Khauf dan Raja’

Sepulang jumatan lalu. Saya bilang Tuhan punya rencana. Lantas teman bicara saya mengatakan “Tuhan nggak berencana seperti manusia. Strictly speaking, kalau bilang Tuhan berencana buat saya kafir. Saya udah pernah bahas itu di Salman dulu.


 

Ya, secara implisit saya mungkin dibilang kafir. Tetapi, mungkin tidak sesederhana itu juga. Mari kita runut.

Percakapan Itu

Jadi awalnya begini. Di bus jumatan saya duduk sebelah dengan seseorang yang kebetulan satu almamater dan jauh lebih tua dari saya. Awalnya sapa-menyapa biasa tentang riset PhD. Dia nyeletuk, “Apa masalahnya, masih muda, belum berkeluarga, apa kendalanya emang?”

Saya bilang saja, “Saya mencari makna hidup,” sembari tertawa.

“Wah bagus-bagus. Tapi PhD gimana. Penting mana?”

“Gelar PhD nggak ada artinya kalau kita nggak tau makna hidup”

Entah bagaimana saya lupa, akhirnya muncul celetukan darinya, “Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga.” Entahlah, kali itu saya lelah dengan ungkapan itu. Bahasa kerennya: baper; risih. Memangnya masuk surga tidak perlu usaha. Justru di beberapa hadits disebutkan bahwa di antara dari tujuh yang mendapat lindungan Allah di hari akhir adalah mereka yang sedari muda sudah menyibukkan diri dengan ibadah.

%{Secara personal saya tahu hadits itu dari lama, tapi baru benar-benar merasa bahwa itu penting ya sekarang-sekarang ini. Dulu saya agak skeptis dengan keberagamaan yang berpusat pada ritual saja. Bahkan, ke-bebal-an umat beragama membuat saya lebih ngefans dengan para ateis dan agnostik. Selain itu, berada di lingkungan yang kurang baik pun menggeser pikiran, tindakan, dan kebiasaan saya ke hal-hal yang tidak baik.

Namun, setiap orang memiliki momen-momen titik baliknya. Terkadang tidak hanya satu, tetapi banyak. Tidak langsung berubah, tapi berproses. Dari kejadian yang dialami, orang-orang yang ditemui. Hingga akhirnya saya tersadar bahwa umur tidak ada yang tahu. Kalau tidak sungguh-sungguh dari sekarang, sejak kesadaran itu ada, kapan lagi mau memulai? Berat memang, tapi semua orang harus memulai dari suatu titik. 

Terkadang ada pula rasa iri tentang ampunan Tuhan yang begitu luas. Bayangkan, seorang ahli maksiat, kalau sebelum meninggal saja dia mendapatkan ampunan-Nya, selesai sudah semua urusan. Tapi ya tentu syarat dan ketentuan berlaku. Sebaliknya ahli ibadah pun bisa menjadi fasik di akhir hayat dan meninggal suul khotimah. Tapi, tentunya itu adalah bukti bahwa ada pengecualian yang membuktikan bahwa ada ketentuan umum yang berlaku.

Semakin meningkat kualitas diri kita, ujian pasti akan semakin besar. Tentu hal ini kadang bikin jiper orang-orang muda. Bagaimana mungkin orang yang puluhan tahun mengabdi di jalan Tuhan, mengambil Allah dan Rasul dan Ulama Warasatul Anbiya sebagai pemimpin, namun masih bisa juga lari dari cahaya dan mengambil setan sebagai pemimpin? Tapi, katanya, tentu kita punya senjata yang sudah lebih bagus pula untuk mengalahkan ujian-ujian tersebut.Maka, dikatakanlah bahwa orang yang sedari muda menyibukkan diri dengan beribadah akan mendapat lindungan-Nya. Sebab masa muda adalah masa krusial untuk membangun senjata dan menangkis-nangkis godaan.%}

Kembali ke topik pembicaraan. Lantas, teman diskusi saya mengatakan sesuatu yang kontennya kurang lebih: masuk surga atau neraka itu urusan Tuhan saja. Saya memahami bahwa dalam suatu konteks hal itu mungkin benar (seperti yang saya bahas di post tentang pelacur yang masuk surga). Tapi, ketika kita berbicara langsung, kita dapat melihat indikasi-indikasi pemikiran seseorang. Kita dapat melihat, rasa apa yang dibawa seseorang ketika mengatakan itu.

