Yang Tak Berhuruf

Saya sudah diberi tahu, nanti setelah melakukan perjalanan, wawasan saya akan bertambah. Bukan melalui kata-kata, tapi melalui rasa. Dan benar saja, menjelang pergantian tahun baru, saya merasa begitu banyak yang saya dapatkan. Ingin saya menuliskannya, tapi saat jurnal warna cokelat muda dan sebuah bolpen ada di atas meja makan kereta, saya tak tahu bagaimana menuliskannya.

20160107_140102.jpg

Selalu ada hal menarik setelah melakukan perjalanan. Akhir tahun 2014 misalnya, saya berada di bandara Soekarno Hatta. Saya melakukan tawar-menawar dengan beberapa sopir taksi dan tukang ojeg. Setelah berputar-putar dan tak bertemu harga yang cocok, saya malah kena semprot sopir-sopir taksi. Cerminan manusia yang gagal mengendalikan nafsu hewani.

Lantas, saya ke tempat lain sembari teringat akan Guru saya. Tak lama kemudian, seorang sopir taksi ilegal datang. Entah mengapa saya setuju saja dengan tarif yang dia berikan meskipun tadinya saya berusaha mencari yang lebih murah. Setelah sampai di dalam mobil, ada jaket dengan label majelis dzikir tertentu. Kami pun berbincang banyak hal seputar majelis dzikir. Lucunya adalah, sopir taksi tersebut rupanya mengenal sosok Pak X. Pak X pernah men-carter si sopir ini selama dua hari. Kebetulan sekali, mengingat beberapa jam lalu di Medan, saya mencoba mengambil hikmah dari kisah Pak X.

Yang lucu yah, ada statemen dari si sopir taksi seperti ini.

Wah, tapi Pak X itu dhoif Mas. Dhoif. Istrinya dua kan. Dhoif dia

Ya, saya ketawa aja lah.

Iya nih, tapi saya udah nggak ngaji lagi Mas. Ini cicilan mobil juga berat.

Dari obrolan bersama sopir taksi itu, saya kembali diingatkan bahwa hidayah adalah urusan Tuhan. Dan, adalah lebih baik bagi kita untuk senantiasa mengedepankan urusan akhlak (Kalau sudah sampai saatnya mungkin dua orang yang tadinya berbeda pendapat pun akan tiba di tempat yang sama). Sehingga adalah lebih penting bagi diri kita untuk senantiasa fokus pada diri sendiri dan bukan orang lain (termasuk memikirkan nasib orang lain seperti apa pun tidak perlu sebelum kita menyelamatkan diri sendiri dulu [At-Tahrim ayat 6]).

Banyak orang mengiyakan bahwa akhirat itu penting, tapi tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh sekuat daya dan upaya untuknya. Sedangkan untuk dunia, manusia rela mati-matian mengejarnya dan menjadikannya tuhan-tuhan yang lain di kepalanya. (Mudah-mudahan kita diberikan kekuatan untuk senantiasa mengingat betapa pentingnya akhirat dan diberi daya untuk memperjuangkannya).

Dari perjalanan di akhir tahun kemarin, saya disadarkan tentang bahaya tuhan-tuhan yang lain yang ada di kepala kita. Bahwa rupanya dulu saya sering mempertuhankan pikiran dan ego saya. Membuat mereka jadi berhala di kepala.

Saya juga tersadar bahwa, bahkan selama setahun ke belakang, mindset saya masih belum mindset seorang muslim. Hal ini tercermin dari apa-apa yang senantiasa ada di pikiran dan di angan-angan saya. Semua itu menjadi nampak nyata bagi saya. 

Saya juga tersadar betapa kehidupan di dunia ini penuh dengan ornamen. Ornamen-ornamen itu bisa mengelabui dan melenakan. Namun, jika kita dapat memaknainya sesuai tuntunan Al-Islam, mereka menjadi keindahan tersendiri dalam penghambaan kita kepada-Nya.

Passion. Selama ini banyak orang mencari panggilan hidup-nya yang sejati. Dan, saya baru menyadari dengan gamblang bahwa panggilan hidup yang sejati dari seorang manusia tidak ada yang lain, illa-liya’buduun [Ad-Dzariyat ayat 56]. Selebihnya, hanyalah ornamen kehidupan. Hanya bonus yang diberikan atas pengabdian. Sedang tugas kita, mengharapkan keridhoan-Nya [Al-Lail ayat 20].

