Declutter: Memperluas Ruang Kerja Mental

Beberapa hari lalu saya baca buku tentang working memory di kamar mandi. Bikin inget cerita Abunawas yang saya baca waktu kelas 1 SD. Tentang cara mendapatkan ruang ekstra pada physical & mental workspace.

Karena istilahnya adalah declutter, ini sedikit banyak ada hubungannya dengan riset saya: clutter rejection. Dan kata ini juga yang dibawa-bawa sebagai sebuah pledoi oleh Einstein:

download (1)download

Kalo di kisah Abunawas itu ya, intinya ada orang yang ngerasa rumahnya sempit. Terus malah disuruh beli ayam agak banyak. Seminggu kemudian dateng masih ngeluh sempit. Disuruh beli domba beberapa ekor. Seminggu kemudian makin ngeluh, eh malah disuruh beli Onta. Pokoknya rumahnya jadi kerasa jauh lebih sempit deh. Terus akhirnya disuruhlah menjual satu persatu si hewan itu. Sampai akhirnya dia merasa rumahnya jadi jauh lebih luas.

Ya sedikit banyak ini ada hubungannya juga dengan manusia yang menilai segala sesuatu dengan relatif (saya ada bikin draft tentang gimana manusia mengukur kualitas hidup tapi belum kelar euy). Tapi kurang lebih intinya adalah men-declutter. Apa clutternya? Rasa tidak puas karena rumah berasa sempit. Epicnya adalah declutterisasinya justru dilakukan dengan menambah noise, lalu menguranginya satu-persatu. Dan somehow secara mejik melalui persamaan matematis yang tidak saya coba modelkan maupun pikirkan, si clutter di pikiran ini hilang.

Wait. Mungkin ini seperti dithering. Jadi sebenernya kan ada distorsi mental: kenapa rumah yang sebenernya cukup terasa sempit. Lalu untuk menghindari distorsi itu ditambahlah derau berupa hewan-hewan tadi. Dalam proses eliminasi hewan-hewan tadi, si orang pun mampu melihat apa yang tadi dia tidak lihat karena distorsi mental: bahwa rumahnya cukup luas.

Well, agak nggak pas juga sih secara teknikal. Tapi kurang lebih gitu.

Sekarang kita bahas working memory. Working memory manusia ini semacam RAM dari manusia. Memori yang dipakai selama memproses informasi. Misalnya saat saya menuliskan tulisan ini, saya harus bisa mempertahankan beberapa informasi di pikiran saya:

  • informasi tentang working memory
  • informasi tentang cerita abu nawas tadi
  • informasi tentang terminologi dan ilmu signal processing yang saya gunakan sebagai analogi
  • informasi tentang alur cerita

Nah si working memory ini ada batasnya. Kalo di saat bersamaan kita mikirin hal lain yang nggak penting, bisa-bisa kita nggak maksimal dalam mengolah hal lain yang penting.

Jadi misalnya kita mau fokus kerja kita harus menyimpan:

  • perintah bahwa kita sedang bekerja dengan tujuan tertentu dalam waktu yang spesifik
  • perintah untuk let go informasi yang tidak dibutuhkan sekarang
  • informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan

Terkadang, keterbatasan memory kita membuat kita melupakan informasi pertama, lalu jadinya kedua pun hilang. Sehingga, meskipun otak kita masih menyimpan informasi yang dibutuhkan untuk bekerja, kita jadi terdistraksi dengan hal-hal lain yang sebenarnya tidak penting.

Sebenarnya ini udah agak jam bodoh ya. Saya juga gak yakin yang saya tulis itu benar.

Tapi yang jelas proses declutter ini hendaknya menunjang optimalitas kita dalam bekerja. Termasuk pula ketika kita membuang hal-hal yang sudah tidak kita perlukan. Kadang kita berpikir sayang kalau membuang suatu hal. Takut suatu saat butuh. Tapi kayaknya hal terbaik adalah singkirkan aja hal-hal yang bener-bener jarang dipakai.

Kayak saya nih, biasanya tiap ada pameran buku pasti beli banyak buku karena murah. Tapi lama-lama buku numpuk. Secara ekonomi mungkin rugi kalau cuman beli dikit pas pameran. Tapi kalau cuman nyesek-nyesekin lemari dan pikiran karena belum sempet baca, buat apa?

Ya teorinya sih gitu. Prakteknya sulit sih, apalagi untuk orang yang pikirannya suka lompat kayak saya.

Satu lagi. Tapi yah,declutterisasi pikiran ini nggak berlaku buat Einstein sih kayaknya. Udah beda levelnya. Mungkin dia udah upgrade RAM. Jadi bisa mikirin semesta alam di waktu bersamaan. Atau mungkin dia sudah bisa mengkompress informasi dalam bentuk yang lain (karena konon otak dia lebih visual.. sama kayak stephen hawking yang keterbatasan verbalnya membuat dia lebih banyak membayangkan secara visual dan menjelaskan dengan geometri… dan stephen hawking harus mencari penjelasan sesimpel mungkin kepada umat manusia..)

Nah, sebenernya ini kalo mau disambungin, saya juga sempet kepikiran mau nulis hal lain: tentang isqat tadbir (lagi-lagi baru draft.. semacam upaya otak saya menyelaraskan hal-hal yang berbau behavioral economics dengan spiritualitas yang saya pahami gitu deh). Ah yoweslah. Wallahua’lam

One thought on “Declutter: Memperluas Ruang Kerja Mental

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s