MVP Manusia:Saya Tak Ingin Mundur Ke Belakang

Inginnya mundur ke depan. Halah. Sudah lama saya nggak update seputar PhD life saya di blog ini.

Sedikit pendahuluan (yang biasanya bakalan agak panjang), memang betul, buat saya kemarin-kemarin, begitu banyak pencerahan yang datang. Kalau mencoba dikaitkan dengan yang namanya Minimum Viable Product, kita sebagai manusia adalah suatu produk. Tuhan yang menciptakan kita. Tapi, Tuhan bukan hanya sebagai produsen. Tuhan menciptakan kita untuk mengabdi kepada-Nya. Kepuasan Tuhan adalah yang menjadi tujuan eksistensi si produk bernama manusia ini.

Start-Up: Manusia

Nah, saya merasa baru mengerti apa itu menjadi manusia ya belakangan ini. Pada akhirnya setelah pencarian demi pencarian, menggilai beragam jenis cabang pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia, sampailah saya pada kesimpulan tentang manusia.

Detail-nya akan saya bahas lain waktu. Tapi yang jelas kasarnya saya ini baru memulai sebuah start-up journey: menjadi manusia. Minimum Viable Product dari manusia itu harus utuh. Kalau bikin mobil tanpa sopir, ya harus ada roda-nya, body-nya, chassis-nya, dan kalau mau berfungsi, harus ada energi-nya. Udah gitu harus tahu medannya, tahu arah, dan rute. Harus ada kecerdasan buatan yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan.

Menjadi manusia tentu adalah proses hingga liang lahat. Sebuah proses research and development tak berujung (tapi bukan kisah sedih yang tak berujung seperti lagu Glenn Freddly) Ada orang yang hanya memperhatikan body. Setiap saat dia menyempurnakan body. Apa guna body tanpa roda? Ada yang fisik mobilnya telah sempurna, namun rupanya lupa isi bensin. Ada yang mobilnya sudah lengkap dengan segala sumber energi: bensin, aki, dll, akan tetapi dia tak tahu medan yang dihadapi seperti apa, arah yang dituju, ya sama saja bohong.

Adalah lebih baik kita mulai bertahap tapi menyeluruh. Roda yang nggak terlalu bagus tapi bisa jalan, body yang sederhana tapi bisa melindungi dari hujan. Kecerdasan yang nggak cerdas-cerdas amat tapi bisa belajar menjalankan mobil. Dan sembari terus berjalan disempurnakan.

Sederhana, agar kelak sampai tujuan. Sedapat mungkin, sedekat mungkin dengan tujuan. Biar nanti dijemputnya nggak terlalu jauh.

Dan tentu ada prioritas di sana. Sudah dari dulu saya memahaminya secara kata-kata: yang paling penting dalam hidup itu menjadi orang baik. Banyak orang yang berhasil meraih posisi puncak, meraih ketenaran, tapi mereka mungkin belum menjadi orang baik.

Sudah jadi orang baik pun, masih ada pertanyaan, baik menurut siapa? Baik menurut manusia selalu bebas tanpa nilai, seperti robot yang menjalankan apa saja program yang ada. Maka itu dikirim Rasul sebagai kalibrator sistem kita. Maka di sinilah kita harus memahami keseimbangan antara dunia dan akhirat itu bukanlah keseimbangan yang sama rata, tapi suatu keadilan dengan bobot yang berbeda.

Learn To Juggle

Nah, manusia adalah manusia yang terbatas dalam belajar. Dibutuhkan proses, dibutuhkan kegagalan. Dibutuhkan iterasi dan latihan berulang-ulang, practice makes perfect ceunah. Seperti belajar juggling, awalnya harus belajar lempar tangkap satu bola dulu. Baru ditambah jadi dua bola. Baru tiga-tiganya. Harus bertahap.

Jadi, di sini, ada dua hal yang sedang saya pertentangkan: yakni bahwa hidup kita harus membangun secara menyeluruh, tapi harus punya prioritas sekaligus. Kita perlu memahami konteksnya dan mencari kesetimbangan dinamis antara keduanya. 

Dan saya pikir, setelah saya mengalami krisis dalam PhD studentship, saya menemukan bahwa konstruksi-konstruksi pendidikan formal tak jarang telah menjauhkan manusia dari makna yang sejati dari pendidikan itu sendiri. Itu masih dari segi duniawi, belum dari segi ukhrowi.

Jadi, sekarang itu hidup sedang memaksa saya untuk belajar dua hal: belajar istiqomah di sebagai hamba Tuhan, sekaligus belajar untuk menjadi manusia yang bermanfaat di muka bumi. [Untuk penyederhanaan, kita anggap saja keduanya adalah dua entitas yang berbeda, meskipun pada hakikatnya mereka menjadi satu] Saya dipaksa juggling dua-duanya. Mempelajari dua-duanya. Dengan waktu yang terbatas, dengan energi yang terbatas. Tak jarang saya gagal melakukan dua-duanya. Tapi, kalau boleh memilih, saya tak ingin gagal di yang pertama.

Duniawi

Untuk yang kedua, sampai sekarang juga saya masih saja malas-malas-an. Entahlah, proses berperang melawan kemalasan itu belum selesai. Memang betul, saya sudah tak pernah lagi mempertanyakan keputusan saya mengambil PhD. Saya tak lagi memikirkan apakah saya akan berhenti dari PhD atau tidak. Itu sudah pertanyaan kadaluarsa.

