Tentang Pelacur Yang Masuk Surga

Saya pertama tertarik dengan hadits ini kira-kira waktu saya tingkat dua. Kalau mau googling di internet, bahkan Bung Karno pun sampai penasaran dengan kisah ini. Dan sejak saat itu hadits ini menyisakan kesan yang dalam.

Nah, senin pagi saya lihat di dashboard ada teman saya yang memposting tentang hadits itu. Sejujurnya excitement saya tentang hadits ini sudah tidak seperti dulu, sebab ngerasanya sudah sering dengar. Tapi, secara ajaib malamnya setelah mengikuti sebuah pengajian, ada beberapa orang yang lagi-lagi membahas hadits itu. Dan di situ saya jadi kepikiran, bahwa kita tidak boleh lelah belajar, sekalipun itu hal yang bukan baru bagi kita. Sebab yang terpenting bukanlah sudah pernah dengar atau belum, tapi seberapa mengerti dan seberapa bisa melakoni. Karena memang manusia itu paling gampang ya jadi Jarkoni (iso ngajari ora iso ngelakoni – istilah ini pun baru tau dari abang-abang pengajian).

Ok, enough with the introduction. Yang saya pahami dari apa yang selama ini diajarkan kepada saya tentang hadits itu adalah: siapapun itu yang mendapatkan rahmat Allah, dia akan mendapatkan ampunan dan dapat meraih surga-Nya. Hal ini selaras pula dengan hadits lain

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Amal shalih seseorang diantara kamu sekali-kali tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Hai Rasulullah, tidak pula engkau?” Rasulullah menjawab, “Tidak pula aku kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.” (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)
(saya comot dari website ini )

Jadi intinya adalah, hanya amal yang dirahmati Tuhan saja lah yang akan bisa mengantarkan seseorang ke surga. Ini juga yang menyebabkan orang yang sholat bisa celaka. Yakni jika orang tersebut sholat tapi riya misalnya. Orang haji pakai duit dari mencuri, mencampurkan yang hak dan yang batil. Positif dikali negatif, ya negatif lah. Makan bakso yang halal saja bisa jadi haram kalau baksonya nyolong dari mamang bakso yang lagi meleng. Maka, mindsetnya jangan dibalik. Karena tahu pelacur saja bisa masuk surga lantas mau jadi pelacur aja gitu? Iya kalau nanti masuk surga, kalau tidak? Ingat, penyebab dari pelacur itu masuk surga adalah karena rahmat yang diperoleh atas amalnya, bukan karena dia pelacur.

Saya pernah menulis notes di facebook tentang seorang sufi yang mencuri ayam di pasar demi memurnikan keikhlasannya. Kalau kita mau meniru seperti itu apakah bisa? Belum tentu kita bisa seikhlas sufi tersebut, belum tentu pula kita bisa hidup dan beribadah setelah dihajar orang-orang.

Saya dulu juga mikir. Kok segitu besarnya ampunan Tuhan. enak banget orang yang tadinya berbuat kerusakan lalu bertobat, terus diampuni. Gak adil. Tapi akhirnya ada beberapa jawaban:

1. Apa iya kalau kita berbuat jahat terus merencanakan tobat sebelum mati, bakal bisa kesampaian? Kita belum tau kapan kita akan mati. Kita juga tidak tahu apakah nanti tobat kita akan diterima. Misalnya: kalau apes-apesnya sempet ngasih minum seekor anjing di padang pasir setelah kita berhari-hari berkelana di gurun, apa iya kita bisa seikhlas si pelacur? Ingat, kita masuk surga itu karena rahmat-Nya, hak prerogatif-Nya.

2. Kalau kita sudah berada di jalan yang benar lalu iri melihat orang yang berada di jalan yang salah itu konyol. Itu sama halnya dengan kita berpraktikum, sudah dikasih manualnya biar praktikum selamat dan hasilnya sesuai teori, eh kita malah nyolokin jala-jala ke osiloskop. Celakalah kita. Sudah rugi praktikum nggak beres, nggak dapet ilmu, bikin rusak osiloskop suruh ganti mahal deh. Sama kayak kita udah di jembatan, terus iri lihat orang yang berdiri di tanah yang mau longsor sambil ketawa-ketawa.

Terkadang memang kita jadi bodoh, karena lupa bahwa hidup ini ujian bagi orang yang mengaku beriman. Dan menjalankan hidup dengan benar adalah sebuah investasi di akhirat. Namanya investasi ya hasilnya nggak nyata-nyata kelihatan (meski beberapa orang yang sudah dibuka mata hatinya bisa melihatnya dengan nyata). Yang akan kembali nanti (yang oleh Tuhan dipanggil sebagai “Wahai Jiwa-jiwa yang tenang”), yang kalau kita nanti berhasil menjaga kesuciannya, adalah rohani kita. Fisik, otak dan segala hal ini nanti akan musnah. Dan rohani itu nggak kelihatan. Kita investasi harta benda saja nggak keliatan hasilnya sebelum tempo waktu tertentu. Apalagi ini, yang kita investasikan saja tidak terlihat.

Dan bisa jadi iri tersebut karena kita belum merasakan hakikat dan nikmat Islam yang sesungguhnya. Terkadang sulit bagi kita untuk menyadari kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Tuhan atas Iman dan Islam. Kita sering lupa bahwa aturan-aturan yang seperti membelenggu pada hakikatnya adalah perlindungan kepada kita dari hal-hal yang seolah memberikan kebebasan padahal justru membelenggu.

