Inner Imbalance

Jadi, sejak minggu lalu saya mumet. Kayak motion/travel sickness a.k.a mabok perjalanan tapi berkepanjangan. Setelah beberapa hari cuman nggelepar di rumah dan rasanya pengen berhenti saja dari segala kehidupan di Singapura ini, akhirnya saya berangkat ke kampus. Tapi itu pun nggak kuat. Sorenya ke dokter. Konon katanya inner ear imbalance. Bisa agak lama.

Saya pun mengabari ibu saya. Ibu saya bertanya, kok bisa dokternya bilang gitu? Ya tentunya dokternya punya ilmu dan dia juga menggunakan abduksi dan ngecek-ngecek juga kan pas meriksa. Apakah pandangan saya jadi kabur, apakah jalan saya stabil, apakah telinga saya kotor, dll.

Nah, sampailah pada kesimpulan ibu saya bahwa sebenarnya hidup saya ini sedang tidak jelas karena ketidakseimbangan antara unsur keduniaan dan spiritual. Saya pun bertanya balik pada ibu saya, Lha, mama ngertinya dari mana coba kalo gak seimbang?

Ibu saya menjawab dengan bercanda, “Ma’rifat..”

Kebetulan akhir-akhir ini saya dan orang tua sering bercanda dengan istilah ma’rifat. Asal-muasalnya karena ada seorang mantan anggota grup diskusi ibu saya yang kalau ngobrol suka bawa-bawa kaji-kaji tinggi.

Cerita-cerita mistik tingkat tinggi itu memang ada bagi para kekasih-Nya yang memang sudah begitu dekat dan kenal dengan-Nya. Itu adalah suatu kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada kekasih-Nya. Nah, orang awam kayak kita gini tentu terpesona dan terpana dengannya. Tapi, terkadang manusia jadi terobsesi dengan cerita-cerita aneh itu sendiri dan melupakan muara sesungguhnya: ke-Tuhan-an itu sendiri.

Padahal, bagi para kekasih-kekasih-Nya, mereka tidak mencari cerita hebat, dan kemuliaan. Mereka menjadi Guru, dan mencari murid itu semata-mata dengan rahmat Allah. Kalau mereka bisa memilih, mungkin mereka nggak mau seperti itu. Dan mereka juga nggak dengan mudahnya menceritakan itu ke sembarang orang. Yang perlu digaris bawahi lagi, mereka tidak akan melanggar syariat. Apa yang keluar dari cerita-cerita ma’rifat yang mereka alami ya syariat-syariat juga. Yang mereka ajarkan ya syariat. Maka dari itu, ujung-ujungnya ya kita harus merujuk pada syariat.

Sekarang berguru radar aja susah kok. Padahal masih bisa diuji di lab. Gimana mau berguru spiritual cara ghaib?

Nah, kembali ke cerita tadi. Mungkin ibu saya benar. Setiap orang memiliki dosis dan jatahnya masing-masing. Bagi sebagian orang, mungkin tanpa dosis spiritual pun mereka bisa menjalani hidup dengan “baik-baik” saja. Mungkin bagi saya tidak, saya juga tidak tahu.

Tapi, tentang aspek ini sendiri saya juga bingung. Mungkin benar bahwa saya ini sudah punya semangat spiritual, tapi secara fisik saya masih belum mampu. Masih jauh dan bahkan menyimpang dari semangat spiritual itu sendiri. Dalam artian, saya telah menjadikan spiritualitas sebagai top of mind saya. Tapi, semangat itu belum dapat termanifestasi secara nyata pada syariatnya, pada kelakuan saya sehari-harinya.

Ya, mungkin itulah ketidakseimbangan pada diri saya. Terkadang saya berkhayal. Mungkin ini semua pada hakikatnya adalah sebuah panggilan alam, sebuah panggilan sayang dari Tuhan yang senantiasa tidak saya hiraukan.

Sementara saya terus mendustai hari pembalasan dan berbuat melampaui batas. Sementara saya tak kunjung beriman dalam arti sebenar-benarnya iman.