%{Tentu saja intuisi saya bisa salah bisa benar. Apalagi kami belum pernah berdiskusi tentang agama sebelumnya. Berbeda dengan kalau saya berdiskusi dengan sahabat saya di kuliah misalnya, yang meskipun pemahaman kami berbeda, kami tahu suhu masing-masing. Percakapan ini terjadi tanpa informasi apriori mengenai sejauh mana latar belakang pemahaman satu sama lain. Dan kejadian yang akan saya ceritakan di sini hanya berlangsung di perjalanan dari Masjid menuju Kampus yang hanya beberapa kilometer. Tapi yang jelas ada pelajaran di baliknya.%}

Saya bilang, “Nggak bisa gitu Mas, urusan akhirat itu harus diselesaikan di dunia.”

Dia bilang, “Woh, nggak bisa gitu. Surga neraka itu suka-suka Tuhan. Pernah dengar khauf dan raja’ nggak?”

Lantas saya bilang tahu. Tapi tentunya ada rukun dan syarat yang mesti kita penuhi. Dia bilang, kita harus bedakan dulu antara ranah Tuhan dan ranah manusia. Semua ini suka-suka Tuhan. Manusia ya hanya bisa berencana, tapi Tuhan yang ujung-ujungnya menenentukan.

Kemudian saya bilang, kalau Tuhan punya rencana yang baik untuk kita tapi kita tidak memenuhi rukun dan syarat-nya, ya nanti rencana itu tidak akan menjadi kenyataan. Lantas dia mengatakan bahwa Tuhan tidak berencana, bagi Tuhan Kun Fayakun, apa yang terjadi ya terjadi. Tuhan tidak seperti manusia yang berencana, karena kalau Tuhan punya rencana artinya dia tidak mengetahui apakah itu akan terjadi atau tidak.

Saya bilang tidak begitu dong, justru Tuhan punya blueprint atas apa yang akan diciptakan. Analoginya seperti pada pembangunan di suatu negara. Ketika ada gedung dibangun, itu ada perencanaannya. Bukan karena tidak tahu akan terjadi atau enggak, tapi karena menginginkan itu untuk terjadi. Saya lantas bertanya, “Jadi ketika Tuhan bilang ke malaikat bahwa akan diciptakan manusia di muka bumi, Tuhan tidak sedang berencana?”

Dengan lantangnya dia menjawab nggak! Jadi ya jadi. Saya sebenarnya agak takut memperpanjang kronologis ini, karena bisa jadi sudah tidak tepat lagi. Yang jelas muncul-lah kata-kata tersebut. “Tuhan nggak berencana. Strictly speaking, kalau bilang Tuhan berencana buat saya kafir. Saya udah pernah bahas itu di Salman dulu.

%{Sampai di sini saya hanya bisa geleng-geleng saja. Refleks. Dan hanya bisa bilang, hati-hati loh Mas. Setiap kali berhadapan dengan situasi ini, saya selalu teringat kisah Abu Bakar yang ditinggalkan Rasulullah ketika ia menanggapi orang yang mencelanya. Kata Guru saya, kita tidak boleh berdebat. Bagusnya, kita ungkapkan pandangan kita. Dia ungkapkan pandangan dia. Kalau tidak ketemu ya sudah. Karena kalau ngotot-ngototan yang bermain sudah ego, sudah setan. Sekalipun kita ada yang di jalan benar, ketika hati kita bersambungnya pada selain-Nya, maka hanya akan membawa kerugian. Tidak ada faedahnya.

Tapi, prakteknya memang sulit meski kita sudah menyadarinya. Sebab di satu sisi kita punya keinginan untuk membuat pemahaman orang lain sama dengan kita. Karena kita berpikir bahwa orang lain ini bisa celaka dengan pemahaman itu. Tapi, saya sudah belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya bahwa kita tidak bisa memaksakan paham kita kepada orang lain. Jangankan kepada sopir taksi yang baru kita temui, kepada keluarga sendiri saja tidak bisa. Namun, kembali, kalau Tuhan menghendaki, pertemuan yang tak terduga pun dapat mengantarkan kita ke jalan menuju Hidayah. %}

Dan bagi Tuhan, menurutnya, semau Dia, tidak ada baik dan buruk. Ya saya bilang bisa saja, Tuhan kan Maha Menepati Janji, Tuhan terbatas oleh apa yang dijanjikan-Nya. Lantas dibalasnya lagi, loh berarti Tuhan terbatas dong. Sekarang kalau kita sudah beribadah lantas Tuhan mau masukkan kita ke neraka gimana?  “Bukan begitu, Tuhan punya hak prerogatif. Itu exception, bukan base rules,” jawab saya.

