Cara menua yang baik itu gimana ya fik? (Takaran Kesuksesan Manusia)

Beberapa saat setelah pertanyaan teman saya (yang ada di judul) muncul di LINE, sopir taksi yang saya tumpangi berkata, “Mas, Tangerang-Ciledug mah deket yak sebenernya, cuman kalau macet gini nih yang bikin lama.”

Saya kadang merasa lucu ya, kenapa orang yang lebih tua dari saya, sudah berkeluarga dan sudah mau punya anak kok bertanya seperti itu kepada saya. Saya merasa tidak pantas memberikan jawaban untuk dia, karena bahkan saya belum mengambil tanggung jawab seperti yang dia sudah ambil. Rasa-rasanya kalau dipikir-pikir pertanyaan itu bisa dibahas dengan beragam jawaban ya. Pertanyaan itu begitu penting untuk dijawab sedari kita muda. Tidak bisa sembarang menjawabnya.

Tapi, suasana hati saya sedang ingin hal yang sederhana saja. Sebagai orang yang sering mencoba berpikir dengan beragam topi [APPENDIX A], ada kalanya saya menginginkan hal yang simpel-simpel saja. Lagipula dengan teman yang satu ini saya sudah sering berbincang panjang lebar. Saya pikir jawaban singkat saja yang dia butuhkan sebagai motivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Ya kita berusaha lebih dekat aja sama Tuhan. Kalau lalai balik lagi. Lalai balik lagi. Gitu sepertinya.

Karena saya pikir teman saya tidak sedang menginginkan jawaban berbasis sains, saya jawab saja seperti itu. Lagipula, kalau sudah soal ‘jalan hidup’ saya selalu berpikir bahwa agama-lah jawabannya. Dan beberapa hari sebelumnya pun saya sempat meracau sedikit tentang ‘jalan hidup’ [APPENDIX B]. Berdasarkan racauan itulah saya berikan jawaban tersebut. Teman saya pun kembali menjawab

“Iya sih, gw berdoa supaya jadi orang yang beruntung deh kalo gitu. Wafat pas lagi optimal”

“Aamiin”

“Aamiin, gw doain lo juga fik”

“Aamiin. Thx”

Ya, memang ujung dari kehidupan ini adalah kematian. Tidak ada kata berhenti sebelum kita mati. Banyak kisah-kisah yang diceritakan kepada kita tentang orang-orang yang melewatkan pintu surga hanya sesaat sebelum kematian. Dan, sebaliknya banyak pula kisah tentang orang-orang yang di akhir hayatnya sekali justru menemukan pengampunan Tuhan.

Spiritualitas sebagai takaran kesuksesan

Saat ini ada dua parameter yang biasa dijadikan takaran kesuksesan manusia: uang dan kekuasaan. Sementara itu pemikir-pemikir barat saat ini mulai beranjak untuk menambah parameter ketiga. Yakni, kesejahteraan personal. Keseimbangan hidup. Kesejahteraan ini lebih menekankan kepada aspek ‘spiritual’ versi orang barat.

Dahaga spiritual orang-orang barat ini begitu hebatnya, sehingga bermunculan lah, spiritualisme ‘New Age’. Hal ini membuat para ilmuwan pun kesal karena tak jarang ajaran itu bersifat pseudo-sains. Tapi itulah gambaran orang-orang yang jiwanya haus. Mereka terkadang tidak peduli lagi tentang rasionalitas.

Di sisi lain, banyak pula ilmuwan yang berupaya mengkonstruksi spiritualitas yang terbebas dari apa yang mereka anggap ‘mitos’ agama. Banyak penelitian, misalnya, dilakukan untuk memahami efek meditasi, shalat, dan berbagai ibadah pada otak. Salah satu yang banyak diteliti adalah ajaran Buddha. Sebab, dalam pandangan mereka, ajaran ini bersifat empirik dan lebih sedikit ‘dogma’nya.

Abraham Maslow, di masa-masa terakhirnya pun menemukan bahwa ada kebutuhan manusia yang lebih tinggi dari sekedar aktualisasi diri. Hal ini ialah transendensi diri. Namun, ada suatu problematika dengan gagasan transendensi diri ini yang belum terpecahkan (dan dia keburu meninggal). [APPENDIX C]

Saya pribadi memandang bahwa spiritualitas yang disentuh oleh dunia barat sebenarnya tak lebih dari keilmuan yang didasarkan oleh akal belaka. Namun, apa yang mereka kerjakan mencerminkan benar bahwa kebutuhan tertinggi manusia adalah transendensi diri. Nah, sebagai orang Islam, tentu saya mempercayai bahwa spiritualitas yang sejati lebih dari sekedar akal dan gelombang otak semata. Dan saya pikir dengan itulah kita seharusnya menakar kesuksesan hidup kita.

Seberapa perkembangan spiritual kita setelah sekian tahun hidup di dunia?

Gagasan ini tentu saja bukanlah berbasis sains. Basis dari gagasan ini adalah agama.

