On Piece of Writing

As much as I like to write a long post, a piece of writing can never reflect me as a whole.

Word is just a word, sometimes.

I am a believer in the concept of ‘learning by heart’, when it comes to unraveling the mystery of life at its truest. As a curious being, human has developed logic and ‘formal method’ in his/her attempt to have a clear picture of the world where he/she lives in. Except, it is not as simple as that.

This pursuit of answer is an lifelong learning process, an evolution of understanding in which so many variables need to be considered. Reading a different sentence, encountering a different person, thinking a different idea at a particular time, even in a short term, could lead into a different understanding. Let alone a specific life course that everyone has been through.

But, having said that, I believe words have some sort of power. It’s not that there is a scientific proof nor physical law behind this belief. Nevertheless, words can change someone’s mindset. Someone can acquire knowledge by exposing him/her self to words. And from this change of ideas it could gear up the chain of civilization. When one changes one’s mindset, it will eventually change one’s behavior given enough time. Given enough time too, a new behavior will produce something, some work, some achievement. And, seeing the pattern, sometimes some revolution may occur.

However, sometimes, words are not the perfect form to contain that energy. Some people could feel as if they feel the same thing, just because they are communicating through words on screen. But, the fact is not always so. In this sense, forcing other people to understand what we exactly understand is virtually impossible.

And it is the job of a human being to understand all of these in the first place. In every situation, a human must humble themselves knowing this reality. This way, there is always a doubt in everything one’s sure of. This way, there is always a mystery in which experiences and ages are fail to level us up from the beginner stage. And thus, the curiosity never settles down. There is always a new thing to learn everyday until the end of time.

And you know nothing, Jon Snow!

As one reaches tranquility, the shackles of words are destroyed. And one just uses it as a means to continue the journey. To share the least he can share. To keep the least he can keep.

Siapkah Kita untuk Ber-Islam secara Kaaffah

Oke. Streaming el-clasico macet saat goal pertama. Dan lalu masih macet biar di-refresh. Jadi saya putuskan menulis satu lagi. Saya tahu tulisan-tulisan ini tetap merupakan produk akal. Tetap hanya keberagamaan yang berpusat di akal. Tapi, mudah-mudahan dapat terbawa juga ke dalam diri saya pribadi sehingga bisa diamalkan.

Saya terkadang membayangkan bahwa pencarian kebenaran absolut (agama) juga memiliki analogi dengan pencarian kebenaran nisbi (sains). Seperti postingan sebelumnya dimana setelah kita pergi ke tingkatan yang lebih tinggi, kita tahu bedanya.

Umumnya saya mendapat cerita tentang ahli emas. Bertahun-tahun seseorang salah mengira emas sepuhannya sebagai emas asli. Ketika hendak menjual, datanglah ia ke tukang emas asli. Di sana baru dia tahu emasnya sepuhan.

Dan emas sepuhan, tidak bisa dihargai seperti emas asli. Memang demikian hukumnya.

Demikian pula dalam beragama. Hukum Tuhan tidak bisa ditawar. Malaikat tidak dapat disuap.

Maka, sekali berarti sudah itu mati. Adalah suatu kesia-siaan jika dalam hidup ini kita tidak berusaha mencari jalan hidup yang lurus benar. Titian sirath al-mustaqim itu ya di sini dan sekarang. Digambarkan setipis rambut dibelah tujuh untuk menggambarkan betapa halusnya apa yang ada dalam diri kita yang melalui titian tersebut.

Nah, rupanya Islam kaaffah itu benar-benar menyeluruh. Aqidah tauhid, syariat, dan akhlak. Iman, Islam, Ihsan.

Banyak hal yang selama ini dianggap biasa saja oleh kebanyakan orang, ternyata salah. Banyak hal-hal yang selama ini dianggap remeh, rupanya signifikan. Banyak pula hal-hal yang dikira penting, dibela-belain berdebat panjang kali lebar kali tinggi, rupanya hanya jembatan. Penting untuk ada. Tapi lebih penting lagi untuk diseberangi.

Atas segala perjalanan hidup saya, saya selalu bersyukur. Rasa-rasanya titik cerah itu terlihat. Dan terkadang, merasakan sedikit dari manisnya Islam, membawa kebahagiaan yang begitu membahagiakan.

