Pertemuan dengan Coach

Jam makan siang di Dharmawangsa Square. Saya bertemu dengan salah satu ‘panutan zahiriah’ dalam manifestasi aspek esoteris di dunia bisnis. 24 angkatan di atas saya, beliau masih menyempatkan diri bertemu dengan saya.

Entahlah, dari dulu saya merasa bahwa pertemuan saya dengan beliau bukanlah kebetulan. Saya mungkin telah mengecewakan beliau ketika melihat aspek kinerja saya selama berada dalam asuhan beliau. Setelah beliau berusaha mendengar saya dengan benar-benar, bahkan sempat memberikan saya sebuah ide out of the box: bekerja ‘behind the desk’ sebagai CSR, saya akhirnya justru pergi. Setelah saya melakukan presentasi yang begitu mengecewakan, beliau masih mengajak saya makan malam dalam rangka ‘to celebrate our friendship’.

Dan hari itu, beliau dengan segudang pengalaman, masih mau mendengar dunia saya, pemikiran saya, apa yang saya dapat dari perjalanan hidup saya. Ya, saat itu beliau sedang punya ‘bayi’ baru, sebuah perusahaan yang berusaha menjembatani antara meditasi, kesadaran penuh, dengan peak performance di dunia bisnis. Kami banyak berbincang pula tentang hal-hal esoteris dan pencarian hidup. Beliau bilang bahwa beliau tidak pernah berangkat dari agama, tapi justru akhir-akhir ini pencarian beliau sampai pada yang satu ini. Terakhir kali kami bertemu kira-kira dua tahun sebelumnya, saya baru menemukan bahwa kami rupanya penggemar penulis yang sama: Achmad Chodjim.

Buku-buku Achmad Chodjim sangat esoteris, dan begitu renyah. Dan meskipun saya pada akhirnya tidak meyakini kebenaran dari pesan-pesan yang disampaikannya mentah-mentah, buku itu telah menjadi salah satu titik persinggahan yang mengantarkan saya pada pemahaman saya yang sekarang. Dan saya harus bersyukur untuk itu.

Waktu itu saya pikir tidak heran, bagaimana beliau bisa menunjukkan aspek esoteris dalam dunia korporat. Bisa-bisanya beliau mengatakan bahwa bukan hanya ‘company’ yang berinvestasi, maka dari itu kita harus berusaha mencari ‘relung’ kecil yang telah di-desain untuk kita. Berbeda dengan organisasi-organisasi yang begitu formal dan terjebak dalam perdebatan di tataran ide, beliau pikir yang paling penting adalah memetakan semua jejaring yang ada. Dan jika waktunya telah tiba, kita tinggal pusing mengeksekusi.

Di tengah segala kekaguman saya yang seorang fresh graduate terhadap beliau, beliau tetap dengan tulus mengungkapkan bahwa beliau pun masih mencari. Masih memiliki mimpi yang ingin dicapai. Masih ingin belajar juga dari yang muda.

Dan hari itu beliau bertanya kepada saya, tentang sufisme dan spiritualitas yang saya pahami.

Dan saya yang baru saja kembali dari ‘Gua Hira‘ tiba-tiba merasa bahwa pertemuan itu bukan kebetulan. Bukan kebetulan, teman saya baru saja mengembalikan buku yang saya pinjamkan kepadanya tiga tahun sebelumnya. Buku itu berharga bagi saya. Saya tidak tahu kapan akan bertemu kembali dengan beliau.

Tapi pada detik itu saya paham, bahwa saya ada di situ untuk menyampaikan buku itu kepada beliau. Hanya itu yang saya dapat pahami.

Enam bulan berlalu sejak pertemuan itu, saya menulis ini ketika tiba-tiba teringat akan suatu kenangan yang begitu me-motivasi. Pernah waktu kami berjalan dari Plaza Indonesia, saya bertanya kepada beliau, “Mas, nggak ada rencana bikin buku?” Beliau tidak menjawab dengan rencana yang konkret. Namun, sekarang apa yang menjadi pemikirannya tentang passion, dan peak performance telah dapat kita nikmati di toko buku.

Ya, saya masih memiliki cita-cita untuk menulis banyak buku kelak. Saya ingin apa yang saya dapat ini juga bisa memberi manfaat bagi orang banyak.

Mengapa buku? Karena meskipun dia hanyalah media fisik yang tak mampu mentransfer seutuhnya makna kebenaran, dia adalah salah satu media terbaik yang dimiliki manusia. Di tengah budaya instan yang berpusat pada kecenderungan manusia untuk mengejar aspek eksoteris, tampilan luar dari kemewahan, tampilan luar dari intelektualitas, buku dengan sederetan penjelasan panjang untuk menjelaskan suatu konsep abstrak merupakan benteng pertahanan intelektual manusia.

Dan selagi belum ada kesempatan untuk mewujudkannya secara gamblang, saya berusaha menuliskannya pada fragmen-fragmen di blog saya.

One thought on “Pertemuan dengan Coach

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s