Ujung Mula Penghujung (saat menjadi delusional adalah pilihan)

Kita selalu mengagumi orang-orang yang maniak dan bekerja keras untuk mengejar tujuan hidupnya, tapi kita sendiri terlalu lembam dan sering memilih hidup nyaman dan tak mau mencoba menjadi versi terbaik dari diri kita.

Graphic by James Clear.
Gambar ini akan berhubungan dengan apa yang akan saya obrolin, diambil dari: http://jamesclear.com/identity-based-habits

Tentang riset

Baru-baru ini, saya benar-benar merasa seisi dunia mengingatkan saya bahwa ini sudah memasuki penghujung masa studi saya. Kemarin, supervisor saya baru memberikan saran untuk perbaikan satu-satunya draft journal paper yang saya buat. Itu pun yang dikomentari adalah abstrak dan penjelasan algoritma dan formula-formula yang saya gunakan [1]. Lalu diakhiri dengan pertanyaan:

“How many chapters have you written?”

Mak? Saya belum mulai menulis tesis. Baru mau nulis paper yang lain bahkan. Itu pun belum selesai bikin evaluasi performanya. Nah, kata supervisor saya pokoknya di akhir tahun saya harus sudah menulis setidaknya 4 paper lagi.

Malamnya saya berdiskusi dengan senior yang sudah di tahun terakhir. Dia bahkan belum mulai menulis tesis. Padahal harus disubmit dua bulan lagi. Akhir bulan ini malah dia bakal conference ke US seminggu. Di satu sisi agak lega sih ya liat kondisi senior saya yang nggak kalah seram (yah, tapi dia mah udah ngerjain banyak sebenernya).

Tentang usia saat lulus PhD

Saya nggak tahu ya, orang-orang selalu membahas usia saya. Saya sendiri tidak peduli saya lulus usia berapa, apakah termuda atau enggak. Buat saya itu hal yang remeh, bukan sesuatu yang menjadi kejaran.

Saya justru lebih bingung, apakah saya nanti saat mendapat gelar PhD memang benar-benar mengerti tentang Teknik Elektro secara filosofis? Saya merasa kualitas saya sangat jauh di bawah rekan-rekan saya. Apalagi saya berangkat dari jalur yang berbeda, seorang pembolos di masa sarjananya yang sama sekali gak ada bau-bau bakal ambil PhD. Waktu S1 pernah IP satu koma, waktu S3 juga IP satu koma. Sebagai PhD student, baru mulai riset ‘efektif’ setahun ini karena tersendat dengan kuliah dan nyaris DO sampai warning ketiga. Dan di tahun ketiga (yang mana kalau di negara lain mungkin sudah masa normal lulus PhD) ini saya belum punya publikasi satu pun.

Kalau dibandingkan dengan teman saya yang pas S1 setahun di bawah saya, yang dulu saya ospekin, beda banget. Dia highest GPA dari S1, pas PhD juga GPA nya perfect terus dan sudah publikasi. Belum kalau dibandingkan dengan researcher/PhD student yang produktif lainnya yang sudah bikin belasan paper. Saya merasa sangat jauh dari segi keilmuan maupun etos kerja. Saya masih bekerja dengan tidak terorganisir.

Tapi semua perbandingan itu bukan untuk merenggut kebahagiaan atau mengurangi rasa syukur. Biar bagaimanapun saya bersyukur bisa mendapat kesempatan PhD di universitas yang bereputasi baik dan dekat dengan Indonesia, apalagi bisa dibilang effort saya tidak seedan itu untuk bisa masuk (lebih banyak luck factor-nya). Apalagi sampai saat ini saya masih di sini, bisa makan, bisa minum, tidak ada masalah dengan hukum. Saat menemui cerita-cerita hidup orang lain, saya jadi bisa mengapresiasi hal kecil.

Kita tak pernah tahu betapa beruntungnya hidup kita, sampai kita melihat orang yang tidak seberuntung kita.

Ya dan yang paling penting adalah bagaimana kita bisa tetap rendah hati dan senantiasa bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Kalau nanti saya PhD di usia muda tentu saya tidak boleh sombong, karena saya tahu bahwa lebih banyak faktor keberuntungan yang membuat saya bisa lulus PhD di usia muda. Dan dengan gelar yang baru maka akan ada tanggung jawab yang baru pula. Tanggung jawab inilah yang sebenarnya lebih saya pikirkan.

Mengejar disiplin

Ada yang bilang sebelum mengejar passion, kejarlah tiga hal: kedermawanan, pengetahuan, dan disiplin. Saya percaya bahwa disiplin adalah hal yang paling sulit saya lakukan. Saya orangnya angin-anginan. Kalau saya sedang menggemari atau menginginkan sesuatu, saya akan menjadi maniak. Tapi, saat gairah itu hilang saya masa bodoh dengan apapun itu.

