c-lari-ty

Magisnya Olah Raga

Sejak di Singapura, saya kembali menemukan kenikmatan berolahraga. Hal itu dimulai saat saya sedang depresi sejak akhir semester pertama. Saya kembali menemukan olah raga sebagai hal yang saya nanti setiap saat. Waktu itu setiap sabtu saya bermain bola. Hari-hari lain hanya menjadi pengisi waktu sebelum bermain futsal lagi yang hanya dua jam. Selain itu saya juga sempat ke gym untuk beberapa bulan, dan juga bermain basket.

Entah ya, sejak kapan saya jadi malas berolahraga. Rasa-rasanya sejak tingkat dua kuliah di ITB. Padahal waktu SD saya bener-bener hobi banget berpetualang dengan sepeda/roller blade dan bermain bola berjam-jam. Saya juga hobi berenang waktu SMP sampai SMA. Mungkin karena impian saya untuk jadi Tsubasa selalu gagal kali ya. Waktu SD saya gagal masuk tim. Waktu SMP gagal masuk ekskul bola (padahal saya merasa pas seleksi main saya bagus, dan bahkan kapten bolanya waktu itu juga mengakui saya jago. Waktu itu saya jadi bek dan sempet tackle bersih doi di kotak penalti). Yah gitu deh, akhirnya udah gak minat lagi. Merasa nggak bisa lagi jadi kayak di Whistle!.

Tapi sebenernya yah, ada yang magis dari olah raga. Saya curiga ini ada hubungannya dengan Mind-Body Connection, dengan NLP. Saat berolahraga, semangat dan kesegaran, serta dinamisasi koordinasi tubuh ikut membebaskan dan menyegarkan pikiran. Segala stress hilang untuk beberapa saat. Dan, tentunya beberapa saat ini yang adalah momentum untuk kembali mendayagunakan working memory kita untuk fokus pada hal-hal positif. (Teorinya begitu ya, mensana in corporesano).

Makanya hari ini saya lari. Pokoknya akhir-akhir ini kalo udah suntuk banget saya mending lari deh. Lari aja pake sepatu futsal butut yang udah bikin jempol ganti kuku berkali-kali setiap tahun.

Family and Priority

Beres lari, seperti biasa, saya mencari vending machine untuk membeli green tea lalu duduk di bench di salah satu blok. Hari ini dengan sayup-sayup suara imam tarawih, saya melihat satu keluarga yang hendak bepergian dengan mobil. Dua anaknya yang masih kecil masih asyik naik scooter. Orang tuanya sudah ngingetin untuk stop. Kakaknya (cewek sekitar 6/7 tahun) masih asyik main, jadi adiknya (cowok masih 4/5 tahun) juga nggak berhenti main. Sampai akhirnya Bapaknya nyetop mereka pas sampai di ujung trotoar. Lalu mereka naik mobil. Bapaknya masukin scooternya ke bagasi,

Dan karena baru-baru ini baru namatin buku family wisdom jadi kepikiran aja dengan cara-cara ideal yang ditulis di sana. Mungkin itu adalah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ideal jika dilaksanakan ya. Agar setiap kepala keluarga menjadi leader bagi dirinya sendiri dan keluarga, lalu mendidik anak agar punya visi yang lebih dari sekedar dirinya sendiri. Memperhatikan dan memberi reward dan banyak hal lainnya.

Mungkin seperti itu idealnya. Selama ini banyak yang bertanya, gimana sih saya dididik oleh orang tua saya. Banyak yang mengartikan saya ini sukses dan contoh yang seimbang atau apa lah. Saya sendiri nggak pernah merasa gitu ya (apalagi kalau mau introspeksi diri.. buset, tampilannya aja kali yang bisa bikin orang mikir gitu ya). Dan memang ibu saya selalu mengajarkan kalau kita ini bukan apa-apa, kita ini beruntung aja. Semuanya terserah Tuhan. Dan ibu saya juga kalau ditanya selalu mencoba buat bilang kalau banyak orang lain yang lebih sukses (dan memang faktanya demikian).