Saya sudah berusaha melewati itu semua. Saya putuskan cukup galaunya. Sebab mendapatkan gelar PhD adalah hal paling logis yang bisa saya lakukan saat ini. Dan dia akan dapat menjadi leverage bagi peran-peran saya selanjutnya di dunia.

Saya sudah memutuskan bahwa saya harus menyelesaikan PhD saya sesegera mungkin. Kalau Tuhan meridhoi, ya mudah-mudahan selesai thesis tepat waktu. Meskipun sekarang ini belum ada bau-baunya, kalau memang nanti Tuhan berkehendak dan saya diberi kekuatan untuk memenuhi rukun dan syaratnya, ya pasti bisa.

Lagian, sebenarnya malas itu sifat setan. Malas itu bagian dari akhlak tercela. Dan, dalam ajaran tassawuf, ada dzikir-dzikir yang memang ditujukan untuk menghilangkan akhlak tercela ini.

Life Crisis

Baru-baru ini ada yang nanya di tumblr saya tentang life crisis. Ya sejujurnya saya juga nggak merasa pernah settle. Lagian umur saya juga belum 25. (Btw, baru-baru ini saya tersadar kalau saya sudah mau 24!!!!!!!) Saya punya banyak cita-cita. Dan anehnya ya, meski seharusnya saya itu fokus mengerjakan riset, energi saya tidak pernah maksimal untuk itu. Saya justru lebih merasa berenergi ketika melakukan hal baru.

Saya merasa berenergi ketika saya menulis di blog, atau mencoba menulis novel. Saya merasa berenergi ketika seseorang mengajak saya untuk membuat hal-hal yang lebih aplikatif. Saya merasa lebih bersemangat ketika teman saya mengajak saya membuat channel YouTube.

Hal-hal itu pun belum menjanjikan uang bagi saya. Justru PhD inilah yang kalau saya selesaikan sudah menjanjikan satu hal: tidak ada uang yang dikeluarkan untuk memperpanjang masa studi. Apalagi uang yang harus dibayarkan sangatlah mahal.

Apakah ini sebuah krisis? Bisa jadi.

Terkadang saya merasa, setelah PhD beres, saya ingin berhenti dari dunia riset. Mengerjakan apa yang membuat saya berenergi saja. Tapi toh, selalu ada bagian dari diri saya yang merasa bahwa ini adalah sebuah tantangan. Saya sudah mendaki sejauh ini di keilmuan Teknik Elektro. Kalau saya fokus dan tidak habis di perjalanan ini, mungkin saya bisa menjadi seseorang yang mencintai dan hidup dengan spirit Teknik Elektro yang begitu dalam. What doesn’t kill you makes you stronger right?

Lagian kalau untuk tujuan besar di alam fisik, saya ingin memajukan dunia pendidikan dan dunia riset di Indonesia. Dan untuk itu dibutuhkan integritas. Bagaimana saya mau memajukan dunia pendidikan kalau saya malas-malasan? Bagaimana saya ingin meningkatkan kualitas penelitian di Indonesia, kalau saya sendiri tak pernah meneliti? Bagaimana saya ingin menyinergikan dunia pendidikan, bisnis, dan pemerintahan, kalau saya bahkan tidak memiliki pengalaman dulu?

Tapi ya hidup harus memilih. Memilih yang paling dapat memberikan kepuasan. Oh iya, tadi saya menonton vlog-nya Pandji. (https://www.vidio.com/watch/312821-mikir-eps-7-kekuatan-dalam-kata-tidak). Bukan ilmu baru sih, saya juga baru-baru ini menulis hal yang sejenis di tumblr. Hal-hal ini sebenernya dirangkum dengan epic di buku The ONE Thing dari Gary Keller. Salah satu kata bijak yang dikutip di buku itu:

Focus is a matter of
deciding what things
you’re not going to do.

Ya, manusia memang tak sepenuhnya logis. Tapi logika juga yang mengatur jalannya hidup manusia. Ah, saya kadang berpikir, logika itu sebenarnya elastis juga.

Ujung-ujungnya itu. Apapun yang terjadi, saya tidak ingin mundur ke belakang. Inginnya maju ke depan. Beresin PhD sambil melakukan hal-hal lain yang memang harus dipersiapkan dari sekarang. Meski terasa sulit, meksi merasa malas, saya tetap tidak boleh menyerah sedari pikiran.

(Duh malah ga ada update tentang per-PhD-an yah. Ya singkatnya mah besok akan menjadi hari terakhir saya ngasisten. Artinya nggak ada lagi excuse buat nggak ngerjain riset. Huft)

 

2 thoughts on “MVP Manusia:Saya Tak Ingin Mundur Ke Belakang

    1. mana punyamu.. jangan excuse deh. bilang aja kamu mau procrastinating riset dengan menulis blog. tapi karena liat aku udah nulis, neurons di otakmu mirroring sehingga ngerasa sudah nulis, jadinya kamu procrastinating dalam menulis blog. halah

      mungkin secara psikologis kita banyak mengalami fase-fase yang sejenis jadi ya mirip-mirip juga yang mau ditulis.. wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s