Renungan tentang Impak: Saat Harper Lee hendak menerbitkan buku baru

Selama ini saya kagum dengan Harper Lee, yang satu-satunya novelnya begitu berpengaruh dan tak lekang oleh zaman. Berita bahwa ia akan menerbitkan buku baru yang sebenarnya adalah karyanya yang pertama (dan ternyata To Kill a Mockingbird adalah versi sudut pandang Scout waktu kecil) membuat saya teringat perbincangan saat menjelang jumatan dengan seorang profesor.

Seperti biasa obrolan dimulai dengan topik apakah saya jadi mempublikasikan paper pertama saya (yang jawabannya masih sama: belum). Lalu berlanjut ke masalah h-index dan kutipan publikasi. Di dunia ini ada ilmuwan-ilmuwan yang mempublikasikan sedikit karya tapi memiliki impak yang sangat besar. Tentu hal ini berbeda dengan orang yang membuat banyak sekali karya tapi yang punya impak besar hanya beberapa dan tentunya dengan orang yang banyak karya tapi tidak berimpak. Maka saat orang bertanya, “Siapa Einstein di era kini?” diciptakanlah algoritma dan metric khusus yang disebut Einstein Index.

Salah satu kalimat yang berkesan dari salah satu biografi Einstein yang saya baca adalah,

Even Einstein couldn’t organize revolution every year.

Ya. Sejenius-jeniusnya orang pun ada batasnya. Tidak berkali-kali mereka membuat suatu breakthrough yang benar-benar gila. Tapi, apalagi orang-orang yang biasa saja? Sama halnya dengan cerita yang dibesar-besarkan tentang betapa orang-orang jenius itu retard di masa mudanya. Itu hanyalah fragmen kecil yang kita tahu dari hidup mereka. Kita mungkin tidak tahu dengan utuh bagaimana perjuangan mereka hingga menjadi bermanfaat untuk ummat manusia.

Dan di era kapitalisme dimana semua diperdagangkan, terkadang orang berlomba mengakali sistem. Karena semuanya diukur dengan angka, mereka berusaha mencari celah untuk membuat angka jadi bagus dengan cara yang sedikit licik. Mungkin di atas kertas nampak keren, tapi sebenarnya impak nyatanya tidak ada. Tapi untuk kasus yang ini saya rasa tidak perlu dibahas dan dipikirkan sebab mereka adalah orang-orang yang memilih hidup dalam ilusi.

Bagi saya yang harus dipikirkan adalah bagaimana kita bisa meningkatkan produktivitas dan impak dari diri sendiri. Terkadang saya bertanya, kalau begitu lebih baik kita fokus pada satu area kecil, tidak perlu mengerjakan banyak-banyak dong? Sebagaimana yang dilakukan Peter Higgs Tapi siapa yang bisa menjamin kita telah “menembak” area yang tepat, dan apakah kita punya “senjata” yang tepat? Hal ini mengingatkan saya pada nasihat Hamming bagi para peneliti muda.

Sejenius-jeniusnya orang, dia tidak akan menciptakan alam semesta. Alam semesta ini sudah ada, hukumnya sudah berjalan. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah menebak bagaimana cara kerjanya. Saya pun teringat Stephen Hawking dalam biografinya bercerita bahwa dia waktu kecil menyenangi model pesawat terbang sebab dia bisa melakukan kendali, memasang-masang dan mengotak-atik pesawat tersebut. Hal inilah yang menyebabkan dia menyukai fisika, sebab ada impresi bahwa dia mengutak-atik hukum alam agar sesuai dengan kenyataan. Ya sebenarnya bukan dia yang memegang kendali atas hukum fisika. Hukum fisikanya sudah ada di alam, tetapi proses pencarian hukum fisika itu membuat kesan seolah dia punya kendali saat menentukan hukum fisika. (Paragraf ini mungkin agak sulit dicerna karena penjelasan yang kurang panjang, tapi intinya sudah tersampaikan).