Kalau dulu hanya bisa berangan-angan dan berimajinasi bahwa dengan dzikir, hati akan tenang. Saya sudah berkesempatan mencicipinya beberapa kali. Baik di waktu singkat di training center-nya. Maupun di medan pertempuran yang nyata.

Kalau dulu tenangnya saya hanya ditenang-tenangkan. Hanya produk dan rekayasa pikir belaka. Kali ini yang dirasakan justru nyata. Saking nyatanya, sampai saya bingung. Mengapa saya bisa merasa lebih tenang ya?

Ya, dulu saya suka mempertanyakan. Selalu memakai akal. Mengapa begini dijanjikan begitu. Seperti apa teknisnya bahwa dzikir dapat mengikis akhlak madzmumah dan menanam benih akhlak mahmudah? Lantas mengapa ada orang-orang yang dikatakan dzikirnya gagal?

Memang mengerikan mengingat di suatu majelis yang saya yakini sebagai tempat Haq untuk mencari jalan menuju Islam Kaaffah, masih banyak yang mindsetnya belum betul-betul Islam. Masih sedikit sekali yang konon sudah Kaaffah. Maka Guru pun senantiasa mencari cara supaya murid-muridnya semakin berakhlak, dan semakin kaaffah.

Sudah gitu, kalau berbicara tentang istiqomah. Orang yang sudah bertahun-tahun mendaki jalan ini saja masih bisa terpeleset. Apalagi kita-kita yang baru mulai belajar. Yang kadang merasa “kenapa nggak dari dulu”

Ya itulah. Itulah mengapa saya merasa tetap perlu menuliskan hal-hal kecil ini. Karena melalui tulisan-tulisan ini lah saya berusaha menjaga api kecil itu. Sekarang mungkin buah yang saya dapat masih sedikit. Itupun sudah bagus berbuah, karena saya tahu sendiri bagaimana kualitas saya dalam menanam. Tapi, Tuhan Maha Kasih. Dan itulah yang membuat kita masih ada di sini.

Itulah yang membuat hati kita masih mendapat hidayah untuk meyakini suatu kebenaran.

Sekalipun kebenaran ini tak dapat dirasakan kebenarannya oleh mereka yang pintar. Oleh mereka yang telah berkontribusi banyak bagi peradaban manusia.

Sulit terkadang untuk menjelaskan hal-hal ini. Sebab kebenaran sudah menjadi asing saat manusia terbiasa berpuas dengan kulit dari kebenaran. Apalagi saat manusia sudah terbiasa dengan kebohongan.

Saat itulah kita menyadari betapa berat tugas Rasul untuk membawa kebenaran kepada kaumnya. Kita ada di level bahwa bertemu jalan menuju kebenaran saja sudah untung.

Saat berbicara dengan orang-orang dan kita tahu bahwa tidak ada titik temu dari perbincangan itu. Saat sekeras apapun kita berusaha membawa teman kita ke tempat yang paling ia butuhkan. Tapi, pada akhirnya kita adalah manusia awam. Kita harus menyelamatkan diri sendiri dulu.

Kalau hati kita dilunakkan. Niscaya air mata akan terus mengalir karenanya. Karena kita tahu yang membawa kita pada petunjuk-Nya. Yang membawa kita pada ketenangan jiwa. Semuanya murni karena hak prerogatif-Nya. Hanya karena keberuntungan.

Pun sudah seperti itu. Masih berat rasanya untuk menjaga nyala hidayah ini. Masih berat diri ini untuk meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat. Masih berat untuk melepaskan diri dari maksiat-maksiat yang disadari maupun tidak.

Tapi, lagi-lagi hanya kepada-Nya kita berharap pertolongan. Hanya kepada-Nya kita mengadu. Hanya kepada Rasul, dan orang-orang saleh kita mencoba mengikuti jalan menuju-Nya.

Maka, selalu pertanyaan yang harus kita ingat. Siapkah kita untuk berserah dengan total?

