Pencarian Spiritual Manusia Tak Bertuhan

Tentang buku “Waking Up: A Guide to Spirituality Without Religion” dari Sam Harris, seorang neo-ateis yang cukup vokal dalam memerangi agama, terutama Islam. [Neo-ateis yang saya maksudkan di sini mengacu pada tokoh-tokoh intelektual barat (seperti biolog Richard Dawkin, fisikawan Lawrence Krauss, jurnalis Christopher Hitchens)  yang begitu mengedepankan rasio dengan konsekuensi: gencar “mempromosikan” ateisme (walaupun kata “promosi” tidak sepenuhnya tepat)]. Dia sendiri adalah seorang filsuf dan neuroscientist lulusan Stanford dan UCLA. Buku yang ditulisnya sendiri lebih seperti memoar pencariannya akan kebenaran (lebih banyak kontemplasinya daripada sainsnya).

*Seharusnya saya memasuki fase fokus mengerjakan riset. Tapi, memori di otak ini penuh sekali dengan konsep tulisan. Maka, saya ingin membuang salah satunya supaya ada ruang kosong.*

Spiritualitas vs Sains

Terkadang, saya menjumpai orang-orang yang mengaku beragama meremehkan orang ateis. Padahal, tak jarang orang-orang yang ateis atau agnostik itu lebih memikirkan Tuhan ketimbang orang-orang yang beragama. Sementara orang beragama sombong karena merasa sudah beruntung mengimani Tuhan, para agnostik cukup rendah hati sehingga mau terus mempertanyakan kebenaran. Namun, menurut pandangan saya, pada pangkalnya mereka juga menjadi arogan dengan ketidaktahuannya.

Kebanyakan gagasan dari para ateis atau agnostik dengan latar belakang sains adalah kebenaran empirik sesuai kaidah sains. Mereka menganggap agama hanyalah dogma masa lalu (sisa peradaban kuno) yang seharusnya tidak lagi diyakini sebab tidak dapat dibuktikan dengan sains.

Mereka sadar bahwa ada banyak hal yang tidak atau belum diketahui terlepas dari perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat, akan tetapi mereka enggan mempercayai “hipotesis” tentang hal-hal tersebut. Di sinilah, mereka gencar menggempur umat beragama, sebab terkadang umat beragama mengingkari kebenaran ilmiah (yang tentu saja nisbi) karena sains. Mereka ingin hal-hal yang belum diketahui dibiarkan saja menjadi misteri sains. Dan, mengutuk siapa yang sok tahu tentang hal yang belum dipelajari sains.

Di sinilah bagi mereka, agama menjadi candu yang membutakan manusia dari kebenaran (ilmiah). Dan, memang kenyataannya pembangga-banggaan ajaran agama secara berlebihan tanpa adanya upaya untuk mempelajarinya dan mengemulasikannya keutuhannya dalam kehidupan sehari-hari telah menimbulkan kerusakan di muka bumi. Di sini juga mereka terjebak di kutub yang sama: berbangga atas ketidaktahuannya itu.

Sebagai intelektual, tokoh neo-ateis memiliki rasa penasaran yang tinggi. Dan pencarian mereka dalam kerangka sains yang sekuler, cukup menarik untuk diikuti. Umumnya, tokoh neo-ateis tidak berupaya menempatkan spiritualitas dan moralitas ke dalam ranah sains. Mereka membiarkan apa yang ada di dunia ini bebas nilai. Cukup dipahami saja apa yang cara kerjanya dapat dibuktikan secara empirik, sedangkan hal-hal yang abstrak seperti makna hidup dilemparkan kepada masing-masing individu.

Kemudian, dengan hal-hal inilah umat beragama (yang berusaha menghalau neo-ateisme) menemukan tamengnya. Bahwa agama mengajarkan kebaikan, memiliki standar perilaku tertentu, dan memberikan ketenangan batin bagi para pemiliknya, adalah bukti bahwa agama masih relevan di jaman sekarang.