Kami bukan keluarga yang sering berkumpul bersama-sama. Yang sering kasih-kasih kado atau apa. Saya selalu merasakan keluarga saya itu berbeda. Saya nggak pernah dipaksa harus les ini itu, belajar ini itu, nilai harus bagus blablabla. Saya selalu didukung sih ya, mau saya dulu dagang mainan, bikin komik, bikin desain atau apa, mau ikut kelas aksel, apapun itu kecuali kalau saya mau jadi pengacara, politikus karir, dan psikolog (dulu sih gitu gatau sekarang). Tapi rasanya yang paling penting adalah orang tua kami selalu memberikan kepercayaan, selalu mengingatkan bahwa yang penting itu urusan dengan Tuhan, dan juga terkadang keras saat dibutuhkan (dipaksa ke surau lah, dipaksa bersilaturahim lah, dan hal-hal lain).

Entahlah, mungkin memang doa orang tua kami yang membuat kami-kami bisa berkembang seperti ini ya. Mendapat banyak kemudahan dan keajaiban kecil dalam hidup. Tapi ya bayarannya mungkin mahal dibandingkan orang-orang lain yang punya kehidupan yang relatif normal. Orang-orang sekitar ibu saya juga pasti paham betapa tidak normalnya keluarga kami dan individu anggotanya.

Saya juga kadang mikir, kalau berkeluarga kelak, bagaimana agar saya kelak bisa mendidik anak saya agar punya nilai-nilai positif tanpa mereka harus merasakan ‘metode’ yang sama. Mungkin saja memang apa yang ada di buku family wisdom itu benar ya. Dan semuanya memang harus dimulai dengan menjadikan keluarga sebagai prioritas dulu, dan harus ditanamkan dalam hati.

Sudah banyak buku-buku dan kisah-kisah di era modern ini yang mengungkap betapa hampanya orang-orang yang sukses dalam bisnis dan bergelimang materi, tapi tidak meraih kepuasan dan kebahagiaan karena mungkin banyak menelantarkan keluarganya. Dan saya rasa, beruntunglah kita-kita yang paham itu sedari muda.

Clarity Precedes Mastery

Saya sedang terobsesi dengan kata-kata di buku ini. Memang kalau mau apa-apa harus jelas dulu, apa yang dimau. Dan untuk tau apa yang sebaiknya kita mau, memang tak jarang harus belajar dari pemikir-pemikir hebat, dari buku-buku, dan juga kitab suci. Dengan terus mencari ilmu, banyak membaca, berdiskusi, pikiran kita akan berkembang dan kita bisa berdiri di atas bahu sang raksasa, membuat kita jadi lebih tinggi.

Kalau dipikir-pikir, pengetahuan itu terus berkembang. Tapi kebijaksanaan isinya itu-itu aja. Kebijaksanaan itu berubah-ubah bentuknya jadi berbagai pengetahuan yang dikumpulkan dari pengalaman-pengalaman umat manusia dari jaman manusia bisa menulis. Dan di dunia yang berkembang dengan cepat itu, kita memang perlu diam sejenak untuk mempelajari kebijaksanaan yang diakumulasi oleh umat terdahulu. Dengannya kita jadi paham ke mana harus bertindak.

Clarity. Sebelum mau meraih atau menjadi ahli di suatu bidang, harus jelas dulu apa tujuan akhirnya, bagaimana milestonenya, dan bagaimana mencapai milestone itu. Percuma kan kita heboh-heboh tapi lari di tempat.

Tapi hidup itu memang soal revisi yah. Kalau dari kecil kita merasa passion kita main bola. Terus kerjaan kita main bola terus. Terus kita jadi nggak pernah mengeksplorasi olah raga lain. Eh udah agak tua, kita nyoba main voli. Eh, rupanya main voli lebih asik dari main bola loh. Lalu ganti ‘passion’.

Mungkin setelah menemukan satu clarity. Kita akan bergerak ke arah clarity yang lain, atau clarity yang lebih dalam.

Control Trap

Saya agak terkejut yah waktu tadi habis makan siang bareng grup beberapa alumni ITB, Delphin bilang kalau dia mulai berpikir bekerja untuk perusahaan consulting kayak Ernst & Young. Omaigod, saya pikir orang seperti Delphin bener-bener passionnya mutlak di bidang riset. Sebenarnya pikiran saya nggak salah sih. Dia memang passionnya bener-bener tulen di riset. Tapi kalau misalnya mau jadi profesor susah dan kerja riset susah (apalagi bidangnya radar), dia jadi mulai mikir gimana kalau kerja di consulting firm gitu.