%{ Saat mengingat pembicaraan ini, saya jadi teringat bahwa saya pun pernah berpikir seperti apa yang Mas ini pikir. Dan alasan saya menggunakan kata “Tuhan terbatas oleh apa yang dijanjikan-Nya,” itu karena saya teringat obrolan dengan seorang teman di masa lampau. Dan persis seperti tanggapan Mas ini lah saya menanggapi teman saya. Nanti di bawah, hal ini akan saya eksplorasi. %}

Lalu keluarlah perkataan bahwa secara semantik ketika mengatakan bahwa Tuhan berencana itu kafir. Lantas perbincangan pun masih berlanjut meski tidak kemana-mana. Menurut pemahamannya Tuhan hanya memberikan guideline, tapi ya suka-suka Dia. Yang saya tangkap seolah pemahamannya lebih cenderung ke Jabariyah. Saya juga sebenarnya agak takut terjebak dalam ego. Dan akhirnya si Mas harus turun lebih dahulu ke kantornya. Saat itu saya sebenarnya sedang ingin membahas masalah paham Jabariyah dan Qadariyah.

Rencana Tuhan

Setelah perbincangan itu, saya jadi berpikir. Mungkinkah saya yang salah? Mungkin pemahaman saya kurang pas? Saya pun lalu mengecek Al-Hadid (dan juga baca tafsirnya di sini) dan beberapa hadits:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23)

Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”

“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.”

Tentu hal ini menggambarkan bahwa Tuhan sebenarnya punya rencana. Lantas, kita ingat kembali Ar-Ra’du ayat 11:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Jadi rupanya, takdir kita itu tidak bisa ujug-ujug berubah. Kita sebagai yang menjalaninya harus melengkapi rukun dan persyaratannya. Memang, Tuhan itu Maha berkehendak. Jadilah maka jadilah. Tapi, kita juga mengetahui bahwa jadilah maka jadilah itu terejewantahkan pula di hukum alam, pada ketentuan yang berlaku. Ada mekanismenya. Tuhan mau menciptakan manusia, jadilah maka jadilah! Tapi kok dibuat dari tanah? Mengapa nggak ujug-ujug jadi manusia aja? Bisa saja kita bertanya seperti itu kan, tapi tidak penting juga mencari jawabannya.

Di sinilah yang saya maksud bahwa Tuhan punya rencana yang baik, tapi kalau kita tidak berupaya menjadi baik, ya tidak akan menjadi baik. Lantas ada pula yang mengatakan bahwa baik buruk itu relatif ukurannya. Ya baik itu yang diridhoi Tuhan, sebab kita Muslim. Dan Tuhan, sebenarnya tidak merencanakan hal yang buruk bagi kita, tapi kita malah menjerumuskan diri kepada keburukan.

Mengapa bisa begitu? Karena kita dikaruniai kebebasan untuk memilih. Tidak seperti malaikat yang taat 100%, kita memang punya dua potensi (baru-baru ini saya menuliskan juga di tumblr). Tapi, ketika kita telah memilih sesuatu, tentu muncul konsekuensi. Seperti yang digambarkan pada komik di atas. Kita bisa memilih untuk mengangkat kaki kanan. Tapi, kalau sudah mengangkat kaki kanan, kita tidak akan bisa mengangkat kaki kiri. 

Dan konsekuensi yang kita terima tidak akan bisa lari dari hukum Tuhan. Baik hukum fisika, maupun metafisika. Baik hukum dunia, maupun hukum akhirat. Karena Tuhannya sama. Dan Tuhan tidak ingkar janji!

Hakikat Hakikat

Sulit memang ketika kita sekedar berfilsafat. Sebab sama halnya dengan sains, filsafat adalah alat untuk mencari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Makanya pembahasan mengenai Tuhan dan janji Tuhan seperti hal yang di atas bisa jadi perdebatan tata bahasa. Simbol belaka.

