Alang-alang Dudu Aling-aling Margining Kautaman

Beberapa hari lalu setelah berbincang selama dua jam dengan seorang teman, dia meminta saya memberikan satu kutipan untuk bisa membesarkan hatinya. Saya pun menyuruh dia untuk googling dengan keywords “rumi sorrow prepares you for joy”.

Sorrow prepares you for joy. It violently sweeps everything out of your house, so that new joy can find space to enter. It shakes the yellow leaves from the bough of your heart, so that fresh, green leaves can grow in their place. It pulls up the rotten roots, so that new roots hidden beneath have room to grow. Whatever sorrow shakes from your heart, far better things will take their place.

Dulu saat masih berusia belasan tahun saya pernah mengalami suatu fase kritis. Di tengah segala keceriaan yang saya tampakkan, ada ruang tempat saya menyendiri. Di sana saya selalu mempertanyakan mengapa saya mengalami banyak hal. Dan, mengapa sepertinya tidak ada orang yang paham tentang apa yang saya rasakan.

Saya hanya bertanya tanpa berusaha memahami apa jawabannya. Hingga akhirnya entah bagaimana, saya mulai belajar untuk mengubah fokus saya bukan berupaya untuk dipahami. Saya berusaha mendengar cerita-cerita orang. Mereka bercerita dari hati. Saya mendengar pun dengan hati. Dari sana saya paham, cara memandang kehidupan tidaklah tunggal.

“Happiness in a Nutshell” by Andrew Matthews – View on Path.

Dan, saya sangat suka kutipan dari Rumi di atas. Saya termasuk orang yang percaya bahwa kesedihan adalah bagian dari proses kehidupan. Manusia memang perlu bersedih sewaktu-waktu. Kita harus menerima segala pahit itu agar kita bisa berkembang.

Menerima rasa duka, rasa sedih, dan pahitnya hidup bukan berarti terlena dan berlarut-larut di dalamnya. Namun, menerima mereka sebagai sebuah realita hidup dan sebagai sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Pada akhirnya Tuhan jua lah yang menciptakan kesedihan dan kesenangan. Dan, selalu ada maksud dibalik apa yang Tuhan ciptakan bukan?

Dan seiring dengan berjalannya waktu, saya menemukan banyak sekali paradigma yang salah namun telah diterima secara meluas di masyarakat. Paradigma yang salah itu telah melumpuhkan otot kebahagiaan dari kebanyakan orang. Dengan demikian, tidak salah jika disebut bahwa hanya sedikit dari manusia yang bersyukur.

Paradigma Syukur Di Atas Ambisi

Aturan pertama dalam hidup adalah bersyukur. Dalam situasi sesulit apapun selalu ada yang bisa disyukuri.

Ada masa dimana saya banyak berpikir, jika akhirnya saya tidak meneruskan studi PhD saya, tentu semuanya akan sia-sia. Sia-sia jika saya mengukurnya dengan ambisi pribadi. Namun, saat saya berusaha mempertanyakan, selama saya menjalani studi PhD ini, adakah manfaat yang saya berikan bagi orang-orang di sekitar saya?

Hidup manusia saling berkaitan satu dengan lainnya seperti sebuah jaring laba-laba raksasa. Sehingga pilihan buruk yang dibuat manusia lain pun tetap membawa hikmah di jangka panjang.

Lalu saya mulai menghitung kebaikan yang diperoleh orang lain karena keberadaan saya di sini (yang merupakan kebetulan). Misalnya, dengan saya di sini, beberapa teman yang sedang usaha start-up bisa mampir. Teman yang sedang kesulitan bisa menemukan teman-teman baru. Dan cerita hidup saya bisa diambil pelajaran oleh orang-orang di sekitar saya. Dengannya saya jadi bersyukur. Dengannya saya perlahan menyingkirkan ide bahwa keberadaan saya saat ini sia-sia jika suatu saat nanti ambisi saya tidak terpenuhi.

Hal inilah yang saya rasa merupakan suatu bentuk kecil dari transendensi manusia. Sebuah topik yang menjadi studi Abraham Maslow di akhir hayatnya. Bagaimana manusia yang bahkan belum mencapai aktualisasi diri, masih dapat mencapai kebutuhan lain yang lebih tinggi: transendensi diri.

Paradigma Akhlak Di Atas Fiqh

Dari pemikiran tentang syukur dan kebermanfaatan tadi, saya pun perlahan beranjak memahami paradigma akhlak. Kita lihat setiap harinya orang-orang bertengkar masalah sepele sehingga lupa untuk berbuat kebaikan.