 18.Alladzii yu tii maalahuu yatazakkaa.
 Yaitu orang yang memberikan hartanya untuk mensucikan dirinya.
 19.   Wa maa li-ahadin ‘indahuu min ni’matin tujzaa.
 Dan tidak ada seorang memberikan suatu keni’matan terhadapnya yang harus dibalas.
 
 20.  Illab tighaa-a wajhi rabbihil a’laa.
 Kecuali karena mencari keridlaan Tuhannya yang Maha Tinggi.
 
 21.   Wa lasaufa yardhaa.
 Dan sungguh ia akan puas.
(Al Lail)

Rupanya uang, jabatan, keilmuan duniawi, dan aspek-aspek lain sebenarnya hanyalah permainan saja. Hanyalah wadah untuk mencapai perkembangan spiritual kita. Perkembangan spiritual itu diukur dari kesucian jiwa. Maka, harta benda pun harus dibelanjakan di jalan Allah untuk menyucikan jiwa kita. Dan jiwa yang suci inilah yang nanti dapat menemui Tuhan Yang Maha Tinggi. Hanya dengan inilah kepuasan sejati akan diperoleh.

Ya, rupanya Al-Quran telah memberikan secara gamblang, apa yang dapat membuat jiwa manusia puas.

Paradigma Penyucian Jiwa

Sekarang, kita sudah paham bahwa seharusnya kita mengukur segalanya dari kacamata tazkiyatun-nafs. Dengan memasang paradigma yang baru ini, saat kita berkontemplasi, kita pun mulai dapat membayangkan bahwa apapun yang kita kerjakan di dunia pada hakikatnya adalah perjalanan spiritual. Dengannya kita akan bertanya seperti ini setiap saat:

“Apa hal yang menambah keimanan saya dari kejadian barusan?” (Terlepas dari baik buruknya kejadian itu)

“Apa yang bisa saya lakukan untuk menambah keimanan kita?”

“Apa yang harus saya lakukan agar bisa beribadah lebih giat?”

Kita pun ingin menciptakan suatu sistem yang membuat diri kita lebih suci dari waktu ke waktu.

Karya Sebagai Cerminan Paradigma

Saya lanjutkan cerita saya. Setelah cukup lama dan sempat beberapa kali berputar bali, saya akhirnya sampai di tempat tujuan. Di sana saya bertemu dengan Bang Gemi. Dulu pertama kenalan saya nggak tahu kalau Bang Gemi ini penyair. Belum pernah baca bukunya juga. Tapi ternyata kalau diingat-ingat, sudah sering dengar dan kadang baca juga puisinya yang di-share oleh orang-orang.

Nah, pada kesempatan itu saya tanya ke Bang Gemi, seputar dunia sastra. Bermula dari pertanyaan, “Apakah Bang Gemi menulis cerpen atau novel juga?” Saya akhirnya berbincang-bincang seputar sastra. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Termasuk dari semangat Bang Gemi untuk terus berkarya. Membuat karya yang memang memuat nilai-nilai yang dia ingin sampaikan, bukan sekedar membuat apa yang laku.

Akhirnya saya dikasih buku beserta tanda tangannya deh. Tapi yang menarik adalah kata-katanya setelah memberikan buku itu.

20151107_193728

“Ya ini buku kedua ya, sebelum kenal surau. Isinya banyak mengkritik. Padahal kan kalau kita kritik-kritik doang tapi nggak melakukan kan gimana? Untuk buku selanjutnya mau benerin isi kepala dulu. Benerin mindset dulu.”

Jadi, karya-karya dari Bang Gemi juga akan menjadi cerminan dari perjalanan spiritualnya. Perjalanan hidup tersebut akan mengubah pola pikir. Dan pola pikir itu pula yang akan mengubah caranya untuk membuat karya.

Bang Gemi juga cerita bahwa dalam berkarya akan ada cacian dan pujian. Setelah bukunya jadi, penulis sudah mati. Orang-orang bisa menafsirkan macam-macam tentang karyanya. Namun, yang disyukuri oleh Bang Gemi adalah biarpun banyak juga yang mencaci-maki, alhamdulillah karyanya ikut memberi manfaat. Ada orang-orang yang skripsinya membahas buku Bang Gemi, dan itu menambah rasa syukur dalam berkarya sebab karyanya bisa ikut membantu seseorang meraih gelar sarjana.

Ya, biar bagaimanapun selama masih hidup di dunia, kita harus berkarya dan memberi manfaat. Namun, sekali lagi, jangan lupa untuk senantiasa mengukurnya dengan paradigma tazkiyatun nafs tadi. Dan entahlah, saya merasa bahwa saya jadi mendapat pencerahan atas pertanyaan dari teman saya. (Agak malas untuk menguraikan secara gamblang, tapi mudah-mudahan pembaca post ini dapat memahami kaitannya dengan obrolan saya bersama Bang Gemi ini).

