Do-Your-Homework attitude: PhD bukan bimbel bro

Sekali-kali pengen curhat tentang kehidupan sebagai mahasiswa PhD tahun keempat yang punya junior. Dan ini sedikit banyak ada hubungannya sama culture shock antara Singapura dan Indonesia.

Sebagai PhD student, kita bahkan sulit yah mau ngerjain riset sendiri. Kadang teaching duty yang di atas kertas enteng kayak cuman bikin soal-soal atau cuman jadi asisten tukang debug di lab juga bisa nguras waktu dan pikiran. Terus belum kalau disuruh bantuin penyelenggaraan konferensi. Udah gitu kalau lagi mau ngerjain riset sendiri, kadang pengetahuan kita kurang. Harus baca-baca terus. Belum kalau frustrasi karena apa yang dipikir bakal jalan ternyata nggak jalan. Eh lama nggak ada perkembangan, tau-tau nemu salahnya dimana.

Kehidupan di sini sangat mandiri. Tiap orang ngurusin urusannya masing-masing. Hanya karena berada di lab yang sama bukan berarti kita bisa bekerja bersama-sama karena supervisornya pun beda. Supervisornya sama pun proyek yang dikerjakan bahkan belum tentu berkaitan. Dan, kolega tidaklah sama dengan teman. Karena setiap orang sibuk, ya kita harus belajar-belajar sendiri. Rasanya sungkan mau nanya ke orang-orang tentang hal remeh. Bukan apa-apa, tapi karena saya tahu waktu mereka berharga.

Makanya, kadang saya gak bete kalo ada orang yang kebanyakan nanya. Apalagi kalau pertanyaan yang kurang esensial. Sebagaimana diajarkan di serial Suits, meski tidak punya pendidikan formal, si karakter utamanya bisa menjadi pengacara (walaupun palsu atau ilegal) yang jago dan hebat karena dia bilang

“I always do my homework.”

Iya. Dimana-mana orang tuh harus ngerjain PR-nya. Apa yang bisa dipelajari sendiri ya harus dipelajari sendiri. Bukan nunggu disuapin.

Saya pernah diceritain sama seorang profesor Indonesia di sini. Ada mahasiswanya asal China. Indeks prestasinya selama kuliah 5. Karena nggak pernah nongol di lab dan dihubungi susah, akhirnya dia di terminasi sebelum sempat melakukan ujian kualifikasi. Setelah resmi drop-out mahasiswa ini baru dateng dan cuman bilang kalau dia gak paham tentang risetnya.

Masih dari profesor yang sama (profesor ini dapet banyak mahasiswa bermasalah kalau dipikir-pikir), ada juga mahasiswa dia yang tiba-tiba ngirimin program yang dia bikin. Programnya nggak jalan, dan dia minta profesornya ngoreksi programnya. Buset, dia pikir ini kursus coding? Cuman mahasiswa yang satu ini agak parah sih. Mentang-mentang sayyid jadinya dia ga terima kalau dimarahi.

“I am a descendant of the Prophet”

“So what?”

Sesungguhnya dalam proses yang saya alami selama PhD, supervisor saya nggak pernah ngecek-ngecek program saya. Bahkan rumus-rumus. Semuanya kita bikin sendiri, kita koreksi sendiri. Kalau salah ya kita juga yang tahu salah. Supervisor hanya akan melihat dari garis besar saja. Performa dan hasil simulasi seperti apa. Tentang detail cara kita melakukannya, itu urusan kita. Tentu syaratnya harus jujur dan memegang teguh prinsip ilmiah.

Terus masih cerita dari profesor yang sama. Pernah ada mahasiswa yang dia suruh cari literatur tentang sesuatu. Dikasih waktu beberapa minggu mahasiswanya masih belum tau apa-apa. Dia nanya, harus baca di buku apa? Profesornya pun ngasih tau baca di buku X. Eh, udah gitu mahasiswanya masih nanya, chapter berapa? Saking keselnya profesornya bilang

“Do I need to read it for you as your bedtime story?”

Ya seperti itulah gambaran orang-orang yang disuapin. Dan sebagai PhD student, kita dituntut untuk belajar mandiri. Dalam proses mempelajari konsep-konsep baru apalagi yang baru diriset atau masih diriset, tentu banyak kesulitan dalam mempelajarinya. Nggak jarang bakal frustrasi. Dan itulah penderitaan dalam menuntut ilmu yang sama-sama dirasakan mahasiswa PhD.

Tapi, itu bukan berarti kita nggak bisa nanya dan berdiskusi ya. Kita tetep bisa nanya dan berdiskusi selama kita sudah mengerjakan PR kita. Kalau kita mau diajari tentang sesuatu, ya kita harus baca dulu papernya. Baca sekali nggak ngerti, ya baca berkali-kali. Baca banyak buku. Cari-cari buku di perpus. Dan setelah banyak diskusi dan setelah kita ngerjain simulasi, terkadang kita sadar bahwa pemahaman kita salah. Eksperimen yang dirancang salah. Hasil tidak sesuai. Ya memang gitu. Kegagalan adalah sahabat karib mahasiswa PhD.

