Prasangka Terhadap Makhluk, Cermin Prasangka Kepada Tuhan

Baru saja saya tersadar tentang hal ini.

Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya, apa yang biasa saya obrolkan dengan ibu saya. Ada suatu kerinduan di hatinya untuk dapat berbincang dengan ibunya. Menariknya, kerinduan ini muncul lebih besar ketika dia sendiri telah menjadi seorang ayah.

Dia bilang kepada saya bahwa selama ini dia tidak dekat dengan keluarganya. Dengan ibunya, dia merasa sulit memulai percakapan. Seperti ada sebuah tembok antara dia dengan ibunya sendiri, sampai-sampai dia harus bertanya seperti itu ke saya. Dalam curahan hatinya, ia mengaku bahwa dia seperti tidak memiliki topik berbincang, bahkan tidak tahu apa hobi ibunya.

Ia berkata kepada saya bahwa ibunya pendiam seperti dia. Padahal menurut saya dia bukan orang yang pendiam. Dia sebenarnya orang yang tertutup. Sama halnya seperti orang tertutup lainnya, ketika sudah percaya dengan orang pun akan keluar semua. Dan lagi, pada dasarnya, seorang yang pendiam sekalipun bisa berbicara banyak ketika menemukan area percakapaan yang tepat.

Di sini, saya teringat dengan teori flow. Bahwa komunikasi yang seru yang membuat kita lupa waktu adalah suatu pengalaman optimum yang disebut flow. Dan sama halnya dengan aktivitas lain, aktivitas mengobrol adalah suatu aktivitas yang membutuhkan keahlian dan memiliki tingkat kesulitan tertentu. Dan untuk menjadi ahli, dibutuhkan latihan.

Kalau diibaratkan dengan game, kualitas obrolan kita dengan seseorang memiliki level tertentu. Dan, sudah menjadi hukum alam bahwa tingkat kesulitan itu selalu naik seiring dengan waktu. Sayangnya, terkadang kita lupa untuk latihan. Seiring dengan waktu, banyak yang terjadi dalam hidup seseorang: ganti hobi, ganti kesibukan, bahkan ganti sifat. Ketika kita lupa untuk menjalin komunikasi dengan seseorang, ada kalanya seseorang itu berubah menjadi asing. Kedekatan batin menjadi berjarak, dan saking jauhnya, kita sudah segan duluan untuk berjalan mendekat.

Saya bukan orang yang selesai dengan masalah komunikasi dengan keluarga sendiri. Sebaliknya, saya justru benar-benar bisa merasakan hal itu. Tapi, saya pikir itu adalah soal mau tidaknya kita mencoba. Ada kalanya kesulitan komunikasi itu bukan terjadi karena memang sulit untuk berkomunikasi, tapi sekedar karena prasangka kita semata. Seolah-olah menanyakan “hai apa kabar, sehat” adalah sesuatu yang mengerikan.

Oke, itu satu hal.

Teman saya itu juga sering cerita ke saya kalau sedang panik ingat dosa-dosa. Kalau itu sedang terjadi, dia akan berbincang tentang hari akhir kepada saya dengan ketakutan yang mengkhawatirkan. Saya dan dia jadi bermuhasabah bersama. Ingat dosa-dosa. Nanti kita akan membahas, seperti apa solusi untuk dia. Tapi, ada sesuatu yang membuat dia belum bergerak untuk mewujudkan solusi itu.

Di sinilah saya banyak merenung. Apa yang membuat seorang manusia ragu untuk berjalan menuju Tuhan? Padahal, dia sadar betul bahwa dia harus berjalan menuju Tuhan. Ditambah lagi, kalau seorang manusia telah mengalami suatu fenomena yang tidak biasa. Itu sebenarnya sudah merupakan “compelling reason to act”.

Apa itu “compelling reason to act”, kalau dalam sales, dibutuhkan suatu alasan yang memaksa seseorang untuk melakukan pembelian. Jadi, kalau menurut teorinya, harusnya dia itu sudah bergerak melakukan pembelian. Yakni mulai berdagang dengan Tuhan.