Berangkat dari sini, Sam Harris yang lulusan filsafat berupaya membangun fondasi sains terkait dengan urusan moral dan spiritual. Sam Harris percaya bahwa agama tidak lagi relevan, sebab hal-hal yang tadinya diposisikan sebagai tempatnya agama, dapat digantikan oleh apapun (sebab spiritualitas adalah pengalaman yang cukup universal lintas-agama). Sementara, doktrin-doktrin yang menurutnya konyol, tidak perlu digantikan dengan hal-hal baru seperti yang diupayakan New Age thinker atau para ‘mistik’ di era modern.

Banyak manusia di jaman ini mencari ketenangan batin. Sam Harris pun demikian. Dia begitu penasaran dengan apa yang disebut “pencerahan”. Ya, orang yang tak bertuhan pun ingin mendapatkan pencerahan. Maka ada banyak orang yang mengaku “spiritual tapi tidak religius”. Namun, karena terlanjur tidak sepakat dengan agama, ia menginginkan agar pencerahan ini dicapai melalui cara sekuler atau non-religius. Dan di sinilah, riset sains dan pencarian spiritual dari Sam Harris berusaha menjembatani spiritualitas dan sains se-adil mungkin (menurut versinya dia tentu saja).

Spiritual Versi Harris

Ketika menyadari akan kebutuhan spiritual seorang manusia, tentu perlu diperjelas lagi, apa sebenarnya spiritualitas itu? Manusia menyadari bahwa kebutuhannya ada di berbagai tingkatan dari kebutuhan fisik, estetik, pengakuan, aktualisasi diri, dan sebagainya. Nah, ada suatu tingkatan abstrak yang umumnya disebut transendensi-diri dan erat kaitannya dengan spiritualitas. Transendensi diri adalah suatu istilah yang abstrak, sebab istilah ini mengacu pada sebuah pengalaman yang melampaui pengalaman normal atau fisik. Umumnya transendensi diri diartikan sebagai hilangnya ego atau kesadaran diri karena merasa telah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, misalnya: alam semesta. (Saking abstraknya, saya pun tidak dapat memahami apa itu transendensi diri meskipun menuliskannya.)

Namun, tentu lagi-lagi seperti apa spiritual itu? Einstein misalnya mengartikan spiritualitas sebagai fenomena yang dialaminya saat berupaya memahami keagungan dan misteri semesta alam (namun yang umum dipahami, Einstein tidak percaya pada adanya Tuhan personal; ini pula yang diacu Richard Dawkins yang tidak ingin ungkapan spiritualitas ini dibajak oleh orang beragama sebagai bentuk kepercayaan pada hal non-sense, seperti Tuhan personal). Hitchens misalnya, menganggap bahwa saat kita terpesona dengan keindahan bunga, itu sudah termasuk spiritualitas. Mungkin bagi beberapa orang, spiritual adalah suatu fase ‘flow‘ ketika ia asyik melukis. Jadi, ketika seseorang mengerjakan suatu aktivitas dan dia merasa lupa waktu, terbius, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, itulah spiritualitas. Sangat luas.

Bagi Sam Harris, spiritualitas di atas terlalu luas. Spiritualitas yang ia maksud erat kaitannya dengan kesadaran dan persepsi manusia akan realitas. Sebab kesadaran inilah yang pada ujungnya dapat membuat manusia kokoh dari segala pengalaman yang ia alami, baik sedih maupun senang. Tentu definisi spiritual jenis ini lebih dekat dengan efek yang dikejar manusia dengan meditasi dan metode lain yang dimiliki berbagai agama. Lebih dari itu Sam Harris berupaya menggali lebih makna “pencerahan” yang sering dipromosikan umat beragama melalui pendekatan neurosains mengenai kesadaran, sehingga ia perlu meninjau tidak hanya definisi “spiritual”, tapi juga “kesadaran” dan “diri”.