Di Ambang Kehidupan

Rupanya, malam itu masih menyimpan satu kejutan buat saya. Saya bertemu dengan psikolog, namanya Om Hana (kurang tau juga tulisannya benar seperti ini atau nggak), usianya sudah 80-an tahun. Awalnya berbincang seputar angan-angan saya untuk ambil kuliah psikologi karena saya merasa minat di sana. Dan salah satu jembatan antara bidang itu dengan bidang yang saya sukai ya neurosains. Namun, setelah itu jadi membicarakan beragam hal.

Om Hana ini baru saja dioperasi untuk pembuatan klep jantung kalau tidak salah (yang diambilkan dari jaringan di kaki). Nah, ada cerita tentang bagaimana biasanya beliau sebagai psikolog berusaha untuk menenangkan pasien. Kali ini beliau yang harus ditenangkan. Beliau berusaha pasrah. Dan nyatanya, ketika hendak kehilangan kesadaran, akal sudah tidak lagi dapat bermain. Imajinasi pun sudah tidak bisa lagi dimunculkan. Sementara selama ini, kita dalam shalat dan berdoa sebenarnya banyak menggunakan akal. Berdoa ingin selamat, maka kita akan membayangkan tentang keselamatan. Mendoakan kebaikan orang tua, maka setidaknya kita membayangkan rangkaian kata itu di pikiran atau membayangkan orang tua kita. Ya, aktivitas doa rupanya produk akal.

Nah, yang jadi masalah saat kita hendak di ‘non-aktifkan’ sudah sulit untuk berdoa. Mau ‘menyebut’ saja sudah sulit, apalagi ‘mengingat’. Maka tentu kita jadi teringat bahwa:

“Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingatmu.” (QS. al-Baqarah: 152)

Ya. Selama kita hidup dan kesadaran masih ada, kita bersusah payah mengingat Tuhan. Bersusah payah mencari caranya, mempelajari caranya, dan mempraktekannya. Dan itu adalah PR tersulit kita sebagai manusia untuk bisa menyertakan Tuhan dalam derap langkah kita. Tapi, buah dari itu adalah nanti Tuhan yang akan ‘ingat’ kepada kita di saat kita sudah tidak punya daya untuk mengingat-Nya. Ampunan-Nya lah yang akan menjemput jiwa kita selepas dari badan.

Dan menurut pengakuan Om Hana ini, ilmu psikologi nggak ada apa-apanya dibanding dengan ilmu kerohanian yang terkandung dalam Al-Islam. Yang bisa dijadikan sandaran hidup yang sejati ya Islam, bukan psikologi. Psikologi lebih untuk perannya di dunia dalam menolong sesama. Banyak juga teman-temannya sesama psikolog yang sampai suatu titik ya tetap bingung sendiri, hehe. Ya ujung-ujungnya memang ilmu yang dipelajari di dunia kan terkungkung dalam dinding akal manusia. Tidak dapat menembus sesuatu yang lebih tinggi.

Setelah itu sempat juga cerita tentang cerita wayang. Saya agak lupa tokoh-tokohnya dan ceritanya. Namun, kurang lebih ceritanya menggambarkan bagaimana doa manusia itu terbatas dan sulit untuk meraih tujuan doa itu, begitu pula dzikir manusia yang terbatas ini. (Ingat tujuan kita adalah kepada Tuhan yang Maha Tinggi) Maka, Rasul mengatakan bahwa tidak terkabul doa seseorang kecuali ia bershalawat kepadaku. Shalawat kepada Rasul inilah yang akan menyampaikan doa kita. Ya, pada akhirnya segala daya dan upaya manusia itu begitu terbatas.

Tapi, dengan daya manusia yang terbatas itu, jika kita mempergunakannya dengan tepat, bukan tidak mungkin kita akan mendapatkan pertolongan dan keridhoan Tuhan yang kita cari. Justru nanti kalau jiwa kita sudah tersucikan, kita akan masuk ke dalam grup “Jiwa-jiwa yang tenang”. Dan kalau sudah begitu, nanti Tuhan yang akan mengundang kita ke dalam surga-Nya, seperti di surat Al-Fajr. Jadi nggak perlu maksa-maksa pengen masuk, malah diundang sama Tuhan.

Nah, itulah tujuan akhir kita. Makanya Om Hana tetap berpesan untuk mengejar amalan-amalan Islam secara kaaffah. Karena itulah yang penting.

Penutup

Yak, kurang lebih demikianlah yang terjadi di hari itu. Bermula dari pertanyaan seseorang yang bingung, bagaimana menjadi dewasa dan menjadi tua yang baik.. hingga akhirnya obrolan demi obrolan di malam itu kembali mengungkap apa yang sebenarnya penting.

Dan sekali lagi, semuanya selalu jelas. Tujuan sudah jelas. Jalannya pun mungkin sudah jelas. Tapi terkadang macet. Terkadang kita lupa jalannya.

Yak, sekian post hari ini. Diambil baiknya saja, kalau ada hal-hal yang meragukan jangan ragu untuk mengkroscek dengan sumber-sumber yang lebih terpercaya.

