Menemukan Kebaikan Tuhan dari Kemarahan Orang

Baru-baru ini ada yang mengusik pikiran saya yang membuat saya begitu gundah. Fokus pada pekerjaan begitu sulit, padahal saya ada di sana. Tapi pikiran ke mana-mana, hati tercabik-cabik.

Mungkin saya kecewa kepada orang lain. Yang pasti, saya juga kecewa pada diri sendiri. Tapi saya selalu yakin, dan refleksi yang saya tuliskan selama ini di blog ini adalah bekal yang sudah saya siapkan untuk menghadapi hari-hari ini. Hari ketika rasanya saya ingin enyah dari dunia ini. Ingin pergi menyepi entah di mana, tanpa ada seorang pun yang menemui. Saya pun sempat menutup blog ini. Karena merasa agak gimana dengan diri sendiri.

Tapi ya itu tadi, saya tau saat seperti ini akan datang. Meski untuk menjalaninya tetap tidak mudah.

Saat ketika saya harus menghadapi kemunafikan diri sendiri.

Triggernya adalah dia, seorang teman. Seorang teman yang membuat saya pernah ada pasa kebahagiaan dan impian yang begitu menggelora. Cinta kepada wanita? Saya pernah, tapi tak sedalam ini. Dicintai wanita? Tidak kalah sering, tapi tak ada yang [pernah] sedalam dia dalam [pada suatu ketika] mencintai saya. Dia yang membuat saya berpikir, mungkin akan ada orang yang bisa memahami jalan pikiran saya dan bisa diajak berjalan bersama. Dia yang membuat saya ingin sesuatu yang lebih dari sekedar kesendirian.

Dia adalah wanita pertama non-keluarga yang memberikan saya mushaf al-Quran dengan sengaja. Dia adalah wanita pertama yang ingin mendengarkan saya mengaji. Dia wanita pertama yang pernah berkata ingin menunggu saya, menjadikan saya Imam, dan lain-lain.

Tapi benar kata Bapak, hidup adalah misteri. Dan sudah seharusnya kita bersama Yang Maha Misterius. Benar kata Bapak, harusnya saya mulai mendekat, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, menjalankan PR sesuai dengan porsinya. Sebab, tanpa itu semua, biji-biji takdir tak akan mekar jadi bunga, meski dia ada di sana, di pekarangan rumah sendiri.

Dan selayaknya kisah-kisah yang penuh hikmah, penyesalan datang di belakang. “Andai saja aku mematuhi hukum Tuhan, mungkin aku sudah bahagia.

Hari ini saya membaca-baca lagi mushaf pemberian dia, buku pemberian dia. Begitu menohok.

Saya masih ingat betapa larutnya saya dalam perasaan bahagia karena menjadi orang yang dia sayang. Setelah tahun demi tahun interaksi yang timbul tenggelam namun selalu ada. Setelah ucapan perpisahan demi perpisahan yang terus diungkapkan namun berujung pertemuan kembali. Setelah menunggu berbulan-bulan untuk menanti sebuah jawaban namun akhirnya mendapatkan “tidak“.

Lalu hingga suatu ketika takdir membawa kami pada sebuah situasi oksimoron. Dan keesokan harinya Tuhan menakdirkan dia untuk menyayangi saya, meski dengan segala keraguan menjadi fondasinya. Saya masih ingat sebuah malam, ketika di sebuah kafe, saya berusaha meyakinkan dia untuk mencoba ini. Hipotesisnya adalah: hanya karena sebuah lagu harus berakhir, bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Dia yang ragu bahwa dua pikiran yang kompleks bisa bersatu, sedangkan saya yang masih merasa dia adalah salah satu orang yang paling nyambung dengan saya. 

Pada akhirnya kami saling berkata pada satu sama lain, mungkin kelak salah satu dari kami akan mematahkan hati yang lain. Tapi, siapa yang bisa mematahkan hati kita selain diri sendiri. Mengapa tidak profesional saja? Perasaan masing-masing urusan masing-masing. Tapi, mari kita coba saja, berdua jadi teman berbincang yang lebih akrab untuk saling mengenal dan saling mengingatkan.