Melalui pengalamannya berguru spiritual kepada para biksu dan pendeta Buddha di Asia Timur-Selatan, serta pengalamannya dalam menggunakan obat-obatan yang mengubah respons indera atau kesadaran (altered stated of consciousness), Sam Harris berupaya mendefinisikan sebuah spiritualitas sekuler. Mengapa ia mempelajarinya, karena ia melihat bahwa upaya untuk menjembatani sains dan spiritualitas di era modern ini umumnya terjebak pada dua hal:

  1. Pseudo-spiritual: yakni ketika ilmuwan yang membahasnya memiliki cakrawala yang sempit tentang dunia spiritual;
  2. Pseudo-sains: yakni ketika pemikir New Age menghubung-hubungkan hasil ‘kontemplasi’ para orang suci di jaman dahulu dengan hukum sains, dengan cakrawala sains yang sempit.

Tunggu, kalau spiritualitas ini sekuler, mengapa ia berguru kepada biksu agama Buddha? Sebagaimana kita tahu, masing-masing agama memiliki metodenya tersendiri untuk mencapai “pencerahan”. Nah, menurut Harris yang sudah melakukan studi komparasi agama, upaya mencapai pencerahan di agama Buddha bisa dilakukan tanpa perlu mempercayai doktrin agamanya sendiri. Sebab, meditasi adalah suatu pengalaman empirik yang bisa dibuktikan. Menurut pandangannya, Buddhisme tanpa meyakini doktrin-doktrinnya merupakan sebuah sains yang bisa dialami secara langsung. Hal seperti ini, tidak dapat dilakukan untuk agama lain. Misalnya, menjadi seorang Buddhis yang sekuler tidak akan ekuivalen dengan seorang Yahudi yang sekuler.

*ini baru pengantar kok sudah panjang sekali ya, next nya mungkin akan saya lebih peras lagi inti-intinya*

Definisi Kesadaran

Salah satu misteri yang belum dapat dipecahkan oleh sains adalah tentang kesadaran. Apa itu kesadaran? Apakah ada tempat di otak yang berisi kesadaran seorang manusia? Ataukah kesadaran hanyalah ilusi dari pikiran?

Hubungan antara pikiran-tubuh adalah sebuah permasalahan yang memang sulit diteliti. Apakah realita sebenarnya hanyalah produk pikiran dan tidak mencerminkan fenomena fisik yang sebenarnya terjadi, dengan kata lain, persepsi menciptakan realitanya sendiri? Atau sebaliknya, sebenarnya persepsi hanyalah konsekuensi dari apa yang terjadi di alam fisik? Paham yang kedua tentu mereduksi kesadaran sebagai akibat dari proses fisik belaka. Yakni, setelah proses evolusi yang begitu lama, akhirnya sistem-sistem organ yang berinteraksi sedemikian rupa memungkinkan timbulnya kesadaran yang lebih tinggi.

Tentu saja, akan sangat sulit untuk mempelajari asal muasal dari kesadaran. Sebab, pada kasus eksperimen split-brain, seseorang yang mengalami pemutusan suatu hubungan antara otak kanan dan kiri-nya, seolah memiliki dua pikiran. Dua pikiran ini seolah memiliki persepsi dan kepribadiannya sendiri. Kita tentu bisa saja mengartikan bahwa pikiran dan kesadaran hanyalah sesuatu yang timbul dari hal-hal yang tidak sadar. Sebagaimana gerakan fluida yang kita persepsikan sebagai arus sebenarnya hanyalah konsekuensi dari pergerakan partikel-partikel. Namun, kita belum (atau bahkan tidak mungkin) membuktikannya dan memahami segala implikasinya.