Tentu kita perlu mengingat kembali tentang Isra’ Mi’raj, walaupun implisit, tapi secara gamblang, manusia yang berpikir dapat menarik kesimpulan bahwa hakikat hidup ini adalah shalat (50 kali sehari). Mendirikan shalat untuk mengingat-Nya [At-Thaha ayat 14]. Mengingat Allah di segala situasi [Ali Imran ayat 191] (secara mikro, aktivitas sehari-hari manusia ya kalau nggak duduk, berdiri ya berbaring. kecuali kalau lagi kayang. secara makro, manusia beraktivitas dengan berdiri di masa mudanya, lalu mulai duduk, lalu akhirnya hanya bisa berbaring).

Nah, pertanyaannya, sudahkah hari-hari kita jalani untuk menyembah-Nya? Sudahkah kita berlatih untuk menjadi manusia sejati yang siap menghadapi kematian. Untuk menghadapi dunia kerja saja kita rela sekolah lama-lama. Bagaimana untuk kerja akhirat? Sudahkah kita melatih diri kita, baik jasmani dan rohani untuk mengingat-Nya (Maukah kita menyambut kematian tanpa ilmu tentangnya?)

Berapa usia kita? Selama usia itu, berapa persen kita sudah menjadi manusia sejati? Berapa persen kita telah menjalani panggilan hidup kita? Jangan-jangan kita hanya manusia jadi-jadian. Berpura-pura jadi manusia padahal cuman wayang hidup.

Maka dari itu kita perlu berlatih untuk menjadi manusia seutuhnya. Dan hukum akhirat pun sama seperti dunia, perlu diperjuangkan. Perlu mujahadah. Aneh namanya, kalau kita berharap akan ada perpindahan, tanpa mau memberikan gaya. Kalau sudah hukum fisika ya itu yang berlaku, tak peduli kita percaya atau tidak percaya.

Dan, memang tak bisa ujug-ujug kita jadi manusia seutuhnya. Kalau tadinya kita ini banyak maksiat, jarang mematuhi perintah-Nya, dan sering mempertuhankan pikiran sendiri, kemungkinan agak susah kalau kita mau langsung beribadah selayaknya orang-orang shalihin dan shiddiqin, apalagi mau jadi malaikat. Step-by-step, tapi sungguh-sungguh. Sepertinya itu kuncinya ya.

Lagipula, ya memang manusia tempatnya lupa dan salah. Kalau manusia nggak salah, kita naik pangkat jadi malaikat.
لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللََّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka. [HR. Muslim]

Dan ingat, dosa itu diampuni kecuali dosa syirik. Makanya mempertuhankan ego dan pikiran itu bahaya. Ingat, tidak masuk surga orang yang punya kesombongan, karena kesombongan itu syirik (ingat lagi kisah iblis saat menolak sujud kepada Adam. Pada hakikatnya iblis mempertuhankan semacam pikirannya [apa iblis punya pikiran juga? hehe] yang ia anggap kebenaran padahal Tuhan lebih tahu, dan Tuhan Sang Haq sendiri yang memerintahkannya. Walaupun iblis tidak menyembah Tuhan selain Allah [dia ahli ibadah loh]).

Dari sini, kita bisa beranjak ke rasa ingin tahu berikutnya, mengapa tafakur sesaat lebih baik dari ibadah setahun? Tafakur seperti apa yang dimaksud? Kita harus hati-hati dalam berpikir, salah sedikit saja kita bisa mempertuhankan pikiran kita. Namun, dengan tafakur yang benar, kita dapat memperbaiki kompas kehidupan kita.

Kita bisa saja sudah memiliki kebiasaan-kebiasaan baik, namun rupanya niat kita salah. Dengan akhlak yang baik, kebiasaan yang baik, kita akan kokoh dalam menghadapi kehidupan di dunia yang penuh badai dan tantangan. Ibarat roket, bahan bakarnya cukup, materialnya oke, untuk menjelajah angkasa. Tapi, kalau tujuannya tidak pas, destinasi melenceng dikit saja, nanti dinamika orbit akan membawa roket kita entah ke planet apa.

