c-lari-ty

Magisnya Olah Raga

Sejak di Singapura, saya kembali menemukan kenikmatan berolahraga. Hal itu dimulai saat saya sedang depresi sejak akhir semester pertama. Saya kembali menemukan olah raga sebagai hal yang saya nanti setiap saat. Waktu itu setiap sabtu saya bermain bola. Hari-hari lain hanya menjadi pengisi waktu sebelum bermain futsal lagi yang hanya dua jam. Selain itu saya juga sempat ke gym untuk beberapa bulan, dan juga bermain basket.

Entah ya, sejak kapan saya jadi malas berolahraga. Rasa-rasanya sejak tingkat dua kuliah di ITB. Padahal waktu SD saya bener-bener hobi banget berpetualang dengan sepeda/roller blade dan bermain bola berjam-jam. Saya juga hobi berenang waktu SMP sampai SMA. Mungkin karena impian saya untuk jadi Tsubasa selalu gagal kali ya. Waktu SD saya gagal masuk tim. Waktu SMP gagal masuk ekskul bola (padahal saya merasa pas seleksi main saya bagus, dan bahkan kapten bolanya waktu itu juga mengakui saya jago. Waktu itu saya jadi bek dan sempet tackle bersih doi di kotak penalti). Yah gitu deh, akhirnya udah gak minat lagi. Merasa nggak bisa lagi jadi kayak di Whistle!.

Tapi sebenernya yah, ada yang magis dari olah raga. Saya curiga ini ada hubungannya dengan Mind-Body Connection, dengan NLP. Saat berolahraga, semangat dan kesegaran, serta dinamisasi koordinasi tubuh ikut membebaskan dan menyegarkan pikiran. Segala stress hilang untuk beberapa saat. Dan, tentunya beberapa saat ini yang adalah momentum untuk kembali mendayagunakan working memory kita untuk fokus pada hal-hal positif. (Teorinya begitu ya, mensana in corporesano).

Makanya hari ini saya lari. Pokoknya akhir-akhir ini kalo udah suntuk banget saya mending lari deh. Lari aja pake sepatu futsal butut yang udah bikin jempol ganti kuku berkali-kali setiap tahun.

Family and Priority

Beres lari, seperti biasa, saya mencari vending machine untuk membeli green tea lalu duduk di bench di salah satu blok. Hari ini dengan sayup-sayup suara imam tarawih, saya melihat satu keluarga yang hendak bepergian dengan mobil. Dua anaknya yang masih kecil masih asyik naik scooter. Orang tuanya sudah ngingetin untuk stop. Kakaknya (cewek sekitar 6/7 tahun) masih asyik main, jadi adiknya (cowok masih 4/5 tahun) juga nggak berhenti main. Sampai akhirnya Bapaknya nyetop mereka pas sampai di ujung trotoar. Lalu mereka naik mobil. Bapaknya masukin scooternya ke bagasi,

Dan karena baru-baru ini baru namatin buku family wisdom jadi kepikiran aja dengan cara-cara ideal yang ditulis di sana. Mungkin itu adalah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ideal jika dilaksanakan ya. Agar setiap kepala keluarga menjadi leader bagi dirinya sendiri dan keluarga, lalu mendidik anak agar punya visi yang lebih dari sekedar dirinya sendiri. Memperhatikan dan memberi reward dan banyak hal lainnya.

Mungkin seperti itu idealnya. Selama ini banyak yang bertanya, gimana sih saya dididik oleh orang tua saya. Banyak yang mengartikan saya ini sukses dan contoh yang seimbang atau apa lah. Saya sendiri nggak pernah merasa gitu ya (apalagi kalau mau introspeksi diri.. buset, tampilannya aja kali yang bisa bikin orang mikir gitu ya). Dan memang ibu saya selalu mengajarkan kalau kita ini bukan apa-apa, kita ini beruntung aja. Semuanya terserah Tuhan. Dan ibu saya juga kalau ditanya selalu mencoba buat bilang kalau banyak orang lain yang lebih sukses (dan memang faktanya demikian).

Kami bukan keluarga yang sering berkumpul bersama-sama. Yang sering kasih-kasih kado atau apa. Saya selalu merasakan keluarga saya itu berbeda. Saya nggak pernah dipaksa harus les ini itu, belajar ini itu, nilai harus bagus blablabla. Saya selalu didukung sih ya, mau saya dulu dagang mainan, bikin komik, bikin desain atau apa, mau ikut kelas aksel, apapun itu kecuali kalau saya mau jadi pengacara, politikus karir, dan psikolog (dulu sih gitu gatau sekarang). Tapi rasanya yang paling penting adalah orang tua kami selalu memberikan kepercayaan, selalu mengingatkan bahwa yang penting itu urusan dengan Tuhan, dan juga terkadang keras saat dibutuhkan (dipaksa ke surau lah, dipaksa bersilaturahim lah, dan hal-hal lain).

Entahlah, mungkin memang doa orang tua kami yang membuat kami-kami bisa berkembang seperti ini ya. Mendapat banyak kemudahan dan keajaiban kecil dalam hidup. Tapi ya bayarannya mungkin mahal dibandingkan orang-orang lain yang punya kehidupan yang relatif normal. Orang-orang sekitar ibu saya juga pasti paham betapa tidak normalnya keluarga kami dan individu anggotanya.

Saya juga kadang mikir, kalau berkeluarga kelak, bagaimana agar saya kelak bisa mendidik anak saya agar punya nilai-nilai positif tanpa mereka harus merasakan ‘metode’ yang sama. Mungkin saja memang apa yang ada di buku family wisdom itu benar ya. Dan semuanya memang harus dimulai dengan menjadikan keluarga sebagai prioritas dulu, dan harus ditanamkan dalam hati.