Begitu rencananya. Eskpektasi masing-masing silahkan dikelola. Jodoh urusan Tuhan, tapi bukan berarti tidak diusahakan. Kita boleh bikin rencana.

Lagu itu pun terputar. Musiknya begitu kaya. Ada suka yang begitu menggelora. Disertai palung-palung duka yang bergelombang. Di situlah saya memahami bahwa saya telah larut, persis seperti lagu Dewa 19 yang pernah saya nyanyikan untuknya.

Hari demi hari pun penuh dengan beragam pelajaran hidup. Petualangan bersamanya membuka cakrawala. Ada saja hal-hal kecil yang bisa diperas jadi kebijaksanaan besar. Tentang banyak hal. Dari yang sempit hingga yang luas. Dan memang itulah yang sudah saya rasakan dari sekitar 5 tahun lalu ketika pertama mengenal dia. Itulah yang membuat saya masih ingin tahu hidupnya, dan sesekali mengobrol meski tidak selalu intens.

Tapi, seperti hipotesis saya, lagu yang begitu intens itu pada akhirnya harus berakhir juga. Rasa manusia bukan miliknya. Segala bincang-bincang yang membawa suka harus berakhir. Saya yang begitu dingin sudah meleleh. Tapi dia justru membeku.

Saat ketika hari-hari berlalu tanpa ada berbincang dan kabar darinya membuat saya merasa lagu yang diputar adalah Love of My Life. Dia adalah teman. Dia adalah cinta. Tapi dia sudah pergi. Tak sama lagi.

Dan upaya-upaya setelahnya, ketika dilihat ke belakang, adalah pemaksaan yang saya lakukan. Memaksa minyak untuk bersatu dengan air.

(Atau lebih ekstremnya, sudah berubah menjadi nafsu untuk menyayangi. Atau nafsu untuk disayangi? Entahlah. Sepertinya lebih ke yang pertama.)

Tapi, itu karena saya pikir kami sejenis. Sebab di saat-saat kelarutan itu pun saya sering berpikir? Benarkah kami sefrekuensi. Apakah perbincangan begitu panjang itu bisa terjadi jika kami bermasa jenis yang beda?

Saya ingat titik-titik keyakinan itu. Ketika kami melalui banyak dinamika berdua dan seolah dengan kelemahan yang kami punya, kami masih berharap semoga Tuhan melihat upaya keras kami. Semoga Tuhan senang atas momen-momen perjuangan kami. Di titik itu, seolah kami berbeda nol derajat.

Di titik itu rasanya semua konflik yang ada di antara kami hanya saling menguatkan persahabatan yang kami punya. Semakin memahami satu sama lain. Atau memahami bagian-bagian yang tidak kami pahami dari satu sama lain? Yang jelas kami menghargai persahabatan yang kami punya dan berupaya mengisinya dengan nilai-nilai positif. Meskipun pada akhirnya selalu ada noda. Memang tak ada hubungan yang sempurna, lancar-lancar saja kan?

p_20190110_211148

Dulu saya selalu mencari hubungan yang sempurna. Tapi itu tak pernah ada, kata teman saya. Maka saya pun berusaha mempertahankan persahabatan yang (ketika hangat) begitu hangat ini.

Lalu tibalah hari itu. Hari ketika dia, wanita yang mengajari saya untuk bersyukur, bekerja keras, dan tidak perlu mengutuk diri sendiri dalam kemunafikan yang saya punya sebagai role model.. mengatakan bahwa saya munafik dan double standard atas sesuatu yang saya perbuat.

Dia tidak salah.

