There Are Exceptions That Prove The Rules

Saya ingin menuliskan sebuah renungan WC yang singkat (meski kalau ditulis rupanya lumayan) tentang pattern recognition dan survival manusia. Ya, agak disambungin dikit juga deh sama kehidupan PhD student dan seputar Artificial Intelligence.

“But heuristics come and go, while theorems last for eternity” -Juergen Schmidhuber

Saya sedang suka dengan premis yang menjadi judul tulisan ini. Ide ini seolah melengkapi ketidaksempurnaan manusia (maupun ciptaannya) dalam membaca pola-pola yang ia temui sehari-hari. Sekeras apapun tekad manusia untuk menurunkan entropi (kadar kekacauan) dalam semesta pengalaman subjektif yang dia alami, keteraturan ideal tidak akan tercapai.

Pattern recognition, tidak dapat dipungkiri, merupakan salah satu kemampuan terpenting yang dimiliki manusia. Kemampuan ini pula yang membuat manusia dapat lolos dari seleksi alam sampai sekarang.

Pada mulanya semua hal di dunia ini seolah acak. Pikiran manusia pun memiliki kecenderungan kepada kondisi chaos. Saat melamun, segala permasalahan yang mendesak akan muncul di pikiran.

#1

Beruntung, manusia memiliki kemampuan untuk melihat pola di alam. Perlahan tapi pasti, umat manusia dapat menyesuaikan diri dengan fenomena alam yang awalnya seperti begitu acak. Manusia perlahan mulai mendapatkan kendali (meski terkadang semu) atas hal-hal yang terjadi di alam. Ilmu pengetahuan pun berkembang.

Dalam biografi Stephen Hawking misalnya, disebutkan bahwa Hawking menyukai fisika karena ada unsur ‘kontrol’. Unsur kontrol yang dimaksud adalah pilihan-pilihan saat dia berupaya merumuskan hukum di alam. Tapi, tentu saja hukum-hukum itu memang sudah ada di alam. Ketika rumusannya pas, ya sebenarnya bukan Stephen Hawkingnya yang menciptakan hukum alam.

Namun, ya seperti halnya statistik yang membutuhkan jumlah sampel yang banyak agar semakin akurat, pengetahuan manusia pun begitu. Butuh untuk memperhitungkan lebih banyak faktor, sehingga pola yang dikenali berfungsi secara umum.

Hal ini menyebabkan keterbatasan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Selama perjalanan peradaban umat manusia, apakah manusia lebih pintar? Mungkin tidak. Hanya saja, manusia memiliki alat ukur yang lebih akurat, sehingga fenomena yang diamati lebih menyeluruh. Dari yang tadinya, mengenali benda angkasa dengan mata telanjang, lalu teleskop, hingga akhirnya menggunakan radar yang dapat menjangkau tempat-tempat yang bahkan tidak dapat dijangkau oleh manusia di era kini.

#2

Beruntung pula, manusia memiliki suatu bentuk kesadaran yang berbada dari binatang-binatang. Manusia memiliki akal yang dapat mengolah pengalaman yang dialaminya. Dengan latihan-latihan mental, manusia dapat mengupayakan keteraturan dalam pikirannya meskipun kecenderungan dari pikirannya adalah ke arah kekacauan.

Dengannya kesadaran ini, manusia dapat mempelajari bagaimana agar kenyamanan hidupnya terjaga. Dari situlah muncul kebiasaan. Muncul sebuah norma. Normalcy. Dan akan tetap demikian sampai timbul lagi kekacauan.

Hal ini secara makro dapat kita amati dalam perjalanan peradaban manusia. Dari yang tadinya berburu, kemudian bercocok tanam, era pre-industri, era industri, hingga era digital seperti sekarang.

Mengapa revolusi itu tidak terjadi terus menerus? Karena untuk mengubah normalcy, dibutuhkan gaya yang tidak sedikit. Dalam skala mikro, kita dapat mengamatinya dalam kebiasaan yang telah diadopsi menjadi sifat kita. Dengan kehidupan yang sudah teratur dan mudah diprediksi, kita menjadi nyaman dengan kebiasaan yang kita punya. Dan, untuk mengubahnya dibutuhkan tidak hanya kekuatan tekad, tapi juga kekuatan mental, dan kekuatan fisik.

Entah bagaimana, dunia ini terus berubah. Ketidakteraturan selalu ada, dan manusia lagi-lagi berupaya untuk berkembang. Ketika dorongan yang ada cukup besar, dapat terjadi perubahan kultur yang berarti perubahan normalcy secara kolektif dari sekelompok atau bahkan banyak kelompok manusia.