Tapi, tentu saja pertarungan itu belum selesai. Semakin hari, semakin saya resapi betapa kita telah berada di jaman yang rusak. Dan saya menjadi bagian dari kerusakan-kerusakan itu sendiri.

Kalau kita mau jalani agama dengan benar. Rasanya kita ini seperti mesin usang yang sudah siap dibuang saja. Sudah terlalu rusak untuk diperbarui. Namun, rupanya kehidupan tak seperti itu. Kita hanya punya satu jiwa dalam hidup ini yang harus kita jaga kebersihannya. Nggak bisa dilempar aja terus diganti sama yang baru. Dan toh, pada akhirnya yang akan menyucikan jiwa kita ya Tuhan sendiri. Kita, mana punya daya dan upaya. Mengutip kata-kata seorang Guru yang masyhur,

“Kau pikir kau bisa habis dosa tanpa berhampir dengan Tuhan?”

Ya, setelah itu ibu saya bilang saya dzikir-dzikir aja. Itu pun saya masih malas rasanya. Saya bilang, “Ma, mama aja dong yang doain..

Tapi, katanya nggak bisa. Kalau soal urusan dunia memang kita bisa saling membantu. Tapi, urusan akhirat ya masing-masing. Urusannya ya langsung ke atas.

Ujung-ujungnya, memang ini adalah proses kehidupan yang harus saya lalui. Saat ini (dan mungkin seterusnya) khauf dan raja saya kepada Tuhan memang sedang diuji. Ketika saya mendapatkan episode hidup sebagai seorang yang rajin beribadah, bagaimana saya memandang diri saya dan orang lain? Bagaimana saya terhadap Tuhan? Sebaliknya, ketika saya mendapatkan episode hidup sebagai seorang yang malas beribadah dan rajin bermaksiat, apakah harap dan takut saya pada Tuhan berubah? Apa saya jadi tak percaya lagi dengan pertolongan-Nya?

Dalam segala permasalahan hidup pun begitu. Apakah kita selalu dapat mengambil hikmah dan berkah atas semua yang dialami? Ridho-kah kita kepada takdir yang dipinjamkan kepada kita ini. Kita nggak punya kehidupan ini. Tapi, kita harus berbuat berdasarkan perasaan bahwa takdir itu milik kita. Sebab dengannya lah ayat Quran yang mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum kecuali mereka mengubahnya sendiri dapat termanifestasi.

Jika tidak, kita akan terjebak dalam merasa cukup sehingga tidak produktif. Kalau ada yang ditakutkan Lee Kwan Yew, terhadap warga Singapura adalah complacency. Merasa puas diri. Padahal dalam Islam juga sebenarnya diajarkan tentang menjadi rajin dan menjadi bermanfaat.

Tapi di sisi lain, kembali lagi, bahwa semua itu semata untuk mengejar ridho Tuhan. Syariat yang kita jalankan ini tidak ada artinya jika tidak diridhoi Tuhan. Karena ridho Tuhan ada pada syariat ini lah, kita laksanakan dia. Kita harus bergenggam dengan tali itu.

Lain-lain itu hiasan saja. Dan berkat proses-proses hidup yang saya alami inilah, saya jadi mendapatkan banyak pelajaran baik seputar marifat yang tulen. Bahwa inti semuanya ya gimana hubungan ke atas. Gelar, pangkat, harta, dan lain-lain itu hanya pernak-pernik saja.

Dan, makin ke sini makin terasa betapa taawudz itu punya arti yang mendalam.

Sekian. Semoga tulisannya tidak membingungkan. Kalau malah bikin bingung ya di-skip aja.

*lama nggak nulis di sini. Sebenarnya selalu banyak yang pengen ditulis, tapi kadang ngerasa takut menjadi orang munafik. Karena mengatakan yang tidak dikerjakan. Tapi, kalau dipikir-pikir lebih baik ditulis sih. Semua orang juga berproses kan? 

Sebab, pada akhirnya tak peduli mau seperti apa rasanya kita ini, tempat kita ingin berpulang ya cuman kepada Dia kan?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s