Bahasa Matematika dan Cerita tentang Rumah Terakhir yang Dibuat Tukang Kayu

Ini sudah minggu ketiga sejak saya terlambat merevisi paper. Ya, masih paper yang sama, yang sudah dibuat dari tahun pertama saya di sini. Rasanya masih banyak sekali kekurangan dari apa yang saya kerjakan. Dan karena saya perfeksionis, saya benar-benar ingin memastikan apakah sekarang ini yang saya kerjakan sudah benar atau belum. Namun, tetap saja, selalu ada keterbatasan.

Bahasa Matematika

Di dunia PhD, dengan supervisor yang sudah tenured, dan lebih sibuk mengurusi administrasi, saya benar-benar bekerja dengan independen. Supervisor benar-benar percaya. Kalau saya bilang implementasi saya benar, dan hasilnya memang masuk akal, maka beliau percaya. Kalau saya bilang salah, beliau juga percaya. Tiga minggu lalu saya disuruh membuat revisi. Saya bilang kalau ada yang belum bisa saya verifikasi. Dia bilang lihat beberapa hari lagi, kalau memang tidak bisa ya terpaksa kita kurangi kontennya.

Entahlah, senior saya selalu bilang bahwa pemahaman kita lah yang berkembang. Kita bukan salah memahami. Hanya saja di tingkatan itu, pemahaman kita memang baru sampai segitu. Tiga minggu ini saya benar-benar studi literatur dan benar-benar membaca satu persatu paper-paper yang saya download. Hal ini belum terjadi sebelumnya. Sebab di sini saya benar-benar mulai ngeh bahwa matematika adalah bahasa sains. Setiap paper punya caranya sendiri-sendiri untuk mengungkapkan apa yang dimilikinya. Dan terkadang meski maksudnya sama, penggunaan simbol dan model matematisnya bisa berbeda.

Dan di sini juga kelemahan saya. Supervisor saya menyuruh saya membenahi lagi bahasa matematika yang saya gunakan. Padahal kalau dilihat dari tampilan yah, paper saya udah keliatan ngeri a.k.a banyak rumusnya. Dalam 2,5 halaman terdapat 46 equation dengan macam-macam simbol. Dan di antara yang bilang ngeri adalah Mas Tegoeh. Keliatan ngeri dari luar, tapi ternyata esensinya masih kurang. Masih ada hal-hal yang belum saya jelaskan.

Tapi bahasa matematika itu penting sekali. Karena dia menentukan bagaimana orang lain nanti akan menerjemahkan metode kita atau bahkan mereplikasinya. Implementasi yang saya lakukan misalnya, salah karena saya mengikuti sebuah paper yang formulasi matematikanya kurang tepat. Misleading.

Ini sudah benar-benar penghujung tahun ketiga dan saya belum punya paper apa-apa. Sebenarnya ada beberapa kerjaan lain yang sudah bisa ditulis. Tapi kalau satu ini nggak selesai ya nggak bisa mulai. Sementara itu ada beberapa hal berat yang bahkan implementasinya aja belum jalan a.k.a masih belum tahu apakah hipotesisnya akan berjalan atau enggak meskipun dari studi literatur harusnya jalan. Dan selain itu gara-gara baca-baca banyak paper dalam tiga minggu ke belakang, saya jadi kepikiran banyak ide. Tapi, entahlah, waktu yang saya punya juga tinggal sedikit.

Sebenarnya, supervisor saya bilang kalau sekarang bukan waktunya banyak-banyak baca, tapi lebih banyak kerja. Tapi saya pikir, percuma saya banyak kerja kalau salah kan? Dalam hal ini saya mungkin termasuk yang risk-aversing. Meskipun jadinya kerjanya lambat. Memang ada juga teman yang menyarankan, salah atau benar kirim aja papernya, kalau keterima kan untung buat kitanya. Kalau pun memang salah, nanti bakal ada yang ngebenerin. Tapi, kalau kita udah tau salah masa iya tetep dikirim?