Proses internal manusia yang seharusnya digunakan untuk mengontrol kualitas pengalaman subjektif terkadang justru didikte oleh gagasan-gagasan yang tidak berguna untuk kebahagiaan manusia. Jaman dulu orang bekerja ya kalau mau bekerja saja. Bekerja adalah bagian dari survival, sekaligus bagian dari kesenangan hidup. Jaman dulu berburu itu bagian dari survival, tapi manusia juga senang berburu. Lihat saja sampai sekarang manusia modern juga masih senang berburu kan?

Tapi, coba pikir, jaman sekarang orang bekerja lebih dari apa yang dia butuhkan. Terkadang demi mengejar target-target eksternal, manusia bekerja hingga menjadi robot. Itu karena manusia merasa ada kekacauan dalam hidupnya. Jika ia tidak punya mobil, artinya ada yang salah. Hal ini terjadi karena dia melihat orang-orang yang sukses itu katanya yang punya banyak mobil.

Ironis.

Thomas Kuhn, seorang fisikawan yang berubah menjadi filsuf dan sejarawan sains, membagi aktivitas sains menjadi dua jenis. Aktivitas sains normal yang sifatnya memecahkan puzzle, serta revolusi sains yang membawa sebuah pergeseran paradigma.

Sains normal itu bergerak berdasarkan model dan kerangka kerja (paradigma) yang matang pada suatu masa. Paradigma itu akan dipakai selama hasil dari observasi masih berkait dalam koridor paradigma itu. Artinya, segala fenomena acak itu bisa dilihat keteraturan polanya dengan paradigma tersebut.

Namun, ada kalanya paradigma itu tidak cocok lagi. Atau muncul paradigma baru yang bisa menjelaskan semuanya. Ketika menemukan suatu fenomena yang tidak bisa dijelaskan, maka manusia jadi tahu bahwa ada aturan lain yang dapat menjelaskan fenomena itu.

(There Are Exceptions That Prove The Rules)

Maka, butuh revolusi paradigma. Revolusi aturan. Dan ada harga yang harus dibayar untuk sebuah revolusi. Seperti halnya saat manusia berpindah dari model geosentris-heliosentris, atau mekanika Newton ke mekanika relativistik. Tidak mudah.

Energi pikiran yang dikeluarkan untuk menggeser suatu paradigma jauh lebih besar ketimbang menyelesaikan sains sehari-hari. Sebab ia membutuhkan imajinasi dan upaya untuk melakukan konstruksi meski pola-pola yang diamati belum memiliki sampel yang cukup.

Dalam skala mikro (sains sehari-hari), harga sebuah paradigma ini pun besar. Misalnya saja, saya dalam melakukan simulasi, lebih suka untuk mengutak-atik parameter saja. Coba dengan berbagai skenario, dan cari settingan (atau pengaturan) terbaik. Heuristik. Itu lebih mudah ketimbang saya harus memikirkan sebuah kerangka kerja baru, atau mengeksplorasi paradigma baru. (Karena pada praktiknya tinggal ganti angka, dan jalankan program lalu kita bisa nonton youtube)

Tapi, ya kembali ke masalah ketidakterauran itu tadi. Ada kalanya memang kita harus mengeksplorasi paradigma dan pola pikir baru.

Ya bisa saja sih kebetulan kita mencoba bergerak di paradigma yang lama. Pakai brute force untuk melakukan pengaturan. Dan ternyata cocok. Tapi, kita tentu tahu bahwa itu adalah bentuk dari premis yang menjadi judul postingan ini. Ada pengecualian, tapi itu bukan kewajaran, bukan hukumnya. Mekanika Newton ya berlaku untuk yang gerakannya lambat. Tapi, kalau nggak pake relativitas, GPS kita juga nggak akurat mungkin.

(Yup. There Are Exceptions That Prove The Rules)

Ya.. rupanya dengan cara yang itu-itu aja ya hasilnya segitu-segitu saja. Mentok.

Makanya Einstein bilang kalau melakukan hal yang sama dan mengharapkan hasil yang beda itu gila. Dan rupanya untuk menjadi waras itu butuh energi lebih. Tidak ada kata settle dalam hidup ini. Kita harus melakukan sesuatu agar hidup kita terus jalan, sebagaimana kita akan tenggelam kalau kita tidak berenang.