Memang ya, nasihat paling overrated itu ‘follow your passion’. Kadang orang tuh sebenernya bukan mau follow passion, tapi cuman pengen autonomi seluas-luasnya meski nggak punya kompetensi. Cuman gak mau diatur. Pengennya punya kontrol penuh terhadap diri sendiri. Padahal tanpa kompetensi, jadinya dia nggak bisa ngasih nilai tambah untuk masyarakat. Dan tanpa itu, masyarakat nggak akan mau bayar dia untuk pekerjaan yang sesuai passion itu.  Dan tanpa pekerjaan yang bisa menyupport hidup, gimana kita mau survive bray. Itu yang menurut Cal Newport sebagai 1st control trap.

Sulit ya. Saya jadi ngeri. Delphin yang super kompeten aja masih serem gak dapet gawe di sesuai passion. Lah saya, boro-boro mikir abis lulus mau ngapain bre.

Sekarang yang susah kan orang-orang model jack of all trades gini. Maunya banyak kompetensi pas-pasan. Kadang saya mikir lagi apa bakat saya sebenarnya ya. Huft.

Tadi juga pas duduk di bench saya jadi mikir. Apa aja ya cita-cita saya waktu dulu. Apa nyerah aja ya. Terus saya jadi ingat. Paulo Coelho juga di biografinya sering banget mau menyerah jadi penulis. Einstein juga awalnya jadi pegawai paten dulu, jalannya panjang sebelum dia bisa jadi profesor. Steve Jobs, awalnya hampir jadi monk kali, kalo bukan karena butuh duit mungkin dia gak akan bikin apple. Dan macam-macam. Terlalu dini untuk menyerah kayaknya. Jalani aja dulu deh dengan selaw bin santai kayak di pantai.

Mindful Life

Di penghujung hari rasanya lagi-lagi yang penting itu hidup kita by design. Dirancang supaya seimbang untuk kesehatan fisik, mental dan spiritual. Kadang, karena kita hanyut dalam rutinitas, kita jadi lupa apa-apa yang penting.

  • kaya sebelum miskin
  • lapang sebelum sempit
  • sehat sebelum sakit
  • muda sebelum tua
  • hidup sebelum mati

Mungkin agak telat sih ya. Tapi saya bener-bener pengen memulai hidup yang lebih sehat jiwa raga. Lebih bijak dalam bertindak biar pas tua gak menyesal. Dan mungkin bakal butuh waktu lagi untuk mencari clarity resolusi konkritnya.

Happy ramadhan all!

Advertisements

Bahasa Matematika dan Cerita tentang Rumah Terakhir yang Dibuat Tukang Kayu

Ini sudah minggu ketiga sejak saya terlambat merevisi paper. Ya, masih paper yang sama, yang sudah dibuat dari tahun pertama saya di sini. Rasanya masih banyak sekali kekurangan dari apa yang saya kerjakan. Dan karena saya perfeksionis, saya benar-benar ingin memastikan apakah sekarang ini yang saya kerjakan sudah benar atau belum. Namun, tetap saja, selalu ada keterbatasan.

Bahasa Matematika

Di dunia PhD, dengan supervisor yang sudah tenured, dan lebih sibuk mengurusi administrasi, saya benar-benar bekerja dengan independen. Supervisor benar-benar percaya. Kalau saya bilang implementasi saya benar, dan hasilnya memang masuk akal, maka beliau percaya. Kalau saya bilang salah, beliau juga percaya. Tiga minggu lalu saya disuruh membuat revisi. Saya bilang kalau ada yang belum bisa saya verifikasi. Dia bilang lihat beberapa hari lagi, kalau memang tidak bisa ya terpaksa kita kurangi kontennya.

Entahlah, senior saya selalu bilang bahwa pemahaman kita lah yang berkembang. Kita bukan salah memahami. Hanya saja di tingkatan itu, pemahaman kita memang baru sampai segitu. Tiga minggu ini saya benar-benar studi literatur dan benar-benar membaca satu persatu paper-paper yang saya download. Hal ini belum terjadi sebelumnya. Sebab di sini saya benar-benar mulai ngeh bahwa matematika adalah bahasa sains. Setiap paper punya caranya sendiri-sendiri untuk mengungkapkan apa yang dimilikinya. Dan terkadang meski maksudnya sama, penggunaan simbol dan model matematisnya bisa berbeda.

