Pria Di Ujung Kebun dan Gadis Kopi

Pada meja kayu di sebuah warung kopi tempat mereka singgah. Tak hanya dua cangkir, tapi dua hati sedang beradu. Dua pribadi keras kepala sedang berbincang. Masing-masing berbincang dengan dirinya sendiri. Yang satu sedang bermasalah dengan kekasihnya. Yang satu lagi bermasalah dengan banyak hal.

Pria itu sedang berada dalam ketidakstabilan. Gadis itu juga. Gadis itu benar-benar tidak stabil. Dan dia tahu bahwa dirinya tidak stabil. Selayaknya spekulasi tentang kesadaran, ia harus selalu melawan pikiran-pikiran di kepalanya. Apakah suara itu adalah dirinya?

Sementara gadis itu berjuang untuk menjalani hidup dengan kesadaran, pria itu entah ada di mana. Terlalu lama ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia adalah alien di dunia yang begitu familiar. Dia adalah sendiri dalam segala perbincangan seru yang ia perbuat bersama puluhan manusia dalam setiap bulannya. Di berbagai kota. Di berbagai topik.

Soal cinta. Keduanya masih sama-sama punya.

Kekecewaan masing-masing mereka terhadap hidup atau ketidakpuasan pada diri sendiri tak menghalangi mereka untuk memiliki cinta.

Meski keduanya punya penyikapan berbeda.

Gadis itu ingin memperjuangkan cinta. Ia ingin memperjuangkan manusia lain untuk menjadi rumah tempat ia ingin pulang. Tempat ia merindukan penawar atas rasa keterpisahan. Sekalipun ia tahu bahwa tak mudah bagi orang sepertinya untuk menjalin hubungan jangka panjang.

Pria itu? Dia tak tahu lagi soal cinta. Mungkin juga ada perasaan yang membuat ia mau berada di situ. Dengan segala kepeningan yang ia bawa. Demi memandang paras gadis itu untuk kali pertama.

Dari dekat. Menatap mata. Mengamati setiap geriknya.

Lamunannya buyar seketika. Gadis itu mengingatkannya akan sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh seseorang yang pernah ia suka. Seseorang yang dulu paling disuka meski sekarang nomor teleponnya sudah dihapus.

Pernah orang itu mengirimkan sebuah pesan singkat padanya. Mengapa pria itu tega menghapus nama orang itu dari daftar kontaknya?

Pria itu ingin sekali menjawab, kau pun tega benar menikah dengan orang lain. Tapi ia hanya diam. Mencintai orang itu selalu menjadi urusannya. Demikian pula segala patah hatinya. Demikian pula segala rasa sepat yang diperolehnya pada saat ia ingin membahagiakan orang itu namun orang itu hanya berkata, I am happy.

Gadis itu bercerita tentang pria di ujung kebun. Pria yang senantiasa mencari kembang yang lebih manis. Melewatkan semua yang manis. Hingga ia tak sadar bahwa dirinya sudah ada di ujung kebun. Tak ada bunga lagi di sana.

Gadis itu menyuruhnya untuk segera memetik bunga itu. Sebelum habis jalan setapak di kebun.

Tapi, pria itu sedang hilang dari dirinya yang duduk di kursi itu. Entah ke mana ia melayang.

Saat malam larut dan peningnya telah meraja, ia putuskan untuk mengantarkan gadis itu pulang. Mungkin untuk tidak bertemu lagi.

Berhari kemudian ia tersadar. Gadis itulah bunga yang sedang ada di hadapannya. Tapi, apa mau dikata? Dia adalah dia. Dan dia adalah dia. Dan mereka tak akan bersama.

Grand Menteng (depan lift di lantai 6), 11 April 2017 (1:39) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s