Halusinasi

Jangkarkan kapalmu agar kelak ia menjejak tanah saat air laut surut. #boat #sunset #beach

Jika nanti matahari terbenam dan air laut telah surut, di mana perahumu sedang berada?

“Mana yang lebih lo suka di ITB atau di NTU?”

Beberapa hari lalu saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Menurut saya pertanyaan seperti itu sulit dijawab, sebab saya berpandangan bahwa fase hidup yang saya jalani di ITB dan di NTU tidaklah sama, tidak bisa diperbandingkan. Dan karena saya manusia yang terikat oleh waktu, tentu mereka semua sama-sama berperan dalam rangkaian proses sekuensial yang membentuk saya menjadi saya yang sekarang. Dua-duanya sama-sama berharga dan bermakna.

Bagi saya, berada di ITB merupakan sebuah anugerah. Di sanalah saya mendapatkan banyak kesempatan untuk menempa dan mengembangkan diri. Saya mendapatkan banyak exposure terhadap hal baru. Di situ pula hati saya merasa risau akan banyak hal yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Saya sangat beruntung mendapatkan kesempatan untuk belajar berkarya, dan memimpin. Siapa yang sangka seorang anak berusia 15 tahun saat masuk kuliah bisa mendapat kesempatan untuk duduk sejajar dengan gubernur, rektor, profesor, dan tokoh masyarakat di tahun terakhir kuliahnya. Siapa yang sangka seorang yang tadinya sempat putus asa dan tadinya ingin pindah dari ITB masih bisa mengikuti berbagai perlombaan. Belum lagi pengalaman menghadapi dan berkenalan dengan berbagai orang di berbagai komunitas, organisasi, dan juga saat melakukan kerja-kerja sampingan, mereka juga yang membuat saya lebih bisa memetakan posisi saya dalam suatu lingkungan atau kumpulan orang (dan terkadang melakukan sedikit ‘eksperimen sosial’). Dan apa yang saya temui di ITB inilah yang membuat saya membara dan memiliki cita-cita simbolis yang menjulang tinggi.

Namun, proses hidup saya di NTU pun sebuah anugerah. Di sini saya belajar melihat dunia dari sisi lain. Suasananya lebih berbeda memang. Saya tidak terlalu banyak bergaul dengan manusia lain di komunitas atau organisasi tertentu (well, tidak sebanyak dengan yang saya lakukan di ITB). Saya lebih banyak mengisi hari saya dengan kontemplasi akan pemaknaan hidup. I found peace in solitude. Melalui hal-hal yang terjadi, seperti nyaris DO, melihat realita di negara lain, bertemu pengalaman unik dari berbagai orang dan lain-lain, saya dipaksa untuk merenungkan makna paling esensial dari kehidupan. Belum lagi perjalanan-perjalanan yang saya lakukan ke Indonesia selama saya di NTU, merekalah yang berperan banyak bagi saya untuk kembali membangun fondasi diri yang sejati. Semua dipicu oleh apa yang terjadi di NTU; saya belajar untuk merasa dan menjangkau hal yang lebih dalam dari manusia dan kehidupannya.

Dan, saat kita sudah melihat kehidupan sebagai suatu proses besar dengan satu tujuan, setiap kepingan hidup terasa terlalu bermakna sehingga kita tak pernah pusing memikirkan fase hidup mana yang lebih “enak”. Kehidupan semakin menarik saat kita memahami bahwa segala apa yang terjadi di kehidupan kita baik yang terlihat baik mapun yang terlihat kurang baik dimaksudkan agar kita mengambil pelajaran. Implikasinya adalah kita akan menikmati proses, mengurangi rasa khawatir dan mengeluh. Begitu banyak hal semu yang begitu remeh telah memusingkan diri kita. Kita terjebak pada halusinasi untuk mengejar “kehebatan”, meski definisi tentang apa yang “hebat” sendiri tidak kita pikirkan.

Dalam kehidupan ini ada banyak simbol. Simbol itu tadinya digunakan untuk menggambarkan sebuah makna. Namun, lama kelamaan manusia lupa tentang makna dan lebih terikat dengan simbol.

Kalau guru saya bilang:

“Hasrat impian menjadi kaya adalah halusinasi dan kesombongan. Orang kaya adalah orang yang selalu ingin berbuat baik.”

Ya, kita sama-sama tahu apa yang telah mengantarkan dunia modern seperti sekarang belum tentu bisa mengantarkan dunia pada hal-hal yang lebih baik di masa mendatang. Banyak orang kehilangan makna seiring dengan berkembangnya teknologi dan peradaban. Di sanalah sisi altruistik manusia mulai berpikir tentang gagasan-gagasan yang kalau dibahasakan dengan keren jadi semacam Conscious Capitalism, Social Entrepreneurship, dan Social Business.

Yang terakhir ini menarik sih, sebab telah mengantarkan Muhammad Yunus menjadi Nobel Laureate. Dan baru-baru ini ibu saya juga bilang, ada seorang investor muda yang ingin membuat sebuah bisnis: menjual jilbab murah. Tujuannya bukan profit, tapi mempermudah orang untuk beribadah.

Lihatlah, rupanya di dunia ini masih banyak orang-orang yang benar-benar ingin berbuat baik, bukan mengejar ego demi menjadi “hebat”. Dan dari segala pertemuan saya dengan beragam manusia, saya percaya anda bisa dianggap sukses dalam karir atau karya anda tanpa perlu menjadi orang baik. Banyak orang licik bisa meraih banyak hal di dunia ini, tapi mereka tidak menjadi orang baik. Menjadi orang baik itu butuh perjuangan. Dan itulah hal yang paling sejati yang bisa diraih oleh seorang manusia. Dan kalau orang benar-benar baik, apakah mungkin hidupnya tidak sukses dan tidak bahagia? Kita yang punya rasa jahat dalam hati saja sering mengurungkan niat untuk menjahati orang yang berbuat baik kan?

Dan tentu nanti berbicara tentang kebaikan pun kita harus kembali menilik, seperti apa kebaikan yang sejati. Banyak makna universal dari baik. Tapi baik seperti apa yang kita yakini sebagai “kebaikan yang terbaik”?

Lalu dimana kita berada di perlombaan untuk menjadi orang baik? Itulah yang harus selalu kita tanyakan pada diri kita setiap harinya.

*ditulis karena banyak juga yang nanya kenapa saya udah jarang ngeblog. cuman bisa bikin tulisan singkat ini aja untuk sementara. gambar diambil saat saya ke Batam minggu-minggu lalu dan secara kebetulan menemukan sebuah pemandangan yang sebelumnya sempat saya sketch saat saya bosan di lab. oiya. sebenarnya seperti biasa sih kalau ada hal-hal yang mengusik biasanya saya tulis enteng-enteng aja di tumblr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s