Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai

“Ma, ini tuh kayak pacaran sembilan tahun sama cewek yang kita nggak suka-suka amat gitu. Yang kita udah berusaha buat suka, tapi nggak bisa.”

Jumat, 6 Mei 2016. Sore hari sebelum perbincangan itu terjadi, saya sedang makan bubur kacang hijau di kantin. Minggu-minggu ke belakang banyak sekali yang berbincang dengan saya seputar studi saya. Seperti diwawancarai lagi rasanya, tentang mengapa saya ambil PhD.

Sebenarnya ceritanya agak panjang dan saya sudah menulis draft lagi tentang detailnya (draft lain, meski nggak tahu juga apa suatu saat akan selesai atau tidak, akan di-post atau tidak). Kalau mau disingkat pakai bahasa gaul, “I’m in a deep sh*t right now.” Saya ada di tumpukan kotoran akibat perbuatan saya sendiri.

Tapi, sore itu saya tersadar akan banyak hal. Dan segala hal itu bercampur aduk dan bermuara pada satu.

Dan, pertama-tama saya harus ikhlas dulu menerima bahwa pada momen ini saya harus menerima semua yang saya alami sebagai takdir Tuhan. Mungkin semua ini akibat kebodohan saya sehingga menganiaya diri sendiri, tapi tetap ini adalah takdir terbaik yang telah terjadi. Sehingga harus ikhlas dulu. (Dulu saya pikir aturan pertama itu bersyukur, tapi rupanya kita tidak bisa bersyukur kalau kita tidak ikhlas. Ikhlas memurnikan keagungan Dia sehingga kita begitu kecil dan menjadi tiada.)

Pada momen ketika saya berusaha mengikhlaskan itu sesungguhnya hati saya sedang menyitir apa yang disampaikan pada buku Al-Hikam yang sempat ada di tangan saya untuk beberapa hari. Bahwa semua harus dikembalikan kepada Tuhan. Bahwa saya tidak dapat melawan waktu. Dan bahwa ketika seseorang lari dari dunia dengan alasan ingin beribadah, sedangkan Tuhan sedang memberikan jatah untuk dia berkarya, artinya orang itu justru sedang dalam pengaruh hawa nafsu dan tidak memahami ketetapan Tuhan.

Tapi, di dunia ini, bukankah kita tidak pernah tahu rencana Tuhan buat kita? Kita bukan para wali yang memulai hari dengan petunjuk Tuhan sesuai dengan kitab di langit sana.

Dalam waktu yang cukup singkat itu saya merenung. Merenungkan perjalanan PhD saya, bagaimana saya nyaris DO berkali-kali. Dan perasaan lelah mental ini kembali timbul meski saya sudah berupaya menghalanginya. Apalagi baru saja saya mendapatkan email yang mengingatan bahwa beasiswa dan kandidatur saya akan kadaluarsa dalam dua tiga bulan ke depan.

Sejujurnya saya sedang ada di titik nol. Saya justru membayangkan, apa yang terjadi jika saya hentikan ini semua sekarang. Mungkin saya lega. Dan, toh, PhD bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan mati-matian. Menjalankan hidup tidak harus dengan PhD. Dan saya sudah berkali-kali merenungkan masalah ini.

Lagipula, saya selalu mengatakan pada diri saya bahwa apapun yang terjadi perjalanan saya selama mengenyam studi di sini sangat luar biasa. Memang ada rasa sedih juga ketika melihat teman-teman yang studinya lancar. Tapi, sedih itu kalah oleh rasa senang karena saya diberi kesempatan untuk bertemu banyak orang dengan kisah-kisah menarik, kesempatan berkarya di beragam hal, dan yang paling utama ialah karena di fase inilah saya belajar untuk ber-Islam dengan benar: zahir dan batin. Dan, segala hiruk-pikuk PhD saya semakin menegaskan dan mempertebal keyakinan saya dalam menempuh ‘jalan hidup’ ini. Belajar jadi manusia, belajar menghamba.

