At-Takatsur, Kesederhanaan Umar, dan Upaya Menuju Moksha

Dulu waktu SMA, kelas saya diwajibkan ikut ekskul Qiroah. Kebetulan salah satu surat yang kami diajarkan untuk melagukannya adalah At-Takatsur. Nah sekitar minggu lalu saya membaca terjemahan ayat ini di Juz Amma. Juz Amma yang muat disaku ini baru saya beli saat saya ke Bandung 2 Minggu lalu, setelah terinspirasi oleh teman saya yang souvenir pernikahannya adalah buku saku amalan harian seorang muslim.

Pendahuluan yang agak panjang

Saya sendiri teringat pesan Guru saya untuk senantiasa mencari tahu dan menyelaraskan pikiran kita dengan apa yang dimau oleh Tuhan. Kita adalah akumulasi dari apa yang kita baca, apa yang kita lakukan, dan dengan siapa kita berteman dan kepada siapa kita mengambil teladan. Masalahnya, terkadang kita lupa, apa yang harus kita lakukan, baca, dan dengan siapa kita harus berteman dan mengambil teladan. Maka sebagai muslim kita jadi berkiblat pada hal-hal yang arahnya berseberangan dengan arah kemana seorang muslim seharusnya berjalan.

Saya sendiri pun seperti itu. Di masa-masa awal kuliah di Bandung, saya sempat sangat skeptis dengan aspek-aspek eksoteris dalam Islam. Awalnya memang termotivasi untuk mencari Islam yang seharusnya itu seperti apa, sebab saya merasa ada yang kurang dari yang saya tahu. Banyak yang mengatasnamakan agama tapi melakukan kejahatan yang begitu masif. Banyak yang bersembunyi dibalik ritual-ritual dan aspek eksoteris dari Islam. Bukannya berdagang sesuai prinsip agama, tapi malah ada yang memperdagangkan agama dan ada pula yang menjalankan agama dengan prinsip berdagang. Hal ini semakin menguatkan sebuah perkataan yang begitu populer (yang sejak pertama mendengarnya dulu kala saya langsung merasa ini logis) bahwa kemuliaan Islam itu ditutupi oleh umatnya sendiri, dan oleh ketidakmampuan ‘ulama’nya.

I went to the West and saw Islam, but no Muslims; I got back to the East and saw Muslims, but not Islam.

Muhammad Abduh

*bahkan pagi ini saya melihat iklan layanan masyarakat di bus stop untuk menjauhi perjudian. Negara kota tempat saya menimba ilmu sekarang, terlepas dari motivasinya dan bagaimana dia tidak mempedulikan kesucian hartanya, rupanya masih ‘berakhlak’ dan masih ingin menata tatanan sosial masyarakatnya (walaupun anehnya ya tempat judi tetep nggak ditutup, meski iklan anti berjudi digemborkan).

Bahkan sampai tahun kedua saya di Singapura, saya tidak memiliki mushaf. Sudah punya pun jarang mengaji. Apalagi membaca terjemahannya. Tidak heran, kehidupan saya menjadi kacau. Dalam logika seorang muslim dalam koridor keimanan, tentu saja ini wajar. Bagaimana Tuhan bisa memberikan petunjuk, pertolongan, kemenangan, dan keberuntungan apabila kita tidak mau memenuhi rukun dan syaratnya. Tuhan senantiasa ingin memberikan petunjuk, bahkan Dia sampai ‘menuliskan’ surat-surat untuk kita. Tapi kalau kitanya tidak mengikuti perintah-Nya, dan malah sering melanggar, bagaimana tidak sengsara hidup kita?

Dulu saya sempat berpikir (karena sempat ngefans berat sama Syekh Siti Jenar dan spiritualitas Jawa) bahwa saya cukup mencoba membaca kitab basah, yang menurut pemahaman saya adalah kitab yang termanifestasikan di alam dan kehidupan sehari-hari. Ketimbang hanya mengaji huruf arab tanpa tau artinya dan hanya mengejar pahala doang, saya lebih memilih berkutat dengan pemikiran-pemikiran, filsafat, dan sains untuk berusaha memahami kebenaran. Saya selalu berpikir, dengan melakukan kontemplasi-kontemplasi kita pada akhirnya akan memperoleh kesimpulan seperti yang ada di kitab kering (mushaf).

