Longing for a Loneliness

Dalam detik-detik yang kuhabiskan bergulat dengan pikiran demi pikiran yang menerjang kepalaku, selalu banyak tanya dan reka di sana yang muncul tanpa dimau. Tentang kesulitanku untuk berkompromi dengan pikiran-pikiran dangkal orang lain meski dengan intelijensi yang tinggi, atau tentang mereka-mereka yang tak paham hakikat seni.

Pada akhirnya aku hanya dapat berpuisi, menunggu kelak tiba saatnya untukku benar-benar menyendiri. Berkawan segala sajak-sajak dan melodi di tengah pantai. Di sana aku bisa berdiskusi dengan lawan diskusi yang seimbang bagi pikiranku: pikiranku sendiri. Aku akan mengenakan beragam topi. Topi-nya Camus, topi-nya kaum Jabariyah, atau pun Neo-Atheis. Aku akan tenggelam dalam lautan abstraksi, sebuah ilmu yang menurutku paling tinggi, sebab dia bukan alat. Dia adalah murni imajinasi. Tak terkekang oleh hukum alam maupun keterbatasan alat untuk percobaan.

Aku akan menari persis seperti bagaimana jemariku mengetik tulisan ini tiada henti. Tak ada penghapusan. Tak ada jeda dalam pikiran. Semuanya mengalir bak fluida. Aku bisa tinggi tanpa harus minum yang macam-macam. Memang dari sana adanya pikiranku tercipta. Tercipta sebagai pikiran yang berada di atas rata-rata atas. Tak kenal lelah.

Kadang aku pikir upayaku untuk berdamai dengan alam pikirku telah usai. Ya, mungkin telah usai. Usai sudah kesempatan emas demi emas itu. Usai sudah segala optimisme semu. Namun kelihatannya aku masih belum dapat berdamai dengan manusia. Dengan makhluk lain. Dengan jalan-jalan yang tak pernah aku prediksi lajurnya.

Tapi ku pikir, aku adalah orang paling pesimis di dunia. Aku paling realistis. Kadang ku pikir, ada paham absurdis dalam diriku. Aku tak jarang menganggap semuanya sebagai nirmakna. Tapi, tetap saja aku bermain-main di atasnya.

Sampai hari ini aku tak lelah mencari paralelisme antara semuanya. Antara sains, filsafat, dan agama. Entah sampai kapan otak ini ada lelahnya. Karena pada hakikatnya aku hanya bermain-main dengan pikiran karena itu menyenangkan. Tak ada buku. Tak ada jurnal. Tak ada apa-apa yang berguna yang dihasilkan. Hanya kesenangan saja.

Tapi bukankah memang begitu? Hanya karena kita tidak menemukan makna, bukan tidak mungkin kita bisa menikmatinya.

Aku terkadang berpikir, dunia mungkin lebih enak kalau isinya orang sepertiku semua. Yang menanggapi perasaan dengan profesional. Sebagai riak-riak hidup belaka sebagai makhluk bernama manusia. Aku tak merasa sakit hati. Aku pikir adalah wajar bagi orang lain untuk berkata yang menyakiti. Sebab itu muncul dari kurangnya empati. Memang terkadang aku pun terbawa emosi. Tapi yasudahlah, begitu kan memang sifat manusia?

Jalani dengan profesional saja. Termasuk soal cinta. Adalah biasa jika orang tak membalas pesan kita. Aku pun tak pernah berpikir orang yang ku tanya harus menjawab. Jadi wajar saja kan kalau aku tak berpikir untuk membalas pesan-pesan.

Lagipula aku bukanlah orang yang mencari ketenaran atau pengidolaan. Aku kesal sebenarnya jika diidolakan oleh siapapun itu. Aku hanya menginginkan hubungan yang profesional sesama manusia. Profesi kita manusia. Dan jadilah manusia yang profesional. Tidak perlu bawa-bawa perasaan.

Mencintai pun harus profesional. Cinta saja tak perlu berharap kembali. Sampai detik ini aku tak berekspektasi orang harus mencintaiku. Bagiku jika kelak menikah, pasangan itu hanyalah partner, tak perlu diambil hati. Tinggal dijalani dengan kompromi saja sepanjang visi masih sama.

Sepertinya itu yang banyak kupelajari belakangan ini dari memulai sebuah company. Kompromi-kompromi dan kompromi-kompromi. Pada akhirnya yang membuat kita bertahan adalah tujuan. Dan penting dalam fasa-fasa berat itu untuk tetap bermimpi.

Dulu ku pikir kehebatan sebuah gagasan lah yang dapat mengubah dunia. Rupanya ia sederhana: komitmen dan ketekunan. Itu yang membedakan orang-orang itu dengan orang-orang ‘itu’

Tapi, tetap sih. Kadang aku rindu saja untuk bisa menyendiri. Berpuisi tanpa henti. Menyanyi. Seperti mockingbird. Tanpa ada kompromi. Hanya aku dan diri sendiri.