Kalau kita berbicara mengenai hakikat Kebenaran yang sejati, tidak ada yang bisa dibahas di sana. Nabi Musa “Kalimullah” yang sudah diajak berbincang dengan Tuhan saja pingsan ketika Tuhan bertajalli di Gunung. Tuhan itu mukhalafatu lil hawaditsi. Berbeda dengan makhluk. Kalau Tuhan itu mengetahui, berilmu, dan berencana, tentu kita tidak tahu seperti apa itu sebenarnya. Tapi, Tuhan membuat permisalan-permisalan supaya akal manusia yang terbatas ini dapat memahami kebenaran sehingga dapat menjadi taqwa dan memahami kehendak Tuhan. Jadi, kalau kita bilang orang yang mengatakan bahwa Tuhan berencana itu kafir, kenapa nggak kita kafirkan sekalian orang yang bilang bahwa Tuhan mengetahui?

Sekarang, Kebenaran itu begitu Agung dan Tinggi. Akal manusia tak kuasa menjangkaunya. Makanya yang bisa dilakukan hanyalah mendekatinya, menciptakan model-model. Setiap orang punya pemahaman berbeda. Sahabat-sahabat yang dijamin masuk surga pun punya ijtihad pribadinya. Itu semua adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada kebenaran. Tapi, tidak menjadikan pemahmannya sebagai Kebenaran yang Sejati. Selama masih ada kata, dan pikiran, ya itu hanya upaya kita yang manusia ini untuk mengungkapkan dan memahaminya. Sebatas yang kita diberikan kekuatan dan pengetahuan oleh-Nya.

Kalau mau tahu realitas sebenarnya dari akhlak Al-Quran seperti apa ya kita saksikan lah pribadi Rasulullah SAW. Tapi, ketika manusianya, Muhammad anak Abdullah wafat, tentu sahabat yang hendak menjelaskan prilaku Nabi seperti apa kepada anaknya yang tidak pernah bertemu Nabi, akan menggunakan deskripsinya sendiri. Dan setiap orang mendeskripsikannya berbeda meski realitas yang disaksikan sama. Kalau kita kekurangan wacana, bisa-bisa kita menganggap kata-kata sebagai realitas kebenaran itu sendiri.

Ranah Kemanusiaan

Nah, sebenarnya saya sepakat juga kita perlu membedakan antara ranah Ke-Tuhanan dengan ranah Kemanusiaan seperti teman diskusi saya. Yang saya kurang sepakat adalah konsekuensinya.

Ketika dikatakan bahwa apa yang diberikan oleh Tuhan hanyalah guideline saja sementara kita beriman atau tidak itu suka-suka dia, menurut saya kurang pas. Sebab, sebagai manusia, yang bisa kita lakukan adalah berupaya semaksimal mungkin mengikuti guideline itu. Karena itu tadi, bisa jadi Tuhan ingin memberikan iman dan takwa kepada kita, tapi kitanya malah terlena dalam kemaksiatan. Ya ngggak akan jadi.

Tapi, kembali lagi. Bukan upaya manusia yang membuat manusia itu menang. Tapi rahmat Tuhan. Di situlah kita kembali lagi ke ranah Ke-Tuhanan. Kedua ranah ini harus dipahami dengan pas. Kalau bahasa sufi-nya dari syariat kita pelajari hakikat, dari hakikat kita kembali laksanakan syariat dengan pemahaman yang utuh. Syariat kita laksanakan dengan harap rahmat dan ketidakberdayaan atas hakikat Ke-Tuhanan dan kemanusiaan.

Jika tidak, ini akan menjadi Khauf (takut) dan Raja’ (harap) yang aneh. Sebab seolah-olah kita pesimis terhadap Tuhan, sehingga membiarkan diri sendiri mengalir begitu saja. Buat apa susah-susah ibadah kalau nanti rahmat Allah nggak turun, masuk neraka juga kok. Dan sebaliknya bisa juga menjadikan kita yang masih bermaksiat ini menjadi optimis yang aneh: ya nggak papa maksiat-maksiat aja, kan nanti diampuni Tuhan, masuk surga, Hore! Sementara Tuhan sudah memberikan guideline. Dan guideline ini jangan diremehkan. Jangan dipandang sebagai sekedar koridor yang boleh ditaati atau tidak tapi kita pandang sebagai hukum yang mutlak harus dipenuhi. Kalau kita pandang remeh, justru kita jadi ignorant, acuh, melakukan pembiaran terhadap jiwa yang kotor sebagaimana dikatakan di surat As-Syams: Qad khooba man dassaha.