Sudah banyak buku-buku dan kisah-kisah di era modern ini yang mengungkap betapa hampanya orang-orang yang sukses dalam bisnis dan bergelimang materi, tapi tidak meraih kepuasan dan kebahagiaan karena mungkin banyak menelantarkan keluarganya. Dan saya rasa, beruntunglah kita-kita yang paham itu sedari muda.

Clarity Precedes Mastery

Saya sedang terobsesi dengan kata-kata di buku ini. Memang kalau mau apa-apa harus jelas dulu, apa yang dimau. Dan untuk tau apa yang sebaiknya kita mau, memang tak jarang harus belajar dari pemikir-pemikir hebat, dari buku-buku, dan juga kitab suci. Dengan terus mencari ilmu, banyak membaca, berdiskusi, pikiran kita akan berkembang dan kita bisa berdiri di atas bahu sang raksasa, membuat kita jadi lebih tinggi.

Kalau dipikir-pikir, pengetahuan itu terus berkembang. Tapi kebijaksanaan isinya itu-itu aja. Kebijaksanaan itu berubah-ubah bentuknya jadi berbagai pengetahuan yang dikumpulkan dari pengalaman-pengalaman umat manusia dari jaman manusia bisa menulis. Dan di dunia yang berkembang dengan cepat itu, kita memang perlu diam sejenak untuk mempelajari kebijaksanaan yang diakumulasi oleh umat terdahulu. Dengannya kita jadi paham ke mana harus bertindak.

Clarity. Sebelum mau meraih atau menjadi ahli di suatu bidang, harus jelas dulu apa tujuan akhirnya, bagaimana milestonenya, dan bagaimana mencapai milestone itu. Percuma kan kita heboh-heboh tapi lari di tempat.

Tapi hidup itu memang soal revisi yah. Kalau dari kecil kita merasa passion kita main bola. Terus kerjaan kita main bola terus. Terus kita jadi nggak pernah mengeksplorasi olah raga lain. Eh udah agak tua, kita nyoba main voli. Eh, rupanya main voli lebih asik dari main bola loh. Lalu ganti ‘passion’.

Mungkin setelah menemukan satu clarity. Kita akan bergerak ke arah clarity yang lain, atau clarity yang lebih dalam.

Control Trap

Saya agak terkejut yah waktu tadi habis makan siang bareng grup beberapa alumni ITB, Delphin bilang kalau dia mulai berpikir bekerja untuk perusahaan consulting kayak Ernst & Young. Omaigod, saya pikir orang seperti Delphin bener-bener passionnya mutlak di bidang riset. Sebenarnya pikiran saya nggak salah sih. Dia memang passionnya bener-bener tulen di riset. Tapi kalau misalnya mau jadi profesor susah dan kerja riset susah (apalagi bidangnya radar), dia jadi mulai mikir gimana kalau kerja di consulting firm gitu.

Memang ya, nasihat paling overrated itu ‘follow your passion’. Kadang orang tuh sebenernya bukan mau follow passion, tapi cuman pengen autonomi seluas-luasnya meski nggak punya kompetensi. Cuman gak mau diatur. Pengennya punya kontrol penuh terhadap diri sendiri. Padahal tanpa kompetensi, jadinya dia nggak bisa ngasih nilai tambah untuk masyarakat. Dan tanpa itu, masyarakat nggak akan mau bayar dia untuk pekerjaan yang sesuai passion itu.  Dan tanpa pekerjaan yang bisa menyupport hidup, gimana kita mau survive bray. Itu yang menurut Cal Newport sebagai 1st control trap.

Sulit ya. Saya jadi ngeri. Delphin yang super kompeten aja masih serem gak dapet gawe di sesuai passion. Lah saya, boro-boro mikir abis lulus mau ngapain bre.

Sekarang yang susah kan orang-orang model jack of all trades gini. Maunya banyak kompetensi pas-pasan. Kadang saya mikir lagi apa bakat saya sebenarnya ya. Huft.

Tadi juga pas duduk di bench saya jadi mikir. Apa aja ya cita-cita saya waktu dulu. Apa nyerah aja ya. Terus saya jadi ingat. Paulo Coelho juga di biografinya sering banget mau menyerah jadi penulis. Einstein juga awalnya jadi pegawai paten dulu, jalannya panjang sebelum dia bisa jadi profesor. Steve Jobs, awalnya hampir jadi monk kali, kalo bukan karena butuh duit mungkin dia gak akan bikin apple. Dan macam-macam. Terlalu dini untuk menyerah kayaknya. Jalani aja dulu deh dengan selaw bin santai kayak di pantai.

Mindful Life

Di penghujung hari rasanya lagi-lagi yang penting itu hidup kita by design. Dirancang supaya seimbang untuk kesehatan fisik, mental dan spiritual. Kadang, karena kita hanyut dalam rutinitas, kita jadi lupa apa-apa yang penting.

  • kaya sebelum miskin
  • lapang sebelum sempit
  • sehat sebelum sakit
  • muda sebelum tua
  • hidup sebelum mati

Mungkin agak telat sih ya. Tapi saya bener-bener pengen memulai hidup yang lebih sehat jiwa raga. Lebih bijak dalam bertindak biar pas tua gak menyesal. Dan mungkin bakal butuh waktu lagi untuk mencari clarity resolusi konkritnya.

Happy ramadhan all!

3 thoughts on “c-lari-ty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s