Nah, dengan tafakur yang sejati, kita pergunakan segala pengetahuan yang kita miliki tentang alam. Bahwa tidak ada yang sia-sia di alam. Tapi, bukan untuk mencoba memecahkan segala misteri tentang alam. Justru sebagai penguat iman, untuk semakin meyakini bahwa Tuhan memiliki hukum. Tuhan tidak ingkar janji. Alam fisika punya hukumnya. Alam metafisika punya hukumnya. Alam ketuhanan pun punya hukumnya sendiri.

Dengan tafakur yang sejati, sesaat kita akan terhubung dengan Tuhan. Dan, kalau sudah konek dengan Tuhan yang Maha Tak Hingga, bisa kita analogikan seperti koneksi internet yang sangat kencang, kita update semua software kita. Maka, dipahamkanlah kita tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Lantas, berlanjutlah, apakah kita mau menyucikan jiwa kita? [As-Shams ayat 8-9]

Ya, semakin kita mencoba memahami Islam, jalan yang ada menjadi semakin sempit. Kanan kiri jadi jurang. Jalan yang lurus harus benar-benar lurus. Keserempet dikit, kita malah syirik (kalau berpikirnya salah malah mempertuhankan pikiran). Tapi kalau kita senantiasa ditunjuki-Nya, dengan idzin Allah kita akan sampai ke ridho-Nya. Itulah shirathal mustaqim yang katanya tipis sekali.

Oiya, beberapa hari lalu teman saya yang orang Thailand bertanya seputar agama Islam. Dia bertanya-tanya tentang perbedaan orang-orang dalam memahami Islam (termasuk pula tentang hadits 73 golongan). Saya bilang saja, jika kebenaran adalah suatu gedung, ia memiliki banyak sisi. Orang dari sisi kanan bilang dindingnya biru. Orang di sisi kiri bilang dindingnya hijau. Orang dari sisi kiri yang letaknya 200 meter gari gedung bilang gedungnya polos, setelah berjalan 100 meter menuju gedung baru dia tahu kalau gedungnya punya ornamen.

Ya kembali lagi. Kebenaran itu tak berhuruf. Tapi, manusia sebagai makhluk yang terbatas, membutuhkan suatu model untuk memahaminya. Persis seperti di sains. Dan model-model itu terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman dan upaya kolektif dari manusia.

Seperti itulah pencarian kebenaran. Tidak mengenal kata berhenti. Tapi, kalau kita sudah pernah berada pada di suatu posisi, tentu kita paham mengapa orang di posisi itu berpikir demikian. Dan kita tak perlu mendebat-Nya, toh kita bisa sampai di titik ini karena hidayah-Nya. Cukuplah bagi kita untuk bekal syukur dan muhasabah ketika menemui seperti itu. Dan, bisa saja saya suatu saat membaca tulisan ini dan ketawa atau senyum saja mengingat pemahaman saya sekarang. Kita bisa saja sudah di arah yang benar, tapi masih bisa diperdalam. Wallahua’lam.

Maka, dari sinilah kita mulai beranjak untuk memahami makna syukur yang sesungguhnya. Selama ini saya pikir bersyukur itu harus mensyukuri setiap hal yang kecil. Itulah syukur yang sebenar-benarnya. Sekarang ini saya paham bahwa syukur yang sejati adalah suatu syukur besar: bersyukur bahwa kita masih mendapatkan hidayah. Tak peduli seberapa mungkar dan keji tindakan kita, rupanya Tuhan masih memberi jalan. Itulah syukur.

Misalnya saja saat berdialog dengan teman saya, menjadi sulit. Karena kalau saya mereferensikan suatu ayat, rupanya dia tidak pernah tahu. Lantas, saya jadi bersyukur karena SD di Madrasah, dan SMP SMA di sekolah Muhammadiyah. Karena itu menjadi jembatan bagi saya untuk memahami Islam sampai detik ini. (Meskipun saya sekarang nggak Muhammadiyah banget ya, tapi itu mengantarkan saya untuk memahami banyak hal, alhamdulillah).

Dan segala buku yang saya baca yang berpusat pada pikiran, juga akhirnya mengandung hikmah. Dengan itu saya jadi punya referensi non islami (termasuk yang pseudospiritual, pseudosains, sains murni, hingga yang ateis). Namun, sejujurnya sekarang kalau baca buku-buku itu ya sebagai ornamen kehidupan aja. Sebagai bagian dair pencarian saya tentang kebenaran. Ya, barulah sekarang ini saya ngeh bahwa Islam itu yang paling tinggi.

