Mencari #3

“Bisakah saya katakan bahwa sebenarnya manusia jika dibiarkan mencari dengan pikirannya sendiri tak akan pernah bisa sampai pada semua kesimpulan ini? Sains saja tak akan pernah dapat mengantarkan manusia pada Kebenaran sejati, sebab dia memberikan ruang bagi kenisbian. Maka seharusnya dia justru dibingkai dalam kemurnian tauhid, sehingga dapat membantu manusia dalam membedakan mana yang menjadi fitrahnya, dan mana yang sudah menuju kepada hal di luar fitrah manusia. Dengan kata lain, membantu manusia untuk semakin bisa memisahkan antara yang haq dan yang batil?”

Penuh dengan ketidakyakinan dan terbata. Setelah bertahun-tahun aku mempertanyakannya, akhirnya aku temukan salah satu peran besar sains dalam ber-Tuhan. Melalui rentetan pengalaman terbimbing, aku akhirnya menyadari peranan itu setelah selama ini pikiran-pikiranku saling beradu satu sama lain. Selama ini hidupku selalu dipaparkan pada kontradiksi antara hal-hal yang bersifat absolut dan relatif, antara logika sains dan logika mistik, dan berbagai hal lain yang membuatku tak henti mencari hubungan antara satu dengan yang lainnya. Entahlah, sejak kecil aku tumbuh dengan kompleksitas yang dibentuk oleh aturan sederhana yang membuatku tak berhenti mencari peran dari masing-masing kepingan puzzle.

Dan sembari meminum secangkir teh panas itu,

“Ya, benar. Itulah yang kau dapat dari perjalananmu kali ini.”

Lalu kami berbincang lebih jauh tentang dimensi-dimensi yang lebih tinggi. Di jaman se-modern sekarang, musuh bebuyutan kita pun tak kalah pintar. Sudah lebih tua dia, suratan pun menempatkan dia sebagai makhluk dengan dimensi lebih tinggi. Sementara kita, manusia, sudah bisa terbang ke bulan pun belum mampu mengetahui makna kesadaran yang sesungguhnya, seperti apa jiwa kita, dan siapa kita yang sebenarnya.

Maka, yang bisa kita lakukan adalah menempatkan apa yang kita punya pada konteksnya. Dan saat kita menanggalkan ego kita, baru kita mampu membaca dengan benar ayat-ayat yang telah terejawantahkan di alam. Kita tinggalkan segala yang tidak sejalan dengan fitrah kita sebagai hamba Tuhan. Dan itulah tauhid yang semurni-murninya, sedari pikiran-perbuatan hingga lahir-batin.

*draft 16 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s