Definisi Talenta serta Pertanyaan Bagaimana (Paralelisme Karir dan Cinta)

Dua minggu lalu saya bertemu dua orang teman Apprentice. Yakni Dannis (Traveloka) dan Imul (IBM). Dan seperti biasalah, ngobrol sama mereka isinya selalu sok serius tapi banyak ketawanya.

Obrolan bersama mereka juga menyinggung soal cinta. Maklum selain Imul, sisanya jomblo. Wkwkwk. Sampailah kita ngobrolin passion. Saya pun cerita, kalau sebenarnya biarpun saya berusaha mengerjakan riset saya dan cukup excited dengan topiknya, minat terbesar saya tetap saja hal-hal yang saya tulis di blog ini. Saya penasaran dengan banyak hal dan lalu suka menuliskannya. Dannis bilang kalau menurut Gallup

Talents are naturally recurring patterns of thought.

Kata Dannis, talent sama gift itu beda. Oh iya, obrolan juga sedikit dibumbui dunia digital. Seseorang bisa saja mengungkapkan minatnya di facebook seperti apa, tapi Google, dengan mudahnya dapat memberi tahu apa saja yang ia search tiap hari. Apa yang menjadi recurring patterns of thought, top of mind dari seseorang. Dan seseorang tidak dapat menipu dirinya sendiri. Selalu ada suatu aktivitas yang menghabiskan begitu banyak waktunya karena kecenderungan alamiahnya.

Masalah talent, gift, passion, ini memang salah satu masalah hot bagi orang seumuran kami. Saya sendiri termasuk selalu penasaran dengan topik ini sehingga banyak juga baca buku yang berkutat seputar “Mastery”, “Deliberate Practice”, dan lain-lain.

Saya percaya sih, pada prinsipnya manusia itu ‘elastis’. Keahlian itu bisa muncul dari jam terbang. Tapi bukan jam terbang yang sembarang jam terbang, melainkan jam terbang yang dari waktu ke waktu meningkatkan level kemampuan kita (saya pernah sedikit menuliskan dalam tentang current limit, stretch limit, dan gift di tumblr). Istilah umumnya “deliberate practice”, yakni latihan dengan menu khusus supaya skill meningkat. Pada saat latihan mungkin menderita, tapi hasil akhirnya akan memberi kebahagiaan.

Saya pertama mengenal istilah “deliberate practice” ini saat membaca buku So Good They Can’t Ignore You, yang merupakan buku contrarian dengan hipotesis bahwa kita harus mencari passion kita. Dia justru mengatakan bahwa berpikir bahwa kita punya pre-existing passion dan ada pekerjaan ideal yang sesuai dengan passion itu berbahaya. Dia justru menyarankan untuk membangun craftsmanship mindset. Membangun karir yang remarkable berbasis kompetensi.

Banyak yang mengaitkan passion dengan flow. Yakni sesuatu yang ketika mengerjakannya orang tersebut merasa asyik. Bukan sesuatu yang dia jago, tapi yang dia asyik mengerjakannya. Cal Newport berpendapat bahwa manusia Bahkan Cal Newport ini nampaknya kontra dengan konsep “flow” dari Mihaly Csikszentmihalyi. Dia berargumen di blognya bahwa flow itu menyenangkan, dan deliberate practice tidak.

Terlepas dari definisi yang ada dan pandangan orang-orang, saya mah justru melihat konsep flow sendiri sebenarnya merupakan deliberate practice. Karena poin penting dari “flow” adalah, suatu aktivitas harus cukup sulit sehingga tidak membosankan, tapi tidak terlalu sulit sehingga membuat kita frustrasi. Flow adalah kondisi saat manusia beraktivitas sampai ia kehilangan kesadaran diri. Bukan kehilangan dirinya dan bukan kehilangan kesadarannya. Tapi kehilangan kesadaran diri. Dan setelah aktivitasnya selesai, justru ada sebuah perkembangan di sense of self.