Dan di sini juga kelemahan saya. Supervisor saya menyuruh saya membenahi lagi bahasa matematika yang saya gunakan. Padahal kalau dilihat dari tampilan yah, paper saya udah keliatan ngeri a.k.a banyak rumusnya. Dalam 2,5 halaman terdapat 46 equation dengan macam-macam simbol. Dan di antara yang bilang ngeri adalah Mas Tegoeh. Keliatan ngeri dari luar, tapi ternyata esensinya masih kurang. Masih ada hal-hal yang belum saya jelaskan.

Tapi bahasa matematika itu penting sekali. Karena dia menentukan bagaimana orang lain nanti akan menerjemahkan metode kita atau bahkan mereplikasinya. Implementasi yang saya lakukan misalnya, salah karena saya mengikuti sebuah paper yang formulasi matematikanya kurang tepat. Misleading.

Ini sudah benar-benar penghujung tahun ketiga dan saya belum punya paper apa-apa. Sebenarnya ada beberapa kerjaan lain yang sudah bisa ditulis. Tapi kalau satu ini nggak selesai ya nggak bisa mulai. Sementara itu ada beberapa hal berat yang bahkan implementasinya aja belum jalan a.k.a masih belum tahu apakah hipotesisnya akan berjalan atau enggak meskipun dari studi literatur harusnya jalan. Dan selain itu gara-gara baca-baca banyak paper dalam tiga minggu ke belakang, saya jadi kepikiran banyak ide. Tapi, entahlah, waktu yang saya punya juga tinggal sedikit.

Sebenarnya, supervisor saya bilang kalau sekarang bukan waktunya banyak-banyak baca, tapi lebih banyak kerja. Tapi saya pikir, percuma saya banyak kerja kalau salah kan? Dalam hal ini saya mungkin termasuk yang risk-aversing. Meskipun jadinya kerjanya lambat. Memang ada juga teman yang menyarankan, salah atau benar kirim aja papernya, kalau keterima kan untung buat kitanya. Kalau pun memang salah, nanti bakal ada yang ngebenerin. Tapi, kalau kita udah tau salah masa iya tetep dikirim?

Huft, semester lalu padahal supervisor saya yakin kalau saya bekerja dengan performa seperti saat itu, mungkin saya bisa lulus kurang dari 4 tahun. Tapi sekarang ini rasanya progressnya minim sekali. Memang benar, terkadang penderitaan itu muncul karena kita tidak bisa meraih apa yang seharusnya bisa kita raih.

Dulu saya selalu tertekan ya saat orang sering bahas-bahas soal PhD usia muda, atau yang mengira saya super pinter dan super jago. Saya nggak pernah merasa gitu. Tapi yaudah lama-lama dimaknai sebagai warna dari kehidupan aja. Dari sisi-sisi positif yang membuat kita bisa lebih bersyukur.

Lagian yah beberapa saat lalu tiba-tiba saja saya jadi kepikiran tentang esensi hidup. Selain karena sedang baca buku ‘family wisdom from the monk who sold his ferrari’ (yang premis awalnya adalah seorang wanita karir mengalami near-death experience lalu menyadari bahwa keluarga adalah prioritas utama dalam hidup), kemarin juga ada teman yang bercerita kalau waktu umur 5-10 tahun dia selalu ngeliat dari mana matahari terbit di hari jumat. Takut kalau kiamat. Jadi ingat juga kalau Letto pernah bilang, “apa kau pernah takut mati? sama”

Rumah Terakhir yang Dibuat Tukang Kayu

Ya, semua harus dihitung dari tujuan akhir kita kan. Apa rencana kita. Kita mau fokus ke mana. Berdasarkan apa yang saya pelajari di ilmu engineering selama ini, semuanya sistem punya keterbatasan. Makanya kita harus punya filter. Pilih mana yang harus kita fokuskan. Nah, bagi umat Islam sendiri fokus kita ya sudah pasti akhirat. Kehidupan dunia ini hanya main-main belaka. Saat tiba-tiba tersadar hal ini saya agak sedih. Rasanya ingin kembali melakukan perjalanan spiritual yang bisa mendekatkan saya dengan Tuhan.

