Tidak ada kata terlambat untuk keluarga: tentang makna yang dalam dari lagu So7 “Lapang Dada”

“Pernahkah anda merasa terlambat untuk menjadi orang tua yang baik, anak yang baik, atau kakak atau adik yang baik?”

Suatu hari pernah saya jalan kaki bersama seorang teman di sekitaran Orchard. Lama berteman tapi baru kali itu saya tahu hal-hal penting yang terjadi dalam hidupnya, keluarganya, pekerjaannya, dan rencana hidupnya ke depan (sekarang). Waktu itu saya ingat sempat menceritakan hal ini, yang saya dapatkan dari menonton sebuah interview bersama Eross Chandra tahun lalu.

Eross Chandra berbagi kisah tentang bagaimana dia kurang dekat dengan ayahnya karena orang tua nya berpisah sejak dia kecil. Dia merasa kehilangan sosok ayahnya. Namun, sekarang dia tersiksa setelah menjadi seorang Bapak. Dia merasa tersiksa mengetahui bagaimana rasanya menjadi seorang ayah dan membayangkan apa yang dirasakan oleh ayahnya saat ia menjadi lebih tertutup setelah perceraian. Penyesalan yang dia rasakan sampai sekarang adalah: kalau dia tahu ayahnya memang sulit untuk menjangkaunya, mengapa tidak dia yang memulai untuk lebih terbuka ke beliau.

Nah, berhubung baru-baru ini setiap pulang ke Indonesia, lagu “Lapang Dada” dari Sheila on 7 sering diputar di bus dan tempat umum, saya pun mengunjungi halaman youtubenya. Meskipun banyak orang condong mengartikan lagu ini adalah tentang move on dari mantan (seperti digambarkan di video klipnya), rupanya kalau membaca deskripsi videonya hal ini seperti yang diungkapkan Eross Chandra di interview yang saya tonton.

“Single Lapang Dada adalah sebuah lagu pop dengan beat medium yang ditulis oleh Eross dengan latar belakang hubungan pribadi 3 generasi, yaitu ayahnya almarhum, dirinya, anaknya. Ketika Eross sudah berumah tangga dan mempunyai anak, barulah dia bisa memahami hubungan antara seorang ayah dan anak. Tetapi secara general, lagu yang diisi dengan gitar mesin ini bermakna positif, sebuah ajakan untuk berlapang dada dan berusaha mengambil hikmah dari semua kejadian.”

Dalem ya rupanya Bung Eross kalau bikin lagu. (langsung bangga karena se-almamater hahaha)

Ya, memang tak pernah mudah saat kondisi yang ada tidak ideal, baik itu soal keluarga atau soal apapun. Kita terbiasa menyalahkan keadaan dan orang lain, serta membuat diri kita menjadi korban. Dan dengan perasaan itu, kita menerima segalanya begitu saja, seolah tak ada perubahan yang bisa kita buat untuk membuat kondisi menjadi lebih baik. Padahal jika kita mau berlapang dada, merendahkan hati, pasti ada perubahan yang bisa kita lakukan meskipun sedikit.

Dan, saat kita tersadar akan semua itu, mungkin hal pertama yang akan menghentikan langkah kita adalah sebuah pikiran: ah, sudahlah, toh selama ini kehidupan jalan terus dengan seperti ini. semuanya sudah terlanjur. Dan di sini lah ujiannya. Jika kita tahu kita selama ini berjalan di jalan yang salah, meskipun jalannya nyaman, apakah kita tidak khawatir untuk menjalaninya? Tidak ada terlanjur, untuk hal yang salah. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Putar balik, dan berkelok, selama itu membawa kita kepada jalan yang mengantarkan kita pada tujuan akhir kita, tentu adalah konsekuensi logis.

Jadi, kalau misalnya kita merasa kita orangnya jarang berkomunikasi dengan keluarga, mungkin kita harus terus berupaya meningkatkan komunikasi itu meski berat. Mungkin tidak instan dan tidak langsung berbuah, tapi kita tak boleh mengupayakan perbaikan sekecil apapun itu (kelak akan saya paparkan dengan analogi Adaptive Signal Processing). Paling tidak, jangan pernah matikan tekadmu untuk memulainya. 

Ada yang bilang juga sebagai manusia, kita harus mengutamakan keluarga. Teman, meskipun kita selalu merasa nyaman dengan mereka, mungkin pada suatu titik tidak akan merasa memiliki suatu ikatan dengan kita. Sedang keluarga adalah pertalian darah yang mutlak. Mereka yang pada akhirnya selalu ada untuk kita di saat sesulit apapun. (Saya masih punya banyak kisah hidup orang-orang yang saya temui yang semakin mendukung betapa pentingnya menjalin komunikasi dengan keluarga apalagi di saat kita mendapat tantangan hidup. Tapi mungkin saya simpan untuk postingan mendatang).

Dan, mungkin pada suatu titik lagi, kita akan memahami bahwa untuk sebuah tujuan yang sejati, ada pula yang lebih penting dari keluarga, yang tanpa pertalian dengannya dan dengan-Nya, maka akan menjadi sia-sia seluruh hidup ini. Saat kita menyadarinya, maka tak ada hal lain selain tangis sesal atas keterlambatan dan kelemahan tekad kita untuk menuju suatu Persahabatan dan Kekeluargaan yang abadi hingga akhirat nanti. Kita tahu betul bahwa saat waktu sudah tidak ada lagi, kita akan rela berjalan menujunya meski merangkak jika diberikan kesempatan. Dan, selama waktu masih ada, maka tidak ada kata terlambat.

*inspirasi menulis hari ini saat seorang teman mengatakan, “Gua tuh orangnya nggak deket sama keluarga, bukan tipe yang sering ngomong sama mereka.” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s