[log] What I forgot about vision, flow, and decision – Motivator inkongruen dan GPA sempurna yang tidak sempurna

I have been experiencing ultimate boredom lately. It’s like books and guitars cannot help me out of this boredom. But then, as I started to make a little bet and to break from routine (though it’s not on the top of the priority list), I realized many stuffs:

  • We often forget the big picture. And when I say big picture it means not only to align our daily life with our end-goal, but also to envision the dream. And when I say ‘envision’ it means to engage in full-sensory immersion. Feel the beat, the excitement, the joy.. Let your neurons guide you to perceive it as a reality on its own. Let your brain anticipate everything.
  • Sometimes we mistake frustration with boredom. We can feel bored when we either find the work meaningless or too easy. As for frustration, we feel it because we know the work is meaningful, we have to do it, we have the potential to do it, but somehow we still could not manage to get it done.
  • Anxiety attack is there when the frustration couldn’t meet a closure. It will be there for a few seconds. You feel it on your body. But fortunately, it’s not permanent. But when your mind expects it to last longer, then it will. Because the mind gets what it expects.
  • At the end of the day, I often don’t feel like making a significant progress. I just remember it’s due to the mental exhaustion. When we need to make decision, it brings exhaustion, it drains energy. And that decision includes selecting the graphics that you want to show, case that you want to use, and so on. This is very obvious when we try to formulate a mathematical model.
  • Take your work as a game, and it’s easier to be in the zone. It’s about flow and peak performance. Sometimes, we just need to let go the pressure. Playing a serious game. Having fun with it. And after all, we know that life is just a game.
  • Life’s dynamic equilibrium lies at the edge of chaos. Have you ever noticed the paradox of life? You have to have a big vision, but must not forget to pay attention to the small things. You have to take lesson from the past, have a thought for the future, but to live at moment and make the most of it at the same time. You need to work hard, but don’t work too hard. The maximum entropy lies at the edge of chaos after all.

Sebulan sudah lewat dari batas revisi. Hari ini saya kirim progress report juga ke supervisor meskipun belum ada technical report atau paper dari hal-hal yang saya tulis sebagai progres. Tapi ya udah saya mah pasrah aja. Yang penting usaha.

Jumat dua minggu lalu Mas Oni berbaik hati mau ngasih masukan tentang paper saya. Tapi sejujurnya terlalu banyak input malah bingung (udah jadi chaos, bukan the edge of chaos). Tapi itu pun ampe sekarang belum beres juga papernya. Haha

Jumat yang lalu Mas Tegoeh bilang kalau mahasiswanya yang dia terminate rupanya GPA nya 5. Setelah dapet surat DO nya dia baru nongol ke Mas Tegoeh setelah selama ini nggak bisa dikontak. Alhamdulillah banget saya yang GPA nya pernah 1,5 ini masih bertahan ya hahaha. Sejujurnya saya tahu perasaan ingin berhenti aja pas suntuk itu datang dan pergi. Tapi beberapa minggu lalu lagi kencang sih anginnya.

Oiya sementara itu Al-Attiqi yang ikut mendengar perbincangan ikut menyemangati saya. Atau mungkin lebih tepatnya dia mendemotivasi. Sebab cita-cita dia selain menjadi demotivator profesional adalah untuk bisa terbang dan bersatu dengan internet. Kata dia, saya harus lulus PhD. Lalu nanti ke Indonesia mengkritik pendidikan Indonesia, bikin buku, jadi motivator, mirip-mirip dengan Robert T Kiyosaki yang jadi kaya dengan cara membuat buku tentang cara menjadi kaya. Idenya cukup legit sih. Serius.

Jumat lalu waktu buka puasa bareng, saya iseng nanya orang, apa cita-cita mereka:

A: belum tahu juga sih

B: dulu sih ingin jadi penguasa dunia

C: ingin jadi ilmuwan yang mengabdi untuk kemanusiaan dan membahagiakan keluarga

Menarik. Saya sudah berhipotesis sejak awal bahwa C akan memberikan jawaban yang paling spesifik. Maklum, C ini terlihat visioner dan benar-benar punya jiwa akademik. Sebentar lagi dia akan melanjutkan PhD di sebuah kampus top di US, yang supervisornya memiliki ‘genealogy’ supervisor yang ‘sanad’ nya bersambung pada Einstein, Rutherford, dan nama lain yang sering muncul di buku Fisika atau Kimia. Sejak S1, si C ini sudah riset dan bikin publikasi. H-indexnya sudah ngeri deh untuk ukuran orang yang baru lulus S1. Terus dia juga cerita kalau dia bakal pulang ke Indonesia Rabu ini. Sebenarnya Senin ini sudah cuti tapi dia masih pengen eksperimen.

Oiya A dan C sama-sama PhD student. Sama-sama lulus SMA di tahun 2007. A sudah menikah dan istrinya sedang hamil.

Duh, nulis apalagi ya. Oiya on a site note, orang yang di dunia maya kelihatannya terlalu mengkritik orang atau ribut di komen orang bisa aja aslinya baik. Kadang emang kepribadian manusia itu seperti samudera. Dari permukaan ada yang nampak ceria, tapi di palung lautnya sangat fragile dan sensitif. Tapi ada juga yang permukaannya seperti labil, tapi dalemnya stabil.

Karena kelewat bosan saya nyoba nonton suits. Menarik. Nggak tau kenapa saya selalu terobsesi sama serial yang menjual tokoh-tokoh ‘super’. Eidetic memory, kemampuan membaca orang, skill spesifik. Tapi otak memang termakan dengan superhuman. Sedangkan hati, selalu nyaman dengan manusia yang rendah hati.

Oiya, saya mencoba mulai suatu proyek. Saya pikir harus dimulai dari sekarang sih. Kalau nggak cuman jadi impian masa kecil yang nggak kunjung terwujud soalnya. Gara-gara habis ngobrol sama I juga sih.

R: gw galau nih agak ga konsen ngerjain riset. menurut lo gimana kalo gw jadi X full-time. tapi gatau jg bakal sukses nggak, nggak pernah Z juga sih

I : 100% mendukung. 200%. Mengalir aja fik, penelitian harus tetep lanjut

Lumayan bikin hari agak semangat sih.

Oiya, kayaknya teman-teman udah pada nikah punya anak, atau mau nikah. Waktu gak kerasa banget euy. Udah gitu saya jadi sering buka percakapan-percakapan sama teman-teman yang dulu akrab. Percakapan-percakapan menarik. Meski sekarang mungkin hidupnya udah beda-beda. Bahkan ada juga yang kayaknya udah nggak nganggep temen lagi entah kenapa. Konsekuensi kehidupan.

One thought on “[log] What I forgot about vision, flow, and decision – Motivator inkongruen dan GPA sempurna yang tidak sempurna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s