Hati Tempat Menimbang Rasa

Manusia mampu merasakan bagaimana dia pernah menjalin hubungan yang akrab dengan yang orang yang dicintainya. Namun, meski Tuhan menciptakan rasa cinta di antara manusia, tidak semua cinta berujung pada kejodohan.

Ketika dua insan yang saling mencintai pada suatu ketika membagi momen bersama-sama, waktu seolah menjadi ilusi. Tak terasa berjam-jam telah berbincang berbagi cerita dan tawa hingga warung yang disinggahi hendak tutup. Energi seolah menjadi tak hingga. Tak ada rasa malas, tak ada rasa lelah, tak ada kata menyerah. Untuk menempuh perjalanan-perjalanan jauh dengan berbagai rintangan. Tak peduli panas hujan, serta jalanan bergeronjal. Demi menghabiskan sesebentar apa momen untuk memandanginya. Saling memandang. Selalu terngiang.

Saat momen itu ada di sana. Dua pasang manusia akan memiliki bahasanya sendiri. Panggilan khusus. Istilah khusus. Topik-topik khusus. Mereka seperti alien di tengah lautan manusia. Paham apa yang dirasa, dimaksud, dan diinginkan oleh satu dengan yang lainnya.

Dekat. Satu merasa dekat dengan yang lain. Hingga akhirnya dinamika kehidupan kelak membuat mereka termenung. Ke mana perginya momen dan rasa itu? Bukankah dulu kami begitu akrab? Mengapa rasanya sekarang ada jarak di antara kami?

Patah hati. Kata orang lebih baik patah hati dibanding mati rasa. Dengan patah hati, kita tahu bahwa kita masih punya hati. Namun jika kita mati rasa, sepertinya ada yang hilang dari kemanusiaan kita.

Rasa. Semuanya terjadi dalam sebuah ruang indera bernama rasa. Apakah rasa ‘hanyalah’ ‘perasaan’ belaka? Apakah dia hanya ilusi sebagaimana manusia terperangkap dalam dimensi waktu?

Namun dengan rasa kita bisa menimbang kehidupan. Menyesali keputusan yang kita buat. Memahami kehidupan lebih baik seperti apa yang kita inginkan. Meraba arah kita bergerak untuk meraih kebahagiaan di tengah segala ketidakpastian dan ketidaktahuan kita akan hakikat sebenarnya yang begitu utuh tentang hiruk pikuk dunia.

Maka dengan rasa ini pula kita dapat memahami bahwa dalam suatu waktu kita pernah begitu dekat dengan Tuhan. Memahami maksud dari segala tanda yang diberikan-Nya melalui segala kejadian yang seolah acak pada roda hidup. Memiliki daya serta upaya untuk semakin mendekati-Nya.

Dan untuk suatu waktu kita merindukan fase itu. Kita ingin Tuhan merengkuh kita dalam kehidupan yang fana ini. Kita merindukan pertolongan Tuhan yang membuat kita mampu menundukkan ego kita serta melumpuhkan musuh kita. Untuk bisa menerima hadirnya keikhlasan dalam diri yang membuat kita siap menerima segala rencana yang Tuhan siapkan untuk kita dengan mengikuti segala aturan yang diberikan.

Maka, jika momen itu datang, kita merindukan pertemuan yang membuat kita sengaja ataupun tidak menjadi selangkah lebih dekat dengan-Nya. Dan sebesar apapun kesalahan yang kita perbuat, kita dapat merasakan bahwa ampunan-Nya tak ada hingganya.

Ya, di banyak kesempatan kita mengecewakan Tuhan kita. Kita memilih jalan yang salah meski Tuhan berikan dua mata, satu lisan, dua telinga, serta dua jalan. Dan kita terlalu malas untuk mendaki di jalan kebaikan. Sebab kita kalah oleh setan. Yang telah mengalir bersama aliran darah.

Tapi yang saya pelajari tentang hati. Lebih baik kita bersedih dan berduka untuk beberapa saat. Lebih baik kita larut sejenak dalam sesal. Ketimbang kita tak merasakan apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s