Kedisiplinan adalah hal yang sangat penting. Kedisiplinan menuntut manusia untuk memiliki habit dan mengorganisasikan kehidupannya dengan baik. Berkaca dari pelajaran tentang siklus sebuah bisnis, di awal suatu bisnis dibuat yang paling penting adalah membuat bisnis itu berjalan. Mungkin segala hal dikerjakan dengan prinsip ‘asal kejadian’, dengan tatanan yang tidak terlalu rapi. Namun, pada saat seseorang ingin bisnisnya berkembang, dia harus bisa bekerja dengan lebih terorganisir (terorganisasi).

Ya, disiplin adalah yang membedakan seseorang yang berkembang atau tidak. Konsistensi dalam memperkuat otot ‘pikiran’, ‘mental’, ‘fisik’, maupun ‘spiritual’. Orang yang tidak memiliki kedisiplinan akan kehilangan kesempatan untuk ‘scaling up to their maximum potential’.

Nah, salah satu alasan saya PhD dulu ya pengen mengejar disiplin ini. Dulu waktu S1 saya males-malesan, saya pikir kalau nanti sekolah lagi saya mau serius dan belajar rajin. Eh, ini udah tahun ketiga masih gini-gini aja. Perubahan itu memang harus dimulai, diusahakan, dan di-maintain.

Mengubah habit

Baru-baru ini saya baca buku tentang cara mengubah habit. Saya merasa analogi adaptive signal processing benar-benar pas dengan ini.

Intinya adalah, untuk mengubah habit, kita harus membangun identitas dulu. Lalu kita berusaha memegang teguh identitas itu. Terkadang kita akan gagal dalam mencoba menghasilkan sesuatu, tapi kita tidak boleh menyerah. Kekhilafan tidak membuat kita menjadi penjahat abadi. Ini yang saya coba lakukan, tidak menyerah sedari dalam pikiran untuk menjadi lebih baik.

Saya baru-baru ini banyak pinjam textbooks dari perpus. Saya pikir, kalau baca buku-buku umum saja saya bisa tahan sangat lama, mengapa tidak dengan textbooks. Entahlah, saya selalu merasa semua ilmu itu menarik, termasuk dunia teknik elektro dengan segala irisannya dengan matematika dan fisika. Ada banyak sekali yang bisa dan ingin saya pelajari. Namun entah mengapa ada penjara mental, yakni pola yang sudah terbangun sejak dahulu yang membuat saya seperti ini, yaitu:

1. Kebiasaan saya untuk menjadi impulsif, mulai belajar seperlunya, berhenti semaunya. Dan sialnya sampai detik ini saya bisa survive dengan metode ini, sehingga terkadang saya tidak merasa ada urgensinya untuk belajar teratur.

2. Suatu citra diri bahwa saya adalah seorang pemalas. Karena dari dulu menjalani kebiasaan orang-orang pemalas, saya pun akhirnya menerima predikat ‘pemalas’ sebagai identitas saya. Dan memang begitu pula cara orang lain memandang saya. Identitas inilah yang harus saya perangi.

SINR_30

Dalam mengubah habit memang ada overshoot-nya, tapi secara garis besar selama disiplin/konsisten maka akan mendekati garis optimal.

Nah, kalau dalam ilmu adaptive signal processing, hal-hal ini adalah weight vector (pembobot) yang harus saya ubah. Performa saya hanyalah output dari keberadaan pembobot ini. Kalau pembobotnya benar, metodenya benar, nanti outputnya ngikut aja. Dan cara untuk mengubahnya adalah saya harus berusaha memprogram diri saya agar saya memiliki identitas diri sebagai seseorang yang disiplin. Dan dalam proses adaptasi untuk mencapai identitas tersebut, tentu seseorang akan mengalami jatuh bangun, namun jika dirata-rata dan seiring dengan waktu, akan ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau istilah statistiknya, dengan asumsi kehidupan ini adalah proses stokastik yang mean ergodic, kalau kita hidup seribu kali dan memakai metode yang benar maka kurvanya akan mulus. Kalau kata SBY, selama kita konsisten Ku Yakin Sampai Di Sana

Belajar dan Pilihan

Belajar itu melelahkan.  Seperti obat. Kadang obatnya pahit, tapi kalau diminum nanti kita jadi sehat. Kalau nggak ya akan terus sakit.

Terkadang saya bingung mengapa saya rasanya belum paham basic tentang radar dan signal processing. Saat ke perpus, rasanya ingin membaca textbook yang fundamental. Merasa malu di satu sisi, kok lagunya lagu lama. Tapi ya sudah, saya harus menerima itu. Seorang ahli adalah dia yang menguasai fundamental dengan baik. Bagaimana saya mau ahli kalau fundamental saja tidak tahu? Bagaimana mau membangun sebuah pencakar langit dengan fondasi yang rapuh?

