Kenapa Air Tenang Selalu Datar (Geometri Adalah Koentji)

Waktu SD kelas 3 dulu, saya pernah disuruh maju ke depan kelas. Disuruh nyebutin sifat-sifat air. Salah satu sifat air itu air tenang selalu datar. Semua anak SD disuruh menghapal itu.

Tapi, pertanyaannya.. kenapa air tenang selalu datar? Pernahkah kita mempertanyakan ini dari lubuk hati yang terdalam?

Nah, baru-baru ini saya sedang membaca buku sains populer tentang string theory, tapi lebih dari sudut pandang geometri. Saya baru bisa mengapresiasi peran penting geometri. Dalam relativitas misalnya, gravitasi adalah sesuatu yang inheren dalam geometri alam semesta sendiri.

Memang, sudah saya duga, fisika adalah ilmu yang tak kalah ghaib. Apa yang mulanya disangka sebagai suatu gaya, rupanya adalah properti dari kelengkungan ruang-waktu belaka. Dan mungkin seiring dengan berjalannya waktu, akan lebih banyak lagi hal-hal yang kita baru pahami. Akan ada pemahaman-pemahaman baru yang memaksa kita mengikhlaskan pemahaman-pemahaman yang kadaluarsa.

Seperti fatwa tentang merokok misalnya. Jaman dulu mungkin sunnah. Lalu menjadi makruh. Tapi bukan tidak mungkin sekarang haram. Tentu saja ketika pemahaman baru itu datang, kita perlu menginternalisasikannya ke dalam diri kita.

Mungkin, karena kita belajar fiqih, kita jadi memilah-milah mana dosa besar, mana dosa kecil. Tapi, kalau kita beranjak ke penghayatan Islam yang lebih menyeluruh, tentu semua dosa pada hakikatnya sama-sama dosa. Melakukan dosa kecil artinya melampaui batas. Dan kita senantiasa melampaui batas.

Back to topic (rencananya tadinya saya nggak mau mengait-ngaitkan ini sama spiritualitas, pengen nulis yang sains pop murni gitu)

Jadi, geometri ini memegang peranan penting. Kalau dulu, untuk bisa mengenali karakteristik geometri dari suatu permukaan atau suatu bentuk, kita perlu memiliki pandangan holistik untuk bisa mengukurnya. Nah, seiring dengan berkembangnya geometri, berkembanglah yang namanya analisis. Dari karakteristik lokal di suatu titik, kita dapat menganalisis dan memperkirakan, seperti apa karakteristik globalnya.

Misalnya, dengan mengetahui kemiringan di suatu titik pada suatu permukaan, kita bisa mereka-reka bentuk permukaan tersebut. Seekor anjing ditaruh di suatu titik. Dia diikat dengan tali. Nah, suruh aja dia bikin lingkaran. Hitung kelilingnya. Kalau permukaan tempat dia berdiri adalah datar, pasti kelilingnya pas sesuai keliling lingkaran berdasarkan jari-jari (yakni panjang talinya). Kalau permukaannya cembung kayak bumi misalnya, lingkarannya bakal nggak sama. Dmeikian pula kalau cekung kayak di tempat main skateboard.

Lebih panjang yang mana? Silahkan cari sendiri.

Nah, selama ini dalam riset saya, saya sering menggunakan optimization problem. Di sana banyak sekali dipergunakan kata minimization, maximization, least-square.

Ada suatu fenomena di alam tentang kesetimbangan energi gitu. Contohnya ya kayak air tenang selalu datar itu. Pada hakikatnya dia berusaha menuju surface tension = 0. Dengan kata lain kurvature-nya 0. Dengan kata lain ya least-square itu sendiri. Saya nggak ngerti sih soal gaya-gaya-an antara molekul dll. Cuman kalau dari sudut pandang geometri ya gitu.

Sebenernya saya agak maksa sih, karena belum bisa grasp betul makna filosofisnya. Jadi, saya nulis ini kayak wayang aja. Wayang yang lagi ngetik.

Udah gitu bukannya nulis thesis malah nulis yang nggak penting gini.

Btw, yang jelas memandang banyak fenomena dari kacamata geometri itu menarik. Kalau nggak menarik nggak mungkin Einstein sama Stephen Hawking banyak berpikir visual.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s