Stasiunnya Para Kekasih

Dulu waktu di Singapura, waktu-waktu di perjalanan banyak saya habiskan dengan menulis. Entah itu di wordpress, di path. Hari-hari rasanya ada inspirasi baru. Ada misteri baru di kehidupan ini yang tersibak.

Sekarang ini kalau di kereta biasanya udah sulit buat mikir. Sudah terlalu lelah. Masa-masa setaun ke belakang ini ketika berjibaku merintis startup dan mencoba memecahkan problem ayam dan telor adalah masa yang begitu menguras fisik, mental, emosi, dan juga intelektual.

Sebagai orang yang masih jomblo dan perantau di antara para pendiri yang lain, tentuny saya jadi yang jaga kantor. Jadi yang kudu siap weekend-weekend masih kerja atau ketemuan sama orang. Dan karena tinggal sendiri, otomatis pikiran saya benar-benar terkonsumsi oleh si startup ini. Mungkin hanya ada beberapa periode singkat ketika saya punya distraksi lain.

Pergolakan mental yang saya alami selama setahun ke belakang ini cukup banyak. Dan saya berekspektasi beberapa tahun ke depan masih akan bertambah. Tapi, tentuny senjatanya harusnya semakin canggih sih.

Kadang saya selalu refleksi dan melihat lagi, dulu ketika memutuskan untuk pulang, apa sih yang saya cari? Salah satunya mungkin ingin bersama orang tua dulu. Mempertebal iman takwa dulu, karena saya tahu bahwa saya lemah di situ.

Tapi, namanya manusia tidak tahu bersyukur. Ada saja keluhannya. Dan tiba-tiba saya membangun startup ini dengan tekanan yang tinggi. Hampir beberapa hari sekali saya berpikir untuk berhenti. Terlalu berat. Dan terkadang terlalu menyiksa mental saya. Saya benar-benar dipaksa untuk keluar dari diri sendiri. Melakukan hal-hal yang tidak saya sukai.

Memang di situ mungkin seninya bersyukur. Salah satu alasan saya quit PhD adalah karena merasa saya gagal bersyukur dan bersuka cita di dunia akademik.

Dan di masa-masa kegamangan itu tentunya saya banyak berbincang dengan ibu saya. Ibu saya suatu ketika pernah membagikan berita tentang Kang Emil yang bilang kalo ibunya adalah mentornya. Ibu saya bilang kalo dia pengen jadi kayak gitu buat anak-anaknya.

Saya mungkin harus bersyukur. Ibu saya bisa jadi mentor dalam banyak bidang. Mentor bisnis. Mentor agama. Mentor hubungan interpersonal. Bahkan mentor cinta. Hanya mentor akademik dan teknologi aja yang blank.

Ibu saya lebih dari khatam untuk urusan membangun dan menutup perusahaan. Saya belajar banyak sekali dari obrolan demi obrolan itu. Termasuk soal membangun kultur.

Sebab rupanya ada value-value yang halus/subtle tapi dapat membuat perbedaan. Saya diceritakan juga masa ketika ibu saya merelakan orang-orang yang sudah bekerja bertahun-tahun bersama-sama untuk mencari tempat baru karena perusahaannya sedang kolaps. Menariknya, biarpun sudah lama sejak perusahaan itu tutup, orang-orang yang pernah berkarya di sana justru membentuk perkumpulannya sendiri. Itu yang begitu berkesan bagi ibu saya.

Saya pun berpikir, mungkin memang yang harus diabadikan adalah kebaikan. Friendship. Kekeluargaan. Kalau lihat film-film luar pun, mau sebengis apa ceritanya, mau sekapitalis apa, ujung-ujungnya tokoh-tokohnya menganggap diri mereka keluarga bukan sekedar rekan kerja.

Oh iya ngomong-ngomong suka dukanya jadi founder yang perantau, ya otomatis ga bisa segampang itu ketemu ortu. Karena ya udah pilihan hidup juga ya, jadi ceo yang punya peran begitu sentral di startup yang baru lahir. Ada yang bilang si company ini ya di-define ceo nya. Karena ceo yang jadi interface antara semua stakeholder.

