Do-Your-Homework attitude: PhD bukan bimbel bro

Sekali-kali pengen curhat tentang kehidupan sebagai mahasiswa PhD tahun keempat yang punya junior. Dan ini sedikit banyak ada hubungannya sama culture shock antara Singapura dan Indonesia.

Sebagai PhD student, kita bahkan sulit yah mau ngerjain riset sendiri. Kadang teaching duty yang di atas kertas enteng kayak cuman bikin soal-soal atau cuman jadi asisten tukang debug di lab juga bisa nguras waktu dan pikiran. Terus belum kalau disuruh bantuin penyelenggaraan konferensi. Udah gitu kalau lagi mau ngerjain riset sendiri, kadang pengetahuan kita kurang. Harus baca-baca terus. Belum kalau frustrasi karena apa yang dipikir bakal jalan ternyata nggak jalan. Eh lama nggak ada perkembangan, tau-tau nemu salahnya dimana. Continue reading “Do-Your-Homework attitude: PhD bukan bimbel bro”

Advertisements

Lumut

Suatu hari saya bertemu dengan pemuda yang bercita-cita untuk bersatu dengan internet. Saat hendak berwudhu mendadak dia bersin dan mengeluarkan banyak ingus. Lalu saat melihat lumut, dia bertanya kepada saya.

“Gimana kalo lo terlahir sebagai lumut?”

“Nggakpapa sih, selama ada relung yang bisa gw isi dan menjadi bagian dari ekosistem.”

“Literally mengisi relung ya”

“Iya juga”

Kisah-kisah yang dilarang

Buku-buku dilarang. Film-film dilarang. Ada kalanya mereka dilarang bukan karena isinya salah. Ada kalanya mereka tidak boleh disebarluaskan demi kebaikan. Apalagi dalam ranah spiritual. Bisa-bisa orang menjadi lupa bahwa setiap manusia memiliki perjalanan yang unik pada dimensi duniawinya. Ada yang dianugerahi pengalaman-pengalaman yang tidak bisa ditimbang akal. Sudah melampaui hukum fisika. Sudah melampaui kebenaran yang berdasarkan empirisme belaka. Ada pula yang dianugerahi pengalaman yang begitu rasional. Begitu empiris, logis, dan sesuai dengan kaidah probabilitas dan statistika.

Ada yang baru percaya setelah mengalami fenomena-fenomena. Namun, bukan berarti fenomena itu harus dikejar.

Tapi, saya rasa justru menarik ketika kita bisa diberikan pemahaman tentang hal-hal yang melampaui alam fisik, meski realitas yang ditampakkan pada kita terlihat wajar-wajar saja. Sebab kita tahu pemahaman itu masuk dari ‘hati sanubari’. Bukan sekedar akal logika, atau emosi rasa.

Saya sebenarnya sudah agak jengah untuk menjadi jengah dengan manusia-manusia yang kehilangan orientasi. Demi arogansi, mereka berupaya untuk membangkitkan kejayaan kaumnya, agamanya. Dengan dalih sains (yang terkadang benar-benar sains, maupun terkadang pseudosains) mereka berupaya mendewa-dewakan hal yang sifatnya duniawi (tanpa sadar). Padahal bukan itu apa yang dituju agamanya, saya rasa. Aneh sekali.

Aspek-aspek tersembunyi tidak berusaha dicari. Masyarakat dijejali dengan teori-teori konspirasi, dijejali dengan versi-versi ‘kaum lain’. Dikotomi kemanusiaan. Antara kita dan mereka.

Saya pikir, yang lebih penting adalah merelakan ego. Menggunakan apa yang baik untuk kemanusiaan. Tak peduli ini sains versi siapa, sejarah versi siapa. Tak peduli buku ini buatan siapa beragama siapa. Kalau mau begitu tak usah kita hidup di dunia sekalian. Tak usah pakai teknologi. Tak usah baca textbooks karena yang menulis tidak percaya Tuhan.

Tak perlu dibuat menjadi isu yang justru melenakan manusia-manusia dari panggilan jiwanya. Panggilan jiwa untuk berbuat kebaikan. Untuk memerangi nafsu-nafsu liar yang tak terkendali. Sebab musuh itu selalu nyata mengalir di aliran darah kita.

Ah, tapi ini semua pula yang menjadi cermin bahwa saya pada akhirnya baru sampai di sini. Ya setelah nyasar ke sana kemari, putar balik, dan akhirnya menemukan pintu. Pada akhirnya saya masih di sini. Masih bergulat dengan banyak isu yang sama. Tapi memang kita harus percaya pada proses. Pada metode.

Saya rasa, memang manusia perlu mencari tahu kebenaran. Perlu hati yang jujur untuk mencari kebenaran. Namun, yang paling penting setelah menemukan kebenaran rupanya adalah: mencari tahu cara menyikapinya. Menyelamatkan diri saja sulit. Menjaga agar jiwa kita tetap bersih saja sulit. Berusaha mencari kendaraan menuju pertemuan abadi pun tak mudah.

Dan, sesingkat apapun waktunya, perjalanan masih panjang. Kita harus terus berprasangka baik, agar pada dimensi spiritual, jiwa kita mampu kembali memasang soket komunikasinya, memperoleh frekuensi, senantiasa terhubung dengan wasilah carrier yang akan memberinya petunjuk di alam maha halus. Yang terkadang sulit dijangkau oleh sekedar pikir dan rasa.

(sebenernya banyak topik yang pengen ditulis: tentang review film Frequency yang bisa nyambung ke free will, determinism, metafisika banget; tentang serial Humans yang bisa nyambung ke masalah kesadaran, kloning, dan hisab; tentang serial Suits yang menggambarkan koneksi antar manusia, juga ego manusia yang tinggi dan rela membangun menara dengan fondasi kebohongan; tentang serial Mr. Robot yang membahas tentang bugs [lah kok banyak amat serial yang saya tonton yah.. waktu oh waktu]; tentang kehidupan di semester 6; tentang turnamen futsal 17-an, dan banyak hal lain. Tapi memang dengan waktu dan sumber daya alam ini kita harus memilih. Dan saya memilih untuk menuliskan ini sebagai pengingat bagi diri saya, tentang esensi hidup yang sebenarnya. Yang sering terlupa saat kita sedang bersandiwara di panggung dunia.)