 

Membuka Mata Tentang Riset dan Pendidikan Tinggi

Teman saya sudah punya anak istri. Dia rajin dan selalu berprestasi dari jaman S1. Saya pikir dia tidak mengalami stress di kehidupan PhD. Suatu ketika setelah bermain futsal dia bilang kepada saya tentang kondisinya. Dia sedang di ujung tanduk. Tapi, dia bilang begini, “Kalaupun ternyata nggak lanjut, gua sekarang jadi tahu riset itu seperti apa. Jadi kalau mau ngulang lagi di tempat lain udah ada pengalaman.”

Saya cukup terkejut. Saya terkadang mengeluh tentang PhD saya. Sementara saya belum punya tanggungan. Teman saya ini baru jadi Bapak, tapi dia punya ketegaran seperti itu.

Nah, yang menarik adalah tentang kata-kata dia tentang riset. Saya sering terkadang kurang bersyukur dan mengeluh. Berandai-andai kalau saya dulu ambil S2 dulu. Berandai-andai kalau saya punya fondasi yang lebih kuat, baik dalam coursework maupun research. Tapi teman saya ini menyelesaikan studi magister-nya di ITB. Tentu saja di sana dia juga akrab dengan penelitian mahasiswa doktoral di ITB. Tapi, rupanya penelitian yang dia lihat di sana berbeda dengan yang dia lihat di sini.

#Dari Bandung

ITB selama ini selalu memasang jargon World Class University. Dan selalu berbangga dengan slogan “Institut Terbaik Bangsa”, sebuah gelar yang entah sampai kapan bisa diklaim dengan kuat. Setahu saya, sampai saya masih berkuliah di sana, yang masuk ke ITB melalui seleksi nasional memang memiliki rata-rata paling tinggi. Dan sejauh ini jadi pertanyaan juga apakah sistem yang ada di ITB mampu meningkatkan kualitas peserta didiknya? Ataukah ITB hanya berperan jadi saringan saja. Menyaring orang-orang dengan tes masuk tertinggi.

Banyak hal yang saya lalui di ITB. Banyak mencoba, banyak gagal. Mulai dari bikin blueprint organisasi, menyelenggarakan TEDxBandung pertama kali, menggeluti organisasi yang menginkubasi ide, menemani teman saya bikin robot hinga muatan roket, sampai masuk tim yang bermimpi untuk membuat satelit. Saya juga masuk di MWA, berkesempatan duduk seforum dengan orang-orang pilihan. Para profesor, rektor, pengusaha, menteri, dan lain-lain. Saya cukup dekat pula dengan dosen pembimbing saya. Sempat ditawari untuk lanjut S2 dan melanjutkan riset-riset yang keren-keren.

Entahlah, dengan segala yang saya lalui di ITB (baik segi akademik, non-akademik, maupun iklim aktivisme di kota Bandung), saat lulus dari ITB seolah saya ingin mengubah dunia. Seolah saya siap mengubah dunia. Seolah saya adalah agen perubahan yang ditunggu peradaban.

Seolah saya siap membuat sebuah perusahaan teknologi berbasis riset, lalu ikut membangun ekosistem inovasi di Indonesia.

#Ke Singapura, Negara Kecil dengan Universitas Kelas Dunia

Namun, rupanya dunia tidak sesempit jalan Cisitu Lama (yang sesak oleh angkot cisitu-tegalega, yang terkadang sopirnya kencing di got hanya ditutupi oleh pintu angkotnya)

Setelah itu (setelah melewati ragam kegalauan ingin buat start-up atau berkarir di korporat) nasib membawa saya ke Singapura. Menjadi mahasiswa yang langsung masuk PhD tanpa harus S2 (dan sampai sekarang, 8 bulan menjelang deadline submit thesis, risetnya masih belum ada hasil yang konkret jaya). Di sini saya berteman dengan profesor di fakultas lain yang se-almamater, Mas Tegoeh (yang kebetulan seangkatan dengan Pak Ary-Pembimbing TA saya, Pak Heru-Pembimbing tim satelit dari LAPAN, Ridwan Kamil-walikota Bandung, dan mengenal cukup banyak profesor dan staf di Majelis Wali Amanat ITB periode saya). Saya mendapatkan banyak paradigma baru. Banyak mendapatkan wawasan yang mungkin tidak didapatkan oleh mahasiswa PhD kebanyakan.