Hari ini saya memutuskan untuk menulis ini saja. Udah lama banget nggak nulis di sini. Maklum, lagi-lagi disuruh revisi paper dan lain-lain. Agak bosan juga kadang harus mengulang-ulang hal yang sama. Ibaratnya PhD student itu seperti pembuktian kata-kata Thomas Edison. Kalau jaman dulu cuman ilmul yakin atau ainul yakin, di PhD ini benar-benar dibuktikan bahwa kita harus gagal banyak kali dulu sebelum sukses (itupun belum tentu sukses loh, namanya juga riset). Tapi ya kita hanya bisa berusaha sebaik-baiknya, demikian halnya dengan gambaran utuh kehidupan. Berusaha saja supaya kita bisa tua dengan baik, dengan jiwa yang semakin bersih semakin harinya. Aamiin.

 

APPENDIX A: Pertentangan antara Topi Sains dan Topi Agama

Bagi saya, ‘topi sains’ jika dikenakan untuk memaknai kehidupan, tidak akan mampu berpadu dengan ‘topi agama’. Dan baru-baru ini, hati saya sedikit resah ketika membaca status seperti ini di status facebook teman saya.

“jika Anda masih membenturkan antara agama dengan sains,
itu pertanda Anda belum benar-benar mendalami keduanya.
payah dalam hal agama, gagap pula dalam hal sains.”

Pendapat saya pribadi, sains dan agama bertentangan jika keduanya difungsikan sebagai upaya pembuktian kebenaran.

Sains

Sains bersifat empirik serta memiliki sifat untuk senantiasa berkembang. Teori lama digantikan dengan teori baru yang lebih cocok dengan bukti empiris. Einstein dilaporkan pernah mengatakan bahwa, mungkin saja tidak ada teori yang abadi [Saya pernah menulis ini di blog saya yang lain].

Meskipun dalam sains kita menggunakan penalaran deduktif (menggunakan teori untuk memperkirakan observasi) dan penalaran induktif (menggunakan hasil observasi untuk membuat teori), menumpukan kebenaran kepada sains sebenarnya merupakan bentuk penalaran induktif jika kita melihat secara garis besar perbandingan keberadaan manusia (yang mempelajari sains) dengan perbandingan usia alam semesta (yang diperkirkan):

karena selama manusia mengamati dunia, hukum fisika sepertinya tidak berubah maka dapat disimpulkan bahwa hukum fisika tidak berubah dari awal terbentuknya semesta hingga sekarang dan hingga seterusnya.

Saya pikir, manusia ingin mencari keteraturan. Dan kebetulan keteraturan itu ditemukan di alam sampai saat ini. Namun, bukan tidak mungkin kelak, manusia akan menemukan ketidakteraturan itu. Bukan tidak mungkin empiricism yang mendasarkan kebenaran pada pengalaman indera suatu saat tidak lagi relevan. Hal ini seperti penggemar olah raga berbahaya yang selalu berpikir, “Ah aman kok aman, biasanya juga saya selamat-selamat saja”, lalu suatu saat tertimpa musibah dan meninggal (meskipun ia melakukan segala prosedurnya sama persis).

Agama

Agama bersifat memberikan kebenaran absolut. Jika sains membutuhkan model untuk sebuah realita, sebelum dapat mempelajarinya lebih lanjut, agama tidak demikian. Dalam agama, kebenaran datang dari wahyu.

Maka, menurut saya wajar jika ada pertentangan antara agama dan sains. Dan sebagai orang beragama, tentu di situ ada ruang untuk iman. Sangat wajar jika seseorang dalam upayanya mendalami agama dan sains sekaligus mendapati konflik keyakinan. Itu adalah bagian dari perjalanan intelektual dan spiritualnya.

Kita bisa saja menguraikan beberapa hal yang ada di agama dengan sains, tapi kita tak akan pernah membuktikan agama dengan sains. Sebaliknya, kita menemukan dalil-dalil di agama bahwa ada hukum Tuhan yang mengatur semuanya (yang menjadi ranah studi sains). Perlu pula diingat, agama senantiasa menekankan bahwa pengetahuan manusia terbatas, dan di saat yang sama menekankan bahwa selalu ada tanda bagi mereka yang berpikir.

Tentu di sini ada sebuah jihad pemikiran bagi setiap individu untuk terus mengenakan ‘topi agama’ di hatinya, meski dalam kehidupan duniawi ini dia harus senantiasa pula mengenakan ‘topi sains’ di hatinya.

Saya tidak tahu persis apa yang dimaksud teman saya dengan statusnya. Sejauh mana seseorang ia kategorikan payah dalam hal agama, dan gagap pula dalam hal sains. Ada kalanya sains dan agama memang berbenturan, kita harus menerima itu dan harus dapat meletakkannya sesuai konteks. (Ya, mana ada teori tentang malaikat yang bisa diuji dengan metode ilmiah?) Tapi, sejujurnya saya kurang suka dengan tulisan-tulisan seperti itu. Saya merasa ada yang tidak pas dengan kalimat yang dipasang.

