Lima

#0

Tidak ada di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian, kecuali prinsip sejati. Banyak manusia berpikir bahwa mereka meyakini hal ini, tapi itu omong kosong belaka. Diri mereka tidak mencerminkan hal ini.

Dan saya, tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Saya selalu melakukan refleksi dari waktu ke waktu, seberapa kemajuan yang saya sudah buat dan apa-apa yang bisa saya perbaiki. Tidak mudah.

#1

Kehidupan ini adalah permainan belaka. Kita harus siap melepaskan apa yang kita punya sewaktu-waktu. Namun, bukan berarti kita tidak serius dalam melakukan permainan ini. Manusia memang tercipta demikian adanya. Merasakan gairah saat bertarung, saat mendapatkan tantangan.

Saat bertarung dalam berbagai kegiatan yang dijalaninya (bekerja, olah-raga, membaca, dll), manusia mengalami sebuah proses transendensi dalam skala kecil di mana dirinya larut dalam aktivitas tersebut. Ia menjadi fokus pada apa yang dijalaninya saat itu, melupakan hal yang lain, termasuk melupakan dirinya sendiri. Untuk sejenak manusia melupakan masalah-masalah hidupnya dan fokus dengan pertarungannya.

Dalam permainan-permainan itu, terkadang manusia menemukan rival dari sesamanya. Ada perbandingan-perbandingan yang dilakukan untuk semakin menghidupkan pertarungan itu. Ada komparasi, kompetisi. Namun, sejatinya, perbandingan itu bukanlah tujuan, melainkan sekedar sarana. Sarana agar seseorang mampu mendorong dirinya untuk menjadi lebih baik.

Adalah suatu kesia-siaan saat perbandingan ini dijadikan sebagai suatu titik akhir. Bodoh sekali jika manusia menjadikan perbandingan dan kompetisi dengan sesama sebagai titik akhir. Hal itu membuat dirinya kurang bersyukur dan banyak mengeluh.

Padahal, segala permainan di dunia ini kita jalani dalam rangka bersyukur.

Adalah suatu kesalahan besar pula bagi seorang manusia jika saat menyadari bahwa hidup ini adalah permainan belaka, ia justru menghindari permainan itu. Bekerja adalah sebuah sarana bagi kita untuk menjalankan misi hidup yang sejati. Dan, selama ada di dunia, kita pasti tidak lepas dari permainan itu. Memang begitu adanya.

Selama hidup di dunia, kita butuh makan.

#2

Saya tidak menyukai sikap menyalah-nyalahkan masa lalu. Banyak orang sebenarnya terjebak di masa lalu, tapi tidak sadar. Saya juga seperti itu. Dulu parah sekali bahkan, tapi sepertinya sekarang sudah berkurang intensitasnya. Dan makanya saya benar-benar tidak suka dengan sikap seperti ini.

Sikap menyalah-nyalahkan masa lalu membuat kita lembam dalam menyikapi apa yang ada sekarang. Terlalu banyak alasan yang dibuat-buat manusia sehingga ia tidak mau mengembangkan diri. Padahal, segala pembenaran tersebut justru merupakan penghalang bagi manusia untuk memperbaiki diri.

Banyak orang memiliki kecerdasan yang cukup untuk membaca hasil penelitian bahwa orang yang memiliki growth mindset adalah orang-orang yang dapat memaksimalkan potensinya. Pola pikir ini berbasisikan pada sebuah keyakinan bahwa kesuksesan seseorang diukur dari upayanya, bukan semata karena bawaan lahir.

Tapi, orang-orang yang cukup cerdas untuk mengetahui pola pikir ini perlu melakukan reality check. Apakah mereka benar-benar yakin dengan pola pikir ini? Jika iya, mengapa mereka harus mengukur segala sesuatu dengan hal yang sudah kadaluarsa seperti, IQ? Mengapa mereka sibuk mempertanyakan apakah mereka cukup pintar atau tidak?

