Perziarahan Ke Silicon Valley

Saya adalah seseorang yang sangat jarang melakukan perjalanan untuk sekedar berlibur. Kebanyakan dari perjalanan yang saya lakukan bersifat perziarahan ataupun untuk hal-hal yang penting.

Memang, beberapa kali orang-orang juga menyuruh saya berlibur atau sekedar jalan-jalan ke tempat baru. Katanya sih, refreshing itu perlu. Beberapa orang ingin berkeliling dunia, berpetualang. Dulu saya pernah juga sih untuk saat yang singkat, ingin berpetualang. Tapi, lebih ke mencicipi tinggal dan berkarya di berbagai negara, bukan sekedar mengunjungi tempat-tempat wisata. Hanya saja, pada akhirnya saya merasa bahwa petualangan saya adalah petualangan yang lain. Beberapa bilang ke saya bahwa ini terjadi karena saya belum merasakan asyiknya berjalan-jalan.

Nah, beberapa waktu lalu saya mendapatkan kabar bahwa saya harus bepergian ke Amerika Serikat, tepatnya di negara bagian California, di daerah Mountain View. Ketika memberi tahu teman saya, mereka bilang ini keren, kenapa saya nggak excited?

Saya bersyukur dan sangat bersemangat tentang acara yang akan saya jalani. Bahkan, saya berharap banyak. Tapi, kalau boleh jujur, soal perjalanannya sendiri memang tidak terlalu membawa excitement. Mungkin ya karena saya bukan orang yang doyan traveling? Mungkin juga karena ada banyak hal yang terus dipikirkan.

Dan, beberapa orang melihat dari sisi kerennya atau tampilan seolah-oleh suksesnya. Saya sendiri lebih merasa ini adalah bagian dari keprihatinan dalam menjalankan misi hidup, yakni membuat startup edukasi yang sedang saya jalani.

Saya percaya semua sudah ditakdirkan. Semua sudah digariskan. Tuhan punya rencana. Kita miskin papa, tapi Tuhan Maha Kaya. Saya sendiri mengisi hari-hari saya bergelut supaya iman bisa nggak tipis-tipis amat. Karena katanya, untuk memperbaiki hidup, kita harus memperbaiki hubungan dengan Tuhan terlebih dahulu.

Beberapa orang mungkin merasa: loh harusnya kita ikhtiar dulu kan baru tawakal? Tapi di titik tertentu dalam perjalanan hidup seseorang, akan ada masa di mana dia tahu bahwa nilai ikhtiarnya itu tidak ada apa-apanya sebenarnya. Sebab daya untuk berikhtiar pun sebenarnya dari Tuhan. Dan daya untuk bertawakkal pun begitu.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan ke US adalah masa yang hectic buat saya. Untungnya visa sudah terurus (oiya ngurus visanya cukup ribet, tapi alhamdulillah dapat visa setelah harus menjelaskan tentang startup kita/pitching ke pewawancara). Selain banyak urusan personal dan profesjonal, saya juga harus berziarah sekaligus bertakziah ke Medan.

Adalah sebuah kesedihan, yang hingga kini masih saja membawa air mata. Sebab seseorang yang membuat saya tidak bisa tidak percaya lagi pada Tuhan dan agama, telah berlindung. Adalah suatu kesedihan yang sampai sekarang berobati karena saya belum dapat menjadi murid yang shiddiq. Semua orang kalau ditanya, tentu ingin berbakti dan membantu guru spiritualnya, Ulama-ulama pewaris Nabi. Sementara sebenarnya, menjalankan PR saja sulit sekali. Kata seorang Syekh, kalau kita bisa ngerjain PR kita saja, sebenarnya sudah sangat meringankan mereka.

Saya pun dalam masa ini merasa menjalani kehidupan startup itu sangat menantang. Berat, kalau mau realistis. Apalagi jadi seorang CEO. Padahal startup ini masih kecil. Apalagi jadi seorang pewaris tugas para Nabi. Tak terbayang seperti apa beratnya. Tak heran, di Al-Quran pun disebutkan demikian.