Upaya Meng-Islamkan Sains

Saya menemukan pula beberapa orang membayangkan upaya-upaya untuk meng-Islam-kan sains. Beberapa ilmuwan di Indonesia yang mewacanakan hal itu di antaranya pengarang buku Ayat-Ayat Semesta, dan Achmad Baiquni (salah seorang petinggi BATAN, almarhum merupakan kakek dari kawan saya, Aditya Banuaji, dan saya pertama membaca bukunya saat menginap di rumah teman saya).

Gagasan ini sangat bisa dipahami mengingat sains modern telah berkembang di tangan peradaban barat. Pertama, tak jarang terdapat nilai-nilai tersembunyi yang bertentangan antara agama dan sains sebagaimana saya jelaskan kontradiksi antara topi sains dan topi agama. Kedua, saat ini bisa dibilang kaum muslimin kehilangan identitas. Sebagai umat terbaik, mengapa umat Islam tidak menguasai peradaban dunia? Maka muncullah upaya-upaya seperti ini, sensitif dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan masa lalu.

Kalau pandangan saya tentang ini, saya rasa tidak perlu-lah kita mengislamkan sains kalau alasannya hanya agar umat Islam lebih berbangga. Saya pikir biarkan saja sains dan agama menjadi dua sungai yang berbeda selama setiap muslim dapat menempatkan hati dan pikiran.

Satu) Dengan itu, sains akan benar-benar bersandarkan pada hukum fisik yang tidak terbantah oleh indera dan mekanisme ilmiah. Toh, kita tidak hendak membuktikan apakah neraka ada atau tidak. Selalu ada masa dimana ilmuwan meyakini bahwa sebentar lagi misteri di alam semesta akan terungkap. Setiap dekade selalu ada yang berpendapat bahwa kecerdasan buatan sudah mampu menciptakan kesadaran. Ya biarkan saja itu semua berjalan apa adanya agar sains tetap ada di dalam tembok batas akal manusia.

Dua) Adanya sains yang tulen justru membantu kita untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil. Sebagaimana kita tahu ada banyak pseudo-sains yang dibuat untuk keuntungan pribadi. Ada pula hal-hal yang sebenarnya menyangkut-nyangkut ke arah metafisik tapi dibuat seolah ada saintifiknya. Hal itu adalah tantangan keimanan di jaman ini yang semakin halus. Nah, saya pikir dengan sains yang benar-benar tulen, kita dapat memisahkan mana yang mungkin secara fisik dan mana yang tidak. Kalau tidak, tentu kita tahu bahwa itu sudah bagian dari syirik.

Dan, yang lebih penting saat ini adalah bagaimana dengan sains yang sudah ada ini kaum muslim dapat turut serta berkarya dan memberi rahmat bagi semesta. (Dan ini yang sungguh butuh jihad untuk membuatnya tidak jadi jargon belaka, terutama bagi saya pribadi).

 

APPENDIX B

Pada akhirnya Islam adalah jalan hidup. Sebuah petunjuk yang hanya bisa dipeluk bagi mereka yang sudah berusaha melakukan pencarian.

“Dari masyrik hingga maghrib, anak siapa pula engkau” kalau kata Nenek Guru kami.

Saat seseorang telah memulai perjalanan spiritual untuk menemui wajh rabbi al-a’la. Tidak ada kata berhenti. Sekalipun maksiat, dunia, dan pikirannya telah membuat mata hati kelilipan, seorang salik tau bahwa ia harus tetap berjalan

Salik tahu bahwa setelah menaiki beberapa anak tangga rupanya ia harus tergelincir. Ia sedih. Ia tahu ada relung di hatinya yang menganga.. Tapi ia wajib bersyukur sebab relung itu pernah terisi. Ia bersyukur bahwa ia tahu ke mana ia harus mencari isian bagi relung itu.

Relung itu adalah suatu simbol ketidakkuasaan manusia untuk menentukan segalanya. Ia adalah titik temu antara kesadaran untuk berusaha penuh dengan kesadaran bahwa hanya Tuhan yang dapat memberikan jalan. Hanya Ia yang berdaya. Hanya Ia yang mampu memberikan rahmat-Nya.

Maka dalam titik kasih dan sayang, serta ketidakberdayaan, Bapak para manusia berdoa.. Ya Tuhan kami sesungguhnya kami telah menganiaya diri dan jika tanpa ampunan-Mu sesungguhnya kami merugi…. sebuah doa yang bukan perintah.. bukan ego. Namun letupan cinta dari jiwa esoteris.

Banyak orang seumuran saya menikmati pergi keliling dunia dan menemui keindahan..Mereka berkeliling untuk menemukan keindahan zahir tertangkap mata, namun saya percaya bahwa keindahan batin jauh lebih bernilai.