Dalam hidup ini kita sering dihadapkan pada pilihan. Kadang ada pilihan yang sebenarnya ingin kita pilih, tapi kita takut untuk memilihnya. Pilihan ini secara hitung-hitungan tidak membuat kita jadi mati, malah kita yakin pilihan ini baik sehingga kita sebenarnya menginginkannya. Tapi, pilihan ini menakutkan karena menuntut perubahan-perubahan dan mengandung ketidakpastian yang menakutkan. Kadang kita tidak mengambilnya karena takut atau malas, padahal kalau kita yakin, pasti pilihan ini akan mengembangkan diri kita. Dan seburuk-buruknya hasil, akan ada hikmah dibalik itu semua.

Bonus: motivational quotes yang ditemukan di internet:

Trigonometri II

"Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan" - Imam Syafi'i

Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan - phytagoras

Delusi

Membaca kisah hidup orang-orang sukses, terkadang saya merasa bahwa mereka waktu muda begitu delusional. Mereka tak jarang mengambil pilihan-pilihan gila dan sulit karena keyakinan mereka pada kekuatan impian. Terdengar klise yah. Tak jarang mereka ‘berjudi’, mempertaruhkan semuanya meski mereka tahu ada kemungkinan untuk gagal.

Yang atas ini gambarnya lihat di newsfeed fb, dipost sama dosen pembimbing TA saya.

Tapi setelah saya pikir-pikir. Justru delusi itulah yang menjadikan mereka berhasil. Mereka tidak lelah mengincar weight vector yang optimal untuk bisa menghasilkan performa yang mereka inginkan. Paulo Coelho misalnya, dari kecil benar-benar bermimpi untuk menjadi penulis dan meskipun tulisan-tulisannya kalah lomba atau ditolak penerbit, dia percaya bahwa ini hanya soal keberuntungan. Dia sukses mengubah identitas dirinya menjadi penulis, jauh sebelum dia menjadi penulis terkenal. Dia sudah menanam bibit sukses sebelum dia sukses. Dan proses jatuh bangun dalam karirnya adalah proses ‘adaptasi’, yakni menyesuaikan antara performa (deliverable result) dengan identitasnya.

Disiplin. Itulah yang membuat mereka tidak kalah dengan status quo dari realita. Imajinasi mereka berperang tiada henti dengan realita. Mereka mungkin kalah dalam sekali dua kali perang kecil, tapi mereka membuat progres. Dan progres inilah yang membuat mereka menjadi pemenang di akhir. Dan jika sudah menang di akhir, progress mereka akan konvergen, konvergen terhadap level maksimum, sesuai apa yang bisa mereka raih.

Ya, mereka adalah maniak. Mereka eksentrik. Mereka rela bekerja begitu keras untuk impian mereka. Mereka hidup dalam delusi, tapi tak lelah untuk mematerialisasikannya. Kebanyakan dari tips sukses itu memang “Do something important” “Take risk” “Do what you like” “Never give up” “Work super hard”…. terdengar klise yah..

Yang intinya adalah menuntut kita untuk jadi delusional. Membangun dulu identitas diri kita. Inilah yang sering disebut ‘fake it ’till you make it‘ (bukan ‘simply being fake‘ yah).Tapi ya itu tadi, kalau berdasarkan ilmu adaptive signal processing, selama konsisten pada akhirnya sinyalnya akan mendekati batas maksimum.

Inilah yang sulit diterima orang-orang sehingga akhirnya mereka memilih hidup yang biasa saja, menyerah dengan keadaan dan mengikuti arus.

Impian saya (yang ini curhat pisan sih)

Banyak orang bilang saya aneh dan delusional. Ya, memang terkadang saya juga merasa mimpi saya ketinggian. Pengen jadi renaissance man lah, yang menguasai banyak ilmu, pengen jadi inovator, penulis, punya universitas, jadi businessman, jadi penyair sufistik, terus mendirikan bisnis yang revolusioner, merevolusi pendidikan dan sains di Indonesia dan banyak delusi-delusi lainnya. Delusi ini mungkin akibat pergaulan dari kecil kali ya.. karena dari kecil keluarga besar saya itu seperti melting pot.. setiap hari saya sudah ngobrolin banyak hal dari politik sampai metafisik. Dan entah, dari kecil orang-orang selalu membangun identitas saya sebagai orang yang punya kapasitas otak di atas rata-rata, sehingga itu menjadi bagian dari delusi yang saya punya. Begitu kuliah orang-orang seolah yakin bahwa kelak saya akan jadi ‘seseorang’, jadi menteri lah, jadi pebisnis lah, jadi penulis, jadi penemu dan lain-lain. Meskipun terkadang belum ada bukti nyata bahwa kelak saya akan bisa seperti itu.