Terkadang dari studi PhD ini saya jadi belajar hubungan antara seorang murid dengan Sang Guru. Terutama ketika setelah satu setengah tahun tidak membuat progress dan tiba-tiba profesor saya baru tersadar. Entah mengapa di momen itu, betul-betul saya teringat Al-Fajr: 23. Pada hari itu manusia baru tersadar, tapi kesadarannya sudah tidak berguna.

Selama ini saya bisa survive di PhD sampai sekarang itu karena kasih sayang supervisor saya. Dan ketika supervisor saya tidak mengecek progress saya, itu pun bukan salah dia. Karena toh memang PhD ini seharusnya merupakan kerja yang independen.

Sama dengan kita ber-Tuhan. Kita bisa hidup sampai detik ini itu merupakan kasih sayang Tuhan. Dan kalau kita lalai, nanti kita tidak bisa menyalahkan Tuhan di hari pembalasan. Maka dari itu, saya jadi paham, mengapa para sufi lebih menyukai hidup yang penuh ujian. Yakni agar mereka tidak lalai.

Nah, sampai pada renungan itu, saya jadi bertanya. Lantas kalaupun ini semua terjadi, dan semuanya tetap positif. Apa makna ini semua? Apa substansi dari kehidupan ini? Kalau saya berhenti PhD sekarang ya nggak masalah juga selama saya masih jadi orang baik kan? Kalau lanjut dan akhirnya jadi PhD juga baik kan? Toh pada, akhirnya keikhlasan lah yang memberikan arti pada hidup kita, bukan peran apa yang kita emban daripadanya.

Apalagi kalau menyadari bahwa sebenarnya semua tak lepas dari pemeliharaan dan perencanaan Tuhan. Rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Singkat cerita, tidak ada motivasi duniawi di alam materi yang bisa membuat saya memperjuangkan PhD ini mati-matian.

Di situlah saya menyadari, bahwa ini semua main-main.

Kita hanyalah kesadaran yang beranjak dari satu momen ke momen lain. Setiap momen adalah transisi dari satu ilusi ke ilusi lain. Lantas, dapatkah kita memetik arti atas kefanaan yang sedang kita hidupi?

Bahwa ini semua ujian keimanan!

Iya, kita selama ini salah betul kalau berpikir bahwa hakikat hidup ini adalah untuk mengejawantahkan aspirasi kita, dan di sana Tuhan akan bantu kita. Bukan! Selama ini kita selalu senang ketika memperoleh apa yang kita inginkan, lantas ketika realitas kehidupan tidak sesuai dengan yang kita inginkan, kita kembali ke Tuhan. Mengartikan bahwa ini ujian! Dengan demikian kita lega, oh, kita sedang diuji.

Itu adalah pola pikir yang terbalik!

Bahwa segala yang kita alami di kehidupan ini justru ada untuk menguji iman kita. Iman yang kita bawa dari saat kita di nirwana. Alastu birabbikum qaaluu balaa syahidnaa (Al-Araf 172).

Apakah kemurnian tauhid ini akan tetap kita jaga dalam segala pengalaman hidup ini? Itulah yang sebenarnya sedang kita lakukan.

Main-main saja hidup ini.

Dan, pola pikir kita ini sudah salah total. Tidak berupaya memandang hidup sebagai ujian keimanan seorang hamba. Agama yang seharusnya menjadikan Tuhan sebagai pusatnya, justru kita ganti dengan ego kita. Agama untuk ego.

Di sisi lain, saya jadi ingat celetukan saya. Mendengar cerita-cerita yang fenomenal tentang perjuangan orang-orang untuk menuju Tuhan, saya waktu itu jadi takut. Walaupun rasanya belum percaya benar, tapi saya bilang ke Tuhan

Tuhan, aku percaya, jangan diuji yang berat-berat

Ternyata nggak bisa gitu, keimanan inilah yang harus senantiasa dipertebal dengan ujian yang semakin sulit. Di sinilah ayat Quran (Al-Ankabut ayat 2( menjadi nyata buat saya:

Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji?

Ironisnya, saya mengatakan yang di atas karena saya takut kalau diuji macam-macam. Hahaha.

Lantas, bagaimana menghadapi ujian ini?