Saya merasa beruntung. Jalan hidup saya mengantarkan saya pada ini semua… meski berkali-kali saya harus menjadi orang jahat. Tapi.. Engkau tak akan tahu betapa berharga rumahmu… kecuali saat engkau tersesat di padang gurun yang kering panas berfatamorgana

Padang gurun itulah dunia. Yang melalaikan. Yang melalaikan. Dan melalaikan. Banyak yang mengecam Al-Ghazali karena membenci dunia. Mereka tidak mampu mencapai “rasa” yang telah Al-Ghazali capai. Sebab mereka beragama hanya dengan emosi hewani. Mungkin, jika mereka telah merasakan “rasa” itu, mereka akan mengerti mengapa Al-Ghazali mengatakan demikian.

APPENDIX C: Problematika Transendensi Diri

Maslow himself was an atheist. Yet, at the end of his journey, some believe he meant to include ‘self-transcendence’ as the peak of his hierarchy of needs. But, it’s quite problematic to include it for several reasons. In the last few days, I have been wondering whether or not it is possible for those who started the spiritual journey of self-transcendence to have been in a state of struggle in achieving self-actualization. Then, in the paper from which I took this table, the writer argued Maslow found the mutual ortoghonality between self-transcendence and the rest. And then I felt enlightened. Well, peak experiences such us mystical one are difficult to be subject of science. If you want to do it you will end up having a pseudo-science. But it doesn’t mean it is improbable to exist in the first place. – View on Path.

Gambar: Table Hierarki Kebutuhan Maslow, diambil dari paper ini.

Saya ingat, di masa-masa ketika saya akan membaca paper tersebut saya memiliki pertanyaan seperti ini:

“Mungkinkah seseorang yang sudah memahami bahwa kemanusiaannya dimanifestasikan melalui transendensi diri justru masih kebingungan dalam mengaktualisasikan potensinya sendiri?”

Dan dengan membaca paper itu terjawab lah pertanyaan saya. Ada hal-hal yang cukup problematis untuk memasukkan konsep transendensi diri sebagai kebutuhan tertinggi manusia. Selain sangat sulit untuk diteliti secara ilmiah, Maslow menemukan bahwa transendensi diri merupakan hal yang berada di ‘sumbu’ yang berbeda dengan kebutuhan lainnya. Artinya, seseorang memang bisa saja telah menemukan pengalaman puncak dalam hidupnya, meskipun dia bahkan hidup di bawah garis kemiskinan.

Ya, bisa saja seseorang kelaparan, tapi dia sudah menemukan makna dalam kehidupannya. Makna ini telah mengantarkannya mencapai pengalaman puncak di kehidupannya. Dan, bisa saja seseorang yang memiliki semua kebutuhan fisik dan mental, kaya, berpangkat dan berjabatan justru masih merasa hampa dalam hidupnya karena belum dapat memaknai dan belum mencapai transendensi diri ini.

Saya rasa inilah jawaban atas pertanyaan saya tersebut. Orang bisa saja sudah mengenal Tuhan, tapi syukurnya di dunia ini masih kurang sehingga belum berupaya maksimal dalam mengaktualisasikan potensi dirinya.

2 thoughts on “Cara menua yang baik itu gimana ya fik? (Takaran Kesuksesan Manusia)