Ya, saya munafik, bukankah itu yang selama ini saya akui. Tapi kalau saya munafik di sini, bukan berarti saya harus munafik di sana kan? Saya pikir begitu sih. Kesalahan harus diakui, tapi tak boleh diekstensifikasi. Namun, bisa jadi porsi saya melampaui batas jadi lupa diri? [mungkin saya sedang bersekutu dengan malaikat jadi lupa kalau bersekutu dengan setan kalau bahasa ibu saya seperti yang ada di bawah]

Entahlah, ketika dia berkata seperti itu, saya jadi bercermin pada diri sendiri. Saya percaya semua sudah diatur. Apa yang saya lakukan telah dituliskan 50.000 tahun sebelum alam semesta diciptakan.

Dan pastinya Ada yang menggerakkannya berkata demikian. Siapa lagi kalau bukan Tuhan?

Saya jadi memahami sudut pandangnya. Tentunya dia benar dalam sudut pandangnya. Saya pun merasa benar dalam sudut pandang saya. Tapi dua kebenaran pun belum tentu bisa sejalan, terkadang. Masing-masing punya jalannya.

Mungkin benar, saya telah digerogoti ego karena ketidakikhlasan dan rasa takut kehilangan. Terlampau nafsu untuk mencintai sampai-sampai lupa diri dan tergesa-gesa.

p_20190110_210858

Tapi tidak salah juga upaya untuk menyampaikan kebaikan bukan? Sebab saya pikir, saya hanya melakukan apa yang dia pernah pesankan kepada saya. Cara yang dia harapkan tentang bagaimana saya menempatkan diri dari terhadapnya.

Saya pun tersadar. Mungkin orang yang mengatakan itu sudah tertinggal di masa lalu. Jadi saja, saya gagal menempatkan diri, menempatkan rasa, dari apa yang orang di masa kini inginkan.

Padahal, niat saya semata-mata sih kayak di lagu Queen:

Why don’t we give love one more chance?
Love’s such an old-fashioned word
And love dares you to care for
The people on the edge of the night
And love dares you to change our way of caring about ourselves

(Tidakkah kita sadar bahwa kita adalah kita yang sekarang, detik ini, bukan sedetik lalu dan bukan sedetik ke depan?)

Kalau ibu saya:

[3:26 AM, 1/9/2019] Dunia ini ada 3 macam…
Yang 100 % buruk itu setan….
Yang 100 % baik itu malaikat
Yang antara buruk dan baik itulah manusia…..

Karena kadang manusia bisa bersekutu dg setan…tp kadang mendengarkan bisikan malaikat…

Payahnya…ketika seorang anak manusia ini sedang mendengarkan bisikan malaikat…kadang lupa bahwa ia pun pernah bersekutu dg setan…..
[3:31 AM, 1/9/2019] Nek di judulkan gini….

Saat bersekutu dg malaikat kadang jadi lupa jika pernah bersekutu dg setan…..

Maafkan aku,jika mencintaimu dengan cara yg bukan seperti yang kau mau….he he….
[3:37 AM, 1/9/2019]belajar menahlukkan ego itu mmg tidak mudah…perlu terbentur suatu peristiwa demi peristiwa utk sampe pada sebuah kesadaran bahwa masih ada ego yg harus di kendalikan…dan ada kemunafikan yg perlu di luruskan…..

Tapi yg penting kita ada dlm posisi paham bahwa diri kita di jalan yg salah,yg bahaya adl jika kita ‘tidak paham’ bahwa diri kita salah….

Ukuran benar-salah tentu lah bukan nilai2 manusia,tp nilai2 Tuhan yg rujukan nya ada pada Qur’an…..

Yang jelas, kembali lagi. Pasti ada hikmah dibalik semua. Karena orang itu marah dan membenci kita sekalipun, pasti ada pesan Tuhan di sana. Ada izin dari-Nya.