Saya saja sampai detik ini belum berhasil publikasi sesuatu yang sudah saya mulai tulis dari 1,5 tahun lalu. Pahit? Iya. Tapi harus dihadapi.

Mentalitas seperti inilah yang saya pelajari dari 3 tahun menjadi mahasiswa PhD. Dari situ saya juga berkembang menjadi lebih dewasa (kata prof saya sih gitu), nggak cengengesan.

Bayangin aja hari ini ada seorang junior, sebut saja J2. Dua minggu lalu dia datang ke meja saya minta dijelaskan tentang suatu konsep. Bukannya saya nggak mau ngajarin sih, tapi kalau seseorang belum nyari tahu sendiri juga sulit. Konsep itu aja mungkin bisa jadi seperempat kuliah sendiri. Perlu 3×3 jam pertemuan dengan dosen kalau secara formal. Maka saya berikanlah suatu ebook dan saya kasih tau chapter mana yang harus dibaca. Persis seperti yang saya kasih ke junior J1 yang lebih senior satu setengah tahun dari J2.

Ingat, waktu saya pertama ke sini nggak ada yang ngasih tau saya untuk baca spesifik textbook yang itu. Saya baca beberapa textbook di perpus karena saya masih gak paham, apalagi saya nggak punya background knowledge tentang bidang itu. Saya akhirnya nemu buku itu bisa ngasih penjelasan lebih bagus ketimbang paper-paper atau textbook lain. Udah gitu, saya akhirnya nyari ebooknya dan kebetulan ada.

Makanya, saya pikir sebenarnya enak loh kalau J2 ini mau baca buku itu. Kalau dia baca buku itu dulu seperti J1 mungkin hasilnya nggak seperti apa yang terjadi hari ini: bikin saya agak bete. Saya lanjutin aja ya apa yang terjadi dengan J2.

Minggu lalu J2 nanya saya apakah Jumat kosong nggak (nanya pas hari kamis):

“Mas bsk ada waktu liang. Aku pengen diajarin algoritma music, biar lbh paham lg. Kira2 kpn mas bs ajarin?”

“Minggu depan aja deh. Besok gabisa.”

“Oke ksh tau aja hari dan jam nya ya mas. Makasih.”

“Ok”

Nah minggu ini kebetulan saya agak rebek. Suatu hari dia dateng ke meja saya waktu saya lagi bikin soal-soal untuk kuliah online. Dia nanya, “Lagi sibuk?” ya saya jawab iya. Terus udah deh katanya besok aja kalau gitu.

Besoknya dia nggak dateng.

Nah, kemarin saya bener-bener nggak ke kampus sama sekali. Saya mencoba mencari ketenangan karena saya tahu hati saya sedang resah dan jiwa saya sedang kurang sehat. Jadi, kemarin saya cuman mengerjakan kerjaan yang deadlinenya hari itu dari rumah aja. Sisanya saya habiskan untuk membaca buku-buku yang menenteramkan jiwa. (Saya pengen nulis tentang ini di postingan lain)

Terus hari ini setelah jumatan saya sama seorang PhD student asal Indonesia lainnya makan di kantin. J2 ikut juga. Biasalah obrolan di meja makan mah biasanya enteng-enteng. Hepi-hepi. Sampai akhirnya J2 dengan cengengesan bilang gini,

“Lha ini katanya mau ngajarin aku tentang MUSIC, mana?”

Entahlah, saya nggak bisa menilai apakah omongan dia pantas atau nggak. Tapi yang jelas kalau saya jadi dia, saya nggak akan bilang gitu ke saya. Apakah saya emosi, ya iya. Mungkin saya belum dalam level ke-aku-an yang sudah benar-benar lenyap sirna. Sebab dari ke-aku-an saya ini, seolah dia menuntut saya yang punya kewajiban untuk mengajari dia.

Dan honestly, andaikan dia nggak nanya kayak gitu di meja makan, tadinya saya berencana datang ke meja dia setelah beres makan ini dan berusaha nanya sejauh apa dia belajar. Tapi karena saya manusia, dan kesabaran meski dia tak terhingga, dia memiliki batas. Dan, maka demi kebaikan dia sendiri agar bisa lepas dari mental bimbel saya bilang.

“Bukan nggak mau ngajarin, tapi nggak taunya dimana? Kalau mau diajarin semua bisa jadi satu kuliah sendiri. Nggak mungkin aku ngajarin dari awal sampai akhir.”