Oh iya, sampai saat ini saya masih terkagum dengan Singapura. Negara sekecil ini punya dua buah universitas kelas dunia. Yang bukan sekedar jargon, tapi diakui oleh badan pemeringkat universitas. Dan, hal itu bukan diraih dengan hoki dan sim salabim. Negara ini memang punya visi. Dan punya rencana yang jelas untuk meraih visi itu. Memang suatu sistem pasti punya plus minus-nya. Tapi, toh pemerintah harus memilih sistem seperti apa yang cocok untuk tantangan jaman. Dan pemerintah Singapura tidak setengah-setengah untuk merencanakan sistem seperti apa yang dibangun, beserta evolusinya. (Saya semakin menyadarinya ketika ikut sebagai tim penulis Buku Mengenal Sistem Pendidikan  di Singapura)

Sementara di suatu PT di Indonesia, dulu rektornya berkilah saat ditanya tentang peringkat. Bilang kalau ada lembaga pemeringkat yang minta bayaran supaya bisa menaikkan peringkat, jadi tak usah dipusingkan soal peringkat. Bisa jadi benar. Tapi, toh, ketika ada suatu lembaga peringkat lain yang melakukan assessment berdasarkan suatu kriteria lain, dijadikan berita di situsnya.

Ya memang sih, di NTU juga sama saja. Kalau peringkat keseluruhan dunia turun, nanti yang dijual peringkat “University Under 50”, alias khusus untuk universitas baru. Dan NTU termasuk universitas yang masih muda (dan sudah mengalahkan PT tersebut di peringkat itu). Tapi setidaknya, harusnya PT tersebut lebih mawas diri ya. Harus bisa mengambil hikmah atas feedback yang ada, bukan sekedar masa bodoh. Misalnya ada mahasiswa memberikan aspirasi gitu, harusnya didengarkan dengan hati. Bukan cuman didengarkan hanya untuk menunggu giliran bicara, lalu bicara dengan mengalihkan topik dari isu pokoknya melalui kata manis. (This was one big piece of lesson I learned in my ITB life.)

Ya, terkadang seberapa progress yang dicapai oleh suatu insitutsi tergantung visi dan karakter pemimpin-pemimpinnya ya.

#Her Struggle 

Don’t get me wrong. Peringkat universitas memang bukan segalanya. NTU misalnya meskipun peringkatnya tinggi, itu diraih karena banyaknya fasilitas, banyaknya jumlah penelitian. Lebih ke quantity-based. Entahlah, kampus saya malah mau bangun mall di dalam kampus. Mungkin bisa menaikkan peringkat karena sudah ada Starbucks, Coffee Bean, KFC, McD, Pizza Hut, dan bahkan beberapa kafe kelas atas yang kalau didatangi bisa habis 4 dolar sendiri untuk sebuah camomile tea yang harga satu bungkusnya (dengan 20 teabag) bisa-bisa hanya hanya 2 dolar.

Waktu pertama masuk NTU, profesor saya memberikan orientasi kepada mahasiswa PhD di divisi Information Engineering. Dia bilang secara kuantitas publikasi, NTU memang mengalahkan MIT. Tapi secara impact? Masih jauh. Untuk meningkatkan kuantitas itu gampang ya, tinggal tambahkan banyak dana dan banyak tenaga. Kuantitas akan meningkat dengan sendirinya. Sedangkan kualitas?

Profesor saya orang Singapura, pernah studi di salah satu universitas keren di London. Dia bilang, terkadang dia juga bingung mengapa dari segi kreativitas, kita orang Asia masih kalah dengan  our Caucasian-counterpart.

Sementara itu Mas Tegoeh juga pernah bercerita. Meskipun peringkat NTU tinggi, NTU adalah nama yang asing. Banyak orang tidak tahu NTU. Berbeda dengan universitas-universitas di Eropa yang punya nama meskipun peringkatnya lebih rendah dari NTU.