Di buku ini juga diceritakan bahwa kita nggak bisa menjalani kehidupan dengan salah di satu bidang, tapi melakukan dengan benar di bidang lain. Hidup itu suatu kesatuan yang utuh. Dan kita harus terus jujur dan berkomitmen dengan apa yang memang sudah kita janjikan. Kita harus selaras antara tindakan dengan ucapan dan nilai-nilai yang kita anut. Hanya jika kita berintegritaslah, kita bisa dipercaya. Dan hanya jika kita bisa dipercaya, kita bisa menjadi memimpin dengan penuh cinta.

Ada kisah tentang tukang kayu yang oleh seorang kontraktor diminta untuk berjanji bahwa setiap ada proyek untuk bikin rumah, ia harus membuat rumah tersebut seolah-olah ini adalah proyek terpenting yang pernah diberikan kepadanya. Setiap proyek harus dikerjakan dengan dedikasi, perhatian, dan cinta. Banyak proyek dikerjakan dengan baik, persis seperti yang diminta selama bertahun-tahun. Suatu hari tukang kayu ini ingin pensiun. Ia ingin rumah yang baru saja selesai ini menjadi rumah terakhirnya.

Saat mengungkapkan keinginannya ini kepada bosnya, bosnya minta maaf dan berharap dia bisa menyelesaikan satu rumah lagi sebelum pensiun. Demi menghargai bosnya, akhirnya tukang kayu mengiyakan. Tetapi karena ia sudah buru-buru ingin pensiun, rumahnya dikerjakan dengan terburu-buru tidak dengan seluruh keahliannya. Pojokannya dipotong dengan material yang kurang bagus. Pokoknya semua cara cepat yang dia tahu, dia pakai.

Setelah beberapa minggu kemudian, rumahnya selesai. Dia lapor ke bosnya. Bosnya lalu memberikan kunci rumahnya kepada dia dan berkata bahwa ini hadiah perpisahan untuknya karena sudah berdedikasi selama ini. Tukang kayu terkejut menyadari bahwa ini adalah rumahnya. Jika tahu bahwa ini akan jadi rumahnya, pastilah dia akan memberikan yang terbaik yang dia punya.

Ya, memang benar kata orang Jawa, kudu eling lan waspada.

Tentang Pelacur Yang Masuk Surga

Saya pertama tertarik dengan hadits ini kira-kira waktu saya tingkat dua. Kalau mau googling di internet, bahkan Bung Karno pun sampai penasaran dengan kisah ini. Dan sejak saat itu hadits ini menyisakan kesan yang dalam.

Nah, senin pagi saya lihat di dashboard ada teman saya yang memposting tentang hadits itu. Sejujurnya excitement saya tentang hadits ini sudah tidak seperti dulu, sebab ngerasanya sudah sering dengar. Tapi, secara ajaib malamnya setelah mengikuti sebuah pengajian, ada beberapa orang yang lagi-lagi membahas hadits itu. Dan di situ saya jadi kepikiran, bahwa kita tidak boleh lelah belajar, sekalipun itu hal yang bukan baru bagi kita. Sebab yang terpenting bukanlah sudah pernah dengar atau belum, tapi seberapa mengerti dan seberapa bisa melakoni. Karena memang manusia itu paling gampang ya jadi Jarkoni (iso ngajari ora iso ngelakoni – istilah ini pun baru tau dari abang-abang pengajian).

Ok, enough with the introduction. Yang saya pahami dari apa yang selama ini diajarkan kepada saya tentang hadits itu adalah: siapapun itu yang mendapatkan rahmat Allah, dia akan mendapatkan ampunan dan dapat meraih surga-Nya. Hal ini selaras pula dengan hadits lain

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Amal shalih seseorang diantara kamu sekali-kali tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Hai Rasulullah, tidak pula engkau?” Rasulullah menjawab, “Tidak pula aku kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.” (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)
(saya comot dari website ini )

Jadi intinya adalah, hanya amal yang dirahmati Tuhan saja lah yang akan bisa mengantarkan seseorang ke surga. Ini juga yang menyebabkan orang yang sholat bisa celaka. Yakni jika orang tersebut sholat tapi riya misalnya. Orang haji pakai duit dari mencuri, mencampurkan yang hak dan yang batil. Positif dikali negatif, ya negatif lah. Makan bakso yang halal saja bisa jadi haram kalau baksonya nyolong dari mamang bakso yang lagi meleng. Maka, mindsetnya jangan dibalik. Karena tahu pelacur saja bisa masuk surga lantas mau jadi pelacur aja gitu? Iya kalau nanti masuk surga, kalau tidak? Ingat, penyebab dari pelacur itu masuk surga adalah karena rahmat yang diperoleh atas amalnya, bukan karena dia pelacur.

