Bro App dan Sahabat Rohani

Saya adalah orang yang mendapat banyak wisdom dan insight dari TV series. Tak terkecuali serial Silicon Valley. Dan tentu saja dari ‘Bro App’.

(Saya pikir Rumi begitu dikaruniai Tuhan. Atas syair ekstasenya yang begitu dalam, kata-kata yang ditulisnya telah ditakdirkan untuk dapat dipahami sedikit rasanya bahkan oleh orang awam yang tidak kenal agama)

Serial ini sedikit banyak menyadarkan saya tentang berhala yang ada di masa kini. Dalam perkembangan manusia, ‘rockstar’ itu silih berganti.

Pada mulanya manusia sangat mengagumi orang-orang saleh. Sebagai manifestasi Tuhan di muka bumi, manusia mencintai mereka. Lambat laun, mereka lupa mana yang botol mana yang isi. Mana yang lautan, mana yang ombak, mana yang buih. Orang-orang saleh yang seharusnya diteladani tingkah lakunya, dan dijadikan frekuensi tumpangan untuk bisa menjolok Cahaya Ilahi, justru direduksi menjadi simbol dan materi tanpa esensi. Berhala.

Lambat laun dunia semakin berubah. Berhalanya silih berganti. Raja-raja. Para presiden. Artis-artis. Ilmuwan. Pengusaha. Hingga akhirnya mungkin founder start up?

Lalu, yang dihargai manusia pun berubah-ubah seiring dengan berkembangnya peradaban. Dari yang tadinya menghargai bahan-bahan sebagaimana adanya, mulai lebih menghargai bahan-bahan yang sudah dimodifikasi. Yang tadinya puas dengan makan buah-buahan, dan daging yang sebatas dipanggang, lama-lama harus dibuat aneh-aneh. Dari yang tadinya menghargai sebatas tenaga yang dikeluarkan oleh manusia, orang akhirnya lebih menghargai produk pikiran manusia. Ide.

Manusia menghargai sesuatu bukan lagi karena sesuatu itu, tapi ide dan proyeksi tentang sesuatu itu. Kalau di serial Silicon Valley, sangat menggelitik pada saat tokoh utama berpikir untuk mencari revenue, tapi si investornya justru tidak setuju. Dia bilang bahwa start-up yang dihargai begitu tinggi, kebanyakan nggak punya revenue.

Proyeksi dan ekspektasi manusia akan masa depan telah mengubah cara pandang manusia terhadap hal-hal yang ada di sekelilingnya. Padahal prediksi manusia banyak melesetnya.

Oke. Sampai di sini saya akan membiarkan ada sebuah gap di antara pokok-pokok pikiran dalam tulisan ini. Seperti logika yang melompat. Karena sedang malas menulis.

Beberapa hari ini beberapa teman-teman dekat saya menghubungi saya. Dengan beragam motif, saya berbincang cukup banyak dengan masing-masing dari mereka.

Saya sendiri begitu menghargai teman-teman saya. Pertemuan dengan mereka ikut membentuk saya menjadi saya, dan mengantarkan saya pada saya yang sekarang.

Saya tahu bahwa setiap manusia punya perbedaan pemikiran. Dan adalah sedih ketika menyadari bahwa di tengah canda tawa saya dengan mereka, ada perbedaan-perbedaan yang signifikan.

Hidup haruslah lurus. Maka kita harus mengejar jalan hidup yang lurus. Tak peduli seberapa bengkok kehidupan kita sekarang. Memang perbedaan 0.1 derajat tidak akan signifikan jika garisnya hanya memiliki panjang 1 milimeter. Tapi perbedaan itu menjadi tampak menyimpang sekali, saat perjalanan yang ditempuh menuju Tak Hingga.

Perbedaan kecil menjadi signifikan.

Oke. Sampai di sini saya akan membiarkan ada sebuah gap di antara pokok-pokok pikiran dalam tulisan ini. Seperti logika yang melompat. Karena sedang malas menulis.

Sebagai manusia yang bertanggung jawab kepada Tuhan, tentu kita ingin menjadi lurus. Dan kita harus berprasangka baik kepada Tuhan bahwa kita kelak akan menjadi jiwa-jiwa yang berpuas serta kembali kepada-Nya.

Di sana, penilaian manusia satu terhadap manusia lain menjadi tak penting. Tak terkecuali sahabat-sahabat kita di dunia. Referensi kita adalah Islam sebagai jalan hidup. Bukan manusia. Bukan teman kita. Bukan bapak-ibu kita. Melainkan apa yang disampaikan oleh Rasul.

Tapi, sebagai manusia, kita menyayangi sahabat-sahabat kita. Saya pun bertanya, jika kita pada akhirnya selamat, sahabat seperti apa yang bisa kita selamatkan?

Jawabannya begini:

Sahabat itu ada dua jenis. Sahabat dunia dan sahabat rohani. Sahabat dunia itu pertemanannya selesai kalau kita sudah meninggal. Tapi kalau sahabat rohani, persahabatannya kekal hingga akhirat.

Lantas bagaimana menjalin persahabatan rohani?

Selama dua orang terus membersihkan jiwanya, maka mereka akan terus bersahabat. Jika seseorang di antaranya berhenti membersihkan jiwanya, maka dia sendiri lah yang memutuskan berhenti menjadi sahabat bagi seseorang lainnya.

Sebab hanya jiwa yang bersih yang dapat membentuk ikatan dengan jiwa yang bersih. Sehingga untuk dapat kembali kepada Tuhan yang Maha Bersih, kita pun haris disucikan.

Dari situ saya mulai memahami, mengapa Rasul saat hendak wafat begitu mengkhawatirkan ummatnya. Saya jadi mengerti betapa perjuangan para ulama pewaris Nabi begitu berat.

There has certainly come to you a Messenger from among yourselves. Grievous to him is what you suffer; [he is] concerned over you and to the believers is kind and merciful.

Bukankah sedih jika persahabatan dengan orang-orang yang kita cintai hanya terhenti sampai di dunia.

Ada filosofi dibalik pemilihan judul Bro App, tapi malas juga nulisnya. Yasudah sekian dulu postingan kali ini.

Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan untuk senantiasa menjadi sahabat rohani para Aulia yang akan juga menghubungkan persahabatan ini kepada Rasulullah. Aamiin.

One thought on “Bro App dan Sahabat Rohani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s