Dalam hal asal muasal kesadaran, Sam Harris memillih untuk menjadi agnostik. Namun, Sam Harris berupaya memisahkan kesadaran dengan isi dari kesadaran. Baginya, membicarakan asal muasal dari kesadaran tidak banyak faedahnya dan sulit untuk mendirikan basis sains yang kuat. Sedangkan, membicarakan konten dari kesadaran itu sendiri adalah hal yang dimungkinkan. 

Apa yang dimaksud dengan konten dari kesadaran? Untuk menjelaskannya, kita dapat menggunakan ilustrasi seseorang yang hilang ingatan. Seseorang yang hilang ingatan menyadari bahwa dirinya ada, namun tidak memahami siapa dirinya. Dia kehilangan kepribadian, namun tidak kehilangan kesadaran. Kepribadian itulah yang merupakan konten dari kesadaran itu sendiri. Sementara kesadaran adalah wadah tempat segala kejadian mental lalu lalang. Termasuk tempat duduk dari ‘aku’ sebagai subyek dari pengalaman. Kesadaran, menurut Sam Harris selayaknya suatu cahaya yang menerangi kontur pikiran dan tubuh.

Di sinilah spiritualitas dan pencerahan yang dimaksud oleh Sam Harris mendapatkan tempatnya. Spiritualitas adalah kemampuan manusia untuk hidup dengan kesadaran murninya. Sebuah realita yang tidak dibumbui oleh ilusi diri dan sudut pandang pribadi. Sebuah kemurnian yang menuntut seorang manusia untuk memandang segala yang terjadi sebagai kejadian-kejadian mental belaka. Kesedihan, kesenangan, dan diri pribadi hanyalah ilusi dan merupakan konten atau isi dari kesadaran. Mereka hanyalah air yang terkadang memasuki bejana kesadaran.

Dengan hal ini pula, Sam Harris berupaya menjelaskan fenomena kesadaran sebagai kontinuitas psikologis ketika seseorang menyadari bahwa dirinya ada, terlepas dari emosi yang ia rasakan atau ingatannya tentang diri pribadi. Kemudian, pencerahan tercapai ketika seseorang dapat berada menyadari bahwa segala pengalaman yang dialaminya hanyalah perpindahan dari satu momen ke momen lainnya terlepas dari subjektivitas pribadinya. (Ya, kurang lebih seperti ini yang saya tangkap).

(Sebenarnya ada hal-hal menarik seputar definsi kesadaran dan konsep kontinyuitas psikologis dan kontinyuitas fisik dengan beragam eksperimen pikiran atau gambaran dari literatur sastra. Namun, lebih baik dibahas di lain waktu).

*18/5, melanjutkan draft dari bulan-bulan lalu, berusaha memeras ingatan tentang kerangka pikiran yang waktu itu diniatkan. supaya tulisan ini tidak memenuhi draft. kalau salah kapan-kapan dikoreksi.*

Perguruan-Pemuridan Spiritual

Sampai di sini, Sam Harris pun hendak mencari cara untuk mencapai pencerahan yang logika dasarnya sudah ia dapatkan. Dikatakan bahwa ada dua cara menuju pembebasan dari ilusi diri ini yakni: bertahap vs mendadak (tiba-tiba). Ia pun mencari Spiritual Guru.

Pencarian Sam Harris mengantarkannya ke berbagai Guru yang menganut ragam versi tentang pencarahan. Di sini Sam Harris menyadari bahwa spiritualitas tidak memiliki ukuran yang pasti, bahkan dari satu guru ke guru lain. Di Guru A, seorang murid dikatakan hebat dan sudah mencapai pencerahan mendadak (sudden enlightenment). Tapi, setelah ke Guru B, murid yang sama ini disebut masih panjang dan masih perlu latihan sebelum mencapai pencerahan melalui kultivasi bertahap.