Terkadang saya juga capek sama cita-cita saya (yang kebanyakan) ini. Saya orangnya terlalu terbuka dengan beragam kemungkinan sehingga sampai detik ini, seolah-olah saya tidak mau merelakan mimpi-mimpi itu. Misalnya saya pengen jadi musisi, terus nyoba bikin lagu atau main gitar, tapi terus nyadar saya masih cupu.. saya nggak pernah bilang ke diri saya sendiri bahwa mimpi saya harus diakhiri. Saya hanya merasa mungkin ini belum bisa menjadi fokus. Lalu saya melihat contoh-contoh, banyak lagu-lagu yang gak bermutu tapi sukses di pasaran. Sebaliknya ada juga lagu-lagu bagus tapi bukan komersil.

Dan di era globalisasi via internet ini, orang yang tiga tahun lalu cuma artis youtube bisa tiba-tiba jadi artis label. Orang-orang yang tadinya kita kenal sebatas blogger, tau-tau jadi penulis yang punya penggemar. Orang yang tadinya tukang mebel, bisa jadi walikota, terus gubernur, terus presiden. Dunia ini sudah tidak sekonvensional dulu. Dan entah bagaimana pikiran saya selalu terbuka terhadap itu semua. Keajaiban-keajaiban selalu terjadi setiap harinya, lantas apa salahnya kita ingin memaksimalkan semua potensi yang kita miliki.

Dan toh, dunia ini hanya permainan. Apa salahnya kalau kita bermain dengan maksimal. Hiduplah seolah-olah kau akan hidup selama-lamanya di dunia.

Graveyard

Tapi tentu saja terlepas dari saran-saran delusi dan lain sebagainya. Memang selalu ada luck factor. Apalagi hal-hal seperti circumstancial luck. Nah, ada baiknya untuk bikin kaki tetap napak, selalu lihat contoh-contoh gagal. Dunia ini isinya nggak cuma orang sukses, ada juga mereka yang gagal. Orang nggak lulus S1 terus tajir macam Bill Gates dan Steve Jobs memang ada, tapi nggak sedikit juga yang hidupnya susah misalnya. Kita harus jeli melihat statistiknya.

Harus seimbang antara menjadi delusional dan rasional. Harus tahu konsekuensi yang kita terima saat mengambil pilihan. Dan harus tahu apa yang kita korbankan saat kita berusaha menjadi lebih delusional atau lebih rasional.

Kalau membaca Anak Semua Bangsa, ada hal-hal yang memang sudah ditakdirkan saat manusia lahir. Yang menjadi renungan saat Minke ke Tulungan: apa jadinya jika dia tidak lahir di keluarganya, tidak mengenyam pendidikan? Kita tidak bisa melawan hal-hal yang sudah pre-written semacam itu. Meskipun circumstance pun berubah-ubah, misalnya kalau suatu negara mengalami perubahan institusi politik. Pada jaman Cina kuno misalnya, karena kekurangan aristokrat untuk berperang (karena pada gugur) akhirnya membuka peluang non-aristokrat untuk masuk militer.

Menjual mimpi seperti tukang prospek MLM memang terlihat indah, tapi penting juga untuk melek realita. Kebenaran mungkin pahit. Hidup memang pahit tapi.. kita punya bekal untuk menang (jika kita mau mencari). Semua itu lagi-lagi tergantung mindset kita. Kita mungkin akan gagal dalam usaha kita. Tapi itu tidak membuat kehidupan kita gagal seluruhnya. Dan ujung-ujungnya ya, bagaimana kita pertaruhkan sekali hidup ini agar berarti. Itu saja kan. 

Oh ya, tentu saja tulisan yang panjang hari ini (setelah puasa ngepost di sini dalam waktu yang lama) hanya membahas salah satu aspek dari kehidupan saja. Yakni aspek temporer. Aspek temporer itu, saya percaya, tidak akan ada artinya tanpa pemaknaan hidup dalam level tertinggi: yakni transendensi diri (yang mungkin akan saya bahas di tulisan selanjutnya. Ide besarnya ada di postingan ini). Transendensi diri inilah yang saya pikir paling penting agar kita punya bantalan untuk mengambil risiko dan menghilangkan ketakutan dalam memperjuangkan kehidupan. Udah deh, capek nulis. Tadi niatnya nulis singkat aja padahal. Ambil baiknya aja, jangan ambil delusionalnya juga.

[1] Entah mengapa saya selalu lupa untuk berpikir sebagai orang yang akan membaca penjelasan saya. Baik itu presentasi maupun dalam bentuk tulisan.

One thought on “Ujung Mula Penghujung (saat menjadi delusional adalah pilihan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s