Padahal saat kita bisa berbuat baik, saat kita mengenal Islam dan memiliki keinginan untuk menjalankannya saja, itu sudah merupakan rahmat Tuhan. Jangan dikira kalau kita berbuat baik bisa sukses dalam hidup, itu karena diri kita sendiri. Pernah pada saat Rasul menang perang, saking terlampau gembira Tuhan mengingatkan bahwa, sesungguhnya yang memanah bukanlah kamu tapi Kami.

“..when you threw, but it was Allah who threw that He might test the believers with a good test. Indeed, Allah is Hearing and Knowing.” (Al-Anfal 17)

Jadi memang semua pada akhirnya atas izin Tuhan, dan dengan daya dari Tuhan. Sama seperti hidayah. Dia adalah hak prerogatif Allah. Hal itu pula yang menyebabkan Allah melarang Nabi memohonkan ampunan pada orang kafir. Dan kau mintakan ampunan maupun tidak pun sama saja (saya lupa ayatnya). Tapi, tentu saja tugas kita sebagai manusia ya mengupayakan segala sesuatu:

“Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves. And when Allah intends for a people ill, there is no repelling it. And there is not for them besides Him any patron.” (Ar-Ra’d 11)

Memang benar Tuhan itu mengikuti persangkaan hamba-Nya, tapi Tuhan memiliki aturan dan janji-janji. Semua ada rukun dan syaratnya. Mau dapat rahmat-Nya ya harus ikuti aturan-aturan yang dikasih. Beramal dengan ikhlas, beribadah sesuai tata caranya. Maka itu ilmu agama harus kita pelajari benar-benar, bukan hanya ilmu dunia.  Kita nggak bisa modal yakin aja, terus kelakuan kita asal-asalan dan gak patuh dengan Tuhan, tapi berusaha meyakin-yakinkan diri kita bahwa kita akan masuk surga. Makanya keyakinan juga ada level-levelnya. Itu tuh persis kayak gambar ini:

Keyakinan tanpa logika. – View on Path.

Sama kayak mau ngerebus air, tapi airnya nggak dikasih kalor. Ya nggak akan sampai titik didihnya. Itu kayaknya level yakinnya bahkan bukan termasuk di antara ilmul yakin, ainul yakin, dan haqqul yakin. Itu yakin-yakinan.

Begitu pula dengan hidayah. Kalau kita tetap sombong, nggak mau belajar, sudah merasa pintar, sudah berpuas, tidak introspeksi, mana mungkin hidayah bisa masuk. Ya jadinya summun bukmun umyun fahum la yarji’uun. Makanya kita mesti belajar, bener-bener, bagaimana aturan Tuhan. Dengan ilmu dan dengan amal.

Jadi ya gitu. Di dunia saja ada hukum-hukum alam yang wajib dipatuhi. Apalagi hukum Tuhan untuk mencapai akhirat. Tuhan punya aturan, kita harus pahami benar. Riset tanpa henti.

Kalau kita sudah mengusahakan yang terbaik dalam hidup ini, tentu kita akan lega, tinggal berserah kepada Allah. Tapi sekalinya kita berhenti belajar, merasa sudah benar, lalu meremehkan orang lain, yang ada justru kita bisa tergelincir. Ingat, mengusahakan yang terbaik itu ya batasnya sampai meninggal: pencarian kebenaran tidak final.

Ya salah satu pesan yang bisa diambil dari hadits tentang pelacur tersebut adalah: kita tak boleh takabur. Kita nggak tau kalau ternyata orang-orang yang kita anggap jahat kelak akan dapat hidayah. Saya pernah dengar kisah. Suatu ketika ada seorang fasiq hendak bertaubat dan beribadah ke masjid. Saat di masjid itu ia begitu mengagumi para ahli ibadah sembari menyesali dosa-dosanya. Sedangkan ada ahli ibadah yang ujub dan takabur, saat melihat orang fasiq itu pergi ke masjid dia dalam hati meremehkannya. Nah, begitu keluar dari masjid, kedudukan keduanya jadi bertukar.

Dan karena orang yang pekerjaannya melacur saja bisa mendapatkan rahmat Tuhan di akhir hayatnya: kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhan. Sering dari kita ketika berbuat salah menjadi larut dalam dosa-dosa kita sehingga lupa bahwa ampunan Tuhan Maha Luas. Kita boleh merasa tidak pantas mendapat rahmat-Nya atas dosa-dosa tersebut, tapi kita tidak boleh berputus asa dan berhenti mengharapkan rahmat-Nya. Hal ini lah yang kadang bisa menyebabkan kita terus-terusan nyaman berbuat dosa: karena kita lupa bahwa ampunan Tuhan itu luas.

Dan akhirnya kita harus bersungguh-sungguh dalam bertobat, harus hijrah, berbuat baik, mengganti teman-teman yang buruk, mengumpulkan diri kita dengan orang-orang saleh. Itu semua adalah kunci dari ketenangan hati. Memang tidak mudah. Semuanya butuh adaptasi,butuh hijrah. Tapi kita wajib berusaha dan berdoa agar kita diberikan hati yang lunak sehingga senantiasa bertobat, inabat, dan istiqomah di jalan Tuhan (aamiin). Bukan hanya kata-kata, tapi memang harus benar-benar dijalankan. Ini yang butuh perjuangan.

Wallahualam bishawab.

3 thoughts on “Tentang Pelacur Yang Masuk Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s