Cinta adalah jawaban penghabisan atas kegalauan manusia menyoal eksistensinya

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tadi, saya diperdengarkan Ali Imron ayat 31 di sebuah tempat yang baru-baru ini saya kunjungi lagi setelah sekian lama.

Suasana hati saya ketika itu sedang campur aduk. (Ya, kapan sih suasana hati nggak campur aduk? Semua rasa sebenarnya kan nyangkut terus di otak, silih berganti). Tapi saya sedang teringat kisah tentang orang-orang yang ingin tahu tempatnya di akhirat. Ada seorang pendosa, yang ketika diberitahu bahwa tempatnya di Neraka, ia justru kegirangan. Katanya ia senang karena Tuhan masih memikirkannya.

Kalau kita mau merenungkan dosa-dosa, manalah kita sanggup menerima konsekuensi atas itu semua. Sebiji zarah pun ada konsekuensinya. Boro-boro sebiji dua biji, dosa kita-kita kan bergunung-gunung.

Sekarang perihal sabar aja lah, betapa tidak mudah untuk sabar dan tidak mengeluh. Sekalipun kita tahu bahwa kita seharusnya bisa lebih bersabar, masih lebih gampang mengeluh. Karena otak sadar (pikiran yang mengawasi pikiran/emosi yang mengawasi emosi, yang konon dimiliki oleh manusia berkat ‘evolusi’ korteks di otak dibandingkan mamalia) atau rasio kita berbeda dengan kebiasaan yang sudah terinstall di otak. Kebiasaan yang terinstal di otak sudah langsung direkam oleh sirkuit di neuron. Sudah jadi mesin otomatis. Yang setiap kali kebiasaan itu kita lakukan, semakin lancar sirkuitnya.

Makanya, memang lebih baik tidak pernah memulai sebuah kebiasaan buruk. Ibarat gunung yang belum didaki, jangan buka jalan. Karena sekali buka jalan memang akan mudah untuk mendaki kebiasan buruk itu untuk berikut-berikutnya. Orang yang pernah merokok misalnya, kalau sudah merasakan nikmatnya tentu akan sulit untuk berhenti tanpa tekad yang kuat. Karena semuanya sudah terprogram di otak.

Tapi, semua orang berproses, kita pun berproses. Di sinilah kita harus belajar mencintai diri sendiri juga. Siapa lah yang masa lalunya tanpa cela? Bahwa yang lalu sudah berlalu, tinggal bagaimana kita memperbaiki masa depan. Dan di situlah perjuangan yang sesungguhnya. Untuk tahu dan yakin bahwa kita kelak akan sampai di sana (dengan pertolongan-Nya), meski kita tahu masih jauh tempat kita berada.

Nah, berkaitan dengan ayat tadi, saya sedang menghayati sebuah buku dari Erich Fromm, The Art of Loving; seni mencintai. Fondasi dari pemikiran Erich Fromm ini ada pada interpretasinya tentang kisah Adam dan Hawa di taman Eden. Bagaimana kebaikan dan keburukan bermula ketika diberikan pilihan, bagaimana polaritas cinta ibu dan cinta bapak, dan hubungan cinta antara manusia dengan Tuhan.

Cinta ibu adalah cinta yang tak bersyarat. Sedangkan cinta bapak yang maskulin adalah cinta yang bersyarat.

Dalam konsep ketuhanan, kedua cinta ini menimbulkan sebuah paradoks. Bagaimana mungkin Tuhan mengasihi seluruh makhluk-Nya tanpa kecuali, sedangkan di saat yang sama Tuhan menyayangi orang-orang yang patuh kepada-Nya dan menghukum yang membangkang kepada-Nya?

Lantas, pergumulan manusia lah yang akan mencoba mengembangkan bentuk cinta yang hakiki berdasarkan ‘perkawinan’ antara dua kutub cinta ini. Dan di situlah, manusia akan menemukan jawaban penghabisan atas segala kegamangannya dalam kehidupan. Jawaban itu adalah cinta, meskipun ia bukanlah jawaban yang tidak menyisakan tanya.

Saya jadi teringat sebuah tadabur surat As-Shams kalau tidak salah (yang saya tonton di youtube, karena saya jamaah al-youtubiyah bersama Seh Gugel bin Yahu). Ada cerita atau puisi bahwa langit dan bumi dulunya satu. Dipisahkan saat penciptaan. Ketika keduanya merindu, hujan pun menyerbu. Muncul pelangi.

Ada keindahan-keindahan yang muncul dari dua kutub yang berlawanan. Dalam manusia pun kutub-kutub itu ada. Ada potensi menjadi baik. Ada potensi menjadi jahat. Dari dua hal itu, kalau bisa berbuah menjadi upaya penyucian jiwa; itulah mungkin yang namanya hakikat cinta yang tumbuh dalam pribadi seseorang. (saya juga tak tahu, baru dikarang-karang waktu menuliskan paragraf ini).

Cinta, menurut Erich Fromm, seharusnya bukanlah sesuatu yang pasif. Bukan kecelakaan. Dan sifatnya tidak eksklusif. Cinta bertujuan untuk melindungi manusia dari keterasingan dan keterpisahan dengan sekelilingnya. Cinta yang bersifat aktif ini tentu berbeda dengan cinta yang umumnya kita pahami sebagai cinta romantis. Sebab, cinta romantis lebih seperti kecelakaan: kita jatuh cinta. Dan goal dari cinta romantis ini sebenarnya melebarkan egotisme dari yang tadinya satu orang menjadi sepasang kekasih. Us vs the world. 

Cinta sebagai seni adalah sesuatu yang aktif. Sesuatu yang harus kita pelajari. Belajar mencintai. Dan rupanya untuk dapat mencintai orang lain, kita harus mencintai diri sendiri. Kita tak bisa mencintai objek apapun kalau kita tak punya kemampuan untuk mencintai. Tapi, mencintai diri sendiri bukan berarti jadi egois. Malah dikatakan bahwa orang yang cenderung mementingkan diri sendiri sebenarnya sedang gagal mencintai. Dia merasa tidak aman dan tidak nyaman sehingga, selalu tamak dalam upayanya memuaskan nafsunya dengan hal-hal kecil.. yang tentu saja cenderung tak akan membuatnya puas.

Nah, biar nggak melebar (walaupun pastinya masih membingungkan), kembali ke ayat tadi. Pada akhirnya, kita harus belajar mencintai. Di ayat ini, Tuhan memberikan petunjuk bagi manusia-manusia yang sedang bimbang dalam mencintai. Disuruh-Nya kepada Rasul bagi siapa saja yang benar-benar mencintai Tuhan, untuk mengikutinya; he’s the way.

Kalau sudah mengikuti spiritual path dari Rasul ini, apa yang akan didapatkan: ..yaghfirlakum dzunubakum..

Sebuah pembebasan manusia atas keterasingannya yang disebabkan dosa-dosa yang mengotori dinding hatinya dari kehangatan cahaya ilahi itu sendiri.

Mungkin, seperti itu. Mungkin benar mungkin salah. Tidak perlu ditelan mentah-mentah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s