Huft, semester lalu padahal supervisor saya yakin kalau saya bekerja dengan performa seperti saat itu, mungkin saya bisa lulus kurang dari 4 tahun. Tapi sekarang ini rasanya progressnya minim sekali. Memang benar, terkadang penderitaan itu muncul karena kita tidak bisa meraih apa yang seharusnya bisa kita raih.

Dulu saya selalu tertekan ya saat orang sering bahas-bahas soal PhD usia muda, atau yang mengira saya super pinter dan super jago. Saya nggak pernah merasa gitu. Tapi yaudah lama-lama dimaknai sebagai warna dari kehidupan aja. Dari sisi-sisi positif yang membuat kita bisa lebih bersyukur.

Lagian yah beberapa saat lalu tiba-tiba saja saya jadi kepikiran tentang esensi hidup. Selain karena sedang baca buku ‘family wisdom from the monk who sold his ferrari’ (yang premis awalnya adalah seorang wanita karir¬†mengalami near-death experience lalu menyadari bahwa keluarga adalah prioritas utama dalam hidup), kemarin juga ada teman yang bercerita kalau waktu umur 5-10 tahun dia selalu ngeliat dari mana matahari terbit di hari jumat. Takut kalau kiamat. Jadi ingat juga kalau Letto pernah bilang, “apa kau pernah takut mati? sama”

Rumah Terakhir yang Dibuat Tukang Kayu

Ya, semua harus dihitung dari tujuan akhir kita kan. Apa rencana kita. Kita mau fokus ke mana. Berdasarkan apa yang saya pelajari di ilmu engineering selama ini, semuanya sistem punya keterbatasan. Makanya kita harus punya filter. Pilih mana yang harus kita fokuskan. Nah, bagi umat Islam sendiri fokus kita ya sudah pasti akhirat. Kehidupan dunia ini hanya main-main belaka. Saat tiba-tiba tersadar hal ini saya agak sedih. Rasanya ingin kembali melakukan perjalanan spiritual yang bisa mendekatkan saya dengan Tuhan.

Di buku ini juga diceritakan bahwa kita nggak bisa menjalani kehidupan dengan salah di satu bidang, tapi melakukan dengan benar di bidang lain. Hidup itu suatu kesatuan yang utuh. Dan kita harus terus jujur dan berkomitmen dengan apa yang memang sudah kita janjikan. Kita harus selaras antara tindakan dengan ucapan dan nilai-nilai yang kita anut. Hanya jika kita berintegritaslah, kita bisa dipercaya. Dan hanya jika kita bisa dipercaya, kita bisa menjadi memimpin dengan penuh cinta.

Ada kisah tentang tukang kayu yang oleh seorang kontraktor diminta untuk berjanji bahwa setiap ada proyek untuk bikin rumah, ia harus membuat rumah tersebut seolah-olah ini adalah proyek terpenting yang pernah diberikan kepadanya. Setiap proyek harus dikerjakan dengan dedikasi, perhatian, dan cinta. Banyak proyek dikerjakan dengan baik, persis seperti yang diminta selama bertahun-tahun. Suatu hari tukang kayu ini ingin pensiun. Ia ingin rumah yang baru saja selesai ini menjadi rumah terakhirnya.

Saat mengungkapkan keinginannya ini kepada bosnya, bosnya minta maaf dan berharap dia bisa menyelesaikan satu rumah lagi sebelum pensiun. Demi menghargai bosnya, akhirnya tukang kayu mengiyakan. Tetapi karena ia sudah buru-buru ingin pensiun, rumahnya dikerjakan dengan terburu-buru tidak dengan seluruh keahliannya. Pojokannya dipotong dengan material yang kurang bagus. Pokoknya semua cara cepat yang dia tahu, dia pakai.

Setelah beberapa minggu kemudian, rumahnya selesai. Dia lapor ke bosnya. Bosnya lalu memberikan kunci rumahnya kepada dia dan berkata bahwa ini hadiah perpisahan untuknya karena sudah berdedikasi selama ini. Tukang kayu terkejut menyadari bahwa ini adalah rumahnya. Jika tahu bahwa ini akan jadi rumahnya, pastilah dia akan memberikan yang terbaik yang dia punya.

Ya, memang benar kata orang Jawa, kudu eling lan waspada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s