Dan sejujurnya, ketika untuk pertama kalinya saya melihat dia marah. Saya hanya bisa terdiam. Banyak terdiam.

p_20190110_211043

Buat saya, hikmahnya adalah saya jadi lebih terbuka lagi dengan orang tua saya. Orang tua saya bisa menasihati saya. Saya bisa lebih fokus pada diri sendiri, lebih ditampar lagi bahwa memperbaiki akhlak itu harus disegerakan (walaupun ya saya sendiri masih belajar dan merasa stuck, tapi katanya kita harus berprasangka baik pada Tuhan).

Dan kita yang manusia berlumur dosa ini memang perlu menilik kembali betapa kita telah melampaui batas.

No! [But] indeed, man transgresses

Apa-apa yang dia siratkan seolah mengingatkan saya pada apa-apa yang Tuhan katakan. Dan sebenarnya hal-hal ini yang membuat saya galau.

Begitu banyak yang bisa dikaji dari sebuah kejadian. Dari banyak sisi. Dari tema A sampai tema Z.

Dan ini begitu pas sekali untuk mengingat lagi bahwa tak ada manusia yang sempurna dan bebas dari salah sebagaimana difirmankan:

O you who have believed, do not follow the footsteps of Satan. And whoever follows the footsteps of Satan – indeed, he enjoins immorality and wrongdoing. And if not for the favor of Allah upon you and His mercy, not one of you would have been pure, ever, but Allah purifies whom He wills, and Allah is Hearing and Knowing.

24:21

Ini mengingatkan saya lagi tentang cinta yang tak boleh melalaikan.

Say, [O Muhammad], “If your fathers, your sons, your brothers, your wives, your relatives, wealth which you have obtained, commerce wherein you fear decline, and dwellings with which you are pleased are more beloved to you than Allah and His Messenger and jihad in His cause, then wait until Allah executes His command. And Allah does not guide the defiantly disobedient people.”

9:24

Ini mengingatkan saya lagi tentang kemunafikan-kemunafikan yang perlu diluruskan.

And when it is said to them, “Do not cause corruption on the earth,” they say, “We are but reformers.”

Unquestionably, it is they who are the corrupters, but they perceive [it] not.

2:11-12

Mengingatkan juga bahwa sebenarnya kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sejenis.

Evil words are for evil men, and evil men are [subjected] to evil words. And good words are for good men, and good men are [an object] of good words. Those [good people] are declared innocent of what the slanderers say. For them is forgiveness and noble provision.

24:26

Makanya semua indah ketika kita jadi orang baik. Sekeliling kita akan jadi baik.

Begitu pula sebaliknya, kalau ingin jadi orang baik, kita harus mengelilingi diri dengan orang baik, sebab katanya Nabi Ibrahim saja berdoa demikian

Bahkan Ibrahim ‘alaihissalaam tahu, manusia membutuhkan manusia lain untuk mendapatkan dukungan. Anda tidak bisa menggenggam iman Anda sendirian. Anda butuh orang lain untuk mendapat dukungan. Dan dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah berikan aku teman orang-orang yang baik.” (26:83)
*kutipan diambil somewhere over the internet

Dan orang-orang yang tidak sejenis pun akan berpisah juga pada akhirnya.

Manusia disatukan/pisahkan oleh nilai2 yg dianut nya. Apa yg terjadi adalah sekedar sebab, itu sekedar dinamika nya sj, akhir nya manusia akan mengelompok dgn yg sejenis… Tdk usah membuang waktu dgn berupaya menyampur minyak dgn air. Wasting time. Air akan tetap air, minyak akan tetap minyak. Air dn minyak bahkan memiliki ” kebenaran nya ” sendiri.

Apa yg terjadi sdh lah pasti terjadi, hanya alasan nya apa dn waktu nya kapan.

Oleh sebab itu tdk perlu ada kebencian antara minyak dan air, gagak dan rajawali, ayam dan merpati, mereka memang sdh pasti begitu..

Penjelasan pun tiada guna krna bukan masalah penjelasan, tetapi ini masalAh jenis…

Kita bersyukur disatukan dgn yg sejenis disinilah Kita merasa nyaman. Demikian pula orang2 lain yg bersyukur bersatu dgn jenis nya..

