There Are Exceptions That Prove The Rules

Saya ingin menuliskan sebuah renungan WC yang singkat (meski kalau ditulis rupanya lumayan) tentang pattern recognition dan survival manusia. Ya, agak disambungin dikit juga deh sama kehidupan PhD student dan seputar Artificial Intelligence.

“But heuristics come and go, while theorems last for eternity” -Juergen Schmidhuber

Continue reading “There Are Exceptions That Prove The Rules”

Bias Pikir, Saat Manusia Berpendidikan Pun Gagal Melihat Konteks dan Bangga Dengan Pengetahuan Sopir

Setiap kali membuka facebook rasanya miris. Orang-orang yang kelihatannya berpendidikan tinggi atau jago di suatu bidang rupanya masih banyak yang nggak mengerti konteks.

Misalnya isu sains. Terkadang mereka terbawa pada bias pikir. Sebutlah kasus seorang peneliti alat pembasmi suatu penyakit. Banyak yang lantas berdebat, dan langsung main menyalahkan pemerintah. Padahal kita perlu lihat konten-nya.

Masyarakat Indonesia, termasuk yang pendidikannya tinggi, sering terbawa arus. Saat seseorang sudah playing victim misalnya, orang jadi buta. Masyarakat Indonesia, termasuk kaum terpelajar belum bisa adil dalam pikiran. Belum bisa memisahkan konteks personal dan konteks substansi.

Secara personal tentu saja kita harus respek pada siapapun, apalagi seorang saintis yang publikasi ilmiahnya banyak di-cite. Kita respek dengan kecerdasan beliau dan dedikasi beliau. Kita respek terhadap beliau karena beliau punya kemampuan, punya paten, dan karyanya dipergunakan lembaga luar negeri. Itu satu hal.

Tapi, saat kita menggali, apakah memang alat yang lain yang dibuatnya (beda dengan yang dia patenkan) benar-benar sudah memenuhi standar medis, tentu itu soal lain. Kita tidak bisa mengelabukannya dengan men-share daftar publikasi beliau, paten-paten beliau yang lain. Karena kita akan terjebak pada bias personal si orang tersebut. Bukan melihat dengan jernih apa yang dibuatnya. Seseorang mungkin hebat bikin drone, tapi kalau bikin pesawat kan belum tentu.

Dan karena medis ya ada aturannya. Mungkin akan ada perdebatan dan teori-teori konspirasi tentang bisnis kesehatan. Ya bisa jadi ada. Tapi sekali lagi harus juga dipahami konteksnya, sudahkah orang yang dibela benar-benar teruji alatnya?

Ya untungnya kasus yang heboh-heboh sebelumnya berujung damai yah. Akhirnya ada kejelasan juga bahwa penelitiannya tidak distop.

Banyak hal sih sebenarnya.

Orang Indonesia itu kadang bangga dengan pengetahuan sopir. Hanya bermodal kata-kata yang indah seolah dia tahu betul.

The truth is, kita nggak mungkin jago di semua bidang. Kita mungkin tahu kalau kita hanya sedikit tahu. Dan kita harus paham betul kondisi itu. Jangan karena ngerti dikit, kita sok-sokan tahu segalanya dan tahu kebenaran absolut. Itu nggak benar.

Apalagi kalau soal agama yah. Saya paling serem. Dan sekali lagi, ketidaksukaan saya dengan sikap seseorang bukan berarti membuat saya tidak respek dengan orangnya. Saya tahu banyak kenalan saya (kadang masih keluarga sendiri juga sih) yang baik sekali, suka menolong orang. Di bidangnya pun dia jago. Tapi kalau sudah di facebook seolah paling benar, dan paling ngerti agama. Tapi sepertinya mereka tidak sadar. Mereka mungkin merasa sudah melakukan hal yang mereka anggap benar.

Ya, respek dan berkasih sayang itu kepada seluruh alam. Tapi kalau sudah soal kebenaran ya nggak bisa ditawar ya. Gitu sih harusnya.

Mudah-mudahan saja saya tidak seperti itu. Mudah-mudahan kalau saya lalai ada yang segera mengingatkan. (Ya, tapi kalau saya sih nyadar diri aja kelakuan masih kacau hehe.)

APPENDIX – PENGETAHUAN SOPIR

Pengetahuan sopir (chauffeur knowledge) yang dimaksud adalah pengetahuan yang didapat dari memahami kulit luar suatu pengetahuan. Kenapa sopir? Karena suatu ketika sopir Max Planck, saking sering memperhatikan kuliah Max Planck bisa menghapal kuliahnya. Dia pun akhirnya mengajukan diri untuk memberi kuliah. Hadirin terkesima. Tapi, saat ditanya, ya dia nggak paham.

