Hijab dan Kesenangan Sesaat

Setelah sekian lama tidak menulis tentang hal-hal yang berhubungan dengan spiritualitas, malam ini saya tergerak untuk menulis lagi. Menuliskan hal-hal yang selama ini timbul dan tenggelam di pikiran saya dalam bulan-bulan ke belakang.

Kebetulan, saya sedang mengerjakan video tentang self control untuk channel youtube Hutata. Hal yang menarik adalah, adanya kesesuaian antara penelitian ilmiah dengan nilai-nilai Islam kaffah yang saya yakini kebenarannya.

Tentu saja ini termasuk cocoklogi. Saya termasuk orang yang membeda-bedakan antara sains dan agama sesuai dengan konteks. Saya bukan orang yang percaya tentang islamisasi sains untuk sebuah Unified Theory. Untuk hal-hal yang empirik, ya manut sains lah, karena toh agama Islam juga mengajarkan kita untuk riset, untuk melakukan pengamatan a.k.a membuktikan secara empirik. Namun, jelas untuk hal yang ghaib, itu sudah di luar batas empirik. Itu soal keyakinan, bukan kecerdasan dan wawasan saintifik.

Dan, keyakinan, itu soal keberuntungan. Bukan soal daya upaya manusia.

Saya bingung memulai tulisan ini dari mana, mungkin fase awalnya adalah ketika saya tak sengaja diajak sharing ke sebuah pesantren Muhammadiyah. Di situ saya kembali melihat simbol Sang Surya, dan juga foto KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan. Tentu saja itu adalah nostalgia, apalagi dulu saya beruntung sekali mendapatkan kelas yang dinamai kelas Ahmad Dahlan, kelas percepatan. Dan mungkin, itu adalah titik keberuntungan pertama dalam kehidupan akademik saya.

Di situ, saya mendapatkan banyak pertanyaan seputar belajar. Apa geregetnya belajar? Bagaimana cara mengejar ketertinggalan belajar? Mengapa kita harus belajar matematika?

Tapi, di situ, yang lebih menohok adalah pertanyaan yang berhubungan dengan nilai-nilai agama. Seperti, bagaimana untuk bersikap bodo amat terhadap lingkungan yang tak sesuai dengan nilai-nilai kita? Bahkan seorang ustad pun bertanya kepada saya, bagaimana untuk meyakinkan keponakannya supaya memilih kuliah jangan ngekos di kota tertentu karena takut mudharat pergaulannya? Kepala sekolahnya juga bertanya, seperti apa murid yang ideal.

Tentu saja di situ saya menceritakan hal-hal yang saya anggap benar. Bukan hal-hal yang saya jalani. (Meskipun dengan itu, saya berisiko menambah-nambah dosa: mengatakan hal yang tidak saya lakukan; saya tidak punya pilihan lain bukan? sebab menghalangi orang lain dari suatu ilmu yang bisa kita sampaikan juga merupakan dosa — memang begitu cara Tuhan untuk “membuat kita memilih secara sadar karena tidak punya pilihan” untuk menggerakkan langkah demi langkah menuju kebaikan.)

Pada ujungnya, memang hidup ini lagi-lagi pertempuran nilai. Saya ceritakan saja kisah Nabi Nuh.

Tapi, ngomong-ngomong soal lingkungan sih ya, rupanya menurut penelitian, self-control, atau kemampuan orang untuk memegang teguh nilai-nilainya itu punya batasan. Batasnya adalah lingkungan.

Orang yang lahir dari lingkungan yang baik, punya kemampuan self-control yang lebih baik. Dan jadi ya, besar kemungkinannya, orang yang terlahir dari keluarga miskin, akan berkembang menjadi orang yang tidak memikirkan manfaat jangka panjang. Mereka lebih memikirkan manfaat jangka pendek.

Saya jadi berpikir, mungkin keberanian saya untuk quit PhD juga tak lepas dari bagaimana saya dibesarkan. Dari kecil saya selalu mendapatkan pengakuan tentang kepintaran dan keluasan wawasan. Sehingga, saya merasa mengakhiri PhD saya adalah hal yang oke. Itu tidak membuat saya menjadi orang yang kurang pintar. Saya tidak mencari-cari pengakuan bahwa saya pintar dengan gelar atau apa.

