Kembali ke Kartu Skor Batin

Apakah kita lebih memilih untuk menjadi kekasih paling hebat di dunia meski orang-orang berpikir bahwa kita kekasih terburuk? Atau kita lebih memilih untuk menjadi kekasih terburuk tetapi di mata orang lain kita adalah kekasih terbaik?

Ketika memberikan kuliah tentang kesuksesan bisnis, Warren Buffett—seorang ikon sukses dunia—justru memberikan nasihat yang tidak berkaitan dengan bisnis. Ia justru menganjurkan anak-anak muda untuk berupaya menjadi orang baik sebab menjadi orang baik dapat membawa seseorang pada kesuksesan bisnis. Kesuksesan bisnis hanya dapat dicapai jika kita dapat menjalani kehidupan dengan baik, memiliki pola hidup yang sehat baik dalam aspek fisik dan psikologis.

Dalam bisnis, kita mengenal istilah kartu skor atau scorecard, sebuah alat ukur kinerja yang dipergunakan untuk mengevaluasi dan memperbaiki perusahaan. Warren Buffett berpendapat bahwa lebih baik jika kita senantiasa menilai diri kita dengan inner scorecard (kartu skor batin) ketimbang dengan outer scorecard (kartu skor lahir) atau penilaian orang lain. Jadi, dalam mengevaluasi diri, hendaknya kita lebih fokus pada diri sendiri. Jika kartu skor lahir membuat kita fokus pada pencitraan dan pertanyaan ‘apa kata orang’,  kartu skor batin membawa kita untuk senantiasa mempertanyakan: Apakah kita melakukan hal yang benar? Apakah kita memperlakukan orang lain dengan benar? Mengapa kita melakukan hal ini?

Lantas, bagaimana cara kita merancang kartu skor batin?

Sebagai seorang muslim, tentu bukan hanya sukses dunia yang kita kejar, tapi sukses dunia akhirat. Kita perlu merujuk kepada Al-Quran dan Hadits tentang apa itu menjadi orang baik dan bagaimana seharusnya kita menilai diri kita. Dengan inilah kita mampu merancang kartu skor batin kita, yang akan senantiasa kita jadikan kompas dalam menjalani kehidupan.

Dalam Al-Hujurat ayat 11, kita tidak diperkenankan untuk mengolok-olok suatu kaum sebab bisa jadi yang diolok lebih baik ketimbang yang mengolok. Hal ini pada dasarnya sejalan dengan gagasan bahwa kita tidak perlu fokus pada apa kata orang. Tidak perlu pula kita risih dengan asumsi dan prasangka orang lain terhadap kita sebagaimana kita pun juga dilarang untuk berpasangka buruk dan mencari-cari kesalahan kepada sesama muslim pada Al-Hujurat ayat 12. Yang perlu kita pastikan jadalah bagaimana supaya kita bernilai di hadapan Tuhan, sebab menurut Al-Hujurat ayat 13 yang mulia di sisi Tuhan ialah yang bertakwa.

Ketika kita sudah memiliki kartu skor batin yang senantiasa mengacu kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, kita tak perlu lagi merasa takut dan khawatir jika orang-orang dunia menganggap kita aneh atau mengolok-olok kita. Maka dari itu, kita perlu mendidik dan melatih diri kita untuk selalu fokus pada nilai diri kita ditimbang oleh ajaran Islam, bukan sekedar pencitraan dari sudut pandang yang tidak Islami. Kita tak perlu ragu untuk menjalankan apa yang diperintah Tuhan meski kita tidak mendapat penghargaan dari orang lain. Hal ini tentu sejalan dengan Al-Lail ayat 17-21:

  1. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu
  2. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya
  3. padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya,
  4. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
  5. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.  

Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدق ، فوافق ذلك مالاً فقلت : اليوم أسبق أبا بكر إن سبقته يوما . قال : فجئت بنصف مالي ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما أبقيت لأهلك ؟ قلت : مثله ، وأتى أبو بكر بكل ما عنده فقال : يا أبا بكر ما أبقيت لأهلك ؟ فقال : أبقيت لهم الله ورسوله ! قال عمر قلت : والله لا أسبقه إلى شيء أبدا

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi)

Kalau kita mau mengambil hikmah dari Abu Bakar RA, kita dapat menduga-duga bahwa pada dasarnya beliau senantiasa menggunakan kartu skor batin dalam memutuskan sesuatu. Dalam memutuskan apa yang diperbuatnya, beliau selalu mengukurnya berdasarkan apa yang diridhoi Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, beliau pun tidak ragu untuk membawa seluruh hartanya di jalan Allah sebab beliau meyakini bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Dan tidak diperlukan lagi pertimbangan ‘apa kata orang nanti’ atas tindakan tersebut.

Dari sini kita teringat kembali, bagaimana Abu Bakar langsung membenarkan cerita Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dan mendapatkan gelar Ash-Shiddiq. Justru dengan teguh pada apa yang dianggapnya benar, orang-orang menghargai dan menghormatinya. Tak perlulah kita ragukan lagi dengan menjadi orang baik sesuai tuntunan Islam Kaffah, Abu Bakar RA juga menjadi orang yang sukses dunia akhirat.

Jika kita sudah tersadar bahwa Islam senantiasa mengajarkan kita untuk fokus pada kartu skor batin, apa lagi yang kita tunggu? Mari kita berupaya untuk menghilangkan unsur pencitraan dalam menilai-nilai tindak-tanduk kita. Sekarang, kita sudah diingatkan kembali kuntuk senantiasa mencari tahu, apa yang dimau dari diri kita berdasarkan Islam Kaffah. Dan, semoga tak hanya diberi kekuatan untuk tahu apa yang benar untuk dilakukan, tapi kita juga diberi daya untuk melaksanakannya. Aamiin.

Referensi:

http://finance.yahoo.com/news/warren-buffetts-best-advice-young-195739902.html

http://caps.fool.com/Blogs/warren-buffett39s-inner/203596

https://muslim.or.id/8725-biografi-abu-bakar-ash-shiddiq.html

 

———

I never intended to post this article on this blog. But, for some reason, I decided to post it in here. It was written 4/15/17. Perhaps, this serves as a reminder for me about my true purpose in life which sometimes gets blurred in the middle of the journey. Too many clutters. Too many decoys. We often forget who the real enemy is. Befriending them along the way.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s