  1. Punten kak sy mau share tulisan ini, menanggapi yg bagian islamisasi sains. Utk buku ayat2 semesta sm nalar ayat2 semesta mgkn bisa coba dibeli dan dihabisin bacanya bukunya. Sy pernah ikut pelatihan ayat2 semesta di sragen, yg ngisi guspur langsung, kemasannya pelatihan 4hari. Dan disana dijelaskan panjang lebar ttg islamisasi sains, filsafat yunani yg mjd pijakan org2 barat, dan materi2 lainnya juga. Juga dibahas ttg sekolah trensains yg sudah dibangun guspur di jombang dan sragen, utk merealisasikan islamisasi sains yg beliau ceritakan panjang lebar di pelatihan. Intinya, umat islam butuh islamisasi sains, dan alhamdulillah sudah ada yg bergerak.🙂
    Belajar Fisika Secara Islami
    Oleh: Usep Mohamad Ishaq
    “Apakah Ilmu Fisika mungkin dipelajari tidak secara islami?” Dengan kata lain, “Apakah ada cara mempelajari Fisika yang Islami atau tidak Islami?”.
    Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, terutama karena ada kesalahfahaman yang menggelayuti banyak orang tentang konsep dan proses Islamisasi ilmu kontemporer. Masih ada saja yang membayangkan bahwa Islamisasi sains berarti membuat “pesawat terbang Islam”, atau “mesin islam”. Atau, masih ada juga yang mengira bahwa Islamisasi hanyalah semata-mata berarti “mencocok-cocokkan” atau menjustifikasi ayat al-Qur’an dengan temuan sains atau sebaliknya (lihat tulisan Budi Handrianto “Meluruskan Konsep Islamisasi Sains”).
    Jika memang ada cara tertentu untuk mempelajari Fisika secara Islami, pertanyaan selanjutnya, “Apa perlunya mempelajari ilmu Fisika secara Islami? Hal ini dapat dijawab dari dua sisi. Pertama, bahwa dalam Islam, tujuan utama dari setiap pendidikan dan ilmu adalah tercapainya ma’rifatullah (mengenal Allah, Sang Pencipta), serta lahirnya manusia beradab, yakni manusia yang mampu mengenal segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah.
    Tak terkecuali saat seorang Muslim mempelajari Ilmu Fisika. Ia tak hanya bertujuan semata-mata untuk menghasilkan terobosan-terobosan sains atau temuan-temuan ilmiah baru; bukan pula menghasilkan tumpukan jurnal-jurnal ilmiah semata-mata atau gelimang harta kekayaan saja. Tapi, lebih dari itu, seorang Muslim melihat alam semesta sebagai ayat-ayat Alllah. “Ayat” adalah tanda.Tanda untuk menuntun kepada yang ditandai, yakni wujudnya al-Khaliq. Allah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada manusia dalam dua bentuk, yaitu ayat tanziliyah (wahyu yang verbal, seperti al-Quran) dan ayat-ayat kauniyah, yakni alam semesta. Bahkan, dalam tubuh manusia itu sendiri, terdapat ayat-ayat Allah.
    Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak mampu menggunakan potensi inderawi dan akalnya untuk mengenal Sang Pencipta. Mereka disebut sebagai calon penghuni neraka jahannam dan disejajarkan kedudukannya dengan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi (QS 7:179).
    Binatang ternak bekerja secara profesional sesuai bidangnya masing-masing. Dengan itu, ia mendapat imbalan untuk menuruti syahwat-syahwatnya. Makan kenyang, bersenang-senang, istirahat, lalu mati. “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan (di dunia) seperti layaknya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS 47:12).
    Kedua, tujuan pendidikan nasional adalah bahwa ia harus menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,..”. Pertanyaannya, “Apakah pendidikan dan pengajaran sains sudah ditujukan membentuk manusia beriman, bertakwa dan berakhlak mulia?”, “Apakah buku-buku pelajaran dan buku-buku teks Fisika sudah ditujukan untuk hal tersebut?”
    *****
    Mempelajari Ilmu Fisika secara Islami dimulai dari Islami atau tidaknya fikiran seorang fisikawan. Bagaimana cara pandang seorang fisikawan terhadap alam, bagaimana konsep ia tentang ilmu, dan bagaimana konsepnya tentang Tuhan. Cara pandang inilah yang menentukan apakah ia mempelajari sains secara islami atau tidak, dan cara pandang inilah yang dikenal sebagai pandangan-alam (worldview). Fikiran seorang fisikawan akan memahami benar bahwa ada keterkaitan yang erat antara ilmu (‘ilm), alam (‘alam), dan Pencipta (al-Khaliq).
    Kata ‘ilm sendiri berasal dari kata dasar yang terdiri, ‘a-l-m, atau ‘alam. Makna yang dikandungnya adalah ‘alaamah, yang berarti “petunjuk arah”. Menurut al-Raghib al-Isfahani al-‘alam adalah “al-atsar alladzi yu’lam bihi syai’” (jejak yang dengannya diketahui sesuatu). Dalam karyanya Knowledge Triumphant The Concept of Knowledge in Medieval Islam, Rosenthal memberikan pandangan tentang adanya keterkaitan erat secara bahasa antara ilmu pengetahuan dengan petunjuk jalan yaitu bahwa, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particularly close and takes on especial significance in the Arabian environment.
    Mengenai keterkaitan antara adanya Pencipta dengan alam, sangat menarik jika kita simak pandangan Dr. Mohd. Zaidi Ismail, pakar Islamic Science, bahwa prototipe dari Natural Science khususnya dalam arti modernnya, dalam tradisi keilmuan dan sains Islam disebut sebagai ‘ilm al-tabii’ah (the science of nature). Kata al-tabii’ah tidak seperti kata bahasa Inggris “nature (alam)” yang menyiratkan keabadian dunia, diambil dari akar kata t-b-’a atau tab’a, yang berarti “dampak atas sesuatu (ta’thir fii…), “penutup (seal), atau “jejak (stamp)” (khatm), maka ia menyiratkan “sifat atau kecenderungan yang dengannya makhluk diciptakan” (al-sajiyyah allatii jubila ‘alayha). Semua arti tersebut “mengasumsikan” adanya Sang Pencipta.