Tentu saja ‘nama’ itu bukan sekedar nama. Ia mencerminkan sepak terjang di dunia akademik global. Dan nampaknya, NTU belum memiliki tempat yang sejajar dengan universitas-universitas tua itu meskipun peringkatnya melejit. Oiya, almamater saya ITB, juga punya ‘nama’ loh. Bahkan seperti yang saya pernah tulis, ikut menjadi bahan studi 3rd generation university (yang akhirnya saya sempat baca bukunya di business library NTU setelah jaman kuliah di ITB penasaran setengah mampus). Kalau profesor tua di Singapura pasti tahu tentang Bandung (ITB). Maklum jaman dulu memang ITB benar-benar dibangun, dosen-dosennya benar-benar dikader. Melalui kedekatan dengan BJ Habibie, ITB berhasil pula mengikatkan rantai dengan industri strategis sesuai visi mewah Soeharto untuk membuat Indonesia menjadi macan Asia (seperti diceritakan di buku Mas Sulfikar, sosiolog kondang dengan username sociotalker)

Back to topic. NTU benar-benar struggle untuk menjadi lebih baik. Dan semuanya mulai dari kuantitas. Meningkatkan kuantitas kerjasama dengan universitas top. Lecture dari ilmuwan top dunia, termasuk para Nobel Laureate, bukan hal yang langka. Setiap harinya anda akan menerima email tentang banyak talk menarik, dan terkadang workshop dari industri. (Saya jadi ingat nasihat Pak Budi Rahardjo waktu memberikan seminar tentang blogging di HME: kalau mau menulis caranya ya perbanyak kuantitas dulu, kualitas menyusul.)

Dan itulah visi suatu institusi yang benar-benar diejawantahkan dalam program-programnya. Bukan sekedar jargon.

#Ribut-ribut profesor

Baru-baru ini ribut-ribut soal profesor dan riset kan ya. Dulu juga saya tidak tahu tentang h-index, tentang impact, tentang citation, tentang ukuran-ukuran yang dipergunakan untuk menilai performa seorang periset.

Sekarang, mari kita ambil satu parameter: h-index, saja misalnya. Besar peluang bahwa seorang Associate Professor di NTU atau NUS, memiliki h-index yang lebih besar dari seorang Full Professor di Indonesia. Bahkan rektor-rektor di Indonesia.

Dosen-dosen yang kelihatan dewa waktu saya di kampus ITB dulu, kalau ditelusuri publikasinya di jurnal ilmiah rupanya tidak se-dewa itu. Anyway, bukan berarti dosen-dosen itu kalah pintar ya, cuman memang sistemnya tidak menuntut mereka untuk melakukan seperti itu. Sementara di sini, profesor yang baru menaiki anak tangga karir sebagai Assistant Professor benar-benar pusing untuk membuat publikasi, membukukan angka pendanaan riset yang banyak, dan mengajar dengan profesional. Mereka benar-benar harus perform, atau akan perish. Karirnya tamat di NTU.

Mendengar persaingan karir di NTU, saya sudah geleng-geleng. Betapa stress-nya hidup para profesor. Dan lebih gila lagi di universitas seperti MIT. Misalnya ada satu kursi untuk tenured professor (satu kursi untuk bisa promosi ke Associate Professor), bisa jadi ada puluhan orang yang direkrut menjadi Assistant Professor.

Oh iya, di sini, mengajar pun tidak dianggap remeh oleh profesor. Sistemnya yang membuat demikian. Saya pernah membuat soal dengan jawaban salah sebagai Teaching Assistant. Lalu, profesor yang saya asisteni bercerita bahwa dia tidak ingin sampai ada kejadian siswa yang protes ke Sekolah. Di sini siswa bisa melayangkan email ke Sekolah tentang cara mengajar dari si profesor kalau salah. Dan selalu saja ada siswa-siswa yang bermotivasi begitu tinggi dan super duper kritis. Dan email itu benar-benar ditanggapi hingga tahap tertentu. Tak jarang profesor sendiri harus ikut mengajar tutorial. Kalau di almamater saya dulu, terkadang ada juga profesor (kalau di sana sebutannya dosen ya) yang justru melimpahkan tugas mengajarnya pada asisten.

