Bias Pikir, Saat Manusia Berpendidikan Pun Gagal Melihat Konteks dan Bangga Dengan Pengetahuan Sopir

Setiap kali membuka facebook rasanya miris. Orang-orang yang kelihatannya berpendidikan tinggi atau jago di suatu bidang rupanya masih banyak yang nggak mengerti konteks.

Misalnya isu sains. Terkadang mereka terbawa pada bias pikir. Sebutlah kasus seorang peneliti alat pembasmi suatu penyakit. Banyak yang lantas berdebat, dan langsung main menyalahkan pemerintah. Padahal kita perlu lihat konten-nya.

Masyarakat Indonesia, termasuk yang pendidikannya tinggi, sering terbawa arus. Saat seseorang sudah playing victim misalnya, orang jadi buta. Masyarakat Indonesia, termasuk kaum terpelajar belum bisa adil dalam pikiran. Belum bisa memisahkan konteks personal dan konteks substansi.

Secara personal tentu saja kita harus respek pada siapapun, apalagi seorang saintis yang publikasi ilmiahnya banyak di-cite. Kita respek dengan kecerdasan beliau dan dedikasi beliau. Kita respek terhadap beliau karena beliau punya kemampuan, punya paten, dan karyanya dipergunakan lembaga luar negeri. Itu satu hal.

Tapi, saat kita menggali, apakah memang alat yang lain yang dibuatnya (beda dengan yang dia patenkan) benar-benar sudah memenuhi standar medis, tentu itu soal lain. Kita tidak bisa mengelabukannya dengan men-share daftar publikasi beliau, paten-paten beliau yang lain. Karena kita akan terjebak pada bias personal si orang tersebut. Bukan melihat dengan jernih apa yang dibuatnya. Seseorang mungkin hebat bikin drone, tapi kalau bikin pesawat kan belum tentu.

Dan karena medis ya ada aturannya. Mungkin akan ada perdebatan dan teori-teori konspirasi tentang bisnis kesehatan. Ya bisa jadi ada. Tapi sekali lagi harus juga dipahami konteksnya, sudahkah orang yang dibela benar-benar teruji alatnya?

Ya untungnya kasus yang heboh-heboh sebelumnya berujung damai yah. Akhirnya ada kejelasan juga bahwa penelitiannya tidak distop.

Banyak hal sih sebenarnya.

Orang Indonesia itu kadang bangga dengan pengetahuan sopir. Hanya bermodal kata-kata yang indah seolah dia tahu betul.

The truth is, kita nggak mungkin jago di semua bidang. Kita mungkin tahu kalau kita hanya sedikit tahu. Dan kita harus paham betul kondisi itu. Jangan karena ngerti dikit, kita sok-sokan tahu segalanya dan tahu kebenaran absolut. Itu nggak benar.

Apalagi kalau soal agama yah. Saya paling serem. Dan sekali lagi, ketidaksukaan saya dengan sikap seseorang bukan berarti membuat saya tidak respek dengan orangnya. Saya tahu banyak kenalan saya (kadang masih keluarga sendiri juga sih) yang baik sekali, suka menolong orang. Di bidangnya pun dia jago. Tapi kalau sudah di facebook seolah paling benar, dan paling ngerti agama. Tapi sepertinya mereka tidak sadar. Mereka mungkin merasa sudah melakukan hal yang mereka anggap benar.

Ya, respek dan berkasih sayang itu kepada seluruh alam. Tapi kalau sudah soal kebenaran ya nggak bisa ditawar ya. Gitu sih harusnya.

Mudah-mudahan saja saya tidak seperti itu. Mudah-mudahan kalau saya lalai ada yang segera mengingatkan. (Ya, tapi kalau saya sih nyadar diri aja kelakuan masih kacau hehe.)

APPENDIX – PENGETAHUAN SOPIR

Pengetahuan sopir (chauffeur knowledge) yang dimaksud adalah pengetahuan yang didapat dari memahami kulit luar suatu pengetahuan. Kenapa sopir? Karena suatu ketika sopir Max Planck, saking sering memperhatikan kuliah Max Planck bisa menghapal kuliahnya. Dia pun akhirnya mengajukan diri untuk memberi kuliah. Hadirin terkesima. Tapi, saat ditanya, ya dia nggak paham.

Contoh lagi adalah buku-buku tentang agama. Terutama aspek esoteris dari agama. Kadang saat membaca buku-buku tasawuf, kita tenggelam dalam keindahan isi. Bahasanya renyah dan mudah dicerna. Namun bisa saja, penulisnya sendiri mengakui bahwa dirinya baru sampai kulitnya saja, sedangkan di majelis yang berusaha mengamalkan tasawuf, benar-benar dikupas isinya sampai habis.

Ya, sama dengan Al-Quran ya. Yang benar-benar paham Al-Quran itu maknanya ya Rasulullah S.A.W, yang fisiknya Muhammad bin Abdullah. Karena pengetahuan sejati (wahyu) itu tentu diberikannya secara metafisik.

Oh iya, segala bentuk tulisan di blog ini juga levelnya masih pengetahuan sopir.😀

 

One thought on “Bias Pikir, Saat Manusia Berpendidikan Pun Gagal Melihat Konteks dan Bangga Dengan Pengetahuan Sopir

  1. Segala apaun yang salah kalau ego udah menguasai, jelas pasti membenarkan bagaimnapun caranya, coba tanyakan pada hati, saya yakin itu yang paling suci dari setipa insan itu, hati yang memang dikaruniakan tuhan sebagai pengadil dan pengendali diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s