Kekasih Tak Akan Membiarkanmu Kehujanan

Matilah aku! Aku harus segera mendapatkan taksi. Sudah jauh-jauh datang kemari, apakah aku akan melewatkan perjanjian ini? Hanya demi berbagi riak tawa duniawi, aku habiskan waktuku di situ.

Maka aku pun menuju pintu keluar. Rupanya hujan. Banyak orang berjejer di depan pintu. Aku tanya kepada petugas keamanan, di mana taxi stand? Ia menjawab, di situ Mas, tapi yang menunggu sudah banyak. Aku pikir deretan orang itu, yang jumlahnya mungkin mencapai puluhan, sedang menunggu sesuatu. Tak kusadari, rupanya mereka sedang menunggu yang sama. Ya, puluhan orang itu menunggu taksi!

Waktuku tinggal tiga puluh menit. Tak akan mungkin aku bisa sampai di tempat yang dijanjikan jika aku tetap di sana. Tiga puluh menit. Andaikan satu taksi datang setiap menitnya, paling tidak aku butuh empat puluh menit untuk sampai di taksi. Belum lagi perjalanannya. Belum lagi kalau macet melanda.

Aku memutuskan untuk pergi ke jalan raya. Dengan celana khaki yang sobek di lutut, sandal jepit, dan kaos oblong oleh-oleh dari lombok, aku putuskan untuk menerobos hujan. Licin, jadi aku pun mencoba untuk tetap berhati-hati meski bergerak lincah. Aku menyadari bahwa aku membutuhkan sesuatu untuk menutupi kepalaku. Aku ambil dari tote bag unilever warna biru yang ku bawa, sebuah peci haji berwarna putih. Tapi ia kan berjaring? Aku akan tetap kehujanan bukan? Biar.

Di titik ini aku tak tahu seperti apa takdirku. Apakah aku akan ditakdirkan untuk dapat menatap Dia yang dirindukan? Dia tahu. Pertemuan ini sungguh kurindu. Dan jika telah digariskan bahwa akan bertemu, maka aku pasti bertemu. Tapi, hukum alam sedang bekerja. Aku harus melakukan variable change, mencari kemungkinan-kemungkinan terbaik di kondisi yang buruk. Jika aku diam, syarat terlaksananya pertemuan malam ini tentu tak akan tercipta. Sekalipun tempatku sudah di sediakan pada dimensi lain sana.

Maka tak boleh aku diam! Gelap mendung mesti diterjang!

Setibanya di depan gerbang, hujan semakin deras. Tak peduli lagi dengan power bank yang ada di dalam tote bag, aku jadikan ianya sebagai payung. Gelap, dingin, dan hujan semakin deras.

Taksi tak kunjung juga lewat. Apakah ada taksi di sekitar sini? Aku bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di deretan trotoar ini. Di sebelah sana ada lampu penerang jalan, aku pun ke sana supaya terlihat. Tapi hujan semakin deras, aku ingin berteduh di bawah pohon palma, sekalipun rindangnya pun tak berada.

Beberapa taksi sempat melintas. Ada yang berpenumpang, dan ada yang tidak berpenumpang. Sayang, enggan mereka untuk menghampiriku. Aku mulai putus asa. Tapi, aku yakin pertemuan malam ini akan terjadi. Aku berujar dalam hati sembari mengingat wajah yang dirindukan. Ya, pasti!

Aku keluarkan telepon genggamku di tengah hujan. Sedikit menyalahkan diri. Mengapa tak ku install gojek atau uber atau apapun dari sebelumnya? Tetesan hujan membasahi layar sentuh itu. Layar kapasitif itu pun menjadi tak responsif. Berbahaya. Apalagi aplikasi itu tak bisa dipasang.

Segala pertempuran batin mengaduk asa. Aku yakin akan dimudahkan jalanku ke sana. Aku hanya perlu berusaha. Dan mencari cara. Sebab tinta telah habis. Semua ketetapan telah ditulis. Apa yang akan diantarkan, pasti akan diberikan jalan.

Lama aku berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ke arah pertigaan agar kemungkinan semakin besar. Tak kunjung datang jua. Hampir habis segala asa. Rasanya sia-sia aku datang kemari. Melupakan Ilahi hanya demi berkawan duniawi?

Sungguh, tinggal seutas tali asa  yang aku genggam rapat-rapat. Antara cemas dan harap, tak lenyap yakinku bahwa sesuatu yang ditakdirkan untukku pasti akan menjadi milikku. Termasuk pertemuan ini. Pertemuan yang akan terjadi ini!

Ugh, barangkali tersisa hanya sepuluh menit waktuku. Tepat waktu benar pertolongan itu datang. Sebab aku yakin Sang Kekasih tak akan membiarkan aku lama diguyur hujan. Syukur kuhaturkan atas taksi yang akhirnya belok kanan untuk menepi dan menghampiri. Kuda perang yang garis hidupnya diiriskan dengan punyaku.

Tak banyak yang kami perbincangkan. Pak Sopir hanya bercerita tentang bagaimana ia ditugaskan untuk tidak menolak penumpang. Kecuali jika ia sudah hendak kembali ke kandang. Pernah katanya, pada suatu malam, dia harus putar balik demi seorang wanita yang melambaikan tangannya hanya untuk memohon maaf dan memberitahunya bahwa kudanya sudah hendak beristirahat. Aku rasa ada sorot ketulusan di jiwanya.

Sementara itu, jalanan tidak sesepi kuburan. Tapi aku hatiku berbunga. Tiga taksi kosong menolak lambaian tangan, kini aku sudah tak kehujanan. Apa lagi yang ku minta? Seorang raja yang kehausan di padang pasir bahkan rela menukar separuh hartanya untuk segelas air. Mendapat tumpangan empuk di tengah derasnya hujan malam tentu tak lagi dapat ditaksir.

Lantas, mengenai pertemuan yang dijanjikan, tak sedikit pun aku meragukannya. Yang penting aku sudah di atas taksi. Tak tahu kapan akan tiba, tapi setidaknya aku sudah berada di perjalanan. Sebab, tugasku hanya satu. Tetap berjalan sembari menggigit seutas tali itu.

*barangkali inspirasinya hadir pada 8 Februari 2016, sebuah draft yang lama terkubur*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s