Kalo buat saya, suka dan duka itu sudah berpadu ya. Suka adalah duka. Duka adalah suka. Sukanya jadi ceo adalah dukanya juga. Duka harus ketemu beragam orang di kala weekend. Menghabiskan waktu di luar jam ngantor untuk menyendiri dan mikirin company. Experience-nya tentu lebih kaya. Termasuk knowledge dan wisdom yang didapet juga lebih broad. Tapi ya itu bayarannya. Kesendirian. Kelelahan. Pikiran yang jalan terus. Pekerjaan yang tidak habis. Tekanan dari sana sini. Dari atas dan bawah. Dan keharusan untuk memahami sana sini.

Tapi, sering sekali saya menimbang dan berkontemplasi. Entah itu di malam hari setelah meeting dengan orang. Atau dini hari sehabis syuting atau diskusi dengan orang. Apa sebenarnya yang saya kerjakan dan kejar? Apa yang dicari? Bukankah saya nggak melakukan ini semua dengan harta dan untuk jadi kaya? Tapi, nature dari dunia bisnis adalah maximizing profit.

Dan itu semua selalu dibenturkan satu sama lain. Ada banyak nilai yang ditempurkan. Mana yang jadi prioritas.

Nah, rasanya cukup panjang ngalor ngidulnya. Saya mau kembali ke judul tulisan ini. Sudah beberapa minggu ke belakang ibu saya sakit. Sakit satu sembuh, eh rupanya sakit yang lain. Tadinya juga saya rencana cuti. Eh, malah sekarang salah satu cofounder saya sakit. Dan ada beberapa hal yang memang masih saya sentris. Masih dalam proses untuk bisa dilegasikan.

Maka saya pun akhirnya hanya bisa telepon-teleponan dengan ibu saya. Yang lucu adalah kemarin atau 2 hari lalu ya (sekarang ini ingatan saya soal waktu kadang terdistorsi, waktu berlalu sangat cepat sekali)

Jadi, adik saya cuti untuk pulang. Kata mama, dengan sedihnya adik saya menceritakan betapa dia dihantui terus oleh kematian. Betapa kematian rasanya mengintai dan begitu dekat. Memaksa dia untuk jadi orang baik. Terpaksa harus ikhlas ketika dijahatin orang. Dan kadang dia merasa bahwa kematian itu lebih baik, daripada tersiksa di dunia.

Tapi, alih-alih ibu saya sedih karena adik saya cerita seperti itu, ibu saya malah ketawa. Adik saya jadi ikut ketawa juga. Masa iya, udah dibela2in cuti. Ngomong gini juga susah, takut mamanya sedih. Eh, mamabya malah ketawa.

Saya juga mungkin akan ketawa sih kalau lihat adik saya cerita kayak gitu. Walaupun bukan berarti tidak respek ya dengan hal itu. Karena kebalikannya, bagi seorang anak manusia untuk bisa berpikir seperti itu adalah sebuah anugerah.

Bapak yang merupakan panutan zahiriyah kami juga bilang bahwa mindset seperti itu adalah mindset para kekasih. Setiap orang punya caranya dan masanya untuk berpikir seperti itu. Beda-beda karena cara Tuhan mengajarkan memang spesial. Mungkin kesannya aneh, kok ada manusia capek dengan dunia dan pengen “disegerakan” aja (tapi in a good way). Cuman sih, selama kerjaan beres, ya bagus kan. Ketika fasenya lewat, dan keinginan untuk disegerakan sudah tiada, tapi mindsetnya bahwa dunia ini sementara tetap tinggal, hasilnya adalah takwa.

Siapa yang tidak ingin seperti itu? Bukankah itu adalah impian bagi mereka yang beriman. Dapat memainkan dunia dengan permainan tingkat tinggi tapi hati tak terbeli dan selalu ingat mati.

 

*ditulis di KRL Bogor Jakarta meski sempat terinterupsi obrolan dengan teman yang sedang nego2an/cocok-cocokan buat bisa join

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s