Pintu Kesadaran Anak Adam

Saya pernah berdoa agar saya disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat agar tak lagi jadi pemalas atau malah melakukan aktivitas yang merugikan. Namun, saat kesibukan datang, saya justru mengeluh. Kesadaran saya tertutup.

Begitulah anak adam, banyak minta. Lupa apa yang pernah diminta. Ketika yang diminta diberikan, ia lupa bersyukur.

Itu terjadi saat kesadarannya terhadap hakikat ruang dan waktu tertutup.

Namun, seorang anak adam yang kesadarannya terbuka akan mampu memahami segala rentetan kejadian yang telah dia lalui selama hidupnya, serta kemana semua ini akan mengarah.

Setiap hal yang dikemas dalam bingkai kewajaran yang dapat dinilai secara statistika, pada hakikatnya adalah mata rantai takdir yang ditentukan secara presisi. Kehilangan satu saja, maka roda kehidupan seseorang berubah dengan drastis.

Ketika kesadaran itu terbuka, dan mewujud dalam tindakan kebajikan, kita menyadari betul bahwa ada petunjuk Tuhan di sana. Pada setiap gerak langkah, pada orang-orang yang kita temui, pada hal-hal kecil remeh temeh yang seolah tidak perlu dzat Maha Agung untuk mengurusinya.

Ruang dan waktu hanyalah ilusi. Hanyalah cara kita untuk mengukur perjalanan jiwa kita di alam fisik. Dalam sebuah dunia hakikat tanpa ruang dan waktu, hanya ada dua jawaban atas kehidupan manusia: berhampir atau tidak berhampir dengan Tuhan Semesta Alam.

Lantas bagaimana cara mengukur perjalanan ‘spiritual’ jika ia tidak diukur dari hal-hal yang kasat mata?

Tumbuh kembang manusia diukur dari sejauh mana ia senantiasa membersihkan cermin jiwanya. Saat ia senantiasa menjaga pintu kesadarannya agar tidak tertutup barang sedetik atau satu milidetik pun.

Saya mungkin masih pada level rendah. Pintu kesadaran saya bisa tertutup berminggu-minggu. Namun, bagi mereka yang jiwanya telah dewasa, mereka mungkin bisa menjaga pintu kesadarannya hingga orde yang begitu halus sehingga hampir setiap saat kesadarannya berhasil berkait dengan Sang Petunjuk.

Ketika anak adam bertransendensi, pengetahuan dari Tuhan pun mengalir. Layaknya Khidir yang diberikan ilmu tentang masa yang belum datang di alam fisik.

Namun, timbul kembali pertanyaan saat seorang anak adam berhasil membuka pintu akan pengetahuan tentang masa depan.

Saat ia paham bahwa ia digariskan untuk berpotensi meraih sesuatu, Tuhan kembali memberikannya pilihan-pilihan.

Dan di sana dia tahu, jika ia celaka, itu karena jalan yang dipilihnya sendiri.

Maka, ia menjalani hidup pada cakrawala antara harap dan cemas. Dalam titik itu, ia temukan pintu kesadarannya senantiasa terjaga. Sebab lalai sejenak bisa celaka.

Catatan pinggir:

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengatakan sesuatu yang membantu saya untuk membuka kembali pintu kesadaran itu. Bahwa hidup menjadi tak berarti tanpa ada ketenangan jiwa di dalamnya. Segala peluh dan keringat, hendaknya bukan keluar hanya demi sepiring nasi. Dan sebaliknya. Pengorbanan menjadi kepuasan ketika kita mendapatkan makna yang setinggi-tingginya dari mengerjakannya.

Kata-katanya sederhana.

Screenshot_2015-08-27-22-42-36-1

Dan saya yakin, ketika dia mengatakan hal ini pun itu adalah bagian dari mata rantai itu. Saya hanya bisa mensyukurinya, sebab masih memiliki teman-teman yang senantiasa peduli dan berbagi pikiran positif dengan saya.

One thought on “Pintu Kesadaran Anak Adam

  1. Allahu Akbar. Sekecil apapun cahaya matahari kau dapat, hanya cahaya mataharilah yg bisa membawamu kematahari. Insha Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s