Saya pernah menulis notes di facebook tentang seorang sufi yang mencuri ayam di pasar demi memurnikan keikhlasannya. Kalau kita mau meniru seperti itu apakah bisa? Belum tentu kita bisa seikhlas sufi tersebut, belum tentu pula kita bisa hidup dan beribadah setelah dihajar orang-orang.

Saya dulu juga mikir. Kok segitu besarnya ampunan Tuhan. enak banget orang yang tadinya berbuat kerusakan lalu bertobat, terus diampuni. Gak adil. Tapi akhirnya ada beberapa jawaban:

1. Apa iya kalau kita berbuat jahat terus merencanakan tobat sebelum mati, bakal bisa kesampaian? Kita belum tau kapan kita akan mati. Kita juga tidak tahu apakah nanti tobat kita akan diterima. Misalnya: kalau apes-apesnya sempet ngasih minum seekor anjing di padang pasir setelah kita berhari-hari berkelana di gurun, apa iya kita bisa seikhlas si pelacur? Ingat, kita masuk surga itu karena rahmat-Nya, hak prerogatif-Nya.

2. Kalau kita sudah berada di jalan yang benar lalu iri melihat orang yang berada di jalan yang salah itu konyol. Itu sama halnya dengan kita berpraktikum, sudah dikasih manualnya biar praktikum selamat dan hasilnya sesuai teori, eh kita malah nyolokin jala-jala ke osiloskop. Celakalah kita. Sudah rugi praktikum nggak beres, nggak dapet ilmu, bikin rusak osiloskop suruh ganti mahal deh. Sama kayak kita udah di jembatan, terus iri lihat orang yang berdiri di tanah yang mau longsor sambil ketawa-ketawa.

Terkadang memang kita jadi bodoh, karena lupa bahwa hidup ini ujian bagi orang yang mengaku beriman. Dan menjalankan hidup dengan benar adalah sebuah investasi di akhirat. Namanya investasi ya hasilnya nggak nyata-nyata kelihatan (meski beberapa orang yang sudah dibuka mata hatinya bisa melihatnya dengan nyata). Yang akan kembali nanti (yang oleh Tuhan dipanggil sebagai “Wahai Jiwa-jiwa yang tenang”), yang kalau kita nanti berhasil menjaga kesuciannya, adalah rohani kita. Fisik, otak dan segala hal ini nanti akan musnah. Dan rohani itu nggak kelihatan. Kita investasi harta benda saja nggak keliatan hasilnya sebelum tempo waktu tertentu. Apalagi ini, yang kita investasikan saja tidak terlihat.

Dan bisa jadi iri tersebut karena kita belum merasakan hakikat dan nikmat Islam yang sesungguhnya. Terkadang sulit bagi kita untuk menyadari kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Tuhan atas Iman dan Islam. Kita sering lupa bahwa aturan-aturan yang seperti membelenggu pada hakikatnya adalah perlindungan kepada kita dari hal-hal yang seolah memberikan kebebasan padahal justru membelenggu.

Padahal saat kita bisa berbuat baik, saat kita mengenal Islam dan memiliki keinginan untuk menjalankannya saja, itu sudah merupakan rahmat Tuhan. Jangan dikira kalau kita berbuat baik bisa sukses dalam hidup, itu karena diri kita sendiri. Pernah pada saat Rasul menang perang, saking terlampau gembira Tuhan mengingatkan bahwa, sesungguhnya yang memanah bukanlah kamu tapi Kami.