"Flow" concept by Mihaly Csikszentmihalyi

 

Flow inilah yang menurut si Pak Mihaly sudah ada aktivitasnya sejak jaman dahulu kala. Dan ia melihat bahwa inilah kunci kebahagiaan. Sebab dengan segala keberlimpahan di jaman ini, masih banyak manusia tidak bahagia. Maka flow ini kuncinya. Itulah kenapa seniman dan peneliti suka mengerjakan pekerjaannya meski mungkin tidak banyak yang mengapresiasi atau tidak banyak uangnya juga di jaman sekarang.

Ya, rupanya baik konsep deliberate practice maupun flow, tidak berbicara tentang apa pekerjaannya. Tapi bagaimana mengerjakannya. 

Ini mengingatkan saya akan bagian pendahuluan dari The Art of Loving-nya Erich Fromm. Mencari cinta itu terkadang bukan melulu soal siapa, tapi soal bagaimana kita mencintai. Ketika kita fokus pada apa, artinya kita meyakini bahwa di luar sana ada seseorang yang ditakdirkan cocok dengan kita. Sehingga ketika merasa tidak cocok dengan seseorang, maka kita tidak berpikir untuk mengubah cara kita mencintai.

Namun, Erich Fromm juga mengatakan bahwa terkadang manusia salah mengartikan cinta dengan kesendirian. Dengan kesepian yang dirasakan akibat keterpisahan dengan manusia lain.

Secara umum, Erich Fromm berusaha menyampaikan bahwa mencintai adalah Seni. Dan ketika cinta menjadi seni, siapkah seseorang untuk benar-benar mendedikasikan waktu, mencurahkan perhatian dan upayanya untuk belajar mencintai? Sebab seorang musisi, pelukis, mereka senantiasa mencurahkan kehidupannya untuk belajar membuat karya yang lebih indah.

Ya, lagi-lagi ada paralel di antara karir dan cinta. Bahwa rupanya keduanya tidak melulu tentang apa, tapi juga tentang bagaimana.

Tapi biar bagaimanapun kehidupan tetap menyimpan misteri. Kalau semuanya soal jam terbang dan latihan, kenapa tidak semua orang jadi sejago Messi? Atau Ronaldo.

Ya akhirnya tetap ada final limit. Tetap ada gift. Tetap ada natural gift, natural limit dari seseorang.

Lantas, bagaimana menyikapinya? Bagaimana kita-kita yang terjebak dalam quarter life crisis ini menyikapinya?

Saya sempat berdiskusi dengan ibu saya tentang passion-passion-an ini. Dan sepertinya formula terbaik masih merupakan formula yang diberikan Cal Newport:

  1. Jalani pekerjaan yang ada di depan mata, berusaha sebaik mungkin meningkatkan kompetensi.
  2. Dengan meningkatkan kompetensi, nilai kita bertambah.
  3. Jika sudah bertambah, perlahan kita bisa bergeser dan mencari titik-titik transisi untuk menuju pekerjaan yang kita inginkan (yang kita anggap sesuai dengan passion sejati kita)

Saya waktu itu berbincang dengan Ichsan di depan takashimaya. Ichsan bercerita tentang perjalanan karirnya saat ini. Dan menariknya apa yang dia alami menggambarkan bahwa sebenarnya dia sudah memiliki value.

Apa ukuran value? Ukuran sederhananya adalah uang. Di sini kita menjadikan uang bukan sebagai tujuan akhir, tapi semata-mata sebagai indikator netral suatu nilai. Menjadikan uang kembali ke khittah-nya sebagai alat tukar.

Oiya, biasanya ketika seseorang punya value. Orang akan menaruh kepercayaan, sehingga dia diberikan otonomi. Tapi, tentu dari otonomi tersebut harus bisa lahir produktivitas yang menjaga atau meningkatkan value. Tanpa hal itu, kepercayaan bisa hilang.

Kepercayaan bisa muncul saat kita memenuhi ekspektasi atau melampaui. Kecuali anda mau pakai cara gila: perform super buruk tapi tidak terlalu buruk hingga anda dipecat; setelah itu ekspektasi kepada Anda akan rendah; lalu bekerjalah maksimal sehingga jauh melampaui ekspektasi; kepercayaan yang ada akan tinggi.

Ya, tapi ya kepercayaan itu lagi-lagi sulit membangunnya tapi sederhana untuk menghancurkannya.