Oh iya, mengenai research funding, itu juga mencarinya gila-gilaan. Rupanya untuk bisa merekrut satu orang researcher saja, seorang profesor harus mencari funding yang angkanya tidak sedikit. Harus cukup untuk menggaji post-doc tersebut, beserta segala benefit yang harus diperoleh dan juga peralatan riset. Profesor itu selain seperti beragam pekerjaan yang digabung jadi satu (mulai dari manajer, administrator, peneliti, pengajar), juga dituntut punya jiwa entrepreneurship. Harus bisa jadi salesman juga untuk menjajakan proposalnya ke penyandang dana baik itu dari industri maupun pemerintahan. Dan, waktu saya kebagian bantu-bantu conference yang diadakan IEEE Singapore chapter, saya kebetulan terlibat di pembicaraan antara seorang profesor dengan salah satu anggota dari industri. Profesor tersebut memiliki tim yang gemuk. Dan untuk satu orang post-doc saja bisa-bisa harus mengumpulkan sekitar 100K SGD.

Ya, jumlah yang sangat banyak. Saya juga nggak habis pikir kalau Indonesia mau meniru dengan angka yang sama. It’s a huge money to burn! Sementara di Singapura memang memungkinkan untuk dunia riset yang seperti itu. Singapura yang terhitung negara berkembang menempati peringkat yang cukup baik dalam iklim inovasi, dan kerja sama industri dengan akademia menurut report dari World Economic Forum. Memang sudah punya sistem dan frameworknya yang memungkinkan demikian. Sedangkan Indonesia, masih struggling dengan berbagai permasalahan mendasar. Dan, untuk ITB, dia juga mengemban tridharma untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Dulu pernah ada edaran dari dirjen dikti tentang mengejar ketertinggalan dengan Malaysia dalam hal publikasi. Semangatnya bagus, tapi kadang saya mikir juga caranya gimana ya? Saya pernah diberitahu, ada universitas di Malaysia yang memberikan insentif 5000 (duh, sayangnya saya lupa ini RM atau SGD) per publikasi di jurnal terindeks scopus. Tapi, di Indonesia juga katanya sudah mulai diberi insentif untuk publish sih. Alhamdulillah.

#Tentang Riset dan Inovasi

Oh iya, jadi teringat tentang pernyataan Menteri di Indonesia yang bilang kalau riset harus berdampak ke masyarakat. Sebenernya itu memang agak polemik juga ya. Bagaimana dengan riset-riset fundamental? Bagaimana dengan riset di bidang sosial dan humaniora?

Memangnya teori relativitas Einstein dulu berdampak langsung ke masyarakat? Einstein dulu mana mikir tentang efek ekonomi, dia mengikuti imajinasi liar masa mudanya untuk menemukan kebenaran. Tapi, lihat efek dari penemuannya. Dengan teori tersebut, GPS yang kita kenakan sehari-hari bisa terkalibrasi.

Saya jadi teringat sih dengan kuliah tamu pada saat saya kuliah Research Method. Yang memberikan kuliah tamu profesor dari MIT, Eugene A Fitzgerald. Dia mengajak kita untuk me-rediscover fundamental innovation. Selain menyarankan untuk baca The Structure of Scientific Revolution-nya Thomas Kuhn (yang saya sampai sekarang belum baca), dia juga mengutip F. Scott Fitzgerald:

The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in mind at the same time and still retain the ability to function.

Jadi, model yang ditawarkan adalah bagaimana agar tetap berpikir tentang infinite possibilities untuk fundamental research, sembari tetap memikirkan kebutuhan pasar (yang spesifik dengan memikirkan implementasi, harga, dan bisnis plan). Model yang ditawarkan adalah sebuah proses iteratif di mana ada sebuah pengalaman transaksi dengan industri setiap akan memulai ide.

Ya, mungkin jaman memang sudah berubah. (Saya sempat juga menulis tentang kenyataan dunia riset masa kini ketika kemurnian scientific inquiry harus ditunggangi aspek ekonomi. Bahkan selevel Nobel Laureate pun ikut bicara soal ini.)

Dan ada banyak sekali model-model inovasi yang dibuat oleh para theorist. Semua berlomba berpikir out of the box. Sampai-sampai out of the box itu menjadi the new box.

#Tapi Bahkan Melakukan Riset Itu Saja Tak Mudah

Sampai sekarang saya juga masih tertarik untuk memahami proses inovasi yang berbasis riset dasar. Rasa ingin tahu saya masih besar. Saya juga ingin membandingkan dengan sudut pandang para pelaku start-up.