Nah, ketika kita mencari sebuah teorema baru artinya kita perlu merekonstruksi simbol-simbol yang merepresentasikan suatu fenomena alami. Dalam bidang saya misalnya, beberapa super-resolution technique untuk mengestimasi parameter, pada hakikatnya mencoba mencari solusi atas fenomena yang sama dengan ide yang sama. Ide awalnya kebanyakan adalah: apa yang terjadi saat kekuatan sinyal dibandingkan dengan derau (Signal to Noise Ratio) bernilai tak berhingga. Dengan kata lain, saat hanya ada sinyalnya saja. Tapi, ide ini dikemas dalam berbagai bentuk. Dalam simbol-simbol matematika yang berbeda. Dalam bahasa berbeda.

Inilah yang menarik dari manusia. Manusia dapat menciptakan bahasa. Dan itu yang membuat manusia berbeda. (Bahkan orang-orang curiga, homo sapiens sapiens membuat homo neanderthalensis punah karen terus-terusan mengajak bicara). Manusia memiliki kesenangan untuk membuat simbol atas hal-hal abstrak yang dia temukan. Dengan kata lain, lagi-lagi mencoba membuat keteraturan atas ketidakteraturan yang dia temui. Mencari pola, dan merepresentasikannya dengan simbol-simbol. Meski terkadang adanya bahasa dan segala simbolisasi ini juga kadang membawa ambiguitas a.k.a kekacauan dan ketidakteraturan, secara umum penggunaan simbol-simbol ini mampu mengemas pengetahuan manusia sehingga dapat berkembang dan di-estafetkan. (There Are Exceptions That Prove The Rules)

Dan dalam sains, bahasanya adalah matematika. Metode-metode yang kalau dirunut memiliki akar dan basis yang sama bisa diibaratkan seperti cerita atau novel yang berbeda-beda dengan pesan moral atau inti cerita yang sama.

Kisah yang diangkat suatu cerita berbeda-beda, tapi ekstrak akhirnya adalah kebijaksanaan. Itulah intisari yang dikejar manusia. Kadang ada kisah yang super absurd, dan benar-benar anti-mainstream. Tapi, ya kebijaksanaannya tetap sama.

(There Are Exceptions That Prove The Rules)

Sampai hari ini manusia masih berupaya mencari keteraturan. Termasuk mencoba menciptakan prediksi atas perkembangan peradabannya sendiri.

Dewasa ini perhatian kembali tercurah pada Artificial Intelligence. Ini bukan kali pertama manusia begitu berapi-api soal AI. Ada beberapa periode di mana AI menjadi suatu bidang yang memberikan optimisme lalu redup lagi.

Memang benar, ada komputer yang sudah bisa mengalahkan manusia dalam catur, atau bahkan dalam sebuah kuis. Program yang sangat bagus dalam memahami bahasa manusia pun sudah ada. Bahkan, program yang setiap hari mengumpulkan tindak-tanduk kita yang tercatat di dunia maya pun ada, sampai pada titik di mana minat kita bisa dipetakan.

Namun, kembali lagi, dibutuhkan adanya suatu paradigma yang dapat membingkai kecerdasan buatan menjadi suatu kecerdasan yang komprehensif menyerupai manusia. Karena kalau tidak, bagaimana mungkin manusia berangan-angan untuk dapat menciptakan mesin yang akan memecahkan misteri semesta alam?

Dengan mencoba mengekstrapolasi perkembangan teknologi, banyak manusia optimis bahwa kelak manusia akan ke Mars. Robot akan menjadi semakin canggih, hadir di mana-mana dan menggantikan pekerjaan manusia.

Tapi, kembali lagi, manusia bisa berupaya memprediksi masa depan. Dan prediksinya mungkin bisa cocok untuk jangka waktu tertentu. Hal ini, yang lagi-lagi kombinasi pikiran deduktif-induktif, menimbulkan adanya kesan bahwa manusia memegang kendali atas alam dan nasibnya. Sehingga manusia berpikir bahwa cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan membuatnya.

Padahal kembali lagi, manusia tidak se-dewa itu. Seberapa besar kekuatan pikiran manusia sih? Listrik yang ada nggak segitu besarnya sih yang sampai bisa menghidupi kebutuhan listrik satu kampung. Tapi, kekuatan itu cukup besar untuk dapat mengubah paradigma seseorang, mengubah kebiasaannya, dan memberi impact.