Ya, jadi faktor keberuntungan menjadi penting saat kita berbicara tentang impak. Sementara yang bisa kita lakukan ya mencoba mengendalikan dan mempertajam diri sendiri. Kalau buat saya pribadi saya ingin mengurangi rasa malas saya, lebih banyak melakukan banyak hal yang lebih nyata impaknya, paling tidak untuk diri saya dan studi saya lah.

Kembali ke Harper Lee. Bukankah ini berisiko, bisa saja buku yang kedua ini tidak se-hits “To Kill a Mockingbird”? Tapi kalau bukunya keren, dia akan semakin jadi legenda ya? Sama halnya dengan Habibie, kalau dia memerintah lebih lama, apakah dia akan lebih prestatif dari itu? Saya jadi teringat ketika dulu saya memutuskan menjadi MWA Wakil Mahasiswa, ada yang bilang

Wah lo salah fik, harusnya lo ga usah jadi MWA, harusnya berhenti aja di Presiden I3M biar epic

Tapi coba sekarang I3M yang pernah saya pimpin sudah tak tahu bagaimana kabarnya, dan MWA malah masih ada. Sementara itu tempo hari, gara-gara kunjungan dari anak-anak Telekomunikasi ke NTU, beberapa anak NTU jadi sering bercanda dengan memanggil saya “Legenda”. Itu karena saya membuat blueprint yang pada akhirnya oleh Syakur (ex Ketua Himpunan yang juga menyusun blueprint itu) dinamai Blueprint Fikri HME. Ya, buat saya itu nggak penting sih ya orang mau menyebut saya legenda kek, mau menyebut saya sampah kek. Tapi satu kesimpulan yang saya ambil: gagasan-gagasan yang tertulis, pikiran-pikiran yang baik pun bisa memberikan impak yang lama untuk sekitar. Sekalipun orang-orang tersebut (maupun diri sendiri) mungkin tidak bisa mengimplementasikannya, paling tidak sudah memiliki pengetahuan tentang “mana arah yang benar”

Dan pada akhirnya saat berbicara tentang impak dan makna kehidupan, ujung dari semuanya hanya satu: kembali ke Tuhan dan menyadari semua ini adalah proses pengabdian kepada-Nya. Saat kita tahu bahwa semuanya adalah menu dari Sang Kuasa, tidak ada lagi keluh kesah dan kekhawatiran. Kita tahu bahwa Ia akan memberikan jalan. Tidak ada keluh lagi, sebab menyadari ini semua adalah proses yang harus dilalui. Dan pada tahap ini sudah bukan “These too, shall pass” lagi yang harus kita genggam, melainkan semangat untuk memetik sebanyak mungkin pelajaran di masa-masa sulit; menikmati proses pendewasaan rohani.

Paragraf sebelum ini murni inspirasi dan bukan dipikir-pikir dan tidak diedit-edit. Sudah lama tidak menulis di sini meski ada beberapa draft yang sudah ditulis dan juga karena saya lebih sering menulis puisi di tumblr (karena entropi puisi lebih besar sebagaimana saya tulis di postingan lain di blog ini). Tadinya hanya mau membuat tulisan singkat ringan, tapi malah jadi agak panjang seperti ini. Hehehe.

Oke, sampai jumpa di post berikutnya dan bonus quotes dari Guru saya:

Panggilan hidup seseorang adalah panggilan untuk hidup jujur, rendah hati, pemurah(akhlak); bukan panggilan untuk sukses.

Tujuan hidup seseorang adalah memperhatikan, mengabdi, mencintai, dan menuju Tuhannya; bukan untuk berprestasi.

Lakukanlah itu!

Hebatnya, bila seseorang melakukan itu, Tuhannya akan mengaruniai dia berupa prestasi dan kesuksesan.

*ditulis setelah menonton Sheldon Cooper yang struggling untuk membuat breakthrough sembari mencoba meningkatkan anxiety levelnya dan sempat menambahkan suara Taylor Swift untuk productive noise. “Taylor swift was right, haters gonna hate hate hate”

 

3 thoughts on “Renungan tentang Impak: Saat Harper Lee hendak menerbitkan buku baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s