Contoh lagi adalah buku-buku tentang agama. Terutama aspek esoteris dari agama. Kadang saat membaca buku-buku tasawuf, kita tenggelam dalam keindahan isi. Bahasanya renyah dan mudah dicerna. Namun bisa saja, penulisnya sendiri mengakui bahwa dirinya baru sampai kulitnya saja, sedangkan di majelis yang berusaha mengamalkan tasawuf, benar-benar dikupas isinya sampai habis.

Ya, sama dengan Al-Quran ya. Yang benar-benar paham Al-Quran itu maknanya ya Rasulullah S.A.W, yang fisiknya Muhammad bin Abdullah. Karena pengetahuan sejati (wahyu) itu tentu diberikannya secara metafisik.

Oh iya, segala bentuk tulisan di blog ini juga levelnya masih pengetahuan sopir. 😀

 

Lima

#0

Tidak ada di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian, kecuali prinsip sejati. Banyak manusia berpikir bahwa mereka meyakini hal ini, tapi itu omong kosong belaka. Diri mereka tidak mencerminkan hal ini.

Dan saya, tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Saya selalu melakukan refleksi dari waktu ke waktu, seberapa kemajuan yang saya sudah buat dan apa-apa yang bisa saya perbaiki. Tidak mudah.

#1

Kehidupan ini adalah permainan belaka. Kita harus siap melepaskan apa yang kita punya sewaktu-waktu. Namun, bukan berarti kita tidak serius dalam melakukan permainan ini. Manusia memang tercipta demikian adanya. Merasakan gairah saat bertarung, saat mendapatkan tantangan.

Saat bertarung dalam berbagai kegiatan yang dijalaninya (bekerja, olah-raga, membaca, dll), manusia mengalami sebuah proses transendensi dalam skala kecil di mana dirinya larut dalam aktivitas tersebut. Ia menjadi fokus pada apa yang dijalaninya saat itu, melupakan hal yang lain, termasuk melupakan dirinya sendiri. Untuk sejenak manusia melupakan masalah-masalah hidupnya dan fokus dengan pertarungannya.

Dalam permainan-permainan itu, terkadang manusia menemukan rival dari sesamanya. Ada perbandingan-perbandingan yang dilakukan untuk semakin menghidupkan pertarungan itu. Ada komparasi, kompetisi. Namun, sejatinya, perbandingan itu bukanlah tujuan, melainkan sekedar sarana. Sarana agar seseorang mampu mendorong dirinya untuk menjadi lebih baik.

Adalah suatu kesia-siaan saat perbandingan ini dijadikan sebagai suatu titik akhir. Bodoh sekali jika manusia menjadikan perbandingan dan kompetisi dengan sesama sebagai titik akhir. Hal itu membuat dirinya kurang bersyukur dan banyak mengeluh.

Padahal, segala permainan di dunia ini kita jalani dalam rangka bersyukur.

Adalah suatu kesalahan besar pula bagi seorang manusia jika saat menyadari bahwa hidup ini adalah permainan belaka, ia justru menghindari permainan itu. Bekerja adalah sebuah sarana bagi kita untuk menjalankan misi hidup yang sejati. Dan, selama ada di dunia, kita pasti tidak lepas dari permainan itu. Memang begitu adanya.

Selama hidup di dunia, kita butuh makan.

#2

Saya tidak menyukai sikap menyalah-nyalahkan masa lalu. Banyak orang sebenarnya terjebak di masa lalu, tapi tidak sadar. Saya juga seperti itu. Dulu parah sekali bahkan, tapi sepertinya sekarang sudah berkurang intensitasnya. Dan makanya saya benar-benar tidak suka dengan sikap seperti ini.

Sikap menyalah-nyalahkan masa lalu membuat kita lembam dalam menyikapi apa yang ada sekarang. Terlalu banyak alasan yang dibuat-buat manusia sehingga ia tidak mau mengembangkan diri. Padahal, segala pembenaran tersebut justru merupakan penghalang bagi manusia untuk memperbaiki diri.

Banyak orang memiliki kecerdasan yang cukup untuk membaca hasil penelitian bahwa orang yang memiliki growth mindset adalah orang-orang yang dapat memaksimalkan potensinya. Pola pikir ini berbasisikan pada sebuah keyakinan bahwa kesuksesan seseorang diukur dari upayanya, bukan semata karena bawaan lahir.