Maka kalau kita itu Raja’ betul, kita akan berupaya semaksimal mungkin memenuhi guideline Tuhan, karena kita percaya bahwa Tuhan nanti akan memberi kita kekuatan. Tak peduli seburuk apapun iman kita sekarang.

“Orang berdosa yang mengharap rahmat Allah jauh lebih disayang Allah dari pada orang taat yang berputus asa.” (H.R Ibnu Mas’ud)

Oh iya, jangan salah. Nggak sedikit loh, orang yang taat beribadah tapi sebetulnya berputus asa kepada Tuhan. Setiap hari sholat, tapi takut kalau berdoa. Katanya takut kalau nanti doanya nggak dikabulkan, maka nanti imannya akan hilang. Ini artinya sudah kehilangan yang namanya Roja’. Tidak lagi percaya pada janji Tuhan.

Dan kalau kita bicara di ranah Tuhan, memang tidak ada upaya makhluk itu. Semua daya dan upaya datang dari Tuhan! Termasuk daya dan upaya agar kita bisa menjadi terus istiqomah di jalan-Nya!

Dari situlah, kita menjadi betul-betul Khauf. Kita menjadi takut kalau suatu saat hati kita dibolak-balik oleh Sang Muqallibul Qulub. Kalau-kalau suatu saat kita kembali ke kegelapan. Karena daya dan upaya itu datang dari Allah. Segala ilmu, karunia, rezeki, kenikmatan duniawi (dan termasuk yang kalau orang tasawuf menyebutnya kekasyafan), pada hakikatnya datang dari Tuhan. Kita bekerja dapat rezeki. Pada hakikatnya rezekinya ya dari Tuhan.

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar 9)

Ya, tentunya berbeda ya takutnya orang yang memahami dengan yang tidak memahami. Bagi orang yang nggak beriman, dunia ini surga. Senang-senang aja. Bagi mukmin, dunia ini penjara. Takut dan harap-Nya seorang yang shiddiq tentu saja berbeda dengan takutnya orang yang baru mengenal Islam misalnya. Ya kan beda, kalau kita takut terlambat ketemuan dengan orang yang belum dikenal, dengan ketemuan dengan bos, dan dengan ketemuan dengan kekasih.

Maka jangan heran kalau ada orang-orang yang beramalnya mungkin berbeda dari kita. Begitu rajin sholat. Dan cara menjalani dan memandang kehidupan dunia pun beda. Ukuran suksesnya beda. Karena mereka itu berilmu, dan mengetahui betapa pentingnya menghamba, mereka benar-benar rela memberikan semua yang dipunya di jalan Tuhan. Beda dengan kita yang masih orang duniawi.

Tapi di tingkatan manapun, setiap orang harus menjadikan Khauf dan Raja’ sebagai bahan utama muhasabah. Nanti, kalau kita senantiasa bermuhasabah dan dapat menemukan sebuah kesetimbangan dinamis antara Khauf dan Raja’ maka di situlah akan muncul ketenangan hati dari mengingat Tuhan.

Telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menjenguk seorang lelaki yang sedang menjelang ajalnya, lalu beliau bertanya, “Bagaimanakah perasaanmu sekarang?” lelaki itu menjawab, “Aku berharap dan aku takut (kepada azab Allah).” Maka Rasulullah Saw. bersabda: Tidaklah terhimpun perasaan ini pada kalbu seseorang hamba dalam keadaan seperti ini, melainkan Allah Swt. memberikan kepadanya apa yang diharapkannya dan mengamankannya dari apa yang ditakutinya.

Nah, dengan senantiasa bermuhasabah, nanti akan timbul keinginan untuk bisa menjadi seorang hamba yang utuh. Supaya tidak merugi.

‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Demikian pula dengan kaitannya dalam bekerja di dunia. Kalau boleh jujur saya sedang malas-malasnya dengan PhD saya ini (karena beragam faktor)*, tapi saya tahu bahwa malas itu sifat setan. Dan, bekerja keras untuk kehidupan dunia ini adalah kewajiban. Menjadi rahmatan lil alamin adalah kewajiban. Maka peperangan saya setiap hari untuk melawan kemalasan pun menjadi jihad. Tak peduli semuak apapun saya dengan keilmuan Teknik Elektro.