Namun pada akhirnya saya tersadar tentang hakikat kemanusiaan itu sendiri. Manusia secara ideal adalah makhluk yang sempurna. Namun seperti sistem lain, dalam prakteknya selalu ada ketidakidealan, maka dari itu butuh dikalibrasi. Ada banyak hal yang bisa menjadi sumber error. Katakanlah kita ingin memahami suatu daerah (memahami kebenaran, alam, dan kehendak Tuhan) yang asing hanya dengan bekal sebuah radar (hati). Jika kita ingin menggunakan radar untuk melakukan pemetaan dan mengetahui target-target yang ada di sekitar kita, kita mesti melakukan kalibrasi terlebih dahulu. Tidak bisa kita pakai begitu saja dan mengasumsikan radar tersebut ideal sesuai dengan formulasi dan spesifikasi yang sudah dirancang, sebab ada banyak sumber kesalahan begitu radar itu hendak dipakai.

Maka itu pada akhirnya kita perlu mengkalibrasi diri dengan mendekati orang-orang soleh, meneladani Rasulullah SAW dan penerus-penerusnya, serta dengan Al-Quran. Dalam Quran sendiri Tuhan telah menjelaskan bahwa Quran itu penerang, petunjuk, cahaya, pemimpin, pembeda, dan banyak fungsi lainnya yang sekarang saya pahami sebagai alat untuk mengkalibrasi hati kita. Hati kita memiliki potensi yang sangat hebat jika ia bersih. Mata hati kita bisa menjadi wadah bagi memancarnya cahaya ilahi. Namun ya perlu dikalibrasi, dan dibersihkan.

Ya, pada akhirnya untuk mencari kebenaran dibutuhkan kerendahan hati. Kita harus paham bahwa kita terbatas dan tidak tahu apa-apa. Filosofi, sains, dan segala bentuk pemikiran lainnya bisa-bisa tidak mengantarkan kita kemana-mana meskipun seolah-olah telah mengantarkan kita cukup jauh. Demikian halnya saat melakukan kalibrasi dengan Al-Quran. Kita harus berusaha memahaminya tak hanya dengan ilmu, tapi juga dengan rasa. Ilmu yang disertai kesombongan akan dapat menggagalkan kalibrasi hati kita, sebab kita akan menerjemahkan kemauan Tuhan agar sejalan dengan ego kita.

Saya diberi tahu Guru saya bahwa kita harus membaca Al-Quran seolah-olah Tuhan berbicara langsung kepada kita. Umar bin Khattab yang terkenal sebagai mantan preman dan seorang pemberani pun bahkan menitikan air mata saat membaca Al-Quran. Sebab ketika Al-Quran menceritakan tentang neraka, Umar bin Khattab merasa seolah-olah dirinya lah yang diceritakan Al-Quran. Itu Umar bin Khattab yang jago kelahi, dan seorang Khalifah saja seperti itu. Sedangkan kita?

Kesederhanaan Umar dan At-Takatsur

Maka pada Jumat lalu saya membaca terjemahan Juz Amma di dalam perjalanan menuju masjid. Salah satu yang saya baca yaitu At-Takatsur. Sebenarnya banyak sekali surat di Juz Amma yang mengingatkan kita tentang harta dan tujuan hidup yang sebenarnya, tapi At-Takatsur ini dari nama suratnya saja sudah menggambarkan artinya.

Kemewahan

kamu telah dilalaikan oleh kemewahan,

hingga kamu masuk ke liang kubur

janganlah begitu, nanti kamu akan mengetahui

dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui

Jangan begitu, seandainya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin

niscaya kamu benar-benar akan melihat Jahim

dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yakin

Kemudian pada hari itu niscaya benar-benar kamu akan ditanya tentang kenikmatan (apa yang diterima ketika di dunia)

Ayat ini sangat relevan dengan kondisi jaman sekarang ditengah gempuran kapitalisme, konsumerisme, dan materialisme yang telah merasuk dalam diri kita secara tidak sadar. Kota-kota yang menjadi ramai dan segala industri yang mengejar profit dan tak jarang melakukan produksi secara berlebihan bukannya menjadi solusi bagi umat manusia namun malah justru membuat hidup manusia tidak tenteram dan menjadi rumit. Kita diburu untuk menghasilkan banyak uang untuk memenuhi gaya hidup yang tak jarang lebih tinggi daripada kemampuan dan jauh lebih banyak daripada kebutuhan.