Lalu terjadilah obrolan yang cukup teknis di meja makan. Bahas eigenvector dan lain-lain. Dan saya nangkep banget dia ada asal sebut istilah. Benar-benar obrolan teknis yang cukup merusak mood. Karena apa coba? Karena rupanya dia belum baca full apa yang saya suruh dia baca (yang sudah saya kasih bukunya dan saya kasih chapternya, a.k.a sudah super saya suapin).

Sekarang gimana dia mau mencoba mengimplementasikan suatu konsep untuk hal lain, jika konsep originalnya saja dia tidak mau memahami dengan utuh? Dia baru mencoba memahami cara memodelkan sinyal terus berharap langsung bisa memodelkan sinyal untuk aplikasi lain. Dan, dengan menyedihkannya seolah menodong saya untuk memberikan solusi instan atas sesuatu yang seharusnya dia cari sendiri?

Maka saya pun menjelaskan bagaimana dalam PhD ini proses untuk memahami sesuatu memang tidak instan. Nggak langsung ngerti bisa lama. Bahkan si J1 saja sekarang juga sedang nyari cara lain untuk memodelkan sinyal sesuai topik dia, meski sebelumnya dengan suatu model sudah ada progres. Namun, model itu rupanya salah. Ya memang gitu gak gampang. Wajar aja kalau dalam seminggu nggak langsung paham. Apalagi langsung dapet signal model yang cocok.

Saya berusaha mencairkan suasana dengan cerita kalau pas dulu saya awal ke sini juga dateng presentasi iya-iya aja tanpa ngerti dan ngeh benar tentang suatu konsep. Bahkan setelah belajar dan mencoba banyak hal baru akhirnya saya mulai mengerti. Tapi ya saya bilang tetep penting untuk menentukan topik.

“Ya, memang nggak cepet kok buat paham gitu memang butuh waktu sih.”

“Oh yaudah kalau gitu berarti santai saja ya hehe”

Saya dan teman saya agak mengernyitkan dahi. Bukannya kalau tahu kita bakal butuh waktu lama justru kita jadi lebih menyegerakan diri?

Oiya, dia pun cerita kalau habis ketemu prof. Dia mengirimkan sebuah paper dan profesor bilang kalau paper ini sangat relevan dengan kerjaan kita. Tapi dia bilang dia nggak paham dimana letak relevansinya. Ya iya, gimana mau paham relevansinya kalau sesuatu yang dibilang relevan dengan paper itu aja kita nggak paham kan?

Dari situ teman saya juga berbagi cerita tentang hubungan student dan supervisor di lab dia kepada J2. Kami juga bercerita gimana seseorang bisa saja ganti topik, risetnya nggak jalan. Makanya sebenarnya ketika seorang profesor sudah punya suatu metode yang beberapa kali terbukti jalan itu keuntungan buat kita. Karena kemungkinan untuk dia jalan jadi lebih besar daripada kita anak bawang sok-sokan bikin metode baru. (Kita berbicara base probability di sini, bukan kasus khusus cem Einstein)

Terus udah deh dia cabut duluan.

Saya pun berusaha mengevaluasi diri. Saya tanya pendapat teman saya, apakah yang saya utarakan tadi terlalu keras dan emosi? Dia bilang tetap kelihatan emosi, tapi memang wajar sih dengan kondisi J2 yang agak cengengesan. Karena, entah J2 menyadarinya atau tidak, J2 berpikir bahwa PhD ini seperti bimbel. Yang dalam satu setengah jam, langsung bisa membuat anda cerdas dan passing grade try out meningkat.

Nggak lama kemudian datenglah teman kami yang lain yang kebetulan menyelesaikan S1-nya di NTU, dan sempat kuliah di ITB juga. Setelah kami cerita, malah kalau dia bilang kayaknya J2 ini perlu diospek. Ospek PhD. Perlu dikasih tau kalau budaya di sini adalah budaya belajar mandiri, bukan disuapi.

Ya, kadang saya jadi berkhayal, seperti apa waktu saya pertama ke sini? Cengengesan juga kah? Mungkin iya. Mungkin saya juga melalui proses itu, dari yang biasa disuapi lalu belajar mandiri secara intelektual. Tapi mungkin proses saya agak nggak parah karena nggak ada orang Indonesia di tim. Jadi jauh lebih sungkan kalau mau nanya hal yang nggak penting.

Well, I think that’s all. Ya barangkali J2 ternyata baca, ya percayalah maksud kami-kami baik walaupun mungkin saya terlihat emosi. Ya itu karena faktor cara komunikasi aja yang belum klik ya. Andaikan kita udah dekat sama seseorang mah, mau ngomong pala lu peyang juga santai aja. Tapi kalau sama orang yang nggak dekat-dekat amat terus kita main jitak, yang ada kita bakal dimarahi. hehe.

Saya mah selow. No dendam no nothing. Nulis gini sebagai catatan pelajaran yang saya petik dari fenomena ini.

4 thoughts on “Do-Your-Homework attitude: PhD bukan bimbel bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s