Checkpoint ke-23 dalam Paradigma Baru

Saya bukan orang yang merayakan tanggal lahir saya sebagai pesta. Kebetulan di hitungan kali ini saya sedang bepergian, sehingga tidak sempat merenung dengan mendalam dalam momen ini sebagaimana biasanya. Namun, sekarang saya ingin menuliskan beberapa checkpoint. Terkadang kita butuh checkpoint sebagai tanda bahwa kita tidak diam di tempat.

Oiya, satu hal yang mungkin menjadi paradigma baru bagi saya pribadi. Dulu, saya sering menuliskan hal-hal seperti ini untuk mengapresiasi diri saya sendiri, agar saya punya self-esteem. Kini, agaknya saya ingin membuat checkpoint dengan motivasi yang transenden. Saya percaya hidup ini ada yang mengatur. Sebagaimana alam semesta ini sudah ada hukumnya dan fisikawan hanya berusaha membahasakannya dengan matematika dan metode ilmiah, saya adalah subjek yang mengalami apa yang digariskan.

Mengalaminya dengan berbagai rasa, karena hidup ini tak jarang terasa pahit meski lebih banyak manisnya. Tapi, itu semua kembali pada paradigma. Bagi orang yang memiliki paradigma syukur, seperti apapun kondisinya (biar orang bilang itu buruk dan negatif), dia bisa melihat titik cerahnya. Saya ingin jadi orang yang seperti itu. Maka dari itu, saya ingin mendaftar beberapa hal yang patut saya syukuri.

1. Saya tidak jadi DO, dan akhirnya menjadi PhD Candidate

Kayaknya sudah terlalu banyak yang saya tuliskan tentang ini di blog. Lucunya adalah saya semakin mensyukurinya ketika menyadari bahwa saya belum punya basis yang kuat, bahkan sekarang saya baru nemu kesalahan fatal dari apa yang saya buat untuk ujian saya. Dengan nikmat ini, saya masih jadi PhD student /candidate di NTU,jadi punya kesempatan untuk belajar lebih dan (insya Allah) masih bisa meraih gelar PhD. Jadi, mana mungkin nikmat ini saya dustakan?

Dan ini adalah sebuah checkpoint untuk menjadi ilmuwan dan inovator, meski masih jauh tapi gerbang awal. Progres sekecil apapunt tetaplah progres.

2. Saya akhirnya menulis buku

Dari dulu saya bermimpi untuk menjadi penulis. Baru kali ini akhirnya kesampaian ikut bikin buku. Dan kesempatan itu datangnya tidak diduga-duga pula. Benar-benar luck factor.

Jadi, Pak Ismu, adalah atase Dikbud baru di KBRI. Dia ingin membuat buku tentang sistem pendidikan di Singapura. Awalnya dia mau mengajak muridnya yang pernah sekolah di NTU, lalu si muridnya ini merekomendasikan Mbak Fika. Mbak Fika yang sudah sibuk thesis akhirnya mengajak saya dan Delphin untuk ikutan.

Ebooknya bisa dilihat di sini, di nomor satu. Sebenarnya waktu nulis saya lagi sibuk persiapan QE. Alhamdulillah Mbak Fika dan Delphin sangat pengertian, jadi saya dikasih bagian yang dikit aja. Tapi saya tetap mensyukuri kesempatan ini dan sangat senang😀

Bahkan pernah pas saya lagi bengong di jalan memikirkan ide novel sains populer (setelah berbincang sama Prof Tegoeh), ada mahasiswi Indonesia yang papasan terus bilang ke saya, “Cie bikin buku..” Saya sempet bingung, lah ini buku masih ada di pikiran kok. Rupanya yang dimaksud adalah buku itu karena dia habis dikasih Pak Ismu hard copynya (yang bahkan saya nggak punya haha). :))

Ya, memang sederhana. Menulis untuk KBRI, bukan menjadi single author, hanya mengumpulkan materi yang sudah ada dimana-mana, tapi tetap: sebuah checkpoint dalam mewujudkan cita-cita sebagai penulis.

3. Sempat mendapatkan passive income

Adalah teman sekosan saya jaman kuliah di S1 dulu, yang selalu gigih untuk menjadi pengusaha, tiba-tiba menanyakan saya apakah saya bisa meminjamkan sesuatu. Dan akhirnya untuk beberapa bulan saya mendapatkan passive income yang lumayan. Ajaibnya ini terjadi setelah beberapa bulan sebelumnya ibu saya bilang, “Udah nanti mama doain biar kamu dapat sumber penghasilan lain.. nanti pasti ada jalannya.”

Duitnya lumayan sih jika dibanding effort yang saya keluarkan. Walaupun kadang untuk mengerjakan hal yang kecil saja saya harus menggerutu karena stress dengan kehidupan PhD student. Meski, harus cepat berakhir karena ada hal-hal yang tidak terduga, tapi saya sangat bersyukur. Dan memang sekarang belum ada passive income lagi sih, tapi saya ingin mensyukuri itu. Karena dengan itu saya jadi bisa mengalokasikan uang untuk ke Indonesia, sehingga bisa bersilaturahmi, ketemu keluarga, berziarah, dan banyak hal yang semakin mendekatkan saya pada Tuhan. Ya, dan ini adalah sebuah checkpoint dalam membangun kemandirian finansial. Checkpoint kecil yang mungkin bisa disebut warming up lah.

4. Saya bisa lebih sering bertemu keluarga

Ya, kalau dibandingkan jaman kuliah di ITB dulu. Mungkin selama saya di NTU saya lebih banyak pulang. Lebih banyak makan bersama keluarga. Suatu hal yang saya syukuri dan merupakan sebuah checkpoint dalam menjadi pribadi yang lebih baik.

5. Saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan sebuah spiritual recharge serta mendapatkan banyak pelajaran kehidupan dari berbagai kegalauan hidup baik yang saya alami maupun orang-orang di sekeliling saya

Ya, apalagi yang dicari dalam hidup ini. Banyak orang menua tapi tidak bertambah dewasa. Banyak yang menjadi dewasa tapi tidak bertambah bijaksana dalam memandang hidup secara menyeluruh.

Saya tidak bisa lebih bersyukur lagi untuk hal yang satu ini. Banyak sekali pencerahan yang saya dapatkan di tahun ke-23 ini. Tentu saja itu bukan saya dapatkan karena akal saya. Itu semua semata-mata adalah keberuntungan dan petunjuk Tuhan melalui berbagai hal. Dan hal lain seperti tak ada artinya dibandingkan ini.

Namun semakin ke sini saya semakin sadar, bahwa checkpoint nomor 5 adalah yang terpenting sekaligus yang paling rawan. Sebab keimanan itu naik turun. Saya hanya bisa berharap, kelak bagaimanapun kondisinya saya tetap berjalan menuju satu arah. Arah menuju ridho Tuhan. Banyak ilmu yang belum saya ketahui, akhlak ini masih jauh dari sempurna, amalan-amalan ini masih jauh dari apa yang bisa dilakukan.

Saya hanya bisa berdoa agar Tuhan senantiasa memberikan saya pertolongan agar saya bisa istiqomah di jalan ini, sebagaimana Tuhan telah berikan saya kekuatan untuk memutar hati saya dari hal-hal yang buruk dan negatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s