Komputer dan teknologi lain misalnya, manusia telah berkembang jauh melebihi kebutuhannya. Dengan Moore’s law dan inovasi yang terus diciptakan, alat-alat baru terus muncul di pasaran. Tak jarang yang membeli pun tak tahu dan tak mendayagunakan seluruh kemampuan dari alat yang diproduksi. Tapi, karena sudah menjadi gaya hidup, orang tetap berlomba membeli yang terbaru, yang prestisius, demi bermegah-megahan semata.

Namun, di sisi lain, radar hati manusia (meskipun tak terkalibrasi) masih dapat mendeteksi pergerakan-pergerakan musuh yang ada di sekitarnya. Kita selalu menginginkan pemimpin yang sederhana, yang merakyat, meskipun kadang kita sendiri berpuas dengan bermegah-megahan. Dan manusia pada umumnya benci orang jahat, apalagi koruptor-koruptor yang bermewah-mewahan.

Kalau soal ini, lagi-lagi Umar bin Khattab adalah suatu contoh yang sangat pas. Waktu pelajaran Tarikh (Sejarah Kebudayaan Islam) dulu, (kalau tidak salah nih ya, mohon dikoreksi kalau salah) guru saya bercerita bahwa Umar bin Khattab itu sangat sederhana dan mencintai rakyatnya. Dia tidak bermegah-megahan meskipun dia adalah seorang Khalifah. Pernah dia melihat seorang ibu di tengah malam yang memasak batu untuk anaknya sebab anaknya kelaparan. Setiap kali anaknya bertanya kapan bisa makan, ibu ini menyuruh anaknya bersabar karena nasinya belum jadi. Bagaimana nasinya mau jadi, lha wong yang dimasak batu. Terenyuh oleh hal itu akhirnya Umar ke Baitul Mal untuk akhirnya memberikan beras kepada ibu itu. Dan ibu itu tidak tahu kalau orang itu khalifahnya.

Kisah tentang kesederhanaan Umar bin Khattab selalu terbayang di benak saya, apalagi saat saya ingin membeli sesuatu. Kadang misalnya barang yang saya punya sedikit rusak, rasanya ingin beli yang baru. Namun saya akhirnya teringat lagi betapa sederhananya seorang Umar bin Khattab. Dikisahkan bahwa baju anak Umar bin Khattab itu lusuh atau tambalan. Waktu dia sedang bermain dengan teman-temannya, temannya mengolok-oloknya, masak anak khalifah bajunya kayak gitu? Lalu ia mengadu kepada Umar. Umar pun karena tidak tega akhirnya memanggil petugasnya (kalau nggak salah semacam bendahara lah). Dia bilang ingin berhutang dulu (dari baitul mal apa ya?) dan nanti dibayarkan dari gajinya bulan depan. Si bendahara lantas berkata, “Ya Amirul Mukminin, apakah engkau yakin bulan depan engkau masih hidup?” Lalu Umar menangis dan tidak jadi berhutang.

Lihatlah, betapa seorang Umar bin Khattab sangat sederhana meskipun dia bisa saja bermegah-megahan kalau dia mau. Lihat bagaimana dia memilih untuk hidup sederhana ketimbang berhutang. Sangat berbeda dengan kita-kita sekarang yang demi menginginkan sesuatu rela kredit dan berhutang sana-sini. Lihat bagaimana Umar memiliki hati yang sangat bersih, dan mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Lalu kita baca lagi surat At-Takatsur. Mengapa diulang-ulang “Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui“.. Kalau Tuhan mau, mungkin ayat itu hanya satu, tapi ayat itu diulang-ulang. Coba kita renungkan, apa maksudnya?