Dan tentu soal prediksi-memprediksi ini selalu jadi kontroversi. Ada yang pesimis. Ada yang optimis. Ada yang memilih salah satu karena memang tahu. Ada juga yang ikut-ikutan. Ada juga yang asal aja nggak pake mikir. (Jadi inget waktu menghadiri seminar yang isinya peraih-peraih Nobel, dan berdebat tentang masa depan sains)

Pada akhirnya berpikir adalah suatu hal yang paling utama yang dimiliki manusia. Berpikir, sekaligus merupakan hal yang paling sulit (makanya AI yang bener-bener bisa mikir dan bertambah bijak selayaknya manusia belum bisa-bisa dibuat.. meski dari dulu orang selalu optimis).

Ya, dengan berpikir lah manusia dapat membaca tanda-tanda yang ditemuinya. Dengannya ia dapat menemukan pola-pola. Mencari keteraturan di tengah segala fenomena acak. Dan dengannya pula manusia bisa mengatur sistem internalnya sehingga kualitas hidupnya terjaga.

Tapi, yang perlu diingat, sekali lagi: pola-pola itu berbahaya. Indera kita terbatas. Sehingga bisa saja kita sedang menemukan sebuah pola besar. Kita menemukan sebuah hukum, dengan menyingkirkan hal-hal yang tidak kita tahu atau tidak kita jangkau. Lantas, kita berpikir itu sebuah kebenaran?

Dan, bisa saja hal-hal yang kita anggap sebagai aturan umum, sebenarnya merupakan sebuah pengecualian dalam realitas atau alam lain yang lebih bersifat general.

Ya, makanya yang perlu kita ingat adalah: pencarian kebenaran tidak final. Tak perlu merasa benar sendiri.. karena:

There Are Exceptions That Prove The Rules

Sama kayak kalau kita mau sukses, konon katanya harus cari role model. Amati karakternya, pola-pola dan kebiasaannya. Tiru. Maka kita akan sukses.

Tapi, sejauh apa kita dapat meneladani hal-hal yang membuat seseorang sukses. Bisa jadi kita sudah menemukan rule umum tentang hal yang mengantarkan dia menuju sukses. Tapi, rupanya, ada hal-hal yang belum kita perhitungkan karena tidak dapat kita akses, dan rupanya, itulah hal yang terpenting yang membuat orang itu sukses. Bisa jadi.

Maka, ujung-ujungnya balik lagi.

There Are Exceptions That Prove The Rules

Ya. Manusia dengan kemampuan pattern recognitionnya bisa bertahan sejauh ini. Tapi, pertanyaan paling sulit bagi manusia tetap merupakan pertanyaan “Mengapa?” Sebab rupanya ia tidak selalu bisa dijawab dengan mengenali pola.

Pertanyaan “Mengapa?” adalah hal yang paling dihindari oleh sains. “Mengapa” hukum-hukum di alam demikian? Lantas, jika ditambah dengan paham antropik, manusia jadi menjawab hukum di alam tercipta demikian supaya kita bisa mengamatinya.

Nanti, yang susah kalau semua-semua sudah diukur dari apa kebermanfaatannya untuk manusia. Manusia menjadi berpikir dan terlalu mengagungkan dirinya sendiri. Yang susah kalau semua diukur dengan inderanya yang terbatas, dari masuk akal atau tidaknya sesuatu berdasarkan pemahamannya sendiri.

Misalnya, dalam agama, ada saja pertanyaan. Memang betul, ada hal-hal yang dapat dijelaskan sebagai kebermanfaatan manusia. Bahkan mungkin bisa dibuktikan secara eksperimen. Tapi, tentu ada hal-hal yang sifatnya di luar jangkauan, atau mungkin kita belum sampai ke sana. Dan, pastinya semuanya tidak perlu diukur dari manusia-sentris, meskipun tak jarang hal-hal itu memang ada untuk manusia sendiri.

Ya, ngerti kan sekarang kalau berpikir itu hal yang susah?

Baiklah, saya mau tutup saja dengan quote ini. Quote ini mengingatkan saya pada perjalanan hidup saya ketika saya terus-terusan bertanya tentang “mengapa” dan “mengapa”..

Kita tau dan percaya pada kitab suci, kita hampir setiap hari membaca kisah seperti Steve Jobs. Jelasnya kita tau persis bahwa cara yg paling ARIF bersikap selama di dunia adalah HARUS 100% bersikap seperti yang disampaikan dan di contohkan oleh Rasulullah SAW. Tapi entah kenapa, tetap saja kita masih bersikap tamak, culas, tinggi hati dsb. Astagfirullah

YM Abu
31/10/15
14.11 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s