Hakikat Pena

Bukan sengaja aku biarkan tempat ini mengusang. Namun jiwa yang dulu gersang mendadak disirami oleh hujan yang tiada habisnya. Dari titik satu ke yang lain, terlalu banyak makna yang diterima sehingga tak jarang tak sempat menuliskannya. Mereka hanya singgah di akal secara sederhana. Masuk memenuhi angan dan pikiran, lalu hati membenarkannya begitu saja. Hasrat untuk mengabadikannya selalu ada dalam dada. Namun, kembali teringat pepatah arab lama,

“ilmu yang berharga untuk dimiliki, pantaslah jika dimiliki dengan hati”

Sejenak aku seperti telah mencapai saturasi. Lelah sudah aku mencari-cari celah, antara akal terbatas dan wahyu tak terbantah, dalam upaya diri mencari kebenaran yang sejati. Tanda demi tanda yang kian lama kian jelas terbaca seolah tak bisa dibantah lagi dengan kata-kata dan logika. Semua hilang tak lagi ada batas antara rasa-kata satu dengan yang lainnya.

Maka di suatu titik aku saksikan betapa manusia menjalani peran yang diberikan Tuhan pada masing-masing. Ada yang merana karena keluarga, ada yang menyesal karena telah tersesat, ada yang tak kunjung menemukan bahagia sementara dia punya apa yang orang lain inginkan. Kebenaran adalah hadiah bagi mereka yang beruntung sebab telah mendapatkan karunia atas segala niat dan perbuatan baik yang dilakukan olehnya dan oleh para leluhurnya. Dan akal masih akan mengira dan bertanya, bagaimana dengan mereka yang tak cukup beruntung?

Mencari kebenaran sejati, kita harus runtuhkan ego pribadi. Memahami bahwa manusia adalah makhluk dengan sejuta bias pikir adalah tahap awal dalam menemukan kebenaran sejati. Sebagaimana diceritakan bahwa ilmuwan-ilmuwan selalu bersikap skeptis bahkan terhadap teori yang ia yakini kebenarannya. Begitu pula kita, dalam mencari kebenaran sejati, harus bisa membedakan mana yang produk pikiran sendiri, mana yang memang berasal dari Sang Maha Sejati. Tapi, apalah kita ini, hanya manusia yang berlumur dosa, namun hendak menjadi cermin bagi Cahaya Di Atas Cahaya?

Lalu, manusia dengan naifnya berpikir, “Namun, Dia adalah Tuhan, bukankah seharusnya Dia mendengar dan menjawab doa kita? Apa yang di hati pun Dia tahu, Dia lebih dekat dari urat nadi, lantas apakah mungkin Dia tak menyertai kita?”

Dan kita lupa, jika segala yang ada dalam manusia bisa mencapai kebenaran sejati, apa guna Rasul dikirimkan oleh Tuhan? Jangan lupa, Tuhan juga bisa membuat aturan yang membuat kita terikat ke dalamnya. Dia yang tentukan aturan mainnya, sedangkan kita.. apalah kita?

Dan perlahan, kita pun akan menyadari hakikat dari sebuah rangkaian rumit bernama kehidupan adalah sederhana. Sesederhana ke mana kehidupan kita ini seharusnya bermuara. Tua muda, tak peduli apa kedudukannya berapa hartanya, seberapa tampan ia.. Tak peduli seberapa menderita atau sukses dia di hadapan manusia lainnya. Semua adalah proses Tunggal, di mana waktu sudah kembali menjadi ukuran yang sama sekali berbeda dari yang kita pahami selama ini.

Saat itu terbuka kita tak lagi takjub akan apa yang ada di dunia sebab semua sudah dijelaskan melalui surat yang dikirimkan-Nya. Maka di titik itu baru terasa nikmat sekaligus tantangan dari perjuangan untuk menuju Sang Tunggal.

*terkadang saya nggak paham dengan apa yang saya tuliskan.. apa alasannya, mengapa saya memilih kata seperti itu, apa perasaan saya saat menulis… kenapa judulnya seperti ini? draft ini terakhir dimodifikasi tanggal 27 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s