Dan begitu pula saya diingatkan kembali, harus senantiasa belajar lagi. Biar nanti kalau ketemu kyai-kyai yang lebih berilmu, bisa nyambung.

Oh iya, saya jadi teringat kalau beberapa minggu lalu saya mendapati sebuah khutbah jumat di Jogja yang begitu mengena dari seorang Kyai. Kyai ini konon dengan khutbahnya di Padang juga berhasil mengambil hati om saya yang dalil minded (yang meyakini bahwa Islam itu agama dalil, tidak bisa dengan logika-logika saja).

Khutbahnya tentang shalat khusyuk. Dan kebetulan mengambil tiga cerita favorit saya:

  1. Kisah Ali yang meminta dicabut anak panahnya saat sholat.
  2. Kisah Rasulullah yang memendekkan bacaan karena makmum punya hajat (Jadi inget, sering kepikiran pas imam di Mushola NTU baca Quran yang panjang-panjangnya satu ain buat solat maghrib hehe.).
  3. Kisah Rasulullah yang menurunkan cucunya saat sholat.

Dan lucunya, sebenarnya teori sholat khusyuk ini misalnya dijelaskan dalam kata-kata, nggak ada bedanya antara yang saya pahami sekarang dengan tiga tahun lalu, atau mungkin tujuh tahun lalu. Tapi, rasanya lebih ngeh aja habis shalat jumat.

Nah, begitulah.

Untuk bisa terus berada di jalan yang semakin mengerucut ini, kita membutuhkan guru. Kalau nggak ya lucu ya. Sekarang kira-kira, kalau kita merasa punya keuntungan zaman yang modern dan internet (kayak temen saya yang berpikir seperti itu), lantas kita pikir kita bisa beragama hanya dengan membaca Quran dan Hadits… apa iya kita bisa melakukan gerakan sholat? Lihat youtube sekalipun, apa yakin gerakan kita sesuai? Jaman masih sekolah, ada tes gerakan sholat. Kalau bukan karena guru kita, kita tidak tahu solat kita benar atau tidak. Punggungnya waktu rukuk gimana.

Begitu juga tadarus. Kalau nggak ada yang ngingetin makhroj dan panjang pendeknya salah ya kita nggak tahu. Kita pikir benar-benar aja. Kita riset, bikin paper. Kita pikir papernya sudah bagus. Ketemu supervisor dicoret-coret banyak.

Saya pernah nyasar sama Bapak saya, sudah ada rambu, sudah ditunjukin jalan, eh masih muter-muter juga. Maka, ada yang bilang carilah guru yang bukan sekedar bisa menunjuki jalan ke surga, tapi yang bisa menuntunmu.

Hmm, nulis apa lagi ya. Ditutup dulu aja deh dengan sebuah hadits hasan:

“Sungguh,” sabda Nabi suatu ketika, “orang yang paling membuatku iri di antara para waliku adalah; orang beriman yang ringan bebannya, rajin shalatnya, beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sebaik-baiknya, tidak terkenal sehingga tidak ditunjuk orang, disegerakan kematiannya, sedikit warisannya, dan sedikit orang yang menangisinya.”

Ya itulah bentuk keikhlasan. Bukan seperti kita-kita ini yang malah tujuan hidupnya pengen terkenal dan banyak duit (ya walaupun kadang dikasih embel-embel kejar passion). Oh iya, tambahan dikit (karena ada kata wali), saya sebenarnya gagal paham dengan percakapan dengan teman saya (orang Indonesia). Dia pikir waliyullah itu gelar yang diberikan manusia kepada manusia lain. Ya, sebenernya simpel ya, mau ada seribu orang ngaku Gubernur DKI, yang Gubernur beneran kan tetep Ahok.

 

2 thoughts on “Yang Tak Berhuruf

  1. Luar biasa sekali Mas tulisannya, kalau teori fisika kuantum ada hubungannya dengan ayat Al-Quran gak Mas?

    1. Saya kurang paham tentang fisika yah, tapi saya punya kenalan tenaga pengajar muda inspiratif profesional di NTU yang mengajar fisika. Mungkin kamu bisa kontak dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s