Tak jarang, pencarian spiritual ini juga masuk ke ranah abu-abu. Dalam prosesnya berguru, Sam Harris menemui pasangan murid. Istrinya diminta untuk melayani Si Guru secara seksual, tentu saja dengan dalih bahwa jika mau menghilangkan keterikatan ego tentu harusnya dia mau. Tentu saja ini menciptakan konflik dan masuk ke ranah penyelewengan. Tapi, toh, entah mengapa, setelah itu terjadi si pasangan ini masih mau berguru pada Si Guru ini. Pun ketika ia menemukan seorang guru yang tukang mabuk, Sam Harris tetap tinggal untuk mencari ilmunya. Sebab, sekalipun tindakan guru itu mungkin bertentangan dengan nilai yang dia punya, apa yang dia ajarkan masih dapat membantu Sam Harris menaiki tangga pengetahuan tentang spiritualitas tersebut.

Bantahan Terhadap “Fakta Saintifik Tentang Adanya Surga”

Sam Harris juga mendedikasikan sebagian dari bukunya ini untuk membantah pengakuan seorang Dokter bedah otak tentang pengalaman spiritual-nya saat koma. Apa yang dialami Eben Alexander ini, baginya tak jauh beda dengan efek trance yang diperoleh dari DMT (obat psikedelik). Pengalaman ‘spiritual’ Eben Alexander, bagi Sam Harris, tidak membuktikan adanya surga tapi memberikan suatu wawasan bahwa pikiran kita bisa mengalami suatu fenomena yang berbeda dari pikiran normal.

Anjuran Penggunaan Obat Psikedelik

Sam Harris meyakini bahwa penggunaan obat-obatan yang dapat mengubah kognisi dan persepsi sebagai upaya untuk memahami ilusi diri. Harapannya, dengan memahami relativitas dari persepsi, seseorang akan dapat memahami bahwa diri ini ilusi, dan terdapat sebuah kesadaran dalam diri yang bersifat apa adanya.

Kesimpulan

Tentu saja, terlihat dari judul memoar-nya ini, visi Sam Harris adalah menggantikan peran agama-agama yang terorganisasi. Sebab, toh, setiap orang dapat menemukan pengalaman spiritual dan pencerahan tanpa agama. Semua cukup dilakukan dengan menyadari bahwa diri ini adalah ilusi. Ya, setidaknya seperti itulah yang dia tawarkan dengan pengetahuan yang masih belum dapat membuktikan asal muasal kesadaran.

Catatan:

Ada banyak pelajaran yang kita petik dari kisah Sam Harris ini, terutama bagi para salik. Tentunya, kita dapat berempati kepada Sam Harris yang sebenarnya memiliki dahaga spiritual. Sehingga kita doakan saja supaya kelak dia diantarkan kepada Guru Sejati yang akan menuntunnya untuk tidak sekedar ‘nafi’ tapi juga ‘isbat’. Kita tentu kagum dengan pencariannya itu.

Dan, tentunya Sam Harris kembali mengingatkan bahwa kita harus mencari kebenaran dari mana-mana, selama kebenaran itu.. memang benar. Serta, pada akhirnya kita diingatkan kembali mengenai halusnya perjalanan spiritual.

Sebagai introspeksi pula, perlu memang kita memahami bahasa modern dan memahami Islam secara kafah supaya agama yang merupakan manifestasi Kasih Sayang Ilahi dapat benar-benar dirasakan bagi seluruh umat. Ya, tentu lagi-lagi kembali kepada At-Tahrim ayat 6.

Jika, Sam Harris mengibaratkan kesadaran yang murni sebagai sesuatu yang membuat kita bisa ‘melihat/merasakan’ adanya tubuh dan pikiran, demikian halnya Nurun Ala Nuur, frekuensi/radar KeTuhanan. Dia adalah Cahaya yang akan membantu kita menemukan sudut kotor dan batil dalam hati kita, dan Kebenaran Sejati yang harus kita pegang teguh. Tanpanya, sungguh Diri Sejati kita akan berada dalam kondisi mati. Maka, yang menjadi renungan kembali adalah, apakah akan kita sia-siakan berita dari Sang Utusan?

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s