Dan itu, juga rupanya hal yang harus saya syukuri. Karena nggak sedikit yang tujuannya jadi doktor, atau profesor, untuk pride. Dan dengan itu, dia jadi nggak seberapa bertanggung jawab dengan perannya. Dan mungkin, ini yang terjadi di Indonesia. Ketika sebuah professorship dianggap sebagai puncak. Karena apa? Karena di Indonesia langka. Indonesia miskin doktor, sehingga para doktornya lebih mengejar immediate gratification seperti itu. (mungkin analoginya agak nggak pas, dan saya belum bisa menjelaskan runtut saat ini, tapi di pikiran saya gitu deh, ada kaitannya)

Hal yang saya syukuri lagi adalah, kesadaran tentang nilai. Saya sempat berbincang dengan seseorang teman yang masih tinggal di Singapura Di situ barulah saya sadar lagi. Menjadi doktor bukan berarti seseorang punya attitude yang bikin orang nyaman, entah itu soal kepedulian sosial, maupun kebersihan.

Ngomong-ngomong soal kebersihan, saya juga tadinya termasuk orang yang bodo amat soal kebersihan. Kalau lagi di rumah, saya agak stress karena dituntut bersihan. Terus rada gatel kenapa sih, dikit-dikit harus dibersihin?

Tapi, semenjak tinggal di Bogor dan memulai start-up, saya jadi semakin menyadari tentang kebersihan. Kalo nggak bersih itu capek. Dan risih banget ngeliat orang-orang yang gak ngebersihin mejanya.

Karena ujung-ujungnya saya yang lebih banyak tinggal di kantor, dan saya banyak ngepel, dan saya yang lebih sering ngebuang sampah. Di situ saya jadi lebih punya sense of risih tentang ketidakbersihan. Yaaaa, walaupun dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, ujung-ujungnya saya masih harus bertahan dengan segala kekotoran ini.

Di tengah lingkungan seperti ini, saya nggak boleh menyerah. Jangan sampe saya jadi orang yang nggak peduli juga.

Seorang temen cerita (kami pernah tinggal bersama), bahwa sekarang housemates dia parah. Ignorant parah. Dengan level ketidakbersihan dan ketidakrapian saya saja, apa yang dia alami sekarang lebih parah.

Jadi nih ya, kalau di rumah (bersama keluarga), saya itu udah termasuk orang paling nggak peduli soal kebersihan dan soal segala yang terjadi di rumah. Tapi, segitu-gitunya saya, rupanya bekas housemate saya merasa dalam konteks ini, saya lebih baik daripada teman rumahnya yang sekarang. Setidaknya dulu kita ada jadwal piket mingguan, lalu saya masih sering sikat-sikat kamar mandi. Kalau mau ada tamu, saya beres-beres. Setidaknya saya masih punya malu (ah, soal malu ini pengen saya bahas lagi).

Teman saya ini bilang, karena lingkungannya kayak gitu, lama-lama dia jadi nggak tahan juga. Jadi ikut-ikutan ignorant.

Oh iya, menurut penelitian, salah satu aktivitas yang bisa membuat kita fokus pada manfaat jangka panjang daripada jangka pendek adalah dengan bersyukur. Dengan menulis gratitude journal. Dengan bersyukur juga, rupanya kita jadi lebih sabar.

Kadang saya pikir, ini adalah kebiasaan yang sudah saya tanamkan melalui blogging. Menulis di blog adalah kesempatan saya untuk merefleksikan sesuatu. Dan itu kebiasaan yang selama beberapa bulan terakhir hilang.

Rupanya memang sih, karena itu, saya jadi lebih emosian. Saya merasa saya benci segala hal dan melihat semua dari sudut pandang negatif semata. Segala isi dunia yang keliatan negatifnya aja. Kurang bersyukur, kurang sabar.

Lalu saya melihat lagi diri saya sendiri yang dulu, yang rajin menulis blog. Saya dulu memang tidak pernah ragu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pendapat umum, hal-hal yang aneh, karena saya paham manfaat jangka panjangnya.

Jujur saja, semenjak berhenti menulis blog, saya kehilangan militansi untuk mempertahankan nilai-nilai jangka panjang itu tadi. Padahal itu adalah investasi terbesar yang bisa dilakukan oleh seorang manusia.

Oh iya, terkadang saya merasa bersyukur, tapi terkadang merasa jemu dengan apa yang diberikan Tuhan pada hidup saya. Karea itu adalah cobaan sekaligus anugerah. Diberikan contoh kehidupan dengan standar yang tinggi.