Sorenya saya mengungkapkan uneg-uneg saya ke ibu. Saya mengungkapkan betapa seperti itulah perasaan saya kepada dunia Teknik Elektro. Saya mungkin menyukainya, tapi ada lebih banyak hal yang saya sukai. Dan saya… lelah.

Tapi, tidak seperti orang lain yang keburu men-judge atau buru-buru memerintahkan mengerjakan tesis. Ibu saya justru dengan santainya mengatakan bahwa,

“iya, selama ini perjuangan Fikri sudah luar biasa, cuman sekarang kan masih ada kesempatan. Justru inilah bersyukur yang sebenarnya, makanan yang ada tetap dimakan meski bukan yang kita sukai. Bersyukur yang bukan sekedar mensyukuri karunia kecil, tapi menjalani kehidupan sebagai bentuk syukur itu sendiri.”

Saya jadi teringat kata-kata Emirza, minggu-minggu sebelumnya. When life gives you lemon, you make lemonade. It’s not about love and hate. Kata-kata klise yang karena saya sedang bad mood dan karena dia klise, jadi saya keluarin ke telinga kiri saja.

Tapi di situ justru memberikan jawaban. Kalau ini adalah ujian keimanan semata, lantas bagaimana kita mengambil keputusan? Ya caranya dengan ikuti perintah Tuhan, salah satunya ya bersyukur itu tadi. Jadikanlah bagian hidup ini sebagai pelajaran syukur. 

Dan, lagi-lagi hal ini menggeser paradigma saya tenang syukur. Tahun-tahun sebelumnya, saya pernah merasa mendapat karunia yang begitu besar. Setelah berhemat dengan sisa tabungan dan hidup dalam ketidakpastian studi, saya akhirnya sampai pada suatu titik aman dan mendapatan kembali beasiswa saya. Selain itu, saya juga mendapat uang tambahan dari berbisnis dengan teman, serta kesempatan menulis buku untuk proyek dari atase dikbud KBRI Singapura. Dan itu nikmat yang luar biasa, belum lagi dihitung nikmat Iman sendiri (yang tak bisa dihitung), sampai-sampai saya bingung: bagaimana cara saya mensyukurinya?

Waktu itu saya masih bepikir bahwa bersyukur itu dengan cara mewujudkan aspirasi kita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Kelihatannya paham ini sudah baik. Namun, rupanya masih bisa diperas lagi menjadi hal yang lebih substansial. Memang kelihatan tipis bedanya, tapi fundamental.

Dan, proses akuisisi paradigma baru ini memang bertahap. Dikuatkan dengan kejadian-kejadian hidup yang dialami. Karena toh kalau digali di blog-blog saya, dari dulu juga saya sudah menuliskan seperti ini:

Siklus hidup: Saat dilanda duka, kita mencoba mendekat pada-Nya. Di sana kita tersadar makna hidup yang sebenarnya. Apa yang harus kita kejar.

Lalu duka itu berlalu. Kita ingin bersyukur. Kita kejar cita-cita. Saking seriusnya mengejar cita-cita, kita jadi ambisius. Untuk memenuhi ambisi, tak jarang kita melupakan perintah dan larangan Tuhan.

Kita lupa bahwa bekerja mewujudkan cita-cita hanya sekedar untuk bersyukur. Lupa bahwa bekerja hanya untuk daur ulang. Supaya kita tetap bisa menjalankan misi kita.

Tapi, ya sekarang ini semakin ngeh ketika berada di titik nadir. Sebab, di titik nadir ini kita kembali menilik paradigma kita tentang hidup. Diuji lagi apakah kita akan tetap berpegang teguh pada nilai yang esa? Ahadun ahad. Yang turunannya kalau dijabarkan menjadi Islam yang kaffah dan akhlak yang mulia itu sendiri!

Oh iya, lucunya, sebelum ibu saya memberikan jawaban seperti itu. Saya sempat berargumen dengan ibu saya

“Ma, tapi kan ada temenku yang udah pacaran lama, si cowoknya sayang sama dia tapi dianya nggak bisa membalas cintanya tuh. Cowoknya tulus. Tapi dianya tetep nggak bisa menerima”

“Ya, berarti ada yang salah dengan dirinya. Dia belum selesai dengan dirinya sendiri.”