But, for now, even doing the research itself is very exhausting. Let alone doing a research which leads to a disruptive innovation.

http://www.smbc-comics.com/?id=3259

 

Riset itu sakit. Sakit karena setiap hari kita semakin tidak mengerti apa yang kita tidak mengerti. Sakit karena harus ulang-ulang simulasi. Sakit karena harus revisi paper berkali-kali.

Dan terkadang saking banyaknya yang harus dikerjakan, kita jadi kehilangan motivasi. Secara psikologis, karena terlalu banyak uncertainty, manusia jadi lebih lembam. Apalagi nature dari research adalah mengerjakan sesuatu berulang-ulang. Persis seperti mitos sysyphus.

Tapi, ya kembali ke legenda Edison. Kalau Edison berhenti di cara ke 888 mungkin dunia kita gelap. Tapi kalau ada orang mau bikin mesin waktu, udah mencoba 9876 cara juga belum tentu berhasil, apalagi pembangkit listrik tenaga hampa.

Belum lagi pekerjaan riset itu dilakukan secara mandiri. Dengan adanya distraksi internet yang senantiasa terkoneksi di era sekarang, tingkat kesulitan makin berat. Opportunities are there, and also the threats. Belum lagi persaingan juga makin ketat. Kita harus membagi peran dari diri kita sendiri. Ada kalanya kita harus menjadi bos yang membuat rencana kerja. Lalu menjadi kuli yang menjalankan rencana-rencana itu. Tapi, tak bisa dipungkiri, bekerja dengan rumus-rumus matematika, dan kode, serta grafik dua dimensi itu membosankan.

Maka saat bosan itulah saya melakukan eksplorasi yang terkadang kelewatan. Jadi semakin miris ketika melihat kenyataan betapa tertinggalnya negara kita.

#Kegundahan Saya

Di sebuah negara yang menggemari takhayul dan alam ghaib (yang kadang tak tepat konteksnya), kebenaran ilmiah belum dijunjung tinggi. Sains belum populer di kalangan orang awam. Kebanyakan orang-orang menjual pseudo-sains untuk bisnis semata.

Sedih. Kadang saya pikir, saya ingin jadi science popularizer, Mempopulerkan sains ke orang awam. Seperti Richard Dawkins, Michio Kaku, Richard Feynman, atau Neil deGrasse Tyson. But, look, they are accomplished scientists. Ya memang sih science popularizer nggak harus yang se-accomplished itu sebagai scientist. But, I think an accomplished scientist would be better off. And now I’m just a dust.

Lalu, saya juga kembali menengok almamater saya yang berperan begitu besar dalam perjalanan saya. Saya belajar sangat banyak di ITB. Dan, berkesempatan berada di badan tertinggi serta berbincang dengan profesor senior, memberikan dorongan dan harapan bagi saya. Bahwa ITB punya peran besar di Indonesia, tempat saya kebetulan terlahir.

Tapi, begitu banyak transformasi yang dibutuhkan. Optimisme buta tidak akan bermanfaat. Sebelum mengobati penyakit, harus menyadari dulu apa sakitnya. Sudut pandang tentang penyakit ini terkadang baru bisa disaksikan saat kita keluar dari sistem.

Miris dan sedih rasanya menyadari bahwa ITB terlambat memikirkan regenerasi SDM-nya. Sedih memikirkan elemen-elemennya pusing-pusing sendiri. Belum lagi sistemnya yang belum se-meritokrasi Singapura. Ada juga yang sudah menyerah dengan riset dan publikasi, ingin mencari keunggulan ITB di bidang lain. Lebih banyak lagi cuman pusing-pusing berwacana dan bagi-bagi kue.

But, having said that, I’m now clueless and have no power to bring a change. Right now, I’m just a spectator, a commentator who does nothing. Nothing significant. No impact.

(I think started from this point, this post would be emotionally written in English. More like meditative journal where I’m singing my heart out.)

So, after that year as the student representative in the Board of Trustees where I was surrounded by many accomplished people, here I am as a mediocre person. I am just an untested baby born in this world. An average PhD student who is still struggling to make his first paper in his final year.  Feels like another one bites the dust.s

It always comes back to this very cliche: if you want to change the world, start from changing yourselves. Be the change you want to see.

Even when I have got this idea to write something regarding the world of research and higher education, I’ve been hesitant. I feel incompetent. I feel hypocrite. How could I talk about h-index when I don’t even have anything ready to publish. Let alone cited journal paper.