Semua soal usaha, mau atau tidak mau saja. Perkara kalau hasil akhir itu tetap ditentukan oleh hal-hal yang bersifat bawaan lahir, ya itu sudah hukumnya. Tapi, yang paling penting adalah memberikan diri kita kendali atas sesuatu.

Ketika kita menyalahkan apa yang terjadi dalam kehidupan kita pada faktor yang tidak dapat kita ubah, itu sama saja dengan membuat diri kita tidak berdaya. 

#3

Saya belajar banyak dari perjalanan studi doktoral saya. Saya berusaha untuk terus bertahan di dalam tekanan. Sering yang menciptakan tekanan adalah ketakutan-ketakutan dan pikiran kita sendiri.

Menjalani studi doktoral adalah membiasakan diri dengan kegagalan. Kegagalannya ya tetap menyakitkan. Berbulan-bulan setelah simulasi kita baru tahu bahwa ada kesalahan. Bertahun-tahun menjalani riset tapi hasilnya belum kelihatan.

Memang mudah untuk mengatakan, bagus kan yang penting sekarang sudah tahu salahnya di mana? Tapi kita tahu diri kita tidak benar-benar siap menerima itu. Kita manusia, kita perlu menerima emosi yang muncul dalam diri kita sewaktu-waktu. Kita terima saja kedatangan mereka.

Namun, setelah itu kembali ingat ke aturan #0, tidak ada yang perlu dipertahankan mati-matian di dunia ini. Termasuk studi doktoral. Termasuk citra diri kita di mata manusia lain. Termasuk segala ekspektasi kita.

Maka, dengan melalui proses-proses itu seseorang dapat menerima betul bahwa kesalahan yang mereka perbuat adalah bagian dari proses belajar.

Dan, saat itu terjadi sudah tidak jaman lagi menyalah-nyalahkan masa lalu.

Saya sendiri sering menjadikan blog saya sebagai sarana bagi diri saya untuk menerima emosi-emosi yang timbul. Tapi bukan berarti saya senantiasa mengikat diri saya dengan pengalaman-pengalaman itu. Memang, ada kalanya berbagi empati itu bagus. Tapi ketika itu membuat kita mengasosiasikan diri kita dengan keluhan dan hal-hal yang negatif, itu tidak baik.

Kita perlu mengakui adanya perasaan-perasaan tidak enak yang kita rasakan. Tapi kita tak perlu berpegang kepada mereka. Kita harus lepaskan.

Dan saya benar-benar tidak suka sikap menggandoli perasaan-perasaan seperti ini. Mereka hanya sementara, jangan dibuat-buat supaya jadi abadi.

#4

Mengakusisi pola pikir serta kebiasaan baru tidaklah mudah. Tidak ada yang instan. Butuh waktu, dan butuh masa transisi. Tapi, ketika perubahan itu terjadi, maka hidup kita akan berubah.

Dan, dengan itu kita tidak akan menjadi seperti orang gila yang berharap hidupnya lebih baik dari waktu ke waktu, tapi terus-terusan menjalani hidup dengan sikap yang sama.

#5

Banyak orang bilang melakukan perencanaan adalah hal yang sulit. Hal yang membutuhkan pemikiran orde tinggi. Tidak semua orang sadar bahwa penting untuk merencanakan mana hal yang penting dan mana yang tidak.

Namun, rupanya hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjalani masa kini dengan baik sesuai rencana tersebut.

Saya sendiri sampai sekarang masih berusaha mengubah banyak hal dari diri saya. Tentu dari waktu ke waktu saya gagal menjadi diri ideal yang saya inginkan. Tapi, saya melihat kemajuan di sana. Maka, saya berupaya mengupayakan fokus saya pada masa kini.

Mungkin saja sudah dua minggu saya gagal melaksanakan apa yang saya targetkan. Tapi, kuncinya adalah tidak menyerah dalam berusaha. Hari ini berusaha lagi, yang penting tidak menyerah sedari dalam pikiran.

Itulah yang disebut fokus pada sekarang. Bukan kemarin. Bukan mendatang. Dalam konteks kehidupan secara utuh, dunia dan akhirat.

 

One thought on “Lima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s