya bisa bertemu mereka setiap hari, saya pasti akan cerita secara langsung. Tapi karena kami semua sudah berpencar-pencar, jadi ya blog ini sebagai media saya berbagi cerita dengan kalian (kyaa kyaa), termasuk curhat-curhat nggak penting.

Warning, ini postingan super TLDR banget!

Advertisements

At-Takatsur, Kesederhanaan Umar, dan Upaya Menuju Moksha

Dulu waktu SMA, kelas saya diwajibkan ikut ekskul Qiroah. Kebetulan salah satu surat yang kami diajarkan untuk melagukannya adalah At-Takatsur. Nah sekitar minggu lalu saya membaca terjemahan ayat ini di Juz Amma. Juz Amma yang muat disaku ini baru saya beli saat saya ke Bandung 2 Minggu lalu, setelah terinspirasi oleh teman saya yang souvenir pernikahannya adalah buku saku amalan harian seorang muslim.

Pendahuluan yang agak panjang

Saya sendiri teringat pesan Guru saya untuk senantiasa mencari tahu dan menyelaraskan pikiran kita dengan apa yang dimau oleh Tuhan. Kita adalah akumulasi dari apa yang kita baca, apa yang kita lakukan, dan dengan siapa kita berteman dan kepada siapa kita mengambil teladan. Masalahnya, terkadang kita lupa, apa yang harus kita lakukan, baca, dan dengan siapa kita harus berteman dan mengambil teladan. Maka sebagai muslim kita jadi berkiblat pada hal-hal yang arahnya berseberangan dengan arah kemana seorang muslim seharusnya berjalan.

Saya sendiri pun seperti itu. Di masa-masa awal kuliah di Bandung, saya sempat sangat skeptis dengan aspek-aspek eksoteris dalam Islam. Awalnya memang termotivasi untuk mencari Islam yang seharusnya itu seperti apa, sebab saya merasa ada yang kurang dari yang saya tahu. Banyak yang mengatasnamakan agama tapi melakukan kejahatan yang begitu masif. Banyak yang bersembunyi dibalik ritual-ritual dan aspek eksoteris dari Islam. Bukannya berdagang sesuai prinsip agama, tapi malah ada yang memperdagangkan agama dan ada pula yang menjalankan agama dengan prinsip berdagang. Hal ini semakin menguatkan sebuah perkataan yang begitu populer (yang sejak pertama mendengarnya dulu kala saya langsung merasa ini logis) bahwa kemuliaan Islam itu ditutupi oleh umatnya sendiri, dan oleh ketidakmampuan ‘ulama’nya.

I went to the West and saw Islam, but no Muslims; I got back to the East and saw Muslims, but not Islam.

Muhammad Abduh

*bahkan pagi ini saya melihat iklan layanan masyarakat di bus stop untuk menjauhi perjudian. Negara kota tempat saya menimba ilmu sekarang, terlepas dari motivasinya dan bagaimana dia tidak mempedulikan kesucian hartanya, rupanya masih ‘berakhlak’ dan masih ingin menata tatanan sosial masyarakatnya (walaupun anehnya ya tempat judi tetep nggak ditutup, meski iklan anti berjudi digemborkan).

Continue reading “At-Takatsur, Kesederhanaan Umar, dan Upaya Menuju Moksha”