But then I think, I need to write it down. And a professor also said it’s okay for me to write it because I’m a student. It is my position to learn to observe. And that’s also what the Vice-Chairman of MWA used to tell me. I was there mainly to learn.

And so I’m writing this up. At least I know why I’m here. I know how it started. How someone who used to skipping class (both in a good way and bad), with mediocre GPA finally chose to do a direct PhD.

Someone who nearly got kicked out of his PhD in the first semester. And in his extra fourth semester after three academic warnings, he said a prayer. He wanted to do something in the future for his beloved country. And it has something to do with academia, research, and innovation. And, he felt that he needed to stay in his PhD. So he offered the prayer hoping for God’s hand to help him get out of this academic misery.

He used to think he’s a lazy person. He never understood important fundamental concepts in his undergraduate. He never thinks that he’s so into academia. And so do people around him. Many people think he’s more into leading people. More into art. More into business. More into literature. But, have no real achievement in all. Painstakingly average.

Sometimes he feels, it is too late. He was too late to realize what he wants. Many times he wasted by running in the wrong direction.

But here he is. Because he knows he could change himself. Because he knows laziness is just a habit. Because he knows people could learn to focus despite of inclination towards easily-distracted, thought-jumper, creative mind. Because he knows that he has the potential to do everything he wants, if only he has got the persistence and perseverance. And that’s why he chose to take this PhD.  Because he knows, it’s gonna be challenging for people like him. And that’s why he’s in. To acquire self-discipline. Something he knows a very important factor for someone’s success but he’s still lack of.

And yeah, he never tries to act as if he’s the one who knows all, who have all, who can show all. He just knows there is something wrong. So many problem to tackle. Yet he still has no clue to tackle it.

As Hamming said, to make an impact, you’ve got to find a big problem with a great weapon to kill it. Knowing only the big problem means nothing if you couldn’t do anything.

Sometimes he’s wondering if being a scientist is the right thing for him. Hamming said if you have a vision for a specific solution, then scientist you are. But, if your vision is for a broader problem, maybe you need to assume leadership. Manager you are.

But, is it something can’t be nurtured. Is it fixed? He knows about the concept of growth mindset. People have muscles. Brain muscles. Idea muscles. And by setting his mind and his habit right, one day he could reap the fruits of persistence. So a struggle it is to stretch himself.

Sometimes he wonders if he could go through all the ladders to the top level. To really be the frontier, we have to be in the cutting edge of research world. But, where he is right now? And what he’s capable of?

He got so many dreams. He wants to build a school that will acknowledge uniquity of every child. He wants to build better things for his nation. Creating innovations. Writing down knowledge. He wants to live up to his name. As a bright thinker, who could bring changes to the society. Who can speak with the language of his people.

Or maybe he should just opt for being a businessman. Try to collect money to fund all this dream. Money. Does everything need money? Can logic work without logistic? But, thinking about money is the least thing he wants to do. He believes if those dreams were meant to be, everything would fall in place. And if those dreams weren’t meant to be, no matter how hard he tried, he wouldn’t reach his dreams.

But those dreams were still there. There were many times he considered to shut them off from his mind. Because all of them seemed so far-fetched. But, yet he still write these down. Not for an immediate gratification, but to remind him. To internalize his vision to himself. To his mind. To his subconscious mind. To his heart. To his conscience.

Sometimes he also questioned his past decision to directly come to NTU, pursuing PhD. Was it the right choice? But now he knows. It was the right choice. It was the best choice he has that offers many exceptional experiences. And without he being here and staying here, surviving many storms, encountering many people with many problems, he would never think this way.

Now, get back to reality. Those pipe dreams need to be converted into realistic goals. Dreams are just for dreamers. And goals are for those who committed to make it real. And now, the ONE thing he needs to do before moving any further is to finish his PhD. To make a definite plan. To execute the plan.

I hate people who have no definite plan. Fail to prepare, preparing to fail. But I hate more when I have a plan but couldn’t stick to it. It’s always hard to persist and to commit, but it’s possible.

Future is always scary though. Feel the fear but do it anyway.

Dah ah ngantuk. Capcuz!

Bonus salah satu comic favorit:

http://www.smbc-comics.com/?id=3554