Siapkah Kita untuk Ber-Islam secara Kaaffah

Oke. Streaming el-clasico macet saat goal pertama. Dan lalu masih macet biar di-refresh. Jadi saya putuskan menulis satu lagi. Saya tahu tulisan-tulisan ini tetap merupakan produk akal. Tetap hanya keberagamaan yang berpusat di akal. Tapi, mudah-mudahan dapat terbawa juga ke dalam diri saya pribadi sehingga bisa diamalkan.

Saya terkadang membayangkan bahwa pencarian kebenaran absolut (agama) juga memiliki analogi dengan pencarian kebenaran nisbi (sains). Seperti postingan sebelumnya dimana setelah kita pergi ke tingkatan yang lebih tinggi, kita tahu bedanya.

Umumnya saya mendapat cerita tentang ahli emas. Bertahun-tahun seseorang salah mengira emas sepuhannya sebagai emas asli. Ketika hendak menjual, datanglah ia ke tukang emas asli. Di sana baru dia tahu emasnya sepuhan.

Dan emas sepuhan, tidak bisa dihargai seperti emas asli. Memang demikian hukumnya.

Demikian pula dalam beragama. Hukum Tuhan tidak bisa ditawar. Malaikat tidak dapat disuap.

Maka, sekali berarti sudah itu mati. Adalah suatu kesia-siaan jika dalam hidup ini kita tidak berusaha mencari jalan hidup yang lurus benar. Titian sirath al-mustaqim itu ya di sini dan sekarang. Digambarkan setipis rambut dibelah tujuh untuk menggambarkan betapa halusnya apa yang ada dalam diri kita yang melalui titian tersebut.

Nah, rupanya Islam kaaffah itu benar-benar menyeluruh. Aqidah tauhid, syariat, dan akhlak. Iman, Islam, Ihsan.

Banyak hal yang selama ini dianggap biasa saja oleh kebanyakan orang, ternyata salah. Banyak hal-hal yang selama ini dianggap remeh, rupanya signifikan. Banyak pula hal-hal yang dikira penting, dibela-belain berdebat panjang kali lebar kali tinggi, rupanya hanya jembatan. Penting untuk ada. Tapi lebih penting lagi untuk diseberangi.

Atas segala perjalanan hidup saya, saya selalu bersyukur. Rasa-rasanya titik cerah itu terlihat. Dan terkadang, merasakan sedikit dari manisnya Islam, membawa kebahagiaan yang begitu membahagiakan.

Kalau dulu hanya bisa berangan-angan dan berimajinasi bahwa dengan dzikir, hati akan tenang. Saya sudah berkesempatan mencicipinya beberapa kali. Baik di waktu singkat di training center-nya. Maupun di medan pertempuran yang nyata.

Kalau dulu tenangnya saya hanya ditenang-tenangkan. Hanya produk dan rekayasa pikir belaka. Kali ini yang dirasakan justru nyata. Saking nyatanya, sampai saya bingung. Mengapa saya bisa merasa lebih tenang ya?

Ya, dulu saya suka mempertanyakan. Selalu memakai akal. Mengapa begini dijanjikan begitu. Seperti apa teknisnya bahwa dzikir dapat mengikis akhlak madzmumah dan menanam benih akhlak mahmudah? Lantas mengapa ada orang-orang yang dikatakan dzikirnya gagal?

Memang mengerikan mengingat di suatu majelis yang saya yakini sebagai tempat Haq untuk mencari jalan menuju Islam Kaaffah, masih banyak yang mindsetnya belum betul-betul Islam. Masih sedikit sekali yang konon sudah Kaaffah. Maka Guru pun senantiasa mencari cara supaya murid-muridnya semakin berakhlak, dan semakin kaaffah.

Sudah gitu, kalau berbicara tentang istiqomah. Orang yang sudah bertahun-tahun mendaki jalan ini saja masih bisa terpeleset. Apalagi kita-kita yang baru mulai belajar. Yang kadang merasa “kenapa nggak dari dulu”

Ya itulah. Itulah mengapa saya merasa tetap perlu menuliskan hal-hal kecil ini. Karena melalui tulisan-tulisan ini lah saya berusaha menjaga api kecil itu. Sekarang mungkin buah yang saya dapat masih sedikit. Itupun sudah bagus berbuah, karena saya tahu sendiri bagaimana kualitas saya dalam menanam. Tapi, Tuhan Maha Kasih. Dan itulah yang membuat kita masih ada di sini.

Itulah yang membuat hati kita masih mendapat hidayah untuk meyakini suatu kebenaran.

Sekalipun kebenaran ini tak dapat dirasakan kebenarannya oleh mereka yang pintar. Oleh mereka yang telah berkontribusi banyak bagi peradaban manusia.

Sulit terkadang untuk menjelaskan hal-hal ini. Sebab kebenaran sudah menjadi asing saat manusia terbiasa berpuas dengan kulit dari kebenaran. Apalagi saat manusia sudah terbiasa dengan kebohongan.

Saat itulah kita menyadari betapa berat tugas Rasul untuk membawa kebenaran kepada kaumnya. Kita ada di level bahwa bertemu jalan menuju kebenaran saja sudah untung.

Saat berbicara dengan orang-orang dan kita tahu bahwa tidak ada titik temu dari perbincangan itu. Saat sekeras apapun kita berusaha membawa teman kita ke tempat yang paling ia butuhkan. Tapi, pada akhirnya kita adalah manusia awam. Kita harus menyelamatkan diri sendiri dulu.

Kalau hati kita dilunakkan. Niscaya air mata akan terus mengalir karenanya. Karena kita tahu yang membawa kita pada petunjuk-Nya. Yang membawa kita pada ketenangan jiwa. Semuanya murni karena hak prerogatif-Nya. Hanya karena keberuntungan.

Pun sudah seperti itu. Masih berat rasanya untuk menjaga nyala hidayah ini. Masih berat diri ini untuk meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat. Masih berat untuk melepaskan diri dari maksiat-maksiat yang disadari maupun tidak.

Tapi, lagi-lagi hanya kepada-Nya kita berharap pertolongan. Hanya kepada-Nya kita mengadu. Hanya kepada Rasul, dan orang-orang saleh kita mencoba mengikuti jalan menuju-Nya.

Maka, selalu pertanyaan yang harus kita ingat. Siapkah kita untuk berserah dengan total?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s