Tapi tetap yah, sebagaimana kita berpikir tentang kehidupan, ujung-ujungnya kita akan bertanya, apa pendapat agama kita tentang hal ini?

Menariknya baru-baru itu saya mendapat kiriman dari ibu saya tentang apa kata Guru saya soal masalah ini. Jadi aja saya tunjukin ke Ichsan dan dia minta diforward. Walaupun ada pertanyaan juga, kenapa ‘Atletico Madrid’ ?

Yah, karena sudah lelah juga menulisnya, saya akan tutup dengan pesan dari Guru saya.

 

KERJA KERAS, TARGET TINGGI & BAHAGIA

Kehidupan yg penuh.
Kita jangan hidup merugi, kita me$ti memak$imalkan nya. I$lam menyatakan orang yg paling baik itu bermanfaat. Orang yg bermanfaat jelas bekerja kera$. Berpangku tangan jela$ tdk mungkin bermanfaat. Kerja kera$ lah. Hal lain nya, berpangku tangan, banyak waktu $enggang, bukan keadaan yg menyenangkan, wkt $enggang adlh wkt yg membuat kita galau. Pera$aan galau menghampiri orang yg banyak wkt $enggang. Menghindari wkt $enggang, kerja keras lah. Tdk ada capaian, tdk ada pre$ta$i membuat Kita mera$a ko$ong, tdk ada yg mau dicapai, tdk ada yg mau diwujudkan, membuat pera$aan diri tdk berguna, itu menyakitkan. Bila ada $e$uatu yg ingin kita capai kita ber$emangat dan mera$a berguna, itu membuat Kita bahagia. Kerja kera$ lah. Kerja kera$ memberikan pengalaman, pengalaman memberikan Kita kemampuan, kepercayaan diri, $ahabat2 yg banyak, wawa$an yg luas. Poten$i terpendam kita keluar, bila Kita bekerja dengan target tinggi.$emua itu membuat kita menjadi orang yg bi$a diandalkan. Kita lebih mudah mengata$i ma$alah kehidupan dan bahkan menjadi $olu$i bagi banyak orang. Kerja kera$ lah. Hidup lamban, tanpa $emangat, membuat hati galau, dijauhi orang karena org tdk $uka berteman dengan orang galau. biasanya org yg tdk bekerja kera$ galau, rezeki pun pas pa$ an, memang begitu kecenderungannya, maka kerja kera$ lah. Kita perlu kerja kera$ dengan niat ibadah agar hidup kita penuh, tdk sia-sia. Dikantor Kita, Kita perlu menentukan target yg tinggi, jangan mau diberi target rendah, target yg rendah membuat Kita tdk bekerja keras. Membuat kerugian2 diri yg diuraikan diata$ tadi menerpa kita. Jangan mau bekerja dikantor2 yg $antai, yg rendah kinerjanya. Tinggalkan kantor2 yg berkinerja rendah. Kita $emua haru$ bekerja keras, Kita dorong kantor2 kita agar berkinerja tinggi, jangan Kita menjadi manu$ia yg merugi, yg menumpang lewat dibumi tanpa membuat kebaikan apa apa.

Kita mengahindar dikelilingi oleh2 org yg tdk ber$emangat, tanda2 mereka, tidak $ibuk, target tdk tercapai, mengeluh, pe$imi$ dan bergunjing n $ifat negatif lainnya. Kelesuan mrk menular. Membuat kita $ama dengan mereka, tdk bahagia dan tdk produktif. $krg kantor2 Kita, teman2 Kita, lingkungan Kita, hr$ dibersihkan dari ciri2 $prti itu. Target tinggi yg Kita pasang adalah penyaring mema$tikan hanya orang2 $emangat yg berbahagia yg ada dalam team (teman2) kita. Kita perlu energi positif. Target tinggi bukan $e$uatu yg ditakutkan, tapi tanda2 passion (kebahagiaan). atletico madrid tdk mungkin dii$i oleh orang2 yg tdk bahagia. Mrk bukan menderita dengan latihan mereka, tapi mereka bergairah bahagia dan menang,

ABU ~ 19/01/15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s