Bangga (Bersyukur) Terhadap Keutuhan Paradigma

Hari ini adik saya yang paling kecil berulang tahun yang ke-14 (kalau nggak salah ya). Saya jadi teringat kata-kata ibu saya tentang adik-adik saya. Tentang paradigma.

Adik saya yang cowok, konon katanya pernah cerita-cerita di rumah. Banyak teman-temannya yang sehabis dapat gaji, gajinya dibelikan banyak hal-hal yang kurang penting. Karena masa kecilnya kurang bahagia, jadi mereka beli hal-hal yang dulu tidak bisa dibelinya meski kurang bermanfaat. Balas dendam.

Sedangkan adik saya bilang, dia pun dulu sebenarnya ingin seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak. Dia sudah paham bahwa hakikat dari bekerja adalah untuk bersyukur.

Adik saya yang cewek, konon katanya juga pernah cerita-cerita di rumah. Dia sering kasian melihat teman-temannya yang terlalu perfeksionis dengan segala hal sehingga jadi tidak bahagia.

Entahlah, saat waktu berputar begitu cepat, kita jadi sering bertanya “apa yang paling penting?”

Kita mendefinisikan kembali hidup kita.

Bertemu dengan beragam manusia dari beragam usia, profesi, negara, dan dengan beragam karya yang ditorehkannya masing-masing, saya menemukan bahwa segala prestasi seseorang di mata manusia lain tidak serta-merta membuat mereka bahagia. Tidak membuat hidupnya terpenuhi.

Saya pikir hidup itu sederhana. Setiap orang punya rezekinya masing-masing yang menentukan titik awalnya. Tapi, yang terpenting setelah itu adalah satu: tidak pernah menyerah. Selama manusia tidak berhenti berusaha, kelak ia akan mencapai apa yang dia inginkan.

Hukumnya satu, sederhana, dan berlaku untuk semua manusia.

Namun, yang membedakan kualitas manusia satu dengan yang lain adalah paradigmanya.

Seseorang yang terlahir di keluarga kaya raya dan sukses bisa saja tumbuh dan berpikir bahwa: saya harus kaya raya dan sukses sebab orang tua saya pun demikian.

Seseorang yang terlahir di keluarga dengan ekonomi pas-pasan pun bisa saja tumbuh dan berpikir bahwa: saya harus menjadi sangat-sangat sukses dan kaya demi memperbaiki kehidupan keluarga.

Dan diberikan dua kondisi yang sama, keduanya juga bisa saja menjadi orang yang malas-malasan dan tidak memiliki gairah hidup. Yang satu karena merasa sudah punya segala, yang satu karena merasa tidak punya.

Dan, ketika seseorang mencapai titik sukses di mata manusia itu, pertanyaan kembali diajukan:

Apa makna dari kesuksesan tersebut?

Hal-hal inilah yang disebut keterampilan hidup. Bekerja keras dalam waktu singkat dan fasilitas yang tersedia dapat membuat anda meraih prestasi. Tapi dalam sebuah perjalanan panjang, yang dibutuhkan ternyata sederhana: keutuhan paradigma.

Mentalitas, persistensi, dan kemampuan untuk bangkit kembali adalah hal yang akan menentukan perjalanan panjang hidup kita. Roda hidup berputar, sesekali dua kali atau banyak kali, “hidup” akan menantang kita dengan senjata-senjata yang tak pernah kita bayangkan. Paradigma lah yang menentukan sebarap tangguh kita dalam menghadapi hal-hal yang tidak terduga.

..

Dan ketika paradigma yang kita dan orang-orang terdekat kita miliki, menuju kepada paradigma yang utuh (kaaffah), kita patut bersyukur.

One thought on “Bangga (Bersyukur) Terhadap Keutuhan Paradigma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s