Tapi, akan menjadi sia-sia jika itu semua, jika nanti saya punya kendaraan duniawi yang lebih baik, tapi saya kehilangan kompas hidup. Dan hikmah terbaik dari obrolan di bus jumatan itu adalah, saya jadi belajar lagi tentang agama. Merasa lebih kurang lagi. Dan bobotnya tentu jauuuuuuuuuuuuuuuh lebih besar sekedar PhD.

Lewat pertemuan dengan Mas itu di bus jumatan saya diingatkan dua hal. Kembali lagi serius untuk PhD karena saya tidak punya excuses untuk tidak perform. Dua, saya diingatkan lagi bahwa penting untuk mempelajari Islam secara menyeluruh. Saya dengan gampang membaca buku-buku aneh filsafat, psikologi, sains, dan novel nggak jelas dari sampul ke sampul. Sedangkan untuk textbook perkuliahan, dan al-Quran. Wah jauh deh.

Dan saya mungkin tidak akan bertemu lagi dengan Mas-nya untuk berbincang tentang ini semua. Pun, belum tentu Mas-nya akan membaca tulisan ini. Tapi, kalau nggak ada kejadian ini mungkin saya jadi nggak baca-baca Quran lagi.

Wallahua’lam bishowab.

%{Memang terkadang saya berpikir, mengapa saya tidak jadi seperti orang lain saja ya. Hidup tenang. Kuliah ya kerjakan kuliahnya saja nggak perlu macem-macem. Kalau ada teman ngajak senang-senang atau apa ikut saja lah. Jalan-jalan keliling dunia. 

Tapi, kalau melihat orang sudah menjadi PhD tapi nggak dapet makna kehidupan juga miris. Sudah tua sudah punya anak cucu, tapi belum tahu mau ke mana buat apa? Super pintar dan bermanfaat untuk dunia melalui ilmu, tapi nggak kenal Tuhan buat apa? 

Dan, sebaliknya, miris juga dengan orang-orang Islam yang begitu terbelakang. Seolah menggantungkan rezeki pada Tuhan tanpa berusaha. Seolah lupa dengan perintah untuk menjadi rahmatan lil alamiin.  Lantas membangga-banggakan Islam sebagai rahmatan lil alamin, tanpa berupaya menjadi rahmatan lil alamin itu sendiri, kan lucu. Seperti membanggakan cahaya tapi tidak berjalan ke cahaya itu. Bukankah mengembangkan diri dan berkarya adalah bagian dari pengejawantahan rasa syukur atas anugerah iman? Lantas hanya bisa menjelek-jelekkan mereka yang belum mengenal Islam. Paranoid terhadap kegelapan, padahal yang diperlukan untuk mengusir gelap adalah cahaya. 

Dan sedih juga dengan orang-orang yang bangkrut dan merugi. Mereka yang taat ibadah, tapi di facebook kerjaannya berdebat sama orang misalnya. Nyinyir. Mencemooh. Atau yang ngakunya bawa Islam tapi akhlaknya seperti gimana. Itu kan ngeri. Dan lebih ngeri lagi ketika orang super duper hebat pengabdiannya, tapi putus asa dengan janji Tuhan.

Dan tentu semua itu adalah soal pilihan. Apa yang kita kejar, adalah apa yang akan kita raih. Kalau kita sudah tahu apa yang mau kita kejar, tak perlulah lagi kita pikirkan orang-orang yang tidak tahu itu.

Rabbana la tuzigh quloobana ba’da idh hadaytana wa hab lana milladunka rahmah innaka antal Wahhab.%}

 

*koreksi. Bukan sedang malas-malasnya. Tapi baru saja melewati titik sedang malas-malasnya. Sebab sekarang sudah tidak mempertanyakan lagi PhD penting atau tidak, tidak lagi meresahkan apakah saya menyukai bidang saya yang sekarang atau tidak.

 

 

 

2 thoughts on “Khauf dan Raja’

  1. gak tau sudah tulisanmu yg keberapa bisa dibilang mirip sama yg tak alami
    apa gara2 sama 23-5 nya haha

    semangat buat Phd nya, angkatan kita blum ada yg bisa ambil itu. sukses (y)

    1. haha.. ya karena memang kayak gitu proses hidup manusia sih. semua orang bisa mengalami hal yang mirip. bedanya cuman kapan, seberapa lama, dan sejauh mana menyikapinya.. wkwkwk.

      Thx by, mohon doanya. Sukses selalu juga! (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s