Tapi, orang-orang yang cukup cerdas untuk mengetahui pola pikir ini perlu melakukan reality check. Apakah mereka benar-benar yakin dengan pola pikir ini? Jika iya, mengapa mereka harus mengukur segala sesuatu dengan hal yang sudah kadaluarsa seperti, IQ? Mengapa mereka sibuk mempertanyakan apakah mereka cukup pintar atau tidak?

Semua soal usaha, mau atau tidak mau saja. Perkara kalau hasil akhir itu tetap ditentukan oleh hal-hal yang bersifat bawaan lahir, ya itu sudah hukumnya. Tapi, yang paling penting adalah memberikan diri kita kendali atas sesuatu.

Ketika kita menyalahkan apa yang terjadi dalam kehidupan kita pada faktor yang tidak dapat kita ubah, itu sama saja dengan membuat diri kita tidak berdaya. 

#3

Saya belajar banyak dari perjalanan studi doktoral saya. Saya berusaha untuk terus bertahan di dalam tekanan. Sering yang menciptakan tekanan adalah ketakutan-ketakutan dan pikiran kita sendiri.

Menjalani studi doktoral adalah membiasakan diri dengan kegagalan. Kegagalannya ya tetap menyakitkan. Berbulan-bulan setelah simulasi kita baru tahu bahwa ada kesalahan. Bertahun-tahun menjalani riset tapi hasilnya belum kelihatan.

Memang mudah untuk mengatakan, bagus kan yang penting sekarang sudah tahu salahnya di mana? Tapi kita tahu diri kita tidak benar-benar siap menerima itu. Kita manusia, kita perlu menerima emosi yang muncul dalam diri kita sewaktu-waktu. Kita terima saja kedatangan mereka.

Namun, setelah itu kembali ingat ke aturan #0, tidak ada yang perlu dipertahankan mati-matian di dunia ini. Termasuk studi doktoral. Termasuk citra diri kita di mata manusia lain. Termasuk segala ekspektasi kita.

Maka, dengan melalui proses-proses itu seseorang dapat menerima betul bahwa kesalahan yang mereka perbuat adalah bagian dari proses belajar.

Dan, saat itu terjadi sudah tidak jaman lagi menyalah-nyalahkan masa lalu.

Saya sendiri sering menjadikan blog saya sebagai sarana bagi diri saya untuk menerima emosi-emosi yang timbul. Tapi bukan berarti saya senantiasa mengikat diri saya dengan pengalaman-pengalaman itu. Memang, ada kalanya berbagi empati itu bagus. Tapi ketika itu membuat kita mengasosiasikan diri kita dengan keluhan dan hal-hal yang negatif, itu tidak baik.

Kita perlu mengakui adanya perasaan-perasaan tidak enak yang kita rasakan. Tapi kita tak perlu berpegang kepada mereka. Kita harus lepaskan.

Dan saya benar-benar tidak suka sikap menggandoli perasaan-perasaan seperti ini. Mereka hanya sementara, jangan dibuat-buat supaya jadi abadi.

#4

Mengakusisi pola pikir serta kebiasaan baru tidaklah mudah. Tidak ada yang instan. Butuh waktu, dan butuh masa transisi. Tapi, ketika perubahan itu terjadi, maka hidup kita akan berubah.

Dan, dengan itu kita tidak akan menjadi seperti orang gila yang berharap hidupnya lebih baik dari waktu ke waktu, tapi terus-terusan menjalani hidup dengan sikap yang sama.

#5

Banyak orang bilang melakukan perencanaan adalah hal yang sulit. Hal yang membutuhkan pemikiran orde tinggi. Tidak semua orang sadar bahwa penting untuk merencanakan mana hal yang penting dan mana yang tidak.

Namun, rupanya hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjalani masa kini dengan baik sesuai rencana tersebut.

Saya sendiri sampai sekarang masih berusaha mengubah banyak hal dari diri saya. Tentu dari waktu ke waktu saya gagal menjadi diri ideal yang saya inginkan. Tapi, saya melihat kemajuan di sana. Maka, saya berupaya mengupayakan fokus saya pada masa kini.

Mungkin saja sudah dua minggu saya gagal melaksanakan apa yang saya targetkan. Tapi, kuncinya adalah tidak menyerah dalam berusaha. Hari ini berusaha lagi, yang penting tidak menyerah sedari dalam pikiran.

Itulah yang disebut fokus pada sekarang. Bukan kemarin. Bukan mendatang. Dalam konteks kehidupan secara utuh, dunia dan akhirat.