Siapa yg lebih baik ? Tdk ada yg lebih baik… Bagi Tikus yg terbaik adalah Tikus, bagi marmut yg terbaik adalah marmut

Tikus tdk ingin menikah dgn gadis marmut sekalipun… Demikian sebalik nya

Kita memahami Kita dan Kita memahami […….], tanpa merasa bhw Kita lbh baik… Kita sllu memohon petunjuk dn perlindungan Allah Swt.. Tidaklah layak Kita mrs lebih baik…

Kita terkadang membuang waktu supaya bs bersatu, tdk mungkin itu. Semangka berdaun sirih hanya ada pada lagu.. Atau pada lukisan

Bukan soal kalah menang, soal baik buruk, ini soal jenis… Biarlah Tuhan yg menilai…

Memahami ini penting, agar Kita jernih dan memiliki rasa hormat kepada siapa saja, tdk mrs lebih baik dari siapa saja. Agar Kita juga bertekad kuat menjadi lbh baik dari hari kehari…

Semoga Allah Swt menolong Kita

Tiap hari Kita harus bertanya am I happy dan apakah aku dijalan yg benar ?

Semua konflik terjadi dilakukan oleh orang2 yg merasa benar.. Firaun pun ketika berhadapan dgn Nabi Musa merasa benar… Kita perlu berhati hati benarkah Kita bukan Firaun ? Semoga Allah Swt memberi petunjuk

Iya, air lbh paham pada diri nya, jg minyak lbh paham pd diri nya.

Allahu A’lam

Kita bersyukur dikelilingi orang2 yg kita cintai dn Kita pergi ketempat dimana Kita dicintai…

Jose Mourinho, aku pergi ketempat dimana orang2 menyintai ku… Chelsea..

Ada orang tidak yakin dgn [………….], memang keyakinan tdk bs dipaksakan. Keyakinan adalah dirasakan.. Jd tdk apa apa tdk sepakat dgn [….], tidak berdosa, apalagi salah adab…

Kesimpulan: mari bersyukur, karena Allah Swt telah memberikan yg terbaik dan tetap tawaduk karena hanya dgn rahmat Nya lah Kita bs selamat… Aamiin…
Kutipan fatwa dari guru saya YM Abu yang beberapa objeknya saya hilangkan demi menjaga konteks/relevansi dan substansi

Dan semua ini mengingatkan kembali saya, pada ilham yang saya peroleh pada suatu ketika. Bahwa semua pasti ada maksudnya. Pasti Tuhan sedang mengedel-edel hidup kita supaya dirajutkan yang lebih baik. Supaya kita menjadi lebih baik dan dipertemukan dengan orang-orang yang bisa mengantat kita jadi lebih baik.

Bisa saja jasad-jasadnya sama. Bisa juga tidak sama. Yang penting isinya, dari mana datangnya. Kalau ada kebaikan, sudah pasti datang dari Tuhan. Meski datangnya lewat amarah sekalipun, jika mendatangkan kebaikan, pasti datangnya dari Tuhan.

Meski yang bilang manusia, bisa jadi ada firman Tuhan di dalamnya.

Dia yang dulu ingin diperjuangkan, pada akhirnya ingin dilepaskan. Memang benar segala perasaan, sepatutnya dikembalikan pada Sang Tuhan. Akhirnya masing-masing pribadi harus kembali mencari penyelamatan.

Namun, pada akhirnya saya bersyukur dan meyakini segala pertemuan pasti ada maksudnya. Kalau tidak, tentu malam ini saya tidak bisa mengaji ayat-ayat ini bukan, di al-Quran yang dibelikan olehnya.

p_20190110_211025

*ditulis kemarin malam, waktu blog ini saya buka lagi ke public.

**atas apa yang terjadi, saya sudah meminta maaf dan dia pun memaafkan.