Nah tanggal 8-nya, si temen ini curhat gitu. Lantas, saya dengan kalimat hasil kulakan, saya teruskan ke dia.

“Gw kan udah sering nyakitin dia. Gw kena karmanya. I will not do it again”

“Ga ada gitu-gituan. Kalo lo emang sayangnya sama orang lain, dan dia sakit hati karena lo sayang sama orang lain. Artinya dia nggak tulus. Dan, gw pikir ada yang salah dari diri lo sendiri”

“Kenapa gitu?”

“Mungkin lo takut menyakiti diri sendiri karena lo tau betapa dia memperjuangkan lo. Ketika lo belum bisa lanjut sama dia, artinya lo belum selesai dengan diri lo sendiri.”

“Tepat sasaran sih. Tapi belom selesai dengan diri sendiri itu gimana?”

Nah, karena saya juga gak mudeng, karena cuman copy-paste jadilah saya ngaku saja kalau saya nggak bener-bener ngerti maksudnya ibu saya. Mungkin kaitannya lebih ke syukur ya. Lantas dia bertanya, apa yang harus dia lakukan.

Entahlah, saya juga tidak tahu harus menjawab apa. Sehingga, akhirnya saya jawab

Jalani sesuai kata hati lo aja. Mana yang lebih bisa mendekatkan lo sama Tuhan. Gak ada satu solusi dalam hidup. Ada banyak. Pilih perspektifnya aja selama niatnya lurus.

Dan di situ saya tersadar sendiri. Takdir Tuhan itu nggak ada yang buruk. Pilihan-pilihan pun bisa baik semua tergantung sudut pandang kita. Tapi, yang pasti sudut pandang itu harus tetap mengarah kepada Dia Yang Esa.

Orang mau menjalani profesi apapun ya yang penting ujungnya tulus ikhlas. Tulus itu murni, bukan gaya-gayaan. Ikhlas itu bukan tidak mengharap apa-apa, tapi ya mengharap ridho Tuhan.

Dan, sekali lagi saya diingatkan bahwa solusi dari Tuhan itu tidak terduga. Dan datang di saat yang tepat.

Sampai di sini, masih tersisa pikiran-pikiran saya. Terutama kecamuk mengenai uang. Sebab, ada yang bilang rugi kalau melanjutkan tapi harus bayar.

Padahal, sebenarnya dari awal saya terseok pun saya sudah bilang pada diri sendiri. Saya memulai riset ini telat, kalau toh saya harus perpanjang masa studi dan bayar juga nggakpapa. Toh, sebenarnya uang ini juga didapat dari menabung selama dapat beasiswa.

Tapi, rasa kepemilikan dan kecintaan saya kepada harta (wa tuhibbuunal maala hubban jamman) juga membuat ragu. Padahal semua ini hanya asumsi. Belum tentu juga saya harus extend. Ya, meskipun waktunya sudah semepet ini, kita tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk kita.

Maka, pada suatu sore saya menikmati awan di atap gedung sembari menyeduh kopi.

Di situ saya kembali memisahkan, mana yang sifatnya asumsi, mana yang sifatnya fakta. Sebab seorang muslim tidak boleh stress dan galau. Sedangkan kegalauan itu sebabnya dua:

  1. Salah menyikapi fakta
  2. Menganggap asumsi sebagai fakta

Dan ujung-ujungnya soal prasangka kita ke Tuhan. Dan terkadang prasangka kita ke Tuhan itu disertai dengan perhitungan kita akan fakta yang ada (salah menyikapi fakta).

Nah, sekarang kita coba pandang secara objektif. Kita lahir tidak membawa apa-apa dan akan meninggal tanpa apa-apa. Lantas apa yang harus kita perjuangkan? Apakah kita harus memperjuangkan harta belaka yang sebenarnya bukan milik kita? Padahal, begitu banyak keputusan buruk yang diambil manusia karena rasa kepemilikan (yang sebenarnya semu). Ilmu behavioral economics tengah membahas ini, dan tentunya mengukurnya dengan untung-rugi.

Ya, rupanya hidup ini pada akhirnya merupakan pertempuran nilai. Sekarang apa nilai yang kita ambil?