“..when you threw, but it was Allah who threw that He might test the believers with a good test. Indeed, Allah is Hearing and Knowing.” (Al-Anfal 17)

Jadi memang semua pada akhirnya atas izin Tuhan, dan dengan daya dari Tuhan. Sama seperti hidayah. Dia adalah hak prerogatif Allah. Hal itu pula yang menyebabkan Allah melarang Nabi memohonkan ampunan pada orang kafir. Dan kau mintakan ampunan maupun tidak pun sama saja (saya lupa ayatnya). Tapi, tentu saja tugas kita sebagai manusia ya mengupayakan segala sesuatu:

“Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves. And when Allah intends for a people ill, there is no repelling it. And there is not for them besides Him any patron.” (Ar-Ra’d 11)

Memang benar Tuhan itu mengikuti persangkaan hamba-Nya, tapi Tuhan memiliki aturan dan janji-janji. Semua ada rukun dan syaratnya. Mau dapat rahmat-Nya ya harus ikuti aturan-aturan yang dikasih. Beramal dengan ikhlas, beribadah sesuai tata caranya. Maka itu ilmu agama harus kita pelajari benar-benar, bukan hanya ilmu dunia.  Kita nggak bisa modal yakin aja, terus kelakuan kita asal-asalan dan gak patuh dengan Tuhan, tapi berusaha meyakin-yakinkan diri kita bahwa kita akan masuk surga. Makanya keyakinan juga ada level-levelnya. Itu tuh persis kayak gambar ini:

Keyakinan tanpa logika. – View on Path.

Sama kayak mau ngerebus air, tapi airnya nggak dikasih kalor. Ya nggak akan sampai titik didihnya. Itu kayaknya level yakinnya bahkan bukan termasuk di antara ilmul yakin, ainul yakin, dan haqqul yakin. Itu yakin-yakinan.

Begitu pula dengan hidayah. Kalau kita tetap sombong, nggak mau belajar, sudah merasa pintar, sudah berpuas, tidak introspeksi, mana mungkin hidayah bisa masuk. Ya jadinya summun bukmun umyun fahum la yarji’uun. Makanya kita mesti belajar, bener-bener, bagaimana aturan Tuhan. Dengan ilmu dan dengan amal.

Jadi ya gitu. Di dunia saja ada hukum-hukum alam yang wajib dipatuhi. Apalagi hukum Tuhan untuk mencapai akhirat. Tuhan punya aturan, kita harus pahami benar. Riset tanpa henti.

Kalau kita sudah mengusahakan yang terbaik dalam hidup ini, tentu kita akan lega, tinggal berserah kepada Allah. Tapi sekalinya kita berhenti belajar, merasa sudah benar, lalu meremehkan orang lain, yang ada justru kita bisa tergelincir. Ingat, mengusahakan yang terbaik itu ya batasnya sampai meninggal: pencarian kebenaran tidak final.

Ya salah satu pesan yang bisa diambil dari hadits tentang pelacur tersebut adalah: kita tak boleh takabur. Kita nggak tau kalau ternyata orang-orang yang kita anggap jahat kelak akan dapat hidayah. Saya pernah dengar kisah. Suatu ketika ada seorang fasiq hendak bertaubat dan beribadah ke masjid. Saat di masjid itu ia begitu mengagumi para ahli ibadah sembari menyesali dosa-dosanya. Sedangkan ada ahli ibadah yang ujub dan takabur, saat melihat orang fasiq itu pergi ke masjid dia dalam hati meremehkannya. Nah, begitu keluar dari masjid, kedudukan keduanya jadi bertukar.

Dan karena orang yang pekerjaannya melacur saja bisa mendapatkan rahmat Tuhan di akhir hayatnya: kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhan. Sering dari kita ketika berbuat salah menjadi larut dalam dosa-dosa kita sehingga lupa bahwa ampunan Tuhan Maha Luas. Kita boleh merasa tidak pantas mendapat rahmat-Nya atas dosa-dosa tersebut, tapi kita tidak boleh berputus asa dan berhenti mengharapkan rahmat-Nya. Hal ini lah yang kadang bisa menyebabkan kita terus-terusan nyaman berbuat dosa: karena kita lupa bahwa ampunan Tuhan itu luas.

Dan akhirnya kita harus bersungguh-sungguh dalam bertobat, harus hijrah, berbuat baik, mengganti teman-teman yang buruk, mengumpulkan diri kita dengan orang-orang saleh. Itu semua adalah kunci dari ketenangan hati. Memang tidak mudah. Semuanya butuh adaptasi,butuh hijrah. Tapi kita wajib berusaha dan berdoa agar kita diberikan hati yang lunak sehingga senantiasa bertobat, inabat, dan istiqomah di jalan Tuhan (aamiin). Bukan hanya kata-kata, tapi memang harus benar-benar dijalankan. Ini yang butuh perjuangan.

Wallahualam bishawab.