Ribut-ribut tentang jenggot, berdebat tentang agama, padahal meributkan ego sendiri.

Pada akhirnya saya memandang bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang unik. Dengannya mereka menemukan sendiri hal-hal apa yang mereka anggap benar. Dan kebenaran yang mereka adopsi pun berubah seiring dengan proses pendewasaan hidup mereka.

Maka terlalu naif jika kita fokus pada perbedaan cara berpikir. Kita justru seharusnya fokus pada apa yang bisa kita bantu dan kita lakukan kepada sesama.

Bagaimana agar kita masih bisa tertawa dan saling support dengan teman-teman yang berbeda pemikiran dengan kita. Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada orang-orang tertentu, meskipun kita tahu bahwa kita tidak ingin menjadi seperti orang jenis tersebut.

Hidup ini adalah perjalanan bagi setiap jiwa. Perjalanan jiwa kita ini sendiri tak ada ujungnya. Jadi buat apa memikirkan hal yang remeh. Gontok-gontokan demi hal-hal yang kalau kita sudah mati, menjadi tidak ada. (Memangnya di akhirat ada fiqh?)

Ada yang lebih penting daripada kebenaran.

Makna

Segala hal yang kita alami dibingkai dalam kerangka waktu. Dengannya, manusia senantiasa berpikir linier, dari masa lalu, ke masa kini, dan ke masa mendatang. Lalu digadang-gadangkanlah, pentingnya tujuan, ambisi, dan cita-cita untuk dimiliki setiap manusia. Manusia harus bekerja keras sebab jerih payahnya yang akan menentukan masa depannya. Menentukan harta dan jabatan yang akan diperolehnya.

Manusia membuat rencana-rencana yang begitu detail. Manusia menderita sebuah penyakit: ingin memegang kendali atas segala sesuatu. Dengannya manusia menjadi gampang khawatir terhadap hal-hal kecil. Manusia lupa akan adanya hal-hal yang tidak dia duga di semesta kemungkinan.

Maka, saya pikir kita perlu punya paradigma baru. Bagaimana agar kita dapat memandang masa lalu, masa kini, dan masa mendatang dalam sebuah gambaran besar dari perjalanan jiwa.

Bahwa masa lalu kita yang seperti itu, ada agar kita bisa menjadi seperti sekarang. Dan kita harus menjalani masa sekarang yang seperti ini, agar masa depan kita bisa menjadi seperti nanti (meskipun kita tidak tahu apa yang akan menanti kita).

Dan yang lebih penting daripada sekedar ambisi adalah kebermanfaatan, makna. Dan makna, tidak harus besar. Tidak harus super. Sekecil apapun relung yang kita punya, itulah yang kita syukuri. Inilah dimensi sebenarnya dari apa yang dicari oleh manusia. Sedangkan ambisi hanyalah penggarisnya.

Maka dari gambaran utuh dimensi waktu dan dimensi makna, kita perlu menjjalani kehidupan kita sekarang, tanpa perlu mengkhawatirkan apa yang ada di masa depan. Tak perlu terperangkap dengan sosok seperti apa kita di masa lalu. Sebab yang ada saat ini adalah kita yang sekarang. Tak perlu terlalu pusing terhadap apa yang akan menanti kita di masa depan. Sebab apa yang ada di depan mata adalah urusan yang harus kita kerjakan sekarang.

Saat nanti paradigma ini sudah membuka kesadaran kita, hanya kita yang tahu, dan kita yang mesti jujur pada diri sendiri, makna seperti apa yang kita dapatkan dari kata-kata yang kita ucapkan.

Maka, kita perlu mengambil kebijaksanaan dari orang jaman dulu. Sebab kebijaksanaan selalu ada di mana-mana, dan tidak ada yang baru.

Persoalan kehidupan bukanlah penghalang dalam perjalanan menuju kebaikan.

3 thoughts on “Alang-alang Dudu Aling-aling Margining Kautaman

  1. pas baca bagian “Paradigma Syukur Di Atas Ambisi” gue keinget Meraih Kebahagiaan-nya kang jalal fik. pas nemu bagian selanjutnya, “Paradigma Akhlak Di Atas Fiqh”, keinget buku belio yang lain.😀

  2. Ya Fik, nikmatilah hidup yg sekarang dgn gembira dan tetap ada Tuhan dihati kita.Bagai kita naik bis dijalan tol menuju tujuan, buat apa risau dgn apa yg kita sdh lalui. Dan khawatir dgn Kota tujuan, padahal bis itu tentu akan menghantar kita asal kita tdk terlempar dari bis atau tertipu pindah ke angkot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s