Dan pada akhirnya kita ketahui bersama bahwa kejatuhan dinasti muslim disebabkan oleh pemimpinnya yang bermegah-megahan…

Menuju Moksha

Saya rasa pada akhirnya Tuhan ingin supaya kita selamat. Supaya kita terbebas dari berbagai penderitaan di dunia karena kita terpenjara oleh hal-hal yang sebenarnya tidak esensial. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kita menyadari betapa kompleksnya pemikiran manusia, betapa manusia sering tidak berpikir jernih dan menderita karenanya. Dari ilmu behavioral economics kita tahu bagaimana keterikatan manusia terhadap sesuatu telah membuat manusia menjadi berlebihan dalam menghargai apa yang dimilikinya dan membuat keputusan-keputusan yang salah. Bagaimana manusia dengan arogansinya merasa idenya lebih hebat dari ide orang lain meskipun jika mau jujur idenya mungkin lebih buruk. Bagaimana manusia mengejar semuanya dengan menghalalkan segala cara.

Bagi saya pribadi, setiap membaca tentang behavioral economics atau cognitive science, atau bahkan saat mempelajari radar, saya menemukan bahwa sebenarnya banyak hal-hal yang sudah dikatakan Al-Quran. Al-Quran lebih dari itu juga memberikan solusinya. Hanya saja kita terlalu dangkal dalam memahaminya sehingga kita tidak bisa menggunakannya sebagai pedoman hidup. Tentu ada yang berpendapat bahwa kita tidak bisa menggunakan Al-Quran untuk prediksi, dan selama ini kita hanya menggunakannya sebagai postdiksi dan cocoklogi. Ya, tapi kita perlu ingat juga bahwa dalam sains pun ada hal-hal seperi postulat. Ada hal-hal yang sifatnya sebuah gagasan mula yang kebenarannya justru akan dibuktikan seiring dengan waktu meskipun terlihat seperti tidak memiliki basis yang kuat.

Tapi ya kembali lagi. Itulah kenapa Al-Quran dikirimkan sepaket dengan Rasulullah. Ada komponen-komponen yang lengkap di sana, mulai dari Malaikat Jibril, Rasul, Quran, Hadits, Hadits Qudsi. Tentu semuanya memiliki maksud. Dan kita sebagai seorang muslim memiliki tantangan untuk senantiasa mengkalibrasi diri kita terhadap itu semua. Dan tentu untuk mengkalibrasi pun dibutuhkan ilmu.

Ambisi dunia kini kian memuncak. Kita tak sadar telah terseret di dalamnya. Mengejar kejayaan umat hanya untuk ego pribadi. Ingin meraih “greatness” yang padahal tak akan ada habisnya dan mungkin tidak sesuai dengan blueprint kita sebagai manusia. Kita sebagai manusia dilahirkan untuk ‘terpenjara’ oleh aturan Tuhan, bukan terpenjara oleh aturan-aturan yang dibuat oleh manusia sendiri. Tapi ‘penjara’ Tuhan bukanlah penjara. Ia sesungguhnya adalah benteng. Ia adalah suatu perlindungan yang justru membebaskan jiwa kita.

Terakhir, saya berikan sebuah kutipan yang saya terima di BBM.. tepat di saat saya sedang merenungkan tentang hal-hal ini:

Makan, minum agar kita tetap sehat dan beraktifitas dengan .baik. Tapi kita meng enak2 kan nya dgn berbagai penyedap, secara tdk sadar makan berubah menjadi utk enak, utk gengsi, dll, tdk lagi makan utk sehat. Akhirnya yg terjadi adalah kegemukan dan mengidap penyakit. Tidur juga demikian sekedar utk istirahat dan sehat, bahkan juga sebagai muslim dipotong waktu tidur utk Ibadah malam. Tapi tujuan itu Kita alihkan dengan meng enak2 kan tidur Kita, dgn kasur yg empuk, ruangan yg nyaman, bahkan dgn suara musik yg lembut dll. Akhirnya tidur tdk lagi pd tujuan utamanya utk sehat, bahkan salat malam, subuh semuanya lalai sangking enaknya tidur itu. Mobil adalah sekedar transport, tapi Kita meng enak2 kan nya dgn melengkapi apa saja yg mungkin. Fungsi transport berubah mnjadi tempat tidur dn pamer kekayaan. Begitulah, semua hal dalam hidup, Kita usahakan meng enak2 kan nya, menuruti hawa nafsu Kita yg tanpa batas, sehingga visi dn misi Kita dalam kehidupan Kita lupakan, karena terlalu berfikir meng enak2 kan diri sendiri. Hidup harus dikembalikan pd visi dn misinya, bukan soal mengenak enak kan diri. Kita perlu lebih sederhana, mengambil lebih sedikit dan memberi lebih banyak. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s