    Jadi alam tidak dipelajari semata-mata karena alam itu sendiri, namun alam diteliti karena ia menunjukkan pada sesuatu yang dituju yaitu mengenal Pencipta alam tersebut. Sebab alam adalah “ayat” (tanda). Fisikawan yang mempelajari alam lalu berhenti pada fakta-fakta dan data-data ilmiah, tak ubahnya seperti pengendara yang memperhatikan petunjuk jalan, lalu ia hanya memperhatikan detail-detail tulisan dan warna rambu-rambu itu. Ia lupa bahwa rambu-rambu itu sedang menunjukkannya pada sesuatu.
    Hal ini sejalan dengan makna ilmu dalam Islam seperti ditunjukkan oleh Jurjani dalam at-Ta’rifaat bahwa ilmu adalah “hushuul shurat asy-Syai’ fi al-‘Aql” (sampainya makna sesuatu pada akal) namun juga “wushul an-nafs ilaa ma’na asy-syai’” (tibanya jiwa pada makna sesuatu). Sejalan dengan hal ini, pakar Filsafat Sains, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan:
    “Pada hakikatnya sesuatu itu, seperti juga kata, adalah sebuah petunjuk (tanda) atau simbol, dan petunjuk atau simbol adalah sesuatu yang dzhair dan tak terpisahkan dari sesuatu yang lain yang tak dzahir. Sehingga tatkala yang pertama itu sudah dapat ditangkap, dan yang bersifat dengan sifat yang sama dengan yang pertama itu tadi dapat diketahui. Oleh sebab itu kami telah mendefisnisikan ilmu secara epistemologis sebagai sampainya arti sesuatu itu ke dalam jiwa, atau sampainya jiwa pada arti sesuatu itu. “Arti sesuatu itu” berarti artinya benar, dan apa yang kami anggap sebagai arti yang ”benar” itu, pada pandangan kami ditentukan oleh pandangan Islam (Islamic vision) tentang hakikat dan kebenaran sebagaimana yang diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.
    Ketercerabutan “makna” dan peran alam sebagai “ayat”, sesungguhnya merupakan dampak dari sekularisme sebagaimana disebutkan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam karya besarnya, Islam and Secularism. Sekularisme telah menyebabkan dicabutnya kesakralan alam dan hilangnya pesona dari alam tabii (disenchantment of nature). Akibatnya alam tak lebih dari sekedar objek, tak punya makna dan tak ada nilai spiritual (lebih lanjut lihat tulisan Wendi Zarman “Fisika dan Metafisika Islam Perlu Disatukan Lagi”)
    Konsep-konsep inilah yang akan membentuk cara pandang Fisikawan Muslim, dan dari pandangan-alam (worldview) inilah Fisika bisa dipelajari secara Islami. Aspek-aspek lain dalam dunia ilmiah seperti kejujuran ilmiah, “objektifitas”, sikap ilmiah seperti menerima kritik, mengakui kesalahan dan menerima kebenaran, lahir dari pandangan-alam ini. Sikap ilmiah dalam Islam bukan lahir semata-mata dari etika ilmiah itu sendiri, namun ia lahir dari suatu pandangan-alam (worldview) dan sebagai hasil dari pengenalannya terhadap Pencipta alam (ma’rifatullah). Worldview inilah yang telah membentuk pribadi para saintis Muslim terdahulu beserta karya-karya besar mereka yang gemilang (lihat “Fisikawan Muslim Mengukir Sejarah”, John Adler).
    *****
    Konsep Adab terhadap alam juga kemudian lahir dari pandangan-alam Islam (Islamic worldview) ini. Dengannya, seorang saintis akan memperlakukan dan memanfaatkan alam dengan adab yang benar. Lalu lahirlah konsep sikap ramah lingkungan yang Islami, yang didasarkan bukan semata-mata karena alasan keterbatasan sumber daya alam, namun kesadaran bahw
    a alam ini bukanlah milik manusia, namun ia adalah amanah dan sekaligus juga ayat-ayat Allah. Hanya dengan pandangan-alam seperti inilah, akan lahir manusia beradab dan berakhlak, seperti yang dicita-citakan dalam tujuan pendidikan kita saat ini.
    Prof. Naquib al-Attas mengingatkan, bahwa hilangnya adab terhadap alam – sebagai ayat-ayat Allah – inilah yang telah menyebabkan kerusakan besar di alam semesta. Belum pernah terjadi dalam sejarah manusia, alam mengalami kerusakan seperti saat ini, di mana ilmu pengetahuan sekuler merajai dunia ilmu pengetahuan. Akar kerusakan ini adalah ilmu pengetahuan (knowledge) yang disebarkan Barat, yang telah kehilangan tujuan yang benar.
    Ilmu yang salah itulah yang menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; ilmu yang seolah-olah benar, padahal memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism). Bahkan ilmu pengetahuan sekuler ini untuk pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam ‘the Three Kingdom of Nature’ yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral.
    Menurut al-Attas, dalam peradaban Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. (Man is deified and Deity humanised). (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, (Victoria, The Cranlana Program, 2002), 2:231-240).
    Sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan sangat pesat, Ilmu Fisika terbukti telah membawa banyak manfaat bagi umat manusia. Wajib sebagian kaum Muslim menguasai ilmu ini. Tetapi, cara pandang dan cara belajar seorang Muslim akan berbeda dengan yang lain. Sebab, bagi Muslim, alam semesta adalah ayat-ayat Allah, yang dipelajari – bukan sekedar untuk mengungkap temuan-temuan baru – tetapi juga untuk mengenal Sang Pancipta. (***)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s