Saya adalah orang yang percaya dengan takdir dan hukum Tuhan. Bahwa ketika ada sesuatu yang tidak lancar, itu bisa terjadi karena dosa-dosa yang menghalangi kita dari rahmat. Dan ketika itu terjadi, itu adalah bagian dari ketentuan dan ketetapan yang telah digariskan.

Saya beruntung, Tuhan masih memberkati sehingga ada saja kemudahan dalam perjalanan ini.

Tapi, kalau ada satu kesimpulan dari perjalanan kali ini yang begitu membekas di benak saya bahkan sedari pertama menginjakkan kaki di San Fransisco adalah:

Di manapun kita berada, Tuhannya sama.

Saya mungkin sedang berziarah ke Silicon Valley, tempat di mana perusahaan-perusahaan teknologi pengubah dunia terlahir. Kalau dari dulu Silicon Valley itu hanya sekedar cerita-cerita belaka, atau film-film aja, atau denger-denger aja, sekarang saya udah bener-bener ngerasain udara dingin winter-nya sampai tangan jadi kering dan mengunjungi kantor Google, Apple, kampus Stanford.

Bahasanya sih haqqul yaqin ya. Dan dalam pengalaman itu benar-benar saya merasa bahwa semua ini adalah kehendak Tuhan, Tuhan yang sama di mana pun, kapan pun.

Dulu pernah waktu di Singapura, saya berkhayal untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai persinggahan berikutnya. Sempat apply conference tapi direject. Sempat berkhayal mau postdoc di sana atau bahkan ambil MBA kalau PhD saya lulus. Dan bahkan dulu ada teman yang secara random ngajakin saya dateng info session dari GSB Stanford.

Dan akhirnya, Tuhan memberikan saya liburan, tanpa saya minta. Saya dikirimkan juga teman-teman perjalanan yang membuat saya benar-benar merasakan liburan. Bahkan termasuk berkunjung ke kamus Stanford.

Oh iya, di proses perjalanan ini saya menemukan orang-orang yang tulus sekali. Melihat ketulusan mereka saja saya sampai menangis, kenapa ada orang setulus ini? Ada kebaikan-kebaikan yang luar biasa yang dilakukan. Memang orang baik itu ada banyak betul di dunia ini. Dan lagi-lagi, itu adalah kerjanya Tuhan. Untuk menunjuki kita bahwa ada orang yang jauh lebih ringan tangan dari kita. Untuk menunjuki bahwa kita benar-benar masih jauh dari baik.

Tak lupa juga, saya merasakan jumatan di sini. Khutbah jumatnya pun luar biasa: tentang mensyukuri nikmat-nikmat dari Tuhan yang sering tidak kita sadari saking banyaknya. Dan juga tentang kezuhudan yang hakiki dari kisah Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman memohon kepada Tuhan untuk diberikan segalanya, diberikan kerajaan yang tak tertandingi. Namun, itu tidak pernah membuatnya lupa untuk taat dan kufur nikmat. Keluhan semut-semut saja diperhatikan.

Ya, pada akhirnya kebijaksanaannya itu tadi. Di manapun di dunia ini, di pusat peradaban pun, Tuhannya sama. Hukum yang berlaku sama. Sama-sama kebaharuan yang fana. Dan dalam perziarahan kali ini lagi-lagi saya diingatkan tentang Ia Yang Satu, dan kewajiban-kewajiban yang terlupa.

Saya jadi ingat sebuah prinsip yang sudah mulai terlupa: bahwa oleh-oleh terbaik dari sebuah perjalanan adalah ketika keimanan kita bertambah. Semoga saja, perjalanan ini akan menggoreskan lagi satu garis keimanan sehingga kelak keimanan ini tak lagi dapat terhapus meski ada banyak kelalaian yang dilakukan

Mulai ditulis di pesawar, 8 Desember 6:18 -7:07 waktu San Fransisco

Di atas laut Bering, antara Gulf of Anadyr dab Norton sound