Nah, dari perenungan inilah saya menyadari bahwa masalah manusia seperti ini adalah prasangka buruk kepada Tuhan. Mungkin di alam bawah sadarnya, dia merasa ampunan Tuhan masih lebih kecil daripada tumpukan dosanya. Mungkin dia merasa bahwa dia sudah terlalu rusak sehingga tak dapat diperbaiki. Mungkin juga, dia belum yakin betul akan keberadaan Tuhan itu sendiri. Mungkin juga, dia meyakini bahwa kondisinya yang berlumur dosa sudah final, dan lupa kalau Tuhan memerintahkan kita untuk menyucikan jiwa (karena memang Tuhan memberikan potensi kita untuk berkotor).

Kalau kita kaji lebih dalam, hal ini sudah terhitung syirik. Karena kita mempertuhankan amal kita. Kita merasa bahwa amal kita lah yang akan menyelamatkan. Sehingga ketika amal kita buruk, kita tidak akan selamat. Padahal, yang menyelamatkan kita itu Allah, kalimah Allah, ridho Allah. Bukan amal kita.

Tentu saja manusia yang mengaku muslim, jika ditanya secara sadar, akan mengiyakan hal-hal tadi. Tapi, rupanya hati tidak dapat menipu. Rupanya, cara kita menjalani hidup tidak dapat menipu diri, apalagi Tuhan. Rupanya, segala iman itu hanya di lisan saja. Mungkin juga sudah menembus akal. Tapi dalam hati, jiwa, apalagi rohani, kita belum beriman.

Dan terkadang kita lebih malu jika dosa-dosa kita diketahui oleh sesama manusia, ketimbang rasa malu kita kepada Tuhan. Kita selalu berandai-andai, kalau teman kita tahu aib kita, niscaya teman-teman kita tidak ingin berbincang kepada kita. Tapi, kita jarang berandai-andai, apakah Tuhan akan senang jika tahu dosa-dosa kita. Padahal, kita yakin bahwa Tuhan Maha Mengetahui apa yang tersembunyi.

Kalau sudah begitu, siapa yang menjadi Tuhan kita? 

Ya, dari teman ini saya belajar banyak sekali. Dan baru saja saya menyadari bahwa bagaimana prasangka kita kepada manusia menggambarkan prasangka kita kepada Tuhan. Termasuk orang-orang yang suka berprasangka buruk kepada orang lain, kepada sesama manusia, dan bahkan kepada yang seiman.

Ketika kita mudah mengutuk kekafiran (apalagi mengkafir-kafirkan yang tidak kafir), artinya seperti itulah keyakinan kita kepada Tuhan. Kita tidak percaya bahwa Tuhan merupakan Maha Pemberi Hidayah. Mungkin, kita berpikir bahwa iman kita ini terjadi karena hebatnya diri kita. Dan cerminan-cerminan lain yang dengan mudah sekali dapat kita temukan kalau kita mau membersihkan kulit hati kita.

Titik akhir perjalanan spiritual seseorang berbeda-beda. Dan memang dalam Al-Quran  (Al-Isra 50-an) pun dikatakan bahwa para Nabi yang satu pun ditinggikan derajatnya bagi yang lain. Dan mereka semua tetap mencari wasilah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Artinya apa, Nabi-Nabi itu mencontohkan bahwa meski mereka tahu bahwa ada yang derajatnya lebih tinggi di sisi Tuhan, mereka tidak berputus asa untuk mendekat pada Tuhan, memenuhi potensinya.

Dan, tidak pernah ada kata terlambat rasanya. Kalau kita haus air rebusan dan baru menemukan panci, kompor, dan air, apa lantas kita bilang “sudah telat” dan tidak jadi merebus air. Padahal, kita masih kehausan. Dan kalaupun panci yang kita punya tidak sebesar panci orang lain, apa terus kita nggak jadi masak air?

Semoga kita mendapat hidayah Tuhan untuk senantiasa menyeimbangkan takut dan harap kita.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s