Kadang saya lelah sekali. Lelah sekali mencoba berjuang di jalan menuju Tuhan yang seperti ini. Lelah dengan hidup. Lelah dengan standar itu.

Dalam beberapa bulan ke belakang (dasar memang bisikan setan) nggak sedikit saya berpikir bahwa saya mau berhenti saja mencoba jadi orang baik. Mau jadi orang yang b aja. Menurunkan standar. Mau jadi kayak orang kebanyakan aja yang hidupnya simpel.

Saya pernah setengah bersumpah di suatu hari. Hari itu panas. Amal dan perbuatan saya memang rendah. Niat saya juga tidak penuh. Dan ketika berjalan kaki itu, saya memupuk niat: setelah ini saya akan berhenti menapaki jalan ini. Saya ingin jadi orang duniawi, seduniawi-duniawinya saja lah.

Tapi, justru di situ tepat ketika saya datang, saya mendapatkan lagi pelajaran: buah dan tanaman saja senantiasa berdoa supaya bisa dipersembahkan kepada Allah dan kekasihnya. Di situ teringat lagi saya pada sebuah khutbah jumat ketika menjalani suluk di Makassar: bahwa seekor anjing saja merasa malu berjalan di samping Junaedi Al Baghdadi, tapi bagi Junaedi Al-Baghdadi, itu adalah pertanda bahwa untuk berjalan dengan anjing saja dia tak pantas, apalagi dengan Allah.

Dan di situ cerita berikutnya masih sejalan juga perihal perziarahan. Intinya sih sudah sekelas wali saja, masih harus dibawa oleh gurunya, untuk dapat menghadap ke gurunya gurunya. Lalu di mana tempat kita sebagai orang awam penuh dosa ini? Mau gaya-gayaan? Apa yang kita cari.

Maka di situ saya jadi paham tentang perkataan bahwa meniti jalan ini itu berat sekali. Sungguh tidak mudah. Karena kalau mudah, nggak adalah ayat yang mengatakan qalillan ma tasykuruun. Ya karena memang seperti itu hukum-Nya.

Jadinya memang yang paling penting adalah tidak menyerah untuk mencoba jadi orang baik. Walaupun terasa berat sekali. Saya selalu teringat kutipan yang menyebutkan bahwa kita tidak boleh berputus asa. Kalau lagi berbuat dosa, bisa aja itu adalah dosa terakhir yang kita lakukan. Dan, kita nggak tau itu.

Sebab, yang namanya penghindaran dari dosa memang hanya terjadi kalau rahmat Tuhan turun. Tidak ada manusia yang segitu hebatnya ga berbuat dosa, tanpa campur tangan Tuhan.

Demikian pula soal hidayah, amar maruf nahi munkar dan lain-lain. Itu bukan karena jagonya orang berdakwah. Tapi, karena memang seorang dai itu sekedar jadi “tangan” dari Tuhan. Saya baru baca-baca lagi ikhtisar Ihya’, di sana disebutkan bahwa kita memang bisa dapet anugerah kalau kita jadi jalan seseorang menemukan hidayah kalau kita melakukan apa yang kita sampaikan.

Saya beberapa bulan ke belakang sempat berpikir (ketika terasa lelah berjalan), saya ingin bilang ke teman saya, “Cuy, lo pokoknya ambil jalan ini, gw yakin 100% jalan ini benar. Biar kata gw udah nggak bersurau lagi, pokoknya lo harus ke surau”

Tapi, lucu juga sih kalo saya bener-bener seperti itu. Saya pikir kalau itu terjadi saya akan dapet pahalanya, tapi kalo berdasar ikhtisar ihya’ tadi, gak sesimpel itu juga ya. Kedua, ya gimana lah itu bakal terjadi? Mau meyakinkan orang tapi kita sendiri tidak menjalaninya?

Ini mengingatkan saya pada nasihat orang tua saya. Kalau ditanya soal keyakinan, orang akan lebih dari 100%, tapi soal ketaatan … Saya juga sering diingatkan, kalau lagi ada kesempatan berbuat baik, lakukan. Siapa tau itu yan bisa jadi penolong buat kita. Selagi ada kelapangan, selagi ada niat berbuat baik, kita lakukan. Kita nggak tahu umur kita kapan selesainya. Kita nggak tau juga amal kita mana yang jadi penolong.