Kalau menurut nilai ekonomis, tentu ada yang namanya Sunk-Cost fallacy. Yakni ketika kita sudah rugi secara finansial, tapi masih bertahan di jalan itu karena kita sudah merasa memiliki dan sudah merasa berkorban banyak. Padahal, satu-satunya cara untuk meminimalisasi kerugian adalah dengan pindah jalan. Kalau investasi, ya investasinya ditarik.

Hal yang dari sudut pandang finansial disebut Sunk-Cost fallacy bisa saja menjadi hal yang benar dilakukan kalau mata uang yang digunakan bukan uang, kalau kita kekeuh menempatkan value lain di atas value materi semata. Misalnya, mau rugi sekalipun, sebuah toko dipertahankan karena nilai historis-nya bagi sebuah keluarga. 

Seperti cerita Mas Tegoeh yang pernah ‘dikerjain’ suatu perusahaan terkait kerjasama riset. Walaupun akhirnya secara hitung-hitungan rugi, tapi dia merasa untung dari segi pembelajaran yang diraih. Ya, karena hidup itu bukan melulu soal uang sebagaimana yang diajarkan kapitalisme global yang telah menyatu dengan kehidupan kita ini!

Demikian pula dalam hidup, kita harus mencari apa value kita? Value itu yang akan berharga untuk kita perjuangkan, tanpa peduli kita akan ‘kalah’ atau ‘menang’. Karena ya value itu yang paling berharga. Kemenangan dan kekalahan jadi tak ada artinya dibanding perjuangan kita untuk menjunjung tinggi nilai.

Seperti di film-film, superhero biasanya menolak membunuh atau menghajar lawannya dengan kejam kalau bukan terpaksa. Dalam sebuah drama politik, seorang politisi dengan moral yang baik juga ragu menghajar politisi buruk jika itu dilakukan dengan cara yang buruk pula. Karena pada akhirnya hidup ini adalah pertempuan nilai.

Dan bagi seorang muslim, tentu value itu hanya satu! Ahadun Ahad!

Saya pernah mendapati sebuah kata-kata bijak:

Tuhan tidak akan bertanya apakah kamu menang atau kalah, karena takdir adalah milik-Nya

Tapi dia akan bertanya bagaimana cara kamu menang, karena cara adalah terserah dirimu!

 

Pada akhirnya kehidupan kita yang kita jalani ini bukan milik kita! Dan kalau mau digali lebih dalam, daya pun bukan milik kita. Kemenangan sejati dijanjikan bagi mereka yang beserta Tuhan. Tapi, itu bukan berarti kita tidak babak belur dalam pertempuran.

Maka, kembali lagi dikupas satu kulit bawang dari kata-kata Guru saya ini untuk kehidupan saya:

Panggilan hidup seseorang adalah panggilan untuk hidup jujur, rendah hati, pemurah(akhlak); bukan panggilan untuk sukses.

Tujuan hidup seseorang adalah memperhatikan, mengabdi, mencintai, dan menuju Tuhannya; bukan untuk berprestasi.

Lakukanlah itu!

Hebatnya, bila seseorang melakukan itu, Tuhannya akan mengaruniai dia berupa prestasi dan kesuksesan.

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai

  1. Thanks a lot for the post.
    Curang rasanya kalo saya tetap jadi silent reader, saat lg down, beberapa kali post di blog ini berhasil membantu saya. Terimakasih. Tetaplah berbuat kebaikan dan menebar manfaat. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran untuk setiap langkah dan usaha mewujudkan tujuan.
    Tetap semangat!
    “Perintah Allah “bacalah”, bukan harus pandai membaca”, nasehat dari salah satu guru SD saya, yang masih saya ingat saat saya merasa terlalu bodoh.
    Tetap semangat!

    1. Halo Anil, Alhamdulillah kalau yang tertulis di blog ini bermanfaat (pasti datangnya dari Tuhan kalo nggak ngaco mah haha)..Thanks sudah mau memberi komentar dan saran-saran yang positif!! Tetap semangat juga ya! Semoga senantiasa mendapat petunjuk Tuhan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s