Saya merasa bahwa sekeras apapun kita berusaha lari dari Tuhan, petunjuk Tuhan itu selalu saja menemukan jalan menuju kita, meski terkadang kita masih terhijab darinya. Niat hati mau ngapain, iseng-iseng, tiba-tiba ngobrol sama orang asing, nggak taunya nyambung, ujung-ujungnya ngobrolin Tuhan.

Ada saja celah untuk itu. Tapi, yang saya heran, kenapa sepertinya hidayah itu efisiensinya rendah. Mungkin karena terhijab. Konon katanya yang bikin kita nggak bisa berinteraksi dengan al-Quran itu ya karena hijab dari maksiat-maksiat. Selain itu hijab itu macem-macem, termasuk hijab pula orang yang menunggu syariatnya perfect dulu. Sibuk dengan hal sepele soal kesempurnaan wudhu tapi jadinya malah nggak solat misalnya.

Memang setan itu pinter banget sih cari celah.

Saya termasuk orang yang super cuek. Dan kadang mindset saya adalah, untuk apa saya mikirin apa kata orang. Makanya kadang saya juga gak terlalu peduli hal-hal sesimpel ramah tamah, atau bales-balesin whatsapp atau pesan dari orang.

Kadang ada celetukan dari temen:

“Lo sholat lah ke mesjid. Si X lagi menilai lo tauk”

Reaksi pertama saya adalah: buset, ngapain gw ke mesjid demi penilaian orang, picik banget pikiran lo. Gw gak akan ke mesjid cuman demi penilaian orang doang

Tapi, semakin direnung-renungkan, ada yang salah dengan pola pikir saya. Dan itu senada dengan apa yang saya peroleh dari whatsapp kiriman ortu saya (potongannya saja):

Pikiran dan Hati ku hanya Terfokus pada…,
Siapa yang Menggerakkan Lidah mereka Sehingga Mencaci-maki aku,
Siapa yang Menggerakkan Jiwa nya Sehingga Memusuhi aku,
Siapa yang Menggerakkan Hati nya Sehingga Membenci aku dan
Siapa yang Menggerakkan Pikiran nya Sehingga membuat Mulut nya Menghujat aku…”

Petruk : “Dia itu Siapa, Mo..?”

Semar : “DIA-lah GUSTI ALLAH YANG MAHA PENCIPTA.
DIA-lah SEBAGAI MAHA YANG BERKUASA Atas Segala Sesuatu Yang Sudah, Yang Belum, Yang Sedang dan Yang Akan Terjadi.

Ya Hanya DIA-lah Satu²nya yang memberi Kemampuan dan Kekuatan pada Orang² itu Sehingga…
Lidahnya bisa Mencaci-maki,
Jiwanya bisa Memusuhi,
Pikirannya bisa Membenci dan…
Bibirnya bisa Menghujat Diri ini.
Tanpa-NYA Tentu Mustahil bisa Terjadi.

Sehingga aku Beranggapan, Sebenarnya Cacian, Kebencian, Permusuhan​ dan Hujatan itu Sengaja Dihadirkan GUSTI ALLAH Agar…
Jiwaku Menjadi KUAT Melewati RINTANGAN Dan…
Hati ku Menjadi HEBAT Tatkala Menghadapi UJIAN.

Jadi, adalah SALAH BESAR jika aku Menyalahkan Orang² itu Apalagi Membalasnya. Oh… Bagiku itu tidak perlu, bahkan aku Berkeyakinan bahwa Segala Sesuatu yang Terjadi pada Kehidupan ini Tidak Mungkin Terjadi Secara Tiba², Semua Sudah Diatur Sedemikian Rupa olehNYA,

Maka Apapun Kenyataan yang aku Terima kemarin, Hari ini atau Suatu Hari nanti, Tidak ada Kata Sia², bahkan Dibalik Semua itu, pasti ada Hikmah Terbaik yang bisa merubah Kehidupanku agar menjadi Lebih Baik dari Sebelumnya.
Karena aku tahu, Sesungguhnya GUSTI ALLAH itu MAHA BAIK.

Jadi kesimpulannya, kenapa sih kita melihat bahwa itu adalah perkataan makhluk? Kenapa kita tidak melihatnya sebagai pesan/tanda dari Tuhan. Dan bukankah ke manapun wajah kita menghadap, di situ wajah Tuhan?

Selalu ada sisi positif yang bisa disyukuri. Dan untuk beberapa bulan ke belakang, saya lebih memandang hidup dari sudut pandang yang gelap. Hati saya isinya kebencian dan kemarahan saja terhadap orang-orang dan segala kejadian.

Padahal ada cara lain, yang lebih simpel yang lebih enak.

Dan, kalau teringat tausiyah guru saya, sebenarnya menjadi baik itu lebih simpel dan lebih enak. Nggak susah. Nggak ribet. Emang bener sih, kadang kita membuat hidup kita jadi runyam, padahal ada sudut pandang yang lebih positif dalam melihat kejadian.

Dan hal ini secara teori simpel banget, tapi aplikasinya susah sekali. Butuh keluasan hati dan kerendahan hati, untuk bisa begitu.

Untuk memandang bahwa setiap orang adalah pembawa pesan bagi kita dari Tuhan. Bahwa setiap kejadian adalah hidayah yang masih menyapa kita sebelum hayat ini pergi.

Dan, yang lebih menyedihkan dari semua ini adalah ketika kita tahu bahwa hidayah itu ada dan seolah ada jarak, ada hijab antara hidayah itu dengan diri kita sehingga belum dapat menyambutnya.

Tapi sebenernya memang di situ inti dari mujahadah. Inti dari perjuangan hidup yang sejati yang sebenar-benarnya. Perjuangan nilai. Bagaimana kita tetap bertahan di jalan yang benar meski kita menyadari ada yang salah dari diri kita. Bukan berarti kita harus berhenti. Saya pernah juga dinasihati: masa kalah sama setan?

Ngomong-ngomong soal lingkungan, sekarang ini lingkungan kita nggak cuman manusia sih isinya. Kita sering lupa bahwa internet, segala berita yang ada di sana juga merupakan “teman” atau sahabat kita. Bangun tidur aja yang dicari koneksi internet.

Dan entah ya, Tuhan memang punya cara misterius. Di tengah kegalauan saya meniti jalan ini, saya sempat berpikir lagi, kayaknya butuh nih ngobrol-ngobrol lagi sama temen saya.

Udah beberapa minggu ini, kemalasan mengalahkan tekad saya untuk pergi menyepi dan bertafakkur. Termasuk juga karena nggak janjian sama temen. Dan kadang, udah ada panggilan kedua yang tak terduga dari Tuhan pun kita lewatkan begitu saja.

Dan ini mungkin panggilan ketiga. Atau mungkin keseribu? Karena 997 panggilannya bahkan tidak saya sadari/hitung? Tiba-tiba saja sahabat saya menghubungi dan bertanya apakah weekend ini saya akan di Bogor saja atau bagaimana. Memang betul, ketika kita punya sahabat yang bisa membuat kita lebih mendekat dengan Tuhan, kita harus pegang erat-erat.

Karena ya itu tadi, berdasarkan penelitian terbaru, kita jadi tahu, bahwa efek pengendalian diri itu ga ada artinya dibanding lingkungan. Makanya lagi-lagi Tuhan bilang, besertalah bersama shadiqin, karena ya mereka yang mampu menyelamatkan kita dari lemahnya diri ini dan pandainya setan.

Step back. Step back. To be able to think forward for the long game. Itu adalah salah satu dinamika dalam ber-startup ria. Saking banyaknya kerjaan, kadang lupa untuk berpikir strategic.

Nggak heran, dibilangnya bertafakur. sejenak bisa lebih guna dari ibadah seribu tahun lamanya ya.

Hufft, akhirnya menginjak sekitar 2500 kata juga. Lumayan sih sejam nulis ini. Karena memang perlu sih biar nggak berdebu dan biar kotoran hati nggak terus-terusan mengepul.

*sebenarnya kadang saya ngerasa gak pantes nulis tema seperti ini dengan kondisi sekarang ini. tapi ya, siapa tau ini yang justru jadi penolong saya kan?

tempo hari sempet ngobrol juga sih tentang kenapa saya lama nggak nulis. dan di fase sekarang-sekarang ini, kalau lihat tulisan saya yang dulu-dulu juga saya beneran nggak ngerti sih kenapa